Another You 8

1415 Kata
Happy Reading . . . *** Aku mematikan sambungan telepon untuk yang kesekian kalinya disaat ponsel Tiffany tidak bisa dihubungi sejak tadi. Aku sudah rela menunggu sampai malam hari di ruangan kerja kantorku, agar aku bisa mengajaknya pulang bersama sekaligus makan malam. Namun sudah sebanyak dua puluh kali aku menghubungi ponselnya, lagi-lagi hanya mesin penjawab yang selalu terdengar di sana. Mendapatkan usahaku sia-sia, aku pun memutuskan untuk turun ke lobby dan pulang ke mansion. "Jeff, kita lewat Rameez." Perintahku setelah aku berada di dalam mobil. "Baik, sir." Beberapa saat mobil melaju menuju Rameez, Jeff pun memberhentikan mobil di belakang beberapa mobil yang terparkir di depan Rameez. Ketika aku sedang memperhatikan keadaan di depan Rameez dari dalam mobil, pandanganku langsung tertuju kepada dua orang yang baru saja keluar dari dalam sana. Liam, menggenggam tangan Tiffany dan mengajaknya menuju mobil pria itu. Telapak tanganku sudah mengepal hingga memutih tanpa tersadar. "Ikuti mobil yang baru saja pergi, Jeff. Dan jangan sampai kehilangan jejak." "Baik, sir." Pandangan mataku tidak bisa terlepas pada mobil Liam yang sudah sangat aku kenal sambil menduga-duga apa maksud dari pria itu yang masih mendekati Tiffany. Dan kenapa Tiffany yang juga terlihat bodoh dengan masih ingin bertemu dengan Liam. Bukankah kemarin wanita itu sudah mengatakan jika ia merasa bodoh dengan perasaannya terhadap Liam? Lalu kenapa sekarang ia seperti masih mengharapkannya? Pikiranku tidak bisa berhenti akan pemikiran-pemikiran tentang mereka yang seakan menjadi buruk ketika semakin memikirkannya. "Berhenti, Jeff." Perintahku disaat dari kejauhan aku melihat mobil Liam berhenti di sebuah cafe. Aku memilih untuk menunggu di dalam mobil sambil memperhatikan Liam dan Tiffany yang sudah masuk ke dalam sana. Ingin rasanya aku menyusul ke dalam sana, namun aku masih memiliki rasa malu jika akan terjadi keributan nantinya. Tidak cukup lama setelah mereka masuk ke cafe tersebut, aku bisa melihat Tiffany yang keluar dari sana dengan sedikit berlari. Tidak lama ia keluar, ternyata Liam juga ikut keluar dari cafe dan mengejar Tiffany. Aku yang melihat mereka yang seperti sedang bertengkar, berniat untuk menyelamatkannya Tiffany dari situasi itu. "Putar balik, Jeff." Setelah mobilku berhenti di sebelah trotoar dimana Tiffany dan Liam sedang berargumen, aku membuka kaca mobil dan langsung menatap kedua orang itu dengan tajam. "Masuk, Tiffany." Ucapku tajam menyuruh wanita itu untuk masuk ke dalam mobilku. "Ini bukan urusanmu, Nick." Balas Liam tak kalah tajam. "MASUK, TIFFANY!" Suaraku yang sangatlah kencang itu membuat Tiffany langsung melangkahkan kaki menuju pintu di sebelahku. "Seharusnya aku yang mengatakan jika Tiffany bukanlah urusanmu lagi, Lee." Bersamaan kaca mobil aku tutup, mobil pun mulai melaju. Suasana di antara diriku dan Tiffany sempat terasa canggung beberapa saat. Namun aku tidak tahan lagi untuk menanyakan sikap bodoh wanita di sampingku ini. "Apa lagi yang kau harapkan darinya?" Tanyaku dengan dingin tanpa memandang ke arahnya. "Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi darinya. Tadi dia hanya datang dan ingin mengajakku pergi." "Untuk