"Ke kantin yuk!" Ajak Sandra pada Rivan.
"Boleh, tapi gue ke toilet dulu. Mau cuci muka." Pamit Rivan kepada Sandra.
Sandra mengangguk lalu detik berikutnya Rivan segera berlari menuju toilet. Sandra menunggu beberapa detik hingga akhirnya Rivan keluar dari toilet dengan beberapa tetes air di wajah serta lehernya.
"San!" Rivan menggerakkan kelima jarinya di depan wajah Sandra.
"Eh!" Kaget Sandra saat dia sudah kembali ke alam sadarnya. Setelah beberapa detik lalu dia melongo melihat ketampanan Rivan di tambah beberapa air yang menetes, mengalir begitu saja di wajah serta leher cowok itu. Membuat Sandra melongo dan menahan nafas beberapa detik.
Keduanya berjalan menuju kantin kelas duabelas. SMA Angkasa ini punya dua kantin. Yang satu kantin kelas sepuluh dan kelas sebelas, yang memang menjadi satu, tapi memiliki ukuran yang lumayan besar. Sedangkan kantin dua belas terpisah, karena letak koridor kelas dua belas yang tidak sejalan, juga jauh dengan kelas sebelas dan sepuluh. Maka kantin kelas duabelas dipisah.
"Ini pertama kali gue ke kantin." Ucap Rivan
"Lo nggak pernah ke kantin?" Tanya Sandra bingung
"Iya, kan setiap istirahat gue selalu di kelas. Masa lo nggak tau sih."
Keduanya memilih duduk di dekat kios yang menjual nasi rames. Sandra pun meninggalkan Rivan untuk memesan makanan mereka berdua. Sepeninggalnya Sandra, membuat Rivan menjadi pusat perhatian seluruh siswa cewek kelas dua belas. Ada yang curi-curi pandang, ada juga yang memandangnya secara terang-terangan.
Sandra kembali membawa nampan berisi dua piring nasi rames dan es jeruk. "Kenapa lo?" Tanya Sandra melihat ekspresi Rivan yang bergidik ngeri.
"Kenapa sih, tu cewek-cewek pada ngeliatin gue?" Tanya Rivan kepada Sandra.
"Nggak tau. Lo ganteng kali." Ucap Sandra santai tanpa mengoreksi ucapannya.
"Apa?!" Rivan bertanya kaget.
"Nggak tau! Lo..." Sandra memenggal ucapan terakhirnya saat akan mengulangi kalimat yang baru saja diucapkanya pada Rivan tadi. Merasa salah dengan ucapannya Sandra segera diam dan bungkam.
"San. Lo tadi ngomong apa?" Tanya Rivan menggoda
"Gue? Gue tadi ngomong apa?" Sandra belagak mikir.
"Halah sok-sokan lupa."
"Apa sih lo? Gue tinggal ya!"
Rivan mengangguk tanda setuju, masih juga dengan senyum penuh goda dan kemenangan pada Sandra. Tapi senyum itu memudar dan hilang seketika. Saat Sandra benar-benar akan beranjak dari tempat duduknya. Rivan segera menarik lengan Sandra dan menutup rapat mulutnya, berpura-pura mengunci, dan membuang kunci tak kasat mata itu sejauh mungkin. Hal sederhana yang di lakukan Rivan membuat Sandra hampir saja memuntahkan tawanya kalau saja dia tidak kesal saat ini, pasti tawanya menyembur kuat-kuat.
"Iya, gue minta maaf." Ucap Rivan tulus.
Kini keduanya makan dalam diam, terkadang Rivan bertanya beberapa hal, yang masih dijawab dengan kesunyian oleh Sandra. Dan hingga kembalinya mereka ke kelas Sandra masih diam. Belum juga berbicara sepatah kata pun kepada Rivan.
Di dalam kelas, keadaan masih ramai, menandakan guru Fisika kelas 12 IPA 3 yang galaknya minta ampun itu belum datang.
"Pak Malik mana?" Tanya Sandra pada Dila.
