Perjalanan Menuju Kota
Hari ini adalah jadwal keberangkatan ku, Bus yang kutunggu sebentar lagi akan datang. Perjalanan baru dan kehidupan baru pun akan kutempuh. SEMANGAT!
"Ibu doa in Mesya ya, semoga di sana Mesya dapat membahagiakan Ibu." Ucap ku dengan amat sedih kala akan meninggalkan tempat kelahiranku ini dan orang tua ku.
"Hati-hati ya nduk, lakukan yang terbaik untuk masa depanmu." Ucapnya, tak tahan lagi air mata ini langsung menceplos jatuh tanpa di minta. Aku segera memeluk Ibu ku yang telah merawat ku selama ini. Aku menangis di pelukannya rasanya berat untuk meninggalkannya.
"Pak, doa kan anakmu ini ya." Aku langsung memeluknya,
"Jangan pernah takut untuk memulai sesuatu hal, betapa indah bila dilakukan dengan hati. Jaga dirimu baik-baik kabar in ibu bapak kalau sudah sampai," tuturnya dengan air mata yang sudah bergelimang.
Aku beralih menatap adik ku Arya Santoso biasanya di panggil Aryo sekarang ia duduk di bangku kelas 6 SD.
"Jangan bandel ya jaga ibu dan juga adik-adik kamu, sehat-sehat ya!" ucap ku memeluknya
"Kakak juga ya, kalau sakit jangan menyusahi paman toh.” Ucapnya dengan kalimat meledek, aku sedikit tersenyum dengan kalimat yang ia lontar kan, dengan gemas aku memberantak rambutnya.
"Untuk Denita jangan sering nangis ya," ucap ku mengendong adik ku yang berusia 6 tahun aku mencium pipinya.
"mbak, kalau udah kaya pulang ya." Satu kalimat itu menceplos keluar dari bibir mungilnya dari mana anak seusia itu dapat berpikir jauh begitu.
Aku mengangguk menurun kan si kecil dari gendongan ku. Tak berapa lama bus yang akan ku naiki telah datang.
Ku pandangi foto keluarga ku, kupeluki erat-erat. "Mesya janji jika sudah sukses, Mesya akan membahagiakan kalian," ucap ku dengan lirih. Kupejam kan mata ku semoga saat membuka mata aku langsung sudah di terminal bus. Bus terhenti di sebuah rumah makan untuk mengisi perut. Aku segera turun dan mencari tempat duduk. Setelah itu aku memesan makanan tak lupa dengan Hp kuno ini aku menekan kan angka, terdengar suara bapak di sana.
"Mesya lagi makan siang nih, sebentar lagi akan sampai kok.”
“Mesya rindu bapak.” Aku merasakan gejala panas di hatiku.
"Iya Nak, semoga sampai dengan selamat ya, bapak mati in dulu ya, mau jalan pergi ke sawah, assalamualaikum." ucap bapak dari seberang sana.
"Waalaikumsalam." Jawab ku tak terdengar suara lagi, karena masih ada sisa beberapa menit lagi aku segera melaksanakan Shalat karena memang sudah masuk waktu Shalat.
Bus pun berjalan seperti biasanya, bus akan sampai pada tujuannya mungkin 2 hari lagi. Ada alternatif lain yang mudah itu pun membutuh kan biaya yang mahal makanya aku menggunakan bus, karena memang dari keluarga sederhana.
***
"Neng bangun sudah sampai!" Suara bariton mengganggu tidurku, dengan segera aku langsung bangun.
"Eh iya mang, tolong turun kan tas saya di belakang ya!" Pintaku kepada sang pemilik bus,
"Alhamdulillah terima kasih ya Allah engkau permudah kan perjalanan hamba," ucap ku memohon syukur saat berada di salah satu bangku penunggu.
Tak lama kemudian terlihat seorang wanita separuh baya hampir mirip dengan ibu menghampiri ku, aku langsung menyalami tangannya.
"Ayo, pasti lelah istirahat di rumah aja!" ajak nya pada ku. Ia menggunakan mobil sendiri ia tak punya anak karena penyakit bawaan lahir yang membuat ia tak bisa memiliki keturunan.
Setelah sampai di rumahnya, kulihat rumahnya begitu cantik dan lumayan dari rumah ku terlihat ada kolam di depan rumah nya, desain nya begitu keren.
"Ayo masuk! Tasnya biar tante bantuin bawa," aku menjinjing tasku dan satunya lagi dibawakan oleh Tante.
Tante mengiring ku, sungguh tak kuasa melihat bangunan yang sangat indah ini. Aku masih takjub dengan semua fasilitasnya. Setelah menaiki tangga, kira-kira dua puluh langkah lagi terlihat ruangan dengan pintu bertulisan ‘Maisya Az Zahra”
“Apa benar ini kamar Mesya?” tanyaku tak percaya.
“Iya, jauh hari sebelum pindah Tante sudah mendekornya dulu.” Ucap Tante.
Benar-benar takjub dengan pemandangan yang di suguhkan, aku tak pernah berpikir kamarnya akan sebagus ini. Nuansa berwarna putih dan beberapa figura artis pun sudah terjejer rapi, bahkan aku sama sekali tak mengenal salah satu diantara mereka.
“Maisya, bajunya boleh disusun rapi di almari. Kalau seandainya perlu sesuatu panggil Tante di bawah ya,”
Sebelum keluar dia mengacak rambutku, dan mengukir senyum di bibirnya.
Aku merebahkan tubuhku di kasur, sangat empuk. Beda dengan kasurku dulu dimana per nya pun udah hampir keluar menonjol.
“Wah, lengkap banget kek nya Mesya mimpi deh,” aku berguling-guling di atas tempat tidur tersebut.
“Ya ampun kamar mandinya pun ada, berarti kalau mandi tak perlu mengantre lagi.” Aku terkikik pelan saat mengingat kamar mandi umum yang ada di kampungku.
“Mandi dulu deh, rasanya segar banget kayaknya kalau mandi nih.” Segera aku mengganti pakaianku dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Bak nya mana ya? Gimana mau mandi air nya gak ada.” Aku sedikit kebingungan. Hanya ada selang di sini.
“Ini kali ya,” aku memutar benda kecil, kemudian air keluar dari atasnya. Sedikit terkejut.
“Segar banget, samponya wangi banget.” Aku memutarkan badan, seolah sedang menari balet.
Memakan waktu yang sedikit lama, bagiku untuk menata rapi pakaianku.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar, "Masuk aja pintu nya gak di kunci kok.” Ucapku,
Apa setiap orang kaya, kayak gini ya? Kalau masuk harus ketuk pintu kamar dulu. Ucapku dalam batin.
Senyum mengembang di bibirnya. “Sudah mandi ya? Wangi banget sih,” tanya Tante.
“Iya Tante, Mesya ambil sampo nya tadi di kamar mandi soalnya Mesya gak bawa sampo.” Aku cengar-cengir menjawab pertanyaan Tante.
“Lagian itu memang untuk kamu kok, jadi ke-depannya tak perlu sungkan lagi ya,” ucapnya mengelus kepalaku. Aku cuma mengangguk.
"Turunlah ke bawah sebentar lagi kita akan makan siang," ucapnya mengelus kepala ku.
"Iya Tan ..." sahut ku,
"Oh ya untuk sekolah Senin depan udah boleh masuk, panggilan dari sekolah sudah ada. Nih baca aja sendiri." Ia menyerahkan secarik kertas.
"Kalau begitu Tante tinggal dulu, kalau ada yang mau di tanya turun aja ke bawah" ucapnya meninggal kan ku dan menutup rapat pintu kamar ku.
Aku membuka kertas tersebut dan betapa senangnya aku bisa sekolah di sana, sekolah elit dan favorit di kota ini. Pasti banyak teman-teman di sana. Wah pasti banyak wawasan yang kudapatkan. Rasanya sudah tak sabar aku ingin ke sana. Aku mengambil Hp. Menelepon Orang tuaku.
"Halo assalamualaikum, ” sapa ku ketika suara telepon telah tersambung.
"Waalaikumsalam...." ucapnya dari seberang sana.
"Bapak lagi mengapai? Sudah makan apa belum?" tanya ku kepada Bapak.
"Ini lagi makan di sawah bareng kek Anwar juga,” Kata Bapak.
"Oh ya pak, Senin besok Mesya udah masuk sekolah loh," ucap ku dengan memberi kabar gembira.
"Alhamdulillah, kirim salam sama Tantemu ya, ini Ibumu mau ngomong.” telepon teralih kan terganti suara perempuan di balik sana yang telah dua hari ini aku rindu kan bahkan kalau dibilang sangat kurindukan.
"Nduk, ibu ikut senang ya jaga diri baik-baik jangan nakal disana." Nasehatnya dengan suara parau seperti habis menangis, mungkin.
Tak tahan lagi ku menahan air mata ini, tumpah sudah. " Mesya rindu kalian.” ucap ku tersendu-sendu.
"Ibu disini baik-baik aja, nanti kalau udah lama juga terbiasa. Jaga kesehatan ya Nduk, jangan terlalu pikirkan kami, sekolahnya yang benar ya.” Ucapnya Ibu dari seberang sana, amat sangat kurindukan.
Karena baru kali ini aku berpisah jauh dari keluargaku. Setelah berbincang, akhirnya telepon terputus. Terbayar sudah rinduku saat mendengar suara mereka.
Segera aku menggunakan hijabku dan berjalan ke bawah. Aku berusaha menemukan ruang makan. Terlihat banyak hidangan yang tertata rapi di meja tersebut.
"Tan, banyak banget makanannya ada tamu ya?" tanya ku saat telah mendarat kan p****t ku di kursi tersebut.
"Enggak kok cuma hari ini Tante lagi senang aja makanya buat masak sebanyak ini," Jawabnya dengan tatapan ramah ke arahku.
"Oh ya Maisya di rumah ini ada beberapa pembantu 2 untuk bersihkan rumah seperti mengepel, menyapu, bersih kan halaman dan ada juga yang khusus untuk memasak. Di luar ada juga beberapa satpam. Jadi tugas kamu di sini hanya belajar ya" jelasnya kepada ku.
Aku mengangguk paham hanya kami berdua di meja makan ini" oh ya Tan, om mana?" tanya ku.
"Lagi dikantor nanti malam baru pulang," jawabnya.
Aku hanya mengangguk kan kepalaku,
“Tante boleh makan gak?” tanyaku sedikit malu-malu.
“Ya, silakan makan apa yang kamu mau. Jangan sungkan, setelah itu kamu terbiasa kok.” Ujarnya lagi.
Posisi kami duduk itu berseberangan, aku melihat cara makannya sangat elegan.
“Alhamdulillah,” ucapku kala selesai melahap makanan di depanku.
“Oh ya Tante, ini piringnya mau di letak dimana?” tanyaku kepadanya.
“Biarkan di sini saja, bentar lagi ada yang membersihkannya.” Ucapnya,
“Mesya mau bantu Tante, sedikit tak enak hati rasanya. Apalagi Mesya udah sering ngelakuin hal ini.” bantahku.
“Baiklah kalau memaksa, bawa saja ke dapur nanti akan di cuci sama Bibi. Tante deluan ya,” ucapnya segera meninggalkan ku.
Aku mengangguk dan segera meletakkan piring kotor tersebut di meja belakang. Setelah itu bergegas kembali ke kamar. Langsung aku merebahkan badanku sampai pada akhirnya aku tertidur.
Aku bangun dari tidur ku, rasanya sangat nyaman. Tak terasa hari sekarang sudah terlalu teduh, sebelum turun tak lupa aku membersih kan diri ku dulu.
"Assalamualaikum Tan...." salam ku dengan girang kepadanya saat diri ku sudah berada di depannya, ia sedang menikmati TV yang sedang di nyalakan
"Waalaikumsalam, ayo sini duduk." Ajaknya menepuk kan bangku yang kosong di sebelahnya.
Aku mendarat kan p****t ku, masih dengan rasa terkagum-kagum,
"Bagaimana keadaan keluargamu di sana?" tanya Tante menatapku lekat.
"Alhamdulillah Tan, sehat kok," jawabku dengan menunjukkan deretan gigiku.
"Bagaimana pekerjaan Bapak, masih di sawah?" tanyanya
"Iya Tan, kehidupan disana sama seperti dulu, setiap harinya bapak ke sawah Tan, Ibu ikut bantu in kalau udah siang selesai masak. Mesya sering juga bantu-bantu di sana.” Jelas ku kepadanya,
"Tan, tadi setelah sampai di sini aku menelepon ibu, katanya dia kirim salam kepada bibi" sambungku lagi menyampaikan amanah.
"Waalaikumsalam" jawabnya.
"Oh ya udah beli peralatan sekolah?" tanyanya lagi.
"Belum Tan, tapi Ibu udah kasi uang katanya beli di sini aja. Soalnya kalau bawa dari sana susah ribet ntr urusannya." Jawabku.
"Kalau gitu, nanti malam kita cari alat sekolah kamu." Aku mengangguk,
Setelah itu kami asyik menonton TV, sekali-kali terdengar u*****n Bibi karena ikut kesal dengan aktor tersebut. Tak jarang kami mengobrol berbasa-basi. Setelah itu aku bergegas kembali ke kamar karena hampir tiba waktu Shalat magrib.
Setelah usai Shalat, Aku turun ke bawah. Rasa bosan menyerangku.
"Tan, kalau boleh tahu Om kerja apa?" tanya ku sedikit penasaran,
"Om-Mu itu pemilik salah satu toko furniture, sekarang sudah 2 cabang yang sedang berkembang" jelasnya, "Besok Tante mau ke butik, soalnya sudah lama banget gak ke sana" sambungnya lagi.
Ya Tante ku mempunyai salah satu butik, aku tahu saat ibu memberi tahu ku.
"Sebentar lagi Maisya siap-siap ya, kita mau beli peralatan sekolah" ucapnya mengancungkan jempol ke arahku.
Setelah selesai makan malam, aku kembali ke kamar mempersiapkan diri. Aku memakai baju yang gembor dan juga memakai rok dan tak lupa balutan hijab bertengger di kepala ku. Aku melihat pantulan diri ku di cermin. Sangat natural tanpa menggunakan make up sedikit pun.
Setelah itu aku turun, terlihat Tante sudah siap dengan gamis panjangnya.
"Ayo cantik, nanti kemalaman." Ajaknya menggiringku ke garasi.
"Kita mau ke mana dulu?" tanyanya saat sudah di setir mobil.
"Ya mau ke toko loh Tan, kan sekalian mau beli baju sekolah," Jawab ku sedikit gagu, kenapa tanya kayak gitu ya? Pikir ku.
“Hahaha jangan terlalu tegang, hanya bercanda kok,” ujarnya santai.
Ternyata Tante sangat ramah juga ya
Kami berdua menikmati jalanan malam ini sangat santai, menikmati alunan lantunan Al Quran. Jalanan malam ini tak terlalu macet, tak lama kemudian tempat yang akan ditujui sampai, aku perhatikan bangunan di depan ku ini begitu besar dan megah menjulang tinggi ke atas. Aku mengikuti langkah kaki Tante ku yang membawa ku ke dalam gedung tersebut yang ramai akan pengunjungnya.
"Maisya ayo, " ajaknya, Aku seketika terhenti.
"Gapapa, ini nama nya eskalator biasa di sebut tangga jalan," ujar memberi arahan.
“I-ya Tante.... “ ucapku sedikit gugup karena, baru kali ini aku melihat benda di depanku ini.
Setelah itu kami berhenti di sebuah toko baju.
Segera Tante mencari seragam untuk ku kenakan, saat hendak membayar aku merogoh saku ku.
"Ini uang nya Tan, " ucap ku menyodorkan uang nominal ratusan ribu.
"Ga perlu biar Tante aja yang bayar semua nya simpan aja uang nya," ucapnya lagi, menolak pemberianku tersebut.
Aku mengangguk mengerti, setelah dapat barang yang di cari kami melanjutkan perjalanan kami. Sekarang tujuan kami adalah peralatan sekolah.
"Ada yang mau di beli lagi?" tanyanya saat kami duduk, saat kantong belanjaan terisi dengan penuh.
" Ga ada Tan, udah cukup kok." tolakku, karena ku pikir semua sudah cukup.
"Mau es krim tidak?" tawarnya,
"Boleh Tan," Aku menjawab dengan malu-malu.
Tak lama kemudian Tante datang dengan dua cup es krim di tangan nya. Setelah itu kami beranjak meninggal kan gedung besar tersebut.
"Tan, kapan mereka tutup?" tanya ku penasaran.
"Sebagian toko ada yang tutup sekitar jam 12, ada juga sebagian yang buka 24 jam." Jawabnya dengan tatapan fokus ke jalanan
"Apakah kita boleh jualan disitu juga?" tanya ku lagi.
"Memang mau jualan apa?" tanyanya balik kepada ku.
"Singkong rebus atau kue basah.... " jawab ku seadanya, kan orang di situ memang ramai kan mana tahu banyak yang minat.
Ia tertawa kecil, aku yang memperhatikan nya masih heran.
"Maisya makanan yang akan kamu jual itu sudah tak banyak orang suka, karena kebanyakan dari mereka lebih suka makanan yang udah di olah, mereka lebih suka makanan khas budaya orang timur gitu," tuturnya kepada ku dengan mengelus kepala ku dengan menggunakan satu tangan. Tak dapat berbicara lagi aku hanya membulat kan mulut ku.
Tak berapa lama kemudian kami sampai di rumah, langsung saja aku pamit ke atas karena memang sudah cukup letih untuk perjalanan malam ini, kulirik jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku segera mengganti pakaian ku sebelum itu aku berwudu untuk menunai kan Shalat isya.
Setelah Shalat aku langsung melipat nya rapi dan menyimpan nya kembali, aku melihat barang-barang belanjaan ku. Aku cuma menata buku di meja belajar ku untuk baju sekolah masih ku letak di disitu. Karena memang hari ini cukup melelah kan.
Aku berpikir bagaimana sekolahnya?, apakah besar dan mewah?, apakah banyak teman disana? . Satu yang kuharap semoga saat di sekolah aku tak membuat keributan.
Treng ... treng ... treng
Bunyi alarm membangun kan tidur nyenyak ku, segera ku mati kan suara tersebut. Aku duduk sebentar mengumpul kan kembali kesadaran ku. Setelah itu aku bergegas mandi untuk Shalat subuh.
Setelah Shalat aku duduk di tepi ranjang ku,
"Mau ngapain ya?" tanya ku pada diri sendiri, rasa bosan tekah menghampiriku.
Ku buka jendela hari masih begitu gelap, suara ayam jantan telah terdengar di telinga ku. Aku membersih kan tempat tidur ku. Kulihat seseorang sedang bertugas di dapur.
"Bi, ada yang mau dibantu gak?" tanya ku.
dengan sedikit kaget ia menjawab, “Ga perlu nona, saya bisa sendiri.”
"Jangan panggil nona, panggil Maisya aja ya." Ucap ku kepada nya.
Nama ku Maisya Az Zahra biasa orang memanggil ku dengan "Maisya" tapi tidak dengan ku sendiri aku menyebut diri ku "Mesya" aku lahir saat azan isya berkumandang jadi ibu memberi nama Maisya ada kata isya di belakang nya. Ya begitu lah kata ibu. Tapi yang terpenting arti nya sangat indah.
Setelah itu aku meninggalkannya, karena katanya tak ada yang perlu dibantu. Aku ambil pulpen dan buku ku tulis sesuatu di atas buku tersebut.
"Allah selalu mencintai umat nya yang begitu sabar, ya Allah jadikanlah hamba umat-Mu yang sabar akan sesuatu hal agar hamba selalu di sayangi olehmu."
kalimat tersebut merupakan doa ku juga.
"Mau tulis apa lagi ya," tanya ku dengan memutar-mutar pena tersebut. Aku menggelengkan kepalaku menutup kembali dan menyimpan alat tersebut.
Matahari masih bersembunyi di balik awan masih tak mau menampakkan wujud nya, tapi sinar merah nya telah terlihat.
"Indah ya pemandangan dari sini." Ucap ku saat menikmati ke datang an fajar tersebut.
Di sini begitu sepi tak tahu harus mau ngapain, tak punya teman tak punya HP juga. Jadi sedikit bosan.
Biasa nya pagi begini aku berada di sawah membantu Bapak dan Ibu sedang bekerja, atau tidak memasak untuk sarapan pagi. Tapi kalau disini mau ngapain? semua telah tersusun rapi semua tugas udah di selesai kan. Aku sedikit tertunduk. Semoga aja hari cepat berganti agar cepat sekolah. seperti nya lama banget menunggu hari lusa.