Rivan menangkup wajahnya dengan kedua tanganya sendiri, berusaha meredam isak tangis yang sekarang telah keluar, berusaha meredam emosi yang sekarang telah berlahar. Dia biarkan airmata itu meleleh begitu saja di pipinya, membuat aliran itu semakin deras. Dia berharap, semua emosinya hilang dengan habisnya airmata di matanya. "Arrgghhh!!!" Teriakan Rivan menggema keseluruhan sudut ruangan di kamarnya. Tangis dan emosi tidak dapat lagi dia pendam. Semua dikeluarkan begitu saja. Dia telah hancur dan rapuh. Dia kira semua ini akan berakhir indah, dia kira perjuangannya selama ini akan berbuah indah. Namun, kenyataannya tidak seperti itu, rasanya semua keinginan dan impian bahwa keluarganya akan kembali bersatu, bagaikan angan-angan yang jauh tak tersentuh. Keinginan bahwa, sebentar lagi ke

