07

1249 Kata
Motor besar Rivan mengerem mulus tepat di depan pagar rumah Sandra. Rivan mematikan motornya dan menunggu Sandra turun dari motor. "San..." Rivan memanggil Sandra yang kini tengah melangkah menuju pintu pagar rumahnya. "Ha?" Sandra segera menoleh dan menaikkan satu alisnya, tiba-tiba Sandra langsung menaikkan tangannya ke atas kepala. "Kenapa? Helmnya lupa gue lepas lagi?! Enggak kok!" Rivan terkekeh kecil, lalu turun dari motor besarnya, setelah melepas helmnya, dia berjalan mendekati Sandra yang masih diam di tempat. "Jangan marah lagi sama gue." Pinta Rivan kepada Sandra. "Gue nggak marah kok sama lo." Aku Sandra jujur Rivan tersenyum senang mendengar pengakuan Sandra, tanganya terulur menarik gadis itu ke dalam pelukannya, erat sekali. Seakan takut akan pergi. "Jangan marah San, jangan pernah tinggalin gue." Pinta Rivan lirih. *** Rivan mengambil ponsel hitam miliknya yang teronggok di kasur, sudah beberapa hari ini ponselnya tidak ia gunakan. Dia membuka sebuah aplikasi yang kemudian menampakkan beberapa chat tidak penting miliknya. RivandoH : gue minta kontak Sandra! SatriaW : siapa lo? RivandoH : gak usah banyak tanya. Cepet! SatriaW : idih, gue nggak tau lo siapa RivandoH : Rivan. Bacot! Puas! SatriaW : send you contact info "Alsandra" Rivan tersenyum senang, segera ia tambahkan Sandra sebagai teman di kontak Line nya. *** Sandra kembali ke dalam kamarnya dengan beberapa snack pedas serta satu gelas kopi di tanganya. Langkah kakinya berjalan menuju balkon kamarnya, sudah lama sekali dia tidak singgah di balkon kamarnya. Tiba-tiba saat menyesap kopi buatanya sendiri, dia teringat akan kalimat yang diucapkan oleh Rivan. 'Jangan marah San, jangan pernah tinggalin gue.' Enam kata itu baru saja disampaikan oleh Rivan tadi sore, apa maksudnya? Kenapa Sandra nggak boleh marah dan nggak boleh ninggalin Rivan, toh Rivan juga bukan siapa-siapa Sandra. Ting... Suara ponsel putih milik Sandra membuat Sandra mengambil benda pipih itu dari meja di dekatnya. RivandoH. Added you as Friend by Line ID Ting... RivandoH : San... Sandra mengernyit, berpikir. Apakah benar ini Rivan? Kalo iya, Sandra mau tanya apa maksud ucapannya tadi. Alsandra : Rivan? RivandoH : iya. Lo lagi apa San? Alsandra : minum kopi, kenapa? RivandoH : nggak papa. Keluar deh. Liat langit. Sandra mendongak melihat atas, tidak ada apa-apa, hanya langit malam yang gelap tanpa ada bintang. Hanya satu, hanya satu yang terlihat. Sirius. Si bintang biru yang selalu terang. Alsandra : ada apa sama langit? RivandoH : gelap ya. Alsandra : masih ada satu. RivandoH : Sirius? Nggak keliatan. Yang keliatan Archernar. Sandra tersenyum membaca balasan dari Rivan. Alsandra : apaan sih lo! RivandoH : wkwkwk... RivandoH : San, lo bakal jadi temen gue kan? Alsandra : kita udah jadi temen kan. Eh, Van gue boleh tanya? RivandoH : apa? Alsandra : maksud omongan lo tadi sore apa. RivandoH : gue banyak ngomong sama lo tadi sore. Alsandra : "jangan marah San, jangan pernah tinggalin gue" yang habis lo nganterin gue dari rumah Satria. RivandoH : intinya lo jangan pernah tinggalin gue San, apa pun yang terjadi. Gue butuh elo ada di samping gue... Udah malem, tidur San. Sandra semakin tidak mengerti setelah membaca pesan dari Rivan tersebut. Apa maksudnya? Kenapa Sandra tidak boleh meninggalkan Rivan?. Entahlah, Sandra sendiri bingung memikirkannya, ditutup rapat-rapat matanya, tanganya bergerak mengambil segelas kopi dan disesapnya perlahan, menikmati setiap kepahitan yang dirasa oleh lidahnya. "Gue nggak janji untuk nggak ninggalin elo Van." Ucap Sandra lirih sembari beranjak dari balkon kamarnya, ditutupnya pintu balkon dan kembali menuju kamar, dibaringkan tubuhnya yang sudah lelah. Dan kegelapan telah datang. *** "Aku mohon, aku mau ketemu sama Andra" seorang wanita tampak memohon kepada pria dewasa di depanya. "Kalo dia mau." Djafar berucap datar dan singkat, dia tidak bisa menutupi lagi sakit hatinya, karena ulah istrinya yang sebentar lagi akan berstatus mantan itu. "Dia di kamar." Djafar berlalu meninggalkan Yasmin yang masih terdiam di tempat. Yasmin melangkahkan kakinya menyusuri satu per saru anak tangga di rumah yang sudah lama sekali tidak ia sentuh dan tidak ia