apa? Untuk memberitahu jika kau tidak perlu menghilangkan perasaanmu itu?" "Liam hanya ingin menjelaskan perasaannya saja, Nick." "Lalu apa sekarang kau sudah mengerti dengan perasaannya? Dan untuk apa kau masih ingin berbicara dengannya?" "Aku hanya ingin mendengar penjelasannya saja, Nick." "Ohh... atau kau ingin memberikannya kesempatan untuknya dan membuat Liam menjadi mengasihani dirimu yang ternyata hanya dianggap sebagai adiknya saja. Liam hanya menganggap kau sebatas teman saja, Tiffany. Apalagi yang kau inginkan darinya?" "Cukup, Nick. Kau tidak mengerti apa-apa. Dan Liam benar, ini bukanlah urusanmu." "Hal ini ini akan menjadi urusanku jika kau adalah korbannya." "Aku tidak butuh kau yang selalu menjadi pahlawan, Nick" "Aku bukanlah pahlawan. Aku hanya ingin melindungi orang-orang yang aku cintai dari rasa sakit." "Kau tidak mencintaiku, kau hanya mencintai dirimu sendiri." "Kau tidak mengenalku, Tiffany." "Ya, kau benar. Aku tidak mengenalmu, dan kau juga tidak mengenalku. Jadi berhenti menjadi orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain dan berhenti untuk selalu menjadi pahlawan untukku." "Jangan datang kepadaku jika kau tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk membagi kisahmu yang mengenaskan itu." "Lihatlah, itu salah satu bukti jika kau tidak mencintaiku. Apa tujuanmu untuk mendekatiku, Nick?" "Pembicaraan kita selesai." "Apa maksud dan tujuanmu?" "Diamlah, Tiffany." "Apa, Ni-" "SHUT UP!" Suaraku yang sangat kencang itu langsung membuat Tiffany terdiam. Biarlah wanita itu marah kepadaku, yang terpenting dia tersadar jika Liam tidak akan pernah bisa ia gapai. "Kau harus sadar jika Liam tidak akan pernah bisa kau miliki. Jadi hentikan perasaanmu sebelum semakin dalam dan sangat sulit untuk dihilangkan." "Liam hanya tunangan, dan aku masih memiliki kesempatan." "Hentikan ketidakwarasanmu itu, Tiffany." "Memangnya kenapa jika aku tidak waras?" "Kau bodoh. Kau adalah wanita yang sangat bodoh!" "Terserah kau ingin menilaiku seperti apa. Tetapi asal kau tahu Nick, lebih baik aku jatuh cinta dengan seseorang yang tidak bisa aku miliki dari pada aku mencintai pria egois seperti dirimu,". "Hentikan mobilnya." "Berhenti, Jeff." Setelah mobil berhenti, Tiffany pun langsung turun dengan perasaan marah yang aku tahu karena ia sedikit membanting pintu mobilku saat menutupnya. "Ikuti dari kejauhan, dan jangan sampai terlihat olehnya." Perintahku kepada Jeff. Aku memang sedang marah dengannya karena sikap bodoh yang ia miliki itu. Tetapi aku harus memastikannya jika Tiffany harus dalam keadaan baik-baik saja hingga ia sampai pada flat-nya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan tidak baik bagi wanita manapun yang masih berada di luar seperti Tiffany. Dan aku harus menjamin jika wanita itu akan baik-baik saja. Untung saja disaat Tiffany ingin turun dari mobil tadi, posisi mobilku sudah berada di wilayah Brixton. Jadi Tiffany hanya tinggal jalan kaki beberapa kilometer, dan aku pun juga sedikit mudah untuk mengawasinya. Dan setelah Tiffany masuk ke dalam bangunan flat-nya, aku pun baru bisa bernafas lega saat melihat wanita itu yang baik-baik saja. Lalu, aku langsung menyuruh Jeff menuju mansion. Tubuhku yang sangat lelah karena