Beda Rupa
"Pokoknya aku gak mau dijodohkan. Aku gak mau nikah sama laki-laki itu, pasti orangnya jelek. Pasti dia gak laku, buktinya di umur tiga puluh tahun dia belum nikah dan mau dijodohkan."
Seorang gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan ideal itu menolak perjodohan yang telah disetujui oleh kedua orang tuanya.
Namanya Raini Olivia, gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun. Rambutnya panjang berwarna blonde, hidungnya mancung, serta kulitnya putih bersih. Bibirnya seksi, bola matanya bulat dan bulu mata lentik yang membuat dirinya kerap kali mendapat julukan Barbie hidup.
Ia menolak ketika akan dijodohkan dengan anak dari sahabat kedua orang tuanya yang sama sekali tidak ia kenal.
Jangankan kenal, melihatnya saja Raini tidak pernah.
"Raini, kamu tenang dulu, kamu belum melihat Mario seperti apa. Kalau kamu sudah melihatnya, Mama yakin kamu akan setuju," tutur seorang wanita paruh baya yang berusaha meyakinkan putrinya.
"Gak! Sampai kapanpun aku gak mau dijodohkan, aku udah punya pacar," tolaknya dengan cepat yang membuat suasana di ruang keluarga itu semakin tegang.
"Raini, kamu tidak boleh menolak, ini sudah menjadi deal kesepakatan kedua belah keluarga. Besok keluarga Pak Canda akan datang ke sini!" tukas pak Gunawan dengan tegas.
Namun, hal itu tidak mampu membuat putrinya gentar.
"Aku gak mau, kenapa harus aku? Kenapa gak dia aja?" Gadis itu menunjuk ke arah kakaknya yang sedari tadi hanya duduk terdiam sambil menundukkan kepala di tengah ketegangan keluarga mereka.
Namanya Rania Paramita, wanita berusia dua puluh tujuh tahun dan masih menyandang status lajang.
Meski Rania dan Raini sepasang kakak beradik, akan tetapi mereka berdua sangat berbeda.
Jika Raini dijuluki Barbie hidup, berbanding terbalik dengan Rania yang kerap kali mendapat ejekan mengenai fisiknya.
Tidak ada yang cacat dari wanita itu, hanya saja karena ia memiliki adik yang sangat cantik, Rania kerap kali dibanding-bandingkan.
Tubuhnya tidak tinggi seperti Raini, Rania hanya memiliki tinggi seratus lima puluh lima sentimeter, berbeda jauh dengan Raini yang hampir mencapai seratus tujuh puluh sentimeter.
Tak hanya itu, tubuhnya yang kurus membuatnya terlihat lebih kecil jika ia berdiri di samping Raini yang memiki body perfect.
Wajahnya juga sangat berbeda, hidung Rania tidak terlalu mancung, bisa dibilang pesek, kulitnya kecoklatan, kulit wajahnya juga tak semulus Raini. Ada beberapa noda bekas jerawat dan juga jerawat aktif yang kerap kali muncul, membuat Rania semakin tidak memiliki rasa percaya diri.
"Kak Rania lebih pantas dijodohkan, karena dia jelek dan gak akan laku!" Kalimat itu terasa menusuk tepat di d**a Rania.
Namun, ia tak membalas apapun, hinaan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.
Ia hanya diam sambil meremas rok yang ia kenakan.
"Raini, kamu jangan ngaco! Mario mana mau sama Rania? Lagi pula, keluarga Pak Candra pasti akan sangat merasa malu mendapat menantu seperti itu."
Bukannya menenangkan, bu Alda justru malah menambah hinaan pada putrinya sendiri.
Dada Rania terasa sesak, ia sadar dirinya tak secantik Raini dan ia juga merasa tidak pantas untuk siapapun.
"Aku gak peduli, pokoknya aku gak mau dijodohkan!" Raini menghentakkan kaki dan segera masuk ke dalam kamarnya.
"Pah, gimana ini? Tidak mungkin kita membatalkan perjodohan ini secara sepihak, nama baik kita bisa hancur dan Pak Candra pasti akan batal menjadi investor untuk perusahaan kita."
Wanita paruh baya itu menatap suaminya dengan wajah bingung.
"Mama tenang aja, setelah melihat Mario, Raini pasti mau menikah dengannya." Pak Gunawan mengusap bahu istrinya agar bisa lebih tenang.
Setelah merasa tidak ada yang perlu didengarkan lagi, Rania bangkit dari duduknya, ia berjalan dengan perlahan menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Raini.
"Rania!" Suara itu seketika menghentikan langkahnya.
Rania menoleh, "iya, Mah," sahutnya pelan.
Rania tidak pernah membantah, ia selalu mengecilkan nada suaranya saat berbicara dengan orang tua.
"Karena besok di rumah ini ada acara, kamu bangun lebih awal dan bantu Mama untuk menyiapkan semuanya," ucap wanita paruh baya itu yang terkadang memperlakukan Rania tidak seperti putrinya.
"Iya, Mah." Rania mengangguk patuh, setelah itu ia masuk ke dalam kamar.
Kamar itu tidak terlalu luas, berbeda dengan kamar Raini yang jauh lebih luas.
Kamar gadis itu dipenuhi oleh alat-alat kecantikan, berbeda dengan Rania, di atas meja riasnya hanya ada pembersih wajah, krim wajah, dan juga obat totol jerawat.
Ia berdiri di depan meja rias dan memperhatikan pantulan dirinya pada cermin.
Pantas saja terkadang orang-orang tidak percaya kalau ia dan Raini kakak beradik, karena Rania sadar mereka sangat jauh berbeda.
"Aku tidak pantas untuk siapapun. Tidak apa-apa, aku hidup bukan untuk berpasangan. Masih banyak yang bisa aku miliki, selain pasangan. Aku bisa menghabiskan waktuku bersama anak-anak panti," ucapnya pada dirinya sendiri.
Rania adalah salah satu guru di sekolah khusus panti asuhan, ia tak hanya mengajar, terkadang ia juga bermain dengan anak-anak panti.
Berbeda dengan Raini yang sering kali ikut event modeling dan sudah sering menjadi juara.
"Kenapa aku jelek sekali?" gumannya lagi disaat rasa tak percaya diri itu kembali menyerang.
Terkadang, ia juga berpikir ingin memilki pasangan, namun ia merasa tidak akan ada laki-laki yang mau padanya.
Sampai usianya dua puluh tujuh tahun, ia tidak pernah merasakan yang namanya pacaran.
Rasa tak percaya diri dan ejekan, sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.
Dan malam ini, ia mendapat hinaan dari keluarganya sendiri.
Rania mengoleskan obat totol jerawat pada beberapa titik di wajahnya.
Ia tahu itu tidak akan membuat kulit wajahnya menjadi glowing seperti wajah Raini, setidaknya ia ingin kulit wajahnya bersih dari jerawat.
Setelah itu, ia merebahkan tubuh dan siap untuk tidur.
Namun, sebelum tidur ia membayangkan ada seorang pria tampan yang menikahinya.
Meski rasanya mustahil, tapi setidaknya khayalan seperti itu bisa menghibur dirinya sendiri.
Rania terlelap dengan bayang-bayang pria tampan itu, hingga suara ketukan pintu membuatnya langsung terbangun.
"Rania, cepat bangun! Ini udah pagi, ayok bantu Mama siap-siap!"
Suara itu memecah keheningan pagi.
"Iya, Mah." Rania segera turun dari ranjang, ia membersihkan diri dan lanjut berpakaian.
Ia hanya mengenakan baju lengan panjang dan juga rok panjang yang menutupi kulit gelapnya.
Rania berpakaian sederhana, bahkan wajahnya tanpa polesan makeup. Ia hanya memakai pelembab, sunscreen, dan juga lipstik berwarna nude.
Rambutnya diikat asal, tidak ada yang istimewa darinya. Karena ia juga berencana, setelah para tamu datang, ia akan langsung masuk kamar dan tidak akan menampakkan diri hingga para tamu kembali pulang.
Rania tak ingin membuat keluarganya malu hanya karena kehadiran dirinya.
Biarlah ia menjadi orang yang bahagia di balik pintu kamar ketika mendengar adiknya sudah dilamar oleh seorang pria pilihan kedua orang tuanya.
Rania menyiapkan segalanya, mulai dari membersihkan ruang tamu sampai menyusun hidangan.
Ia terlihat seperti seorang ART, sementara ibunya sibuk berdandan karena akan menerima tamu istimewa.
"Rania, kalau sudah selesai semua, kamu masuk kamar ya. Sebentar lagi keluarga Pak Candra tiba, jangan sampai mereka melihat kamu." Bu Alda sibuk memperbaiki sanggulnya.
Wanita paruh baya itu akan masuk ke dalam kamar Raini yang sedari tadi pintunya masih tertutup rapat.
"Iya, Mah." Rania tak banyak bicara, karena ia juga merasa tak memiliki wewenang untuk membantah.
Bu Alda membuka pintu kamar Raini, betapa terkejutnya ia ketika melihat kamar itu kosong tak berpenghuni.
Jendela kamarnya terbuka, lemari pakaian di kamar itu terbuka dan beberapa petak kosong.
"Pah, Papa!" teriaknya yang menggemparkan suasana.