singgahi, ini adalah rumah yang dulunya dia impikan, dia banggakan, dan selalu dia rawat. Sekarang entah, siapa yang selalu membersihkan rumah sebesar ini? Yasmin sendiri tidak tau. Yasmin termangu melihat pemandangan di depanya. Seorang anak laki-laki sedang tidur tengkurap dengan tangan di bawah d**a, hanya menggunakan kaos oblong putih serta celana pendek. Yasmin hapal betul, anaknya ini tidak akan nyaman bila tidur menggunakan celana berbahan jeans atau levis. Yasmin berjalan mendekati Rivan yang telah memejamkan mata, entah sudah tertidur atau belum, yang Yasmin tau anaknya itu telah memejamkan mata. Ia duduk di pinggiran ranjang, mengamati wajah putranya yang telah dua bulan ini dia tinggal. "Gimana kabar kamu An? Baik-baik aja kan? Ayah kamu bisa ngurus kamu enggak?" Yasmin menggigit bibir bawahnya berusaha meredam isak tangis yang akan keluar. "Mama kangen sama kamu, kamu harus tau kalau Mama sayang sama kamu." Yasmin mengusap lembut rambut anaknya yang sedikit panjang itu. Matanya sibuk meneliti setiap perbedaan yang ada pada anaknya. "Kamu kurusan, rambut kamu juga udah panjang, waktunya buat cukur rambut, kenapa kamu pake tindik An? Mama nggak suka liat kamu nakal." Yasmin menyentuh tindik hitam di telinga sebelah kiri putranya. Sekarang airmata mulai jatuh melalui pipinya, dia menangis melihat semua yang berubah pada anaknya. Andra nya dulu tidak seperti ini, Andra dulu bersih, rapi, penurut. Tidak seperti yang dilihat Yasmin. Di balik pintu bercat putih, di kamar milik Rivan, Djafar sang Ayah menahan air mata agar tak keluar saat itu juga, dia juga sedih melihat perubahan anaknya yang sangat drastis itu. Rasanya itu bukan Andranya yang dulu. *** Rivan membuka matanya saat tau bahwa kamarnya telah kembali kosong dan sepi. Dia tidak tidur, hanya memejamkan mata. Tubuhnya disandarkan pada kepala ranjang, matanya menerawang jauh seolah kembali mengingat memori masa kelam yang begitu gelap dan menyakitkan. Dulu rasanya tidak seperti ini, dulu rasanya tidak sesakit ini, dan ini berubah karena kepergiannya ke tempat neneknya untuk menjenguk sekaligus bersekolah di sana. Magelang. Tempat lahir Ayahnya dulu. Coba saja Rivan tetap di Jakarta menemani Mamanya, pasti tidak akan seperti ini jadinya. Sekarang yang Rivan butuhkan hanya sandaran dan ketenangan, yang dia butuhkan adalah seseorang yang bisa menenangkannya. Tapi siapa? Dia sendiri juga tidak tau. Ayahnya selalu bekerja, Mamanya? Baru beberapa detik Rivan merasakan kenyamanan itu kembali, belaian seorang Ibu yang dulu selalu dia dapatkan, sekarang rasanya hilang. Rivan mengusap rambutnya yang sedikit panjang itu, benar juga kata Mamanya tadi, ini waktunya ia bercukur. "Ma, Rivan juga kangen Mama, Rivan juga sayang sama Mama." *** "Ma, kapan pulang?" Sandra membaca ulang pesan yang ia kirim melalui sosial media itu kepada ibunya. Rasanya tidak ada yang salah dengan pesannya, tapi kenapa Mamanya tidak membalasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 tapi mata Sandra nyatanya terbuka lebar dengan jernih, ia terbangun dari tidurnya tadi karena ke kamar mandi setelah itu dia tidak bisa lagi memejamkan mata, dia masih menunggu balasan pesan dari Mamanya, dan juga memikirkan pesan Rivan tadi. Rasanya ada yang aneh dari setiap perkataan yang di lontarkan Rivan, seperti ada nada terluka di dalamnya, seperti ada tangis dan pesan duka yang tak bisa tersampaikan. Tapi Sandra tidak tau itu apa. Yang Sandra tau Rivan tidak nakal, hanya penampilannya saja yang urakan, tiga hari mengenal Rivan membuat Sandra tau bahwa Rivan itu baik, tidak senakal dan seurakan penampilannya. Sandra menghela napasnya, tangannya yang memegang ponsel mengeklik salah satu aplikasi musik di ponselnya, lalu dipilihnya lagu dari Mariah Carey yang berjudul "The Vision of love." ia menyetelnya dengan volume sedang untuk menemaninya kembali menejamkan mata. Prayed through the nights Felt so alone Suffered through alienation Carried the weight on my own Had to be strong So I believed And now I know I’ve succeeded In finding the place I conceived lirik yang mendalam itu lambat waktu membuatnya kembali tertidur di malam gelap itu. ########
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN