Detik berikutnya, saat jarak yang tercipta hanya sekian inci, membuat Sandra memejamkan matanya kuat-kuat. Rivan yang melihatnya langsung mengulum bibirnya sendiri, menahan tawanya agar tidak pecah saat ini juga, dia tidak membangunkan cewek didepannya, atau menyadarkanya, yang dilakukan Rivan hanya tersenyum kecil sambil mengamati wajah ayu Sandra, yang kini tepat didepanya. Bahkan jikalau Rivan mau, dia bisa mencium cewek itu sekarang juga, hanya tinggal memajukan wajahnya sedikit saja.
Sandra membuka matanya saat hal yang dia takutkan tidak terjadi, dan yang dilihatnya adalah wajah Rivan dengan senyum lebar yang menampakkan, gigi putihnya yang tidak rata, karena satu gingsul pada gigi Rivan, membuat senyumnya jadi lebih menawan.
"Ngarep apa lo?" Rivan menaikkan sebelah alisnya, sambil menatap Sandra remeh. Masih denga senyum yang manis itu tentunya, membuat jantung Sandra berdetak ak beraturan, rasanya jantungnya ingin melompat keluar dari Rangga dadanya.
Sandra mendorong kuat d**a bidang didepanya. "Rese lo!" Ucap sandar sambil berlalu, tidak lupa menginjak kuat-kuat kaki cowok di depanya itu.
"Makanya naik." Rivan menarik tangan Sandra. "San, please gue nggak tau rumahnya Satria." Rivan memasang wajah lembutnya kembali. Dengan memohon kepada Sandra untuk mengantarkannya ke rumah Satria. "Tidak tau rumah Satria" Alibi! Jelas-jelas Satria sudah memberikan alamat rumah lengkapnya pada Rivan melalui sticky notes berwarna kuning stabilo.
"Jijik gue! Minggir, gue mau naik!" Sandra membangunkan bibirnya sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Gitu dong. Ayo!" Rivan menaiki motornya dengan mudah, dan mengenakan helm full face kebanggaannya. Sandra segera naik keatas motor milik Rivan dengan berpegangan pada pundak cowok di depanya itu.
"Nggak mau pegangan?" Tanya Rivan saat Sandra sudah duduk dengan nyaman di jok belakang motornya.
"Nggak!" Jawab Sandra. Sebenarnya Sandra punya alasan sendiri kenapa dia tidak mau berpegangan. Satu, keenakan Rivan kalo dia berpegangan pada Rivan. Dua, Sandra memang paling anti berpegangan dengan orang yang nggak akrab dengan dia. Tiga, alasan yang paling Sandra jaga, yaitu dia nggak mau sesuatu yang seharusnya nggak menempel-nempel, jadi nempel di punggung Rivan, apalagi motor rivan ini motor gede, tambah. Mantap jiwa dong si Rivan.
***
"Stop!!" Sandra berteriak diatasi motor yang dikendarai Rivan, saat keduanya sudah sampai di depan rumah Satria. Rivan yang mendengar teriakan stop dari mulut Sandra langsung mengerem motornya dengan mendadak, membuat tubuh Sandra terdorong ke depan.
Keduanya diam dengan posisi yang sangat intim tersebut, namun sepersekian detik kemudian Sandra menjauhkan badanya dan segera turun dari motor Rivan.
Rivan yang melihat Sandra langsung berlari kecil menuju rumah Satria mengulum senyumnya. Tapi tawanya tidak bia ditahan lagi saat melihat Sandra masih menggunakan helm berwarna merah muda.
"San!" Teriak Rivan keras, berharap cewek yang jalan setengah berlari itu menanggapi teriakannya, tapi Sandra malah menuliskan pendengarannya.
Sandra mengetuk pintu rumah Satria berkali-kali dengan ritme yang kurang bersahabat.
"Aduh, lama banget sih!" Sandra menggerutu kesal.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka menampakkan Satria yang berdiri tegak didepan Sandra. Satria mengamati cewek didepanya itu dari atas sampai bawah. Detik berikutnya tawa Satria meledak kencang.
"Buahahahah..."
Sandra mengernyitkan dahinya saat mendapati Satria tang tertawa tanpa sebab. "Sat, lo kenapa sih?" Sandra meneliti sekitarnya, rasanya normal-normal saja, tidak ada yang busa membuat tawa Sandra pecah. "Sat, lo kenapa sih?" Kali ini Sandra menaikkan suaranya satu oktaf.
Sandra yang masih terpaku pada kebingungannya tidak menyadari jika Rivan telah berada disampingnya. Rivan menaikkan satu alisnya saat melihat Satria tertawa kencang, pandangan Rivan teralihkan pada cewek disebelahnya. Bibirnya menipis melihat Sandra dengan tampang cengo sekaligus bloon. Tangan Rivan terulur menuju kepala Sandra. "g****k banget sih lo!" Ucap Rivan pelan namun penuh penekanan.
Sandra tambah cengo lagi dengan perlakuan sederhana yang Rivan lakukan.
Dengan perlahan Rivan melepas pengait helm yang ada di leher Sandra, setelah terlepas cowok itu menarik lembut helm tersebut dari kepala Sandra. Ekspresi Sandra? Jangan ditanya lagi, lebih parah dari ekspresi melongo yang saat ini di peragakan Satria. Rivan menatap Sandra dan Satria bergantian. "Lo berdua kenapa? Kurang Aqua ya?" Canda Rivan kepada dua orang tersebut. Akhirnya Satria kembali dari kesadarannya.
"Masuk deh lo berdua." Ujar Satria datar, sembari bergeser untuk memberi akses kepada dua orang temanya itu.
"Sandra!!" Teriakan kecil khas ibu-ibu berhasil masuk ke dalam indra pendengaran Sandra dan juga Rivan.
Keduanya menoleh secara bersamaan, membiarkan sang tuan rumah—Satria—melenggang terlebih dahulu.
Rivan yang tidak tau-menau siapa perempuan tersebut menaikkan kedua alisnya. Sedangkan Sandra tersenyum ceria kepada wanita tersebut. "Iya, Ma. Ini Sandra." Masih dengan senyum yang mengembang Sandra sedikit mendekat ke arah wanita paruh baya itu. Begitu pula Rivan yang membuntuti langkah Sandra.
"Kamu kemana aja? Udah lama nggak ke sini." Ujar wanita tersebut.
"Sandra di rumah kok Ma. Nggak kemana-mana." Jawab Sandra masih sopan, tak lupa dengan senyum yang terus mengembang.
"Halah, Mama. Kalo sama Sandra aja sok sweet gitu, giliran sama anak sendiri di omelin terus." Satria menyahut percakapan dua wanita beda generasi tersebut. Ya, wanita paruh baya itu adalah Mama dari Satria. Sandra biasa menyebutnya Mama Dinar.
"Habisnya kamu bandel Sat, gimana Mama nggak ngomel coba?" Dinar menjawab ocehan anaknya. Matanya tak sengaja menangkap seorang manusia lain yang tak di kenalanya.
"Loh, ini siapa? Temanya Satria juga?"
"I... Iya tan." Rivan menjawab ragu, kalau di–iya kan, hubungan pertemananya dengan Satria itu kurang bagus. Sangat kurang bagus malah. Kalau dijawab bukan, nanti malah ditanya-tanya.
"Panggil aja Mama Dinar, nggak usah sungkan. Ayo duduk, Mama ke dapur dulu, mau pada minum apa ini?" Dinar menawarkan kepada teman anaknya.
"Dila es sirup aja Ma!" Dila yang sedari tadi menjadi penonton langsung angkat suara, saat ditanya tentang minuman.
"Sandra air putih aja Ma, lagi nggak enak tenggorokan." Ujar Sanda menyebutkan sekaligus menjelaskan.
"Kalo Rivan?" Dinar bertanya pada teman putranya yang masih diam itu.
"Eh, air putih aja Tan... Eh, Ma." Ucap Rivan gelagapan.
"Kok air putih aja, kamu sakit tenggorokan juga?" Selidik Dinar ingin tau.
"I... Iya."
***
Keempat remaja SMA yang tengah duduk melingkar itu kini tengah berdebat hebat. Saling beradu argumen satu sama lain, melempar dan menyela pendapat lawan bicaranya. Kadang juga beradu tatapan tajam jika argumenya tak digubris.
"San, udah deh ngalah aja." Dila menyudahi peperangan pendapat antara sahabatnya ini dengan Rivan dan juga Satria.
"Nggak bisa La, orang mereka salah kok!" Sandra terus saja ngotot tidak setuju.
"Udah minum dulu, nanti lanjut lagi." Suara dari arah dapur menginterupsi ke empatnya untuk diam.