bekerja dan juga karena sedikit pengintaian tadi harus segera diistirahatkan secepatnya. *** Hari demi hari telah berlalu, hingga 2 Minggu malam dimana aku dan Tiffany bertengkar dengan hebatnya tidak terasa telah berlalu. Aku sengaja tidak pernah lagi menghubungi apalagi menemui wanita itu. Aku harus bersikap seperti sedikit menjauh dan menjaga jarak untuk memberikannya waktu berpikir setelah pertemuan terakhir kami yang terasa tidak menyenangkan itu. Dan saat ini, di dalam ruangan kerjaku aku sedang memperhatikan foto Alexa di layar ponselku, dan cincin pernikahan yang baru belakangan ini aku putuskan untuk melepaskannya dari jari manisku, dan kini sudah tersimpan rapi di dalam kotaknya. Sudah hampir 1 tahun kehilangan wanita yang sangat aku cintai itu, tidak membuat hati dan diriku juga bangkit atas kepergian Alexa. Apakah rasanya memang se-sulit ini? Disaat aku mendengar suara pintu yang terbuka, aku pun langsung menyimpan kotak cincin itu di dalam laci meja sambil mematikan layar ponselku. "Kenapa lama sekali, Jess? Aku hanya meminta pesankan kopi, bukanlah makanan." Ucapku yang sambil merapikan meja kerjaku dari kertas-kertas dokumen. Sudah sekitar sejak dua puluh menit yang lalu aku menyuruh sekretarisku itu untuk membelikan segelas kopi di Rameez, namun baru sampai saat ini dia menaruh gelas paper cup di hadapanku. "Maaf, tadi kedainya sedikit ramai. Jadi, aku harus melayani pelanggan yang lainnya dulu sampai aku mendapatkan jam istirahatku." Saat mendengar suara itu, aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat keberadaan Tiffany yang ternyata mengantarkan kopi untukku. "Kalau begitu terima kasih," balasku singkat dan kembali memperhatikan kertas yang ada di tanganku. "Aku sudah beberapa kali melihat sekretaris-mu yang datang ke Rameez untuk membeli kopi. Kenapa kau tidak pernah datang lagi ke sana?" "Tidak apa-apa. Aku hanya sedang tidak ingin pergi ke Rameez saja." "Hhmm... Nick, aku ingin minta maaf mengenai malam itu. Aku merasa sudah keterlaluan terhadapmu." "Ya, tidak masalah. Aku mengerti kau marah denganku," balasku yang masih tidak melihat keberadaan Tiffany di hadapanku. "Aku tidak marah denganmu. Aku..." "Iya apapun itu, aku mengerti jika kau tidak menyukai pria sepertiku," sela-ku yang membuat Tiffany terdiam sejenak. "Sekali lagi aku minta maaf, Nick. Kalau begitu aku pamit dulu." "Ya, terima kasih juga karena sudah mengantarkan kopi ini." Pandanganku mengikuti kepergian Tiffany hingga sampai pintu ruanganku pun tertutup. Sepertinya menggunakan cara seperti ini untuk menaklukkan hati Tiffany tidak ada salahnya. Justru jika seperti ini aku bisa membuat wanita itu menjadi merasa bersalah atas kejadian 2 Minggu yang lalu itu. Senyumanku pun muncul disaat sebuah rencana baru tiba-tiba saja terbentuk di pikiranku. Rencana dimana aku akan memiliki sikap yang berkebalikan dengan sikapku terhadap Tiffany kemarin. Aku akan menjadi pria yang sudah mulai tidak peduli lagi dan tidak ingin selalu mengetahui hal mengenai dirinya seperti yang di inginkan wanita itu. Dan akan aku pastikan jika rencanaku yang satu ini akan berhasil, dan Tiffany akan jatuh ke dalam pelukanku tanpa adanya pemaksaan lagi. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN