bc

Paris: The Queen of Dream

book_age16+
1
IKUTI
1K
BACA
forced
goodgirl
independent
self-improved
inspirational
drama
bxg
city
coming of age
illness
like
intro-logo
Uraian

Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power

Yashi Eliza bercita-cita menjadi fashion designer. Untuk mewujudkan impian tersebut, Yashi berniat melanjutkan pendidikan di salah satu institut fashion designer di Paris. Namun, impiannya harus hancur dan terhambat karena adiknya menderita penyakit kanker otak. Tentu saja, seluruh uang sang ibu digunakan untuk pengobatan sang adik. Sekarang, apakah Yashi terpaksa harus mengubur impian terbesarnya atau mencari cara lain demi mewujudkannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Beban Keluarga?
      Sungguh, siapa yang menyangka bahwa kini dia harus berhadapan dengan situasi paling menyebalkan dalam hidup?            Perempuan itu menghela napas, berusaha menetralkan debaran jantung yang kian meriuh kuat. Kedua rungunya masih setia terpasang memperhatikan tiap perkataan demi perkataan yang sangat tidak nyaman didengar.            “Bu Gin, tahu nggak? Yashi itu, tuh! Anaknya Bu Tuti! Masa kerjaannya tiap ari cuma di rumah aja. Nganggur bertaun-taun dari lulus SMA, gila! Parah banget!” Ibu pemakai daster berwarna kuning kunyit dengan mata besar itu, Riana, tampak berceloteh ria dengan ibu lain, Gina, yang memakai kaus oblong kebesaran dengan celana pendek.            “Oh, iya! Tahu, Bun! Kayak nggak ada kerjaan gitu nggak sih, dia? Masa dari lulus SMA sampe sekarang masih di rumah melulu! Nggak kasihan apa sama ibunya? Udah ngejanda, pake acara harus ngurusin dua beban pula!” balas Bu Gina menimpali.            “Bener banget! Itu keluarga pasti dikutuk kali, ya! Udah bapak kecelakaan di tempat kerja, ibunya harus kerja banting tulang jadi kuli cuci … eh anaknya yang satu penyakitan, yang satu lagi malah pengangguran.” Bu Riana mendengkus.            “Amit-amit dah ya, Bun! Jangan sampe kita punya anak kayak gitu. Ribet banget, Bun, kalo udah kena kanker otak! Duit abis pasti buat pengobatan. Eh, kakaknya kagak guna! Bantu ibunya nyari duit aja enggak! Berubah dikit, kek, gitu!”            Perempuan itu kembali menghela napas, tetapi tanpa sadar tangannya terkepal kuat. Ada gelenyar aneh memenuhi d**a. Kesal, bingung, dan berbagai perasaan lainnya bercampur padu. Kepalanya memanas hebat seakan-akan asap telah keluar mengebul dari sana ke udara.            Dialah Yashi Eliza, subjek yang menjadi topik pembicaraan hangat ibu-ibu di kompleksnya tinggal. Memang wilayah kompleks itu bukan termasuk kelas kalangan mewah, sehingga tentu saja masih ada beberapa ibu-ibu penyinyir yang hobi ikut campur urusan orang lain. Termasuk Bu Riana dan Bu Gina. Yashi dimintai tolong oleh ibu tersayangnya untuk membelikan obat minum bagi Dino, adiknya yang merupakan pengidap kanker otak di apotek depan kompleks. Namun, sangat amat tidak terduga bagi Yashi untuk bertemu dengan dua orang ibu-ibu, Bu Riana dan Bu Gina, yang sedang asyik membicarakan kehidupan keluarganya di dekat apotek tersebut. Beli atau pulang, ya? tanya Yashi, kini membatin ragu seraya menunduk. Dia sangat menyayangi adiknya, tentu saja apa pun pasti akan Yashi perbuat untuknya. Namun kali ini, ada rasa sungkan besar menyelimuti hati Yashi untuk melewati jalanan tersebut. “Dia mungkin nggak punya pikiran buat bantu ibunya, udah keenakan kali cuma tidur-tiduran doang di rumah!” “Emang dasar anak zaman sekarang! Apa tuh ya sebutannya? Oh, ya! Beban keluarga!” Berusaha meneguhkan hati sekuat tenaga, Yashi berusaha tidak mau ambil pusing dan mengangkat kepala tinggi-tinggi. Kepalanya sudah mendidih sekarang. Dia tidak bisa mengelak, karena kenyataannya memang apa yang mereka berdua sampaikan itu sebagian fakta. Meski sisanya hanya dilebih-lebihkan, tidak sesuai kenyataan. Yashi memang benar pengangguran yang tidak bekerja sejak lulus sekolah, tetapi tentu saja bukan karena tidak berpikiran untuk membantu ibunya! Yashi tiap hari sibuk menjaga Dino di rumah, sebab ibunya takut akan terjadi hal buruk jika Dino ditinggalkan sendirian. Ingat? Di rumah tersebut, mereka hanya tinggal bertiga. Jika Yashi bekerja, maka siapa yang akan menjaga Dino? Tidak ada! Itulah faktanya! Perempuan itu menarik ujung labium, berusaha tersenyum lebar lalu mulai melangkah melewati jalanan menuju apotek yang membuat Bu Riana memelotot hebat, seolah baru saja bertemu hantu. “Pokoknya saya mah ogah banget sih punya anak kayak Yashi! Amit-amit jabang bayi!” Bu Gina masih saja asyik membicarakan Yashi saat subjeknya bahkan sudah hampir mendekat. Bermaksud memberi kode, Bu Riana langsung menepuk-nepuk bahu Bu Gina membuat yang bersangkutan menoleh penasaran dan ikut terkejut kepalang tidak percaya. Kini, mereka berdua langsung membatu tatkala Yashi sudah resmi berdiri di depan mereka. “Selamat siang, Bu Gina, Bu Riana!” sapa Yashi sopan dengan masih menerbitkan senyum secerah mentari, meskipun hari sangat terik membuat keringat siapa pun mengalir deras di sana. “Si … siang, Neng Yashi,” jawab Bu Gina gelagapan, sedangkan Bu Riana berdeham berusaha menetralisir rasa gugupnya. “Neng Yashi mau ke apotek?” tanya Bu Riana usai berdeham, berbasa-basi untuk mengalihkan perhatian. Dalam hati berharap agar Yashi tidak mendengar sama sekali gibah yang telah terang-terangan mereka berdua lakukan.            “Iya, Bu,” jawab Yashi sambil mengangguk lalu melanjutkan, “Dino butuh obat.”            “Oh, gitu.”            “Ya ampun! Kasian banget ya, Dino. Semoga cepet sembuh, ya,” ungkap Bu Gina lalu melirik penampilan Yashi yang sangat menyedihkan baginya. Hanya memakai kaus panjang berwarna hitam dengan bawahan senada, dilengkapi hijab merah marun. “Kamu tuh, masih muda. Masa hobinya pake baju-baju item gini, Yas? Udah kayak mau ngelayat aja,” hardik Bu Riana pada Yashi sambil memandangnya tajam, Bu Gina langsung menimpali. “Ssttt! Gak boleh gitu, Bun! Yashi ini kakak yang baik banget, lho. Dino sakit, Yashi yang ngurus bahkan sampe beliin obat. Kamu hebat banget, Yashi!” puji Bu Gina sambil tersenyum penuh arti. Fake banget nih orang! Yashi menggerutu dalam hati lalu memutar bola mata, malas berlama-lama dengan sekumpulan ibu-ibu kang gibah sekaligus nyinyir. “Udah dulu ya, Bu Gina, Bu Riana,” pamit Yashi lalu memundurkan tubuh, memberi jarak agar tidak terlalu dekat dengan mereka. “Saya buru-buru soalnya, kasian kalo Dino kelamaan sendirian di rumah. Permisi.” Sesekon kemudian Yashi pun melangkah menjauh meninggalkan mereka. Bu Gina memandangi sinis kepergian perempuan itu. “Tuh, lihat, Bun!” cibir Bu Gina kemudian melanjutkan. “Dipuji aja kagak ada terima kasih-terima kasihnya. Emang dasar pantesnya dihina aja!” “Bener banget, sombong banget sama orang tua. Dasar beban keluarga!” “Emang si beban!” Yashi membuka pintu apotek lalu melangkah ke dalamnya, seraya menggeleng. Apakah ibu-ibu berpikir dia tidak bisa mendengar semua perkataan mereka? Memang mereka pikir Yashi memiliki gangguan pendengaran? Keterlaluan! Untuk apa Yashi mengucapkan terima kasih setelah mereka tanpa dosa menghinanya dan keluarganya? Perempuan itu sangat panas sekarang! Usai memberikan uang dan menerima obat dari pegawai apotek, Yashi langsung melangkah pulang. Dalam perjalanan pulang itu, Yashi kembali mengingat ucapan mereka. Katanya, Yashi hanya seorang beban keluarga. Mendengarnya, hati Yashi kembali berdenyut. Kini tangannya kembali mengepal keras. Saking tidak keruan perasaan Yashi, area netranya terasa sangat panas. Sangat panas sampai akhirnya likuid bening mengembun dari sana. Menetes melewati pipi Yashi. Perempuan itu menggigit labiumnya keras-keras sampai setetes darah keluar, terasa asin dan perih. Sama seperti jalinan takdir hidupnya. Yashi sendiri memiliki impian terbesar. Impian terbesar yang mungkin saja harus kandas karena keadaan. Dia sangat ingin … menjadi seorang fashion designer terkenal dan melanjutkan kuliah ke Paris. Namun … dengan kondisi seperti ini, apakah itu semua mungkin?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Happier Then Ever

read
92.8K
bc

Pengganti

read
304.0K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Stuck With You

read
75.8K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.7K
bc

Ditaksir, Pak Bos!

read
149.8K
bc

Rainy

read
19.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook