Sudah tiga tahun lebih Fano duduk di bangku SMA bahkan dirinya tak ingin naik kelas entah apa maksudnya tapi begitulah faktanya. Sekarang dirinya seolah-olah menjadi orang bodoh yang tak pernah berniat ingin keluar dari trauma masa lalunya. Menghisap sebatang rokok dan keluar berharap begitu juga masalahnya. Akhir-akhir ini dirinya berpikir layaknya orang normal yang memikirkan masa depan. Padahal dahulu dirinya tampak tak pernah peduli tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. “Akkhh,” Fano memberantakkan rambutnya dirinya kini frustrasi, sebab sekarang hatinya sudah tak sama seperti dulu. Mengambil lagi sebatang rokok dan menghembuskan dengan kekesalannya. Apa yang ia pikirkan kini sungguh bukan yang dia inginkan sebenarnya. “Fano....” Panggil Bagas, Fano hanya menatapnya malas