"Nggak tau, tapi tadi si Deva di panggil. Mudah-mudahan aja itu guru ada halangan... Aamiinin dong San!" Suruh Dila kepada Sandra saat temannya itu tak kunjung meng-aminkan doanya.
"Aamiin!" Ucap Sandra pelan.
Tak lama kemudian Deva si ketua kelas datang dengan lembar catatan kecil di tanganya. Kelas yang ramai, masih juga ramai saat Deva kembali. Tidak ada tanda-tanda bahwa huru-hara yang dibuat anak-anak di belakang itu akan berakhir.
"Woy! Diem dong!" Deva mulai melancarkan aksi berteriak nya.
"Siapa?lo nyuruh kita?" Tanya Bimo, anak kelas 12 IPA 3 yang paling bossy, punya mulut cewek, debat nggak mau ngalah, sok pinter, dan nggak tau aturan.
"Iyalah, b**o!" Balas Deva geram. Tapi Bimo masih saja mengajak teman-teman lelakinya guyonan. Segera saja Deva menulis kata yang ada pada lembar kertas kecil itu pada papan tulis putih, ditulisnya huruf demi huruf, kata demi kata menggunakan spidol tinta hitam, dengan huruf kapital yang ukurannya sangat besar. Ditambah lagi dengan tanda baca '!' Tiga kali, yang mengartikan penegasan.
"MENGERJAKAN BUKU PAKET HAL- 110–114. DI BUKU TUGAS. DIKUMPULKAN!!!."
"Anjing, itu beneran Va." Umpat Satria kesal. Yang ditanya hanya menganggukan kepala dua kali tanda mengiyakan.
"Aduh, gumoh rumus gue." Ucap Satria mengeluh.
Satria melirik cowok di sebelahnya, di lihatnya Rivan yang sudah berkutat dengan rumus-rumus fisika yang rumit Dan memusingkan itu.
"Lo bisa? Gue nyontek ya?" Pinta Satria kepada Rivan,
"Nggak tau, coba aja kerjain dulu." ucap Rivan, hal itu membuat Satria kegirangan dan segera menyiapkan buku tugasnya untuk menyalin pekerjaan Rivan.
***
Sudah satu jam pelajaran fisika berlalu, dan ini sudah memasuki jam ke dua yang hampir berlangsung setengah jam. Tapi tidak ada satu pun murid di kelas itu yang berkutik dari bangku untuk mengumpulkan hasil pekerjaannya di depan kelas. Yang ada hanya teriakan frustasi, hembusan nafas lelah, serta keluhan yang keluar dari mulut masing-masing. Mereka semua masih berusaha mengerjakan. Dengan cara tanya pada mbah Google, contek teman kanan-kiri-depan-belakang. Tapi sama saja. Dan Sandra termasuk dari itu semua, dia sudah melakukan cara ini dan itu untuk mendapatkan jawaban, tapi rasanya kurang meyakinkan. Jika tanya pada Dila, sama saja bohong. Sandra tau kemampuan teman satu bangkunya itu kalau ditanya fisika, Dila pasti nyerah.
Sandra saja dari tadi melihat Dila tengok kanan kiri, tapi sekarang tidak. Cewek itu bahkan anteng, menulis rumus serta angka-angka di buku tugasnya. Sandra melongokkan kepalanya ke arah Dila. "Punya siapa tu!" Tanya Sandra saat sadar bahwa teman satu bangkunya itu menyalin kepunyaan orang lain. Kalau dilihat dari tata ke penulisannya Sandra yakin itu punya anak cowok, tapi Sandra nggak hapal punya siapa.
"Eh! Punya Satria." Ucap Dila dengan senyum lebar.
"Kok lo nggak ngomong sih! Rambut gue udah pengen di rebonding nih!" Kesal Sandra pada Dila, karena tidak mau berbagi contekan denganya.
"Gue kira lo nggak mau."
"Tanya dulu kek!"
Dila diam, tidak membagi buku Satria kepada Sandra, tidak juga melanjutkan kegiatan menyalinnya.
"Sini!"
"Nggak di bolehin sama Satria. Katanya cukup gue aja yang pinjem. Kalo lo nggak percaya tanya aja sama orangnya."
Sandra ternganga dan langsung menoleh ke belakang dilihatnya dua orang yang sudah saling mengobrol entah apa itu Sandra sendiri tidak tau.
"Sat." Panggilan datar dari Sandra itu tidak digubris oleh keduanya, apalagi empunya nama.
"Sat!" Kali ini suara Sandra naik satu oktaf, tapi tetap saja tidak ada yang menggubrisnya.
"SAT!" Sandra menggoyang meja Satria.
"Heh! Lo apaan sih, San." Satria mendelik tidak suka
"Habisan, lo gue panggil nggak nyahut." Balas Sandra sengit
"Lo manggil gue kayak orang ngumpat, SAT lo pikir apaan. Nama gue Satria ya!" Satria menegaskan namanya yang tertulis jelas di akte kelahirannya.
"Nih!" Rivan menyela perdebatan dia orang itu dengan melempar buku tulis tepat di hadapan Sandra.
"Tuh, itu kan yang lo mau." Satria menyahut. "Ambil aja, San. Dua puluh menit lagi tuh, kalo nggak ngumpulin kelar lo. Lagian punya gue udah di booking sama Dila, dan emang nggak boleh dipinjam sama siapapun." Satria berucap, kembali menegaskan perkataan Dila tadi.
"Pelit lo! Ngeselin lo berdua!" Ujar Sandra geram sambil berbalik menghadap depan, tak lupa disambarnya buku milik Rivan. Memang tak tau malu, tapi bodo amat.
Di belakang Sandra dua cowok itu tengah berbincang santai.
"Emang tu guru killer banget?" Tanya Rivan pada Satria
"Beuuh! Lo coba deh, nggak ngerjain tugas yang di kasih sama Pak Malik. Kelar lo!"
"Kelar gimana?"
"Dia tu kalo ngasih hukuman nggak tanggung-tanggung. Kadang ada yang bikin capek, ada yang bikin malu, dan ada yang bikin kesel juga. Masak, pas si Jovan nggak ngerjain PR satu nomor doang loh! Tapi sama Pak Malik di suruh minta hukuman dan lapor kalo dia nggak ngerjain tugas Pak Malik di seluruh guru yang lagi ngisi pelajaran di kelas dua belas. Parahnya lagi Pak Malik nyuruh si Deva buat ngawasin Jovan dengan cara dividio."
Rivan menganga tidak percaya, kok ada guru yang kayak begitu. "Seriusan lo!"
Satria mengangguk, lalu melanjutkan ceritanya dengan semangat. "Pernah juga si Bimo, nggak bisa ngerjain soal di depan. Sama Pak Malik di suruh pose gaya bebek di depan pintu kelas. Malu? Jangan ditanya. Badan pegel? Pasti banget. Makanya anak-anak kalo pelajaran Pak Malik berubah jadi rajin banget, mereka usaha tau. Fisika kelas sini nol banget, parah!" Satria geleng-geleng kepala sendiri memikirkan nasib kelasnya yang punya kemampuan fisika di bawah, bahkan sangat dibawah rata-rata.
"Sinkron banget tu guru sama namanya. Malik, penjaga neraka. Cari masalah sama aja cari neraka." Ucap Rivan pelan yang dibalas kekehan kecil oleh Satria.
"Btw, makasih ya Sat. Udah mau jadi temen gue." Ucap Rivan tulus dibarengi dengan senyuman yang tercipta di bibirnya.
"Sama-sama. Gue kira lo nggak bakal mau temenan sama gue." Ujar Satria merendah.
"Nggak, lah. Pertama kali liat lo. Gue pikir lo orangnya sok asik gitu, ternyata enggak. Jadi makasih."
"Iya, santai aja kali." Satria menepuk pelan bahu Rivan.