Sandra berlari kecil saat mendengar suara ketukan pintu di rumahnya yang sama sekali tidak bersahabat. Dibukanya dengan kesal pintu besar berwarna coklat dengan ukiran di sekelilingnya. Dan Rivan telah ada di balik pintu itu sambil tersenyum. "Pagi." Ucap Rivan riang.
"Gila! Lo ngapain ke sini pagi-pagi? Ini baru jam setengah enam dan lo udah ketuk pintu rumah gue seenak udel lo." Ucap Sandra kesal.
"Gue nggak bisa tidur dari Semalem, ya udah sekalian begadang sampai pagi. Lagian lo juga udah siap, yuk berangkat." Ajak Rivan hendak meraih pergelangan tangan Sandra, tapi Sandra hanya diam.
"Lo nebengin gue?" Tanya Sandra kepada cowok didepanya ini.
"Hahaha... Ya, iyalah San. Kalo enggak ngapain gue ke sini jam setengah enam. Udah, ah ayo buruan."
"Gue belum pake sepatu Van." Ucap Sandra pelan saat Rivan menarik tanganya lagi.
"Ya udah, ambil sana."
Sandra berbalik arah, mengambil sepatunya. Dia kembali lagi di hadapan Rivan dengan kondisi sudah memakai sepatu. Tapi Rivan malah berjongkok di hadapannya.
"Ngapain lo?" Tanya Sandra.
Rivan mendongak ke atas menatap Sandra, yang bertanya dengan ekspresi kebingungan. Tapi Rivan kembali menunduk, tanganya bergerak mengambil tali sepatu berwarna putih milik Sandra yang sudah tergeletak di lantai. "Kalo pengen praktik adegan drama Korea bilang aja, nggak usah ngendorin tali sepatu juga. Bahaya tau!" Ucap Rivan penuh penegasan kepada Sandra sedangkan sandra masih dengan ekspresinya yang kebingungan dan ditambah ekspresi cengo. Lengkap sudah, pasti sekarang ini wajahnya jelek sekali. Ditambah lagi detak jantungnya yang serasa mau melompat dari rongganya.
"Anjir, nggak beres nih jantung gue." Umpat Sandra dalam hati.
Sandra mengikuti Rivan dari belakang. Langkahnya mengecil saat mengetahui tindik hitam di telinga sebelah kiri Rivan. "Van!" Panggil Sandra agak keras. Rivan berbalik menghadap Sandra yang terpaut beberapa senti di depanya.
"Kenapa, San." Tanya Rivan mengangkat satu alisnya.
"Lo lepas deh tindik lo. Ini hari Senin. Kalo upacara biasanya banyak guru BK yang razia siswa." Sandra mengingatkan cowok di depanya.
"Kenapa emang kalo gue kena razia? Lo khawatir sama gue?" Tanya Rivan kepada Sandra.
"Nggak sama sekali." Ucap Sandra datar, tanganya bergerak menjangkau telinga Rivan, melepas tindik hitam yang terpasang di telinga Rivan. "Nih!" Sandra menyerahkan tindik itu kepada Rivan.
"Ehm, makasih." Ucap Rivan tulus sembari mengambil benda di tangan Sandra itu.
"Ayo, berangkat entar telat." Rivan menarik pelan lengan Sandra. Rivan menyerahkan helm berwarna biru dengan desain cewek kepada Sandra.
"Helm siapa?" Tanya Sandra sambil menerima helm bogo dari Rivan.
"Kemarin gue beli di jalan. Udah ayo naik." Titah Rivan kepada Sandra. Sandra segera menumpukan tanganya pada bahu Rivan, setelah di rasa duduk nyaman. Motor yang dikendarai Rivan melaju kencang meninggalkan halaman rumah Sandra.
