Happy Reading . . . *** Aku menatap dinding putih di depanku sambil berpegang kuat pada besi panjang di kedua sisi kanan dan kiriku. Mulai dari hari ini aku memutuskan untuk mulai mengikuti kembali sesi jadwal therapy-ku. Aku benar-benar ingin bisa berjalan dan kembali normal lagi seperti sedia kala. Tetapi ketika aku ingin memulai therapy pada hari ini, tiba-tiba saja aku teringat Tiffany kembali. Biasanya ia yang selalu menemaniku disaat aku menjalani sesi seperti ini. Dan ia yang selalu menyemangatiku untuk bisa terus mengerahkan kekuatan untuk berjalan. Namun, semua itu hanyalah sebuah kenangan. Dan sekarang hanya ada sebuah dinding bewarna putih yang berada di depanku, tanpa adanya sang penyemangat. Aku pun berusaha mengabaikan perasaan itu. Perasaan kehilangan dan sendirian k

