Jajan Gratis

2109 Kata
“Maafkan tante, mungkin kamu lelah menunggu tante datang soalnya di butik hari ini rame banget. Makanya tante Ngga bisa jemput kamu sekolah maaf in tante ya.” Samar-samar aku mendengar ucapan tante Amy. Dan sesegera mungkin aku bangkit dari posisi itu. “ ah ... Tante Amy sejak kapan disini?” tanyaku menggaruk tengkuk yang tak gatal sama sekali. “Barusan saja kok,” ucapnya dengan senyum manisnya ke arahku. “oh ya, Maisya udah makankan?” tanyanya kepadaku. “udah kok,” jawabku cepat. Setelah melewatkan obrolan basa-basi yang menjenuhkan, ini lah yang sedari aku tunggu, aku sangat bersemangat. “Seru banget tante, apalagi teman-temannya asyik semua!” jawabku antusias saat tante Amy menanyakan “Bagaimana sekolahnya hari ini?” “Apakah Tante menjadi salah satu bagian dari temanmu, Hahaha ... tampaknya mereka sangat menyenangkan.” ledek Tante Amy kepadaku. “Tapi, ada satu teman cowok Mesya tampak acuh banget sama semua hal. Masa iya tante, kita belajar dan dengan asyiknya dia main HP dan anehnya lagi tak satu pun guru yang negur dia," ucapku sedikit kesal saat mengingat cowok teman sekelas ku. “Terkadang apa yang kita pikirkan tak sejalan sama kenyataan, karena orang kaya di kota hebat ini adalah raja yang berkuasa akan semua hal. Bagi kita masyarakat yang perekonomian rata-rata hanya sampah di mata mereka, miris bukan?” pernyataan Tante Amy sangat membenarkan. Teringat saat itu Aryo sakit keras, yang mana harus dibawa lari ke rumah sakit. Musim peng-hujan sedang melanda tempat tinggalku, jadi sawah yang baru tumbuh rusak akibat angin kencang, yang menyebabkan semua petani gagal panen tahun itu. Biaya sangat mendesak keadaan, tak ada pilihan lain oleh Bapak kecuali meminjam kepada rentenir. Dan alhasil kami harus membayar dua kali lipat untuk menebus hutang tersebut. Sungguh miris, tak ada kompensasi bagi kami rakyat kecil. “Abaikan saja dia! Jangan terlalu campuri urusannya nanti takutnya kamu terseret dalam dunia mereka dan asal kamu tahu dunia mereka sangat berbahaya!” ucap Tante Amy dengan mencolek hidungku. “Siap 45 Tante!” ucapku menghormat ke arahnya, dan di balas tawa olehnya. Malam pun menghampiri, tadi aku lihat Om Reno sudah pulang. Mungkin pekerjaannya sudah selesai, begitulah pikirku. “Tante, Om selamat malam,” ucapku saat berada di belakang mereka. “Ah Maisya bikin kaget aja ” ucap Om Reno dengan mengelus dadanya. Dan mereka menoleh ke belakang. Aku terkikik geli. “Mas aja yang kagetan,” timpal Tante Amy dengan tatapan mengejek ke arah suaminya. “Ayo sini duduk!" suruhnya dengan menepuk-nepuk bangku di sampingnya. Aku mengangguk dan segera berjalan ke tempat duduk tersebut. “Maaf in Mesya ya Om.” Aku menoleh ke arahnya karena masih tak enak perasaan soal kekagetannya tadi. “Gapapa kok, lagian memang Om yang suka kagetan.” ucapnya dengan mengelus kepalaku, aku membalasnya dengan senyuman. Sepi senyap tak ada obrolan hanya ada suara TV yang terdengar. Aku menoleh ke kanan, Om Reno yang sibuk dengan gawainya dan ke kiri ada Tante Amy yang tengah fokus ke arah layar TV tersebut. Dan aku yang sedang bingung dengan posisi ini. Aku menatap bosan ke arah TV, karena memang tak mengerti alurnya jadi aku tak menikmati tontonan tersebut. “Apakah itu museum?” tanyaku saat aku memperhatikan layar HP Om Reno. “Iya, ini museum yang ada di Aceh, soalnya bulan depan Om ada proyek kerja di sana” ucapnya menjelaskan. “Wahh ... bolehkah Mesya ikut?” tanyaku kegirangan. “Tentu saja” ucap Om Reno, Senyumku mengembang, kala mendapat respon tersebut. Tante Amy memukul lengan suaminya, “Apa sih Mas!.” Ucap Tante Amy agak marah. “Bukannya gak boleh Maisya tapi kan Maisya sekolah” ucap tante Amy mengelus kepalaku. Aku cemberut, sedikit tak suka. Sesaat kemudian aku kembali tersenyum membenarkan ucapan Tante Amy. “Kapan Mas akan ke sana?” tanya Tante Amy wajahnya berubah menjadi sendu. “Maisya, ke kamar dulu ya, Om mau ngomong serius dengan Tantemu,” pinta Om Reno kepadaku. Aku