Dinar berjalan ke arah empat remaja tersebut, membawa nampan berisi dua air putih, satu es sirup, dan juga es kopi. Tak lupa satu piring cookies coklat yang baru matang beberapa menit lalu. Dinar meletakkan nampan tersebut di meja empat remaja tersebut beradu pendapat, dia berdiri diantara Sandra dan Rivan yang kini tengah bertatapan tajam satu sama lain, seakan siap mematikan lawannya saat itu juga.
"Ayo dimakan, itu tadi Mama baru buat. Enak kok."
"Orang pada spaneng gini kok Ma" Dila bersuara
"Kenapa?" Tanya Dibar kepada Dila
Dila menggedikan dagunya ke arah Rivan dan Sandra yang masih perang lewat mata mereka. Dinar mengikuti arah dagu Dila, dan mendapati dua orang remaja itu tengah beradu tatapan tajam. "Kalian berdua kenapa?" Tanpa sadar Dinar mengelus puncak kepala Sandra dan Rivan secara bersamaan. Membuat kedua remaja tersebut kaget.
Rivan tersentak saat mendapati elusan lembut di atas kepalanya. Dia merindukan ini, sesuatu hal sederhana yang sudah lama sekali hilang dan tenggelam, hal sederhana yang dulu sering dilakukan oleh ibunya saat dia sedang gundah, atau saat dia tengah bersandar pada bahu ibunya. Sekarang hal sederhana itu jarang, bahkan tidak pernah Rivan rasakan lagi.
"Ngalah salah satu ya, biar cepet selesai. Ayo itu dimakan dulu." Dinar akhirnya melenggang meninggalkan empat remaja yang kini terdiam. "Udah, makan dulu, nyokap gue kalo bikin cookies enak tau." Satria mencomot salah satu cookies berwarna coklat itu. Akhirnya keduanya—Sandra dan Rivan—memutuskan kontak mata, mengambil segelas air putih dan meneguknya dengan rakus.
***
"Gue balik dulu ya Sat." Sandra pamit kepada Satria, diiringi dengan Dila dan juga Rivan.
"La, bukanya lo tadi di anterin?" Tanya Satria kepada Dila dengan ragu.
"Eh, iya. Ini mau nelfon abang gue." Balas Dila masih sibuk dengan ponselnya.
"Gue anterin." Ucap Satria pelan
"Eh?... Eng, iya deh."
Sandra yang melihat wajah bersemu milik Dila, tersenyum lalu menyenggol bahu Dila dengan kurang bersahabat.
"Aw! Apaan sih lo." Sewot Dila.
"Kalian kalo mau balik, duluan aja." Ujar Satria kepada Rivan dan juga Sandra.
"Ya, udah deh yang mau berduaan. Gue balik dulu ya!" Sandra berbalik badan sembari melambaikan tanganya. Begitu juga Rivan yang masih setia mengikuti langkah Sandra, keduanya sudah keluar dari pintu rumah Satria, namun teriakan seseorang menghentikan langkah mereka.
"Iya, ada apa Ma?" Sandra bertanya kepada Dinar, saat melihat perempuan paruh baya itu berjalan setengah berlari sambil menenteng plastik putih, yang entah Sandra tidak tau isinya.
"Ini." Dinar menyerahkan bungkusan plastik itu. "Katanya pada sakit tenggorokan, Mama udah pisahin obatnya, kebetulan sisa waktu Airin sakit masih ada. Diminum ya... Rivan juga." Sandra mengambil bungkusan plastik itu dengan senyum mengembang. Dipeluknya perempuan yang selalu berbaik hati kepadanya itu erat-erat.
Setelah pelukan itu lepas, Dinar menatap Rivan, lalu merentangkan tanganya, merengkuh remaja yang jelas-jelas lebih tinggi darinya.
Rivan tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Mama temanya itu. Hal ini, sudah lama tidak dirasakan, pelukan hangat dari seorang ibu yang mampu mengangkat semua beban. Dia ingin merasakan ini lebih lama, namun detik berikutnya pelukan tersebut terlepas.
"Hati-hati ya pulangnya, kalian tadi barengan kan?" Tanya Dinar kepada keduanya.
"I...iya Ma." Rivan mendahului Sandra yang akan buka suara.
keduanya pamit kepada tuan rumah, lalu naik ke motor dan segera melenggang pergi dari halaman rumah tersebut.
.
.
.
.