***
Upacara bendera di SMA Angkasa rasanya sangat lambat bagi siswa-siswinya, entah kenapa?. Banyak dari mereka yang mengeluh ini dan itu. Cuaca panas serta rangkaian jalanya upacara bagaikan gerakan slow motion. Ditambah lagi pembina upacara kali ini adalah Pak Wirada, guru bahasa paling sabar dan tabah seantero SMA Angkasa. Saking tabah dan sabarnya, waktu dua puluh lima menit masih terus berjalan karena amanat dari beliau yang seperti rel kereta. Panjang dan tidak ada habisnya.
"Itu siapa sih, San? Lelet banget!" Gerutu Rivan pelan sambil sedikit menengok ke belakangan. Karena tepat di belakang Rivan adalah Sandra. Barisan upacara di SMA Angkasa memang mempunyai aturan cowok di depan, cewek di belakang. Dan itu sangat menguntungkan bagi siswi cewek, mereka bisa bergosip ria dan cekikikan sesuka hatinya. Beda dengan siswa cowok yang harus diam seperti prajurit Inggris.
"Pak Wirada, dia emang gitu orangnya." Jawab Sandra agak berjinjit demi mencapai telinga Rivan.
"Kalo ngasih amanat emang lama gitu ya?" Tanya Rivan setengah berbisik.
"Udah diem! Panas tau nggak!" Kesal Sandra pada Rivan.
Rivan menoleh ke belakang demi melihat Sandra, dilihatnya sanda yang menggerakkan ke lima jarinya demi mengusir hawa panas. "Lo nggak bawa topi?" Tanya Rivan saat mengetahui bahwa Sandra tidak menggunakan atribut lengkap.
Sanda mengangguk. "Ketinggalan." Jawabnya datar.
Rivan kembali menghadap ke depan membuat Sandra mengedip tak percaya. Dia kira Rivan akan menghalangi cahaya matahari yang menyengat itu. Tapi tidak, bahkan cowok di depanya ini bersikap tak acuh kepadanya. Sandra merasakan tekanan kecil di kepalanya. Saat mendongak, dilihatnya Rivan yang tengah memasangkan topi pada kepalanya. Lalu cowok itu kembali berbalik ke depan, dengan kepala tidak tertutup topi.
Sandra mengedip beberapa kali, tak percaya atas apa yang baru terjadi. Tapi topi tersebut cukup efektif untuk melindunginya dari terik matahari yang membakar wajahnya. Bisa di pastikan wajah Sandra merah saat ini. Tapi mungkin tidak lagi berkat topi pemberian dari Rivan.
Upacara telah selesai, sebagian murid memutar tubuhnya kekanan dan ke kiri, sebagian lagi ada yang jongkok di tempat, sebagai lagi sudah teler di belakang di bantu anggota PMR sekolah. Sandra menepuk bahu cowok di depanya.
"Kenapa?" Tanya Rivan kepada Sandra.
Sandra melepaskan topi yang di pakainya. "Nih, habis upacara biasanya ada guru yang dateng buat cek atribut."
"Nggak papa, pake aja." Ujar Rivan datar
"Heh! Nanti lo di hukum!" Sebenarnya Sandra bisa saja memakaikan topi itu pada kepala Rivan. Tapi tanganya tak mampu untuk mencapai bagian tubuh Rivan yang satu itu. Terlalu tinggi bagi Sandra.
"Pake. Atau gue cium!" Ancam Rivan pada Sandra. Sandra langsung terdiam mendengar ancaman Rivan. Bukan apa-apa, Sandra hanya takut Rivan melakukan ancamannya.
Rivan tersenyum melihat Sandra diam tak berkutik. Ancamannya berhasil juga, padahal kalo Sandra tetap melawan Rivan juga tidak akan mencium Sandra, Rivan masih menggunakan akalnya untuk tetap segar dan bersih.
Upacara telah benar-benar selesai, semua guru piket dan guru BK langsung menyebar ke barisan siswa-siswi SMA Angkasa. Mengecek semua kelengkapan atribut dan kerapian siswa-siswinya.
Bu Lastri masuk ke barisan kelas 12 IPA 3, yang merupakan kelas sandra dan Rivan.
"Galak nggak yang itu?" Tanya Rivan sedikit berbisik pada Sandra.
"Kalo sama gue nggak! Lo pake deh topi lo." Suruh Sandra kepada Rivan.
"Lo beneran mau gue cium ya?" Ucap Rivan menggoda Sandra. Mendengar ucapan Rivan itu membuat Sandra kembali diam. Sedangkan Rivan kembali menghadap ke depan.
"Aduh, ini hlo rambut kamu. Mbok ya dicukur tho le. Udah gondrong begini. Sana maju." Bu Lastri memberi petuah kepada Kamil, yang sekarang telah maju ke depan.
"Eee, cah bagus Jovan. Tumben kok rapi bener. Begini kan ibu enak liatnya, ya udah sana ke kelas." Jovan yang merasa dalam posisi aman langsung berlari ke kelas dengan senyum merekah.
"Topi mu mana?"
"Eh?" Rivan langsung kaget saat bu Lastri langsung menanyainya.
"Iya, kamu itu hlo, kok plongah-plongoh gitu."
"Ketinggalan bu." Jawab Rivan datar
"Ketinggalan... Ketinggalan. Daleman mu ketinggalan ndak?" Tanya bu Lastri sarkasme
"Nggak kok bu, selalu saya pake. Kecuali kalo tidur, saya lepas." Rivan berucap santai.
Bu Lastri yang mendengar jawaban santai dan tidak sopan dari salah satu muridnya itu langsung menjewer telinga Rivan. Sedangkan Sandra terperangah dengan jawaban yang di berikan Rivan kepada bu Lastri.
"Ndak sopan banget kamu itu. Sana langsung masuk barisan itu." Ujar bu Lastri ganas.
Rivan hanya tersenyum sambil menghadap ke belakang. Menandakan kalau ia tidak apa-apa. Sedangkan Sandra, meringis pelan melihat kuping Rivan yang merah akibat bu Lastri.
"Masuk ke kelas Nduk." Suruh bu Lastri kepada Sandra. Sandra sendiri langsung membungkukkan badanya tanda hormat sembari berlari ke ruang kelas.
***
Sandra meringis melihat beberapa murid SMA Angkasa yang berlarian di bawah terik matahari. Salah satunya Rivan berada di antara mereka yang tersengal-sengal, dengan peluh sebesar biji jagung menetes di pelipis masing-masing.
Ini sudah putaran ke enam, tapi bu Yatmi, guru paling killer yang pernah Sandra kenal itu, masih saja menyuruh siswa dan siswi yang terkena hukuman untuk berlari di lapangan basket SMA Angkasa yang lebar itu, bahkan sangat lebar dan luas.
Bu Yatmi meniup peluit merah yang selalu setia menggantung di lehernya. Itu adalah satu ciri khas yang dipunyai bu Yatmi dari Sanda kenal beliau sejak kelas sepuluh. Para murid yang terkena hukuman segera berkumpul membentuk barisan. Dan Bu Yatmi masih mengomel mengeluarkan sejuta ceramah yang panjang dan beralur. Sandra juga masih setia menunggu orang yang telah menolongnya tadi dengan sebotol air mineral di tanganya.
Saat barisan para murid yang terkena hukuman itu telah bubar, Sandra segera menghampiri Rivan. "Nih! Makasih ya lo udah mau nolongin gue. Coba kalo gue yang lari tadi, pasti udah semaput di tempat." Sandra menyerahkan botol air mineral yang sudah terbuka segelnya.
Rivan menerimanya dengan senang hati. "Halah, lebay lo." Ucap Rivan terkekeh. "Eh, lo kok di luar? Madol, ya lo?" Selidik Rivan pada Sandra sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat di muka Sandra.
"Eh, enak aja. Ini udah istirahat tau!" Bela Sandra sambil menepis pelan jari telunjuk milik Rivan. "Lo keasyikan lari sih, jadi nggak denger bel bunyi."
Rivan meneguk sebotol Air mineral itu dengan rakus, menghabiskan isinya dengan tandas. "Makasih." Ucap Rivan
"Gue yang makasih. Makasih ya!" Ucap Sandra tersenyum.
###