"Lo nggak pulang?" Sandra melirik Rivan yang duduk di sebelahnya dengan takut-takut.
"Lo ngusir gue?"
"E-eh, nggak kok"
Hening. Hanya deru angin malam yang semakin kencang, serta suara daun yang bergesekan dengan tanah akibat terbawa angin. Ya, keduanya—Sandra dan Rivan—kini tengah duduk berdampingan, keduanya duduk berdua di kursi warung dengan beberapa bapak-bapak lain yang sedang ngopi di warung itu
Rivan melirik ke arah Sandra, dilihatnya cewek itu tengah menengadah melihat ke langit sambil tersenyum tipis. "Lo suka bintang?" Rivan menyuarakan suaranya.
Sandra menoleh ke Arab Rivan yang kini tengah menatapnya. "Nggak begitu, sih." jawab Sandra singkat.
"Ngeliatinya begitu banget"
"Gue udah lama nggak liat bintang kayak gini, ini kali pertama setelah sekian lama gue nggak pernah liat bintang." Sandra kembali mengulas senyum di bibirnya
"Indah banget ya?" Tanya Rivan
Sandra mengangguk, membuat Rivan tersenyum. "Apalagi liatnya sama gue." ucap Rivan tiba-tiba.
Sandra menoleh ke arah Rivan dengan ekspresi kaget. "Lo di sekolah sama di sini, beda sifat ya?"
"Masa? Nggak juga, perasaan lo aja kali" balas Rivan
"Nggak, kalo di sekolah lo jutek gitu. Beda sama yang di sini... Lo kayak lebih... Hangat." Ucap Sandra
Hening kembali menguasai mereka berdua, tidak ada lagi percakapan setelah Sandra mengucapkan kalimat tadi.
"Siapa nama lo?" Tanya Rivan.
"Alsandra." Sandra menjawab singkat, walaupun bingung karena Rivan bertanya namanya dengan tiba-tiba. Tapi wajah bingung Sandra semakin bertambah, saat melihat Rivan yang tertawa. Tawa yang sebelumnya tidak pernah Sandra lihat.
"Nama lengkap maksud gue" ucap Rivan disela-sela tawanya.
"Oh... Alsandra Achernar, kenapa?" Tanya Sandra yang masih penasaran karena Rivan menanyakan nama lengkapnya dengan tiba-tiba.
"Nggak papa, cuma pengen tau aja. Btw nama belakang lo aneh ya" ucap Rivan sedikit terkekeh.
"Hahaha, nggak juga. Lo aja kali yang baru denger. Itu nama salah satu bintang" jawab Sandra menjelaskan, tentang kebingungan Rivan.
"Jadi tu alasan lo suka liatin bintang, karena nama lo kayak nama bintang? Eh, tapi lucu juga sih. Bintang segitu banyaknya punya nama semua, emang ada yang hafal apa?" Rivan menunjuk langit malam yang kini ditaburi ribuan bintang yang indah.
"Lo beneran nggak tau?" Tanya Sandra pada Rivan.
"Apaan?" Rivan mengernyitkan dahinya.
"Nggak semua bintang punya nama, cuma sepuluh Bintang sih yang gue tau. Dan itu adalah bintang paling terang di langit..." Sandra menjeda ceritanya, melihat ekspresi Rivan yang manggut-manggut, entah mengerti,apa sok-sokan, mengerti. "Yang itu, namanya Sirius." Sandra menunjuk bintang paling terang diantara bihtang lainnya.
"Dia itu bintang paling terang, diantara bintang yang lain. Pagi, sore, malem. Selalu keliatan." Sandra tersenyum
"Jadi yang paling terang Sirius." Rivan menggumam pada dirinya sendiri. "Kalo itu?" Rivan menunjuk salah satu bintang berkedip, dengan sinar agak kemerah-merahan.
"Mana?" Tanya Sandra
"Itu..." Rivan kembali menunjuk bintang tadi.
"Oh, betelgeuse mungkin. Gue juga nggak begitu ngerti."
"Kenapa nama lo nggak Alsandra Sirius?" Tanya Rivan
Sandra mengernyitkan dahinya bingung, namun sedetik kemudian tawanya pecah. "Kalo dari bayi gue udah bisa ngomong, mungkin nama gue bakal ada Siriusnya. Tapi Achernar juga bagus kok." jawab Sandra masih menampakkan senyum manisnya
"Bangga dong lo, pasti kalo orang nanya arti nama lo. Lo jelasin panjang lebar" cibir Rivan.
Tapi Sandra bukanya tertawa atau memasang wajah kesal, dia malah menampakkan wajanhya yang sendu. "Itu dulu, sekarang nggak lagi." Ucap Sandra tanpa sadar.
"Kenapa?" Merasa tertarik dengan topik obrolan kali ini, Rivan memancing Sandra. Tapi gagal, saat Sandra kembali ke alam sadarnya. "Nggak."
"Eh, lo nggak pulang, udah malem. Gue nggak maksud ngusir lo, cuman nanti kalo bokap sama nyokap lo nyariin" ucap Sandra tanpa mengetahui perubahan mimik muka Rivan.
"Nyariin?" Ucap Rivan sarkastis
"Gue mati, mungkin mereka nggak peduli." Tambahnya lagi.
"Eh? Lo nggak boleh ngomong kayak gitu, buktinya mereka masih kasih lo fasilitas. Seenggaknya lo masih dipeduliin." Sandra berucap lirih saat mengatakan kata terakhir.
"Lo nggak pernah tau apa yang gue rasain." Jawab Rivan sinis. Dia tidak mengetahui ada hati lain yang merasa teriris.
"Gue emang nggak pernah tau apa yang lo rasain, karena yang gue tau cuma rasa sakit dan penderitaan." Jawab Sandra semakin lirih dan merendah. Membuat Rivan menengokkan kepalanya ke arah Sandra, dilihatnya mata gadis itu berkaca-kaca. Rivan menatap mata sendu itu dalam, keduanya hanya diam seribu bahasa. Walau begitu mereka seolah tau apa yang sedang dirasa satu sama lainnya.
Keduanya sama-sama menguatkan dengan tatapan, keduanya sama-sama berada pada masa sulit, dan mereka kini merasa sudah mengetahui rumah untuk pulang. Saat rasa sakit tak dapat dibendung lagi, saat semua perasaan perih dan letih menjadi satu, saat itu juga mereka mengaku kalah oleh takdir yang kejam.
Sandra mengernyitkan dahinya saat mendengar suara deru motor didepan rumahnya, dia mencoba mengingat-ingat, apakah hari ini jadwal pembantu mingguan yang sering dibayar mamanya untuk membersihkan rumah kemari? Rasanya baru kemarin lusa.
Akhirnya setelah menuntaskan memakai sepatu sneakers putihnya, Sandra bergegas menuruni anak tangga dirumahnya. Sandra semakin mengernyit saat pintu rumahnya tidak menunjukkan suara ketukan maupun bel rumah yang ditekan, akhirnya Sandra memutuskan untuk menunggu orang tersebut mengetuk pintu rumahnya. Tapi beberapa detik berlalu masih tidak ada suara bel maupun ketukan pintu, Sandra membuka hati-hati tirai jendela rimahnya. Tidak ada apapun dan siapapun disana, akhirnya dengan berani Sandra membuka pintu rumahnya.
Berapa kagetnya Sandra saat melihat wajah Rivan tepat didepanya dengan seulas senyum disertai ucapan "hai" dari Rivan. Masa bodo dengan wajah Sandra sekarang, pasti sekarang wajahnya jelek, sangat jelek, dia bisa merasakan udara masuk kedala mulutnya. s**t! Pasti sekarang mulutnya sedang menganga dengan lebar.
Tapi cepat-cepat Sandra mengayunkan mulutnya, serta menormalkan semua saraf tubuhnya.
"Hahaha..."
Tawa Rivan pecah seketika saat melihat ekspresi Sandra yang menurutnya sangat lucu itu. Rivan memodifikasi wajahnya, menirukan gaya kaget Sandra tadi.
"Hahaha..." Tawa Rivan kembali pecah.
"Rese, banget sih lo jadi orang. Males gue. Ngapain lo kesini?!" Tanya Sandra dengan nada kelewat sinis.
"Nggak sopan banget sih sama tamu." Ujar Rivan menatap Sandra lekat
"Nggak! Kalau tamunya itu elo! Cepet, mau apa?" Sandra menghentakkan kakinya kesal.
"Ayo" Rivan menarik pelan tangan Sabdar yang terasa kecil di tanganya.
"Mau kemana, sih!" Andra menghempaskan tanganya yang tadi digandeng oleh Rivan.
"Ke rumah Satria" jawab Rivan santai, datar, dan tenang.
"Terus lo ngapain kesini?"
"Lo pikir gue tau rumah Satria?"
"Ya, terus ngapain lo ke rumah gue?"
"g****k! Ngasih lo tebengan lah!" Rivan menatap heran sabda yang juga menatapnya denga beratapkan menantang. "Udah, ayo berangkat."
Mereka berdua berjalan ke arah motor Rivan dengan Sandra yang masih digandeng Rivan, ralat, mungkin lebih tepat menyeret.
"Lo nggak mau naik?" Tanya Rivan kepada Sandra, yang masih setia berdiri tanpa mau menaiki jok motor belakangnya yang masih kosong.
"..."
"San" panggil Rivan halus.
"..."
"Sandra." Masih lembut, selembut sutera
"San, naik." Mungkin sabar Rivan masih banyak
"San." Dan untuk keempat kalinya, Sandra masih membisu. Rivan melepas helm full face nya, menyisir rambutnya dengan jari tangan, menaikkan kemeja denimnya hingga siku. Menampilkan bisepnya yang cukup kekar.
"San!" Rivan meraih bahu Sandra, tapi cewek itu masih diam.
"Naik!" Perintah Rivan dengan sedikit penekanan dalam katanya. Karena tak ada respon, Rivan menatap tajam tepat pada manik cokelat terang milik Sandra, bukanya merasa terintimidasi, Sandra malah menatap balik manik hitam pekat milik Rivan dengan tatapan menantang, tidak ada sorot ketakutan sama sekali dimata Sandra. Rivan tersenyum miring.
"Berani juga ini cewek" batin Rivan bersuara.
Rivan melangkahkan kakinya maju mendekati Sandra, semakin mengikis jarak diantara mereka. Sandra kira yang Rivan lakukan hanya akan melangkah satu langkah untuk sampai didepanya, tapi salah, Rivan justru melangkah lebar dan semakin mempersempit jarak diantara keduanya. Kali ini tidak ada tatapan menantang dari Sandra, hanya ada tatapan panik dan kalut, seumpama laki-laki didepanya ini berbuat tidak baik. Sandra melangkahkan kakinya mundur untuk memberi jarak dari Rivan. Tapi Rivan malah memegang bahu Sandra, membuat sandra menjadi diam dan tidak bisa berkutik.
.
.
.
*HAI!!!
JANGAN LUPA TAPLOVE YAA LOVE BANYAK BANYAK DARI SAYA.
JANGAN LUPA BERI KRITIK SARAN AGAR SAYA BISA JADI LEBIH BAIK <3