Rivan menatap pantulan dirinya di cermin kamar dalam balutan kemeja flannel dan celana jeans. Ia tersenyum kecil, menguatkan dirinya kembali untuk menghadapi apa yang ada di depannya. Satu menit yang lalu keraguan datang menyerang sehingga ia maju mundur untuk bertemu dengan mamanya kembali. Bertemu dengan mamanya kali ini, artinya ia harus ikhlas dengan keadaan. Melihat ayahnya yang mencoba tersenyum bahagia kemarin malam Rivan akhirnya memutuskan menyudahi perang dan berdamai dengan keadaan, tapi sulit karena ia bahkan masih punya amarah terpendam di lubuk hatinya. Dengan berat hari Rivan mengambil ponsel dan juga dompetnya di nakas, tapi belum genap dua langkah ia kembali duduk di tempat tidurnya. Tangan kanannya yang memegang ponsel mencari nama seseorang lalu mengeklik gambar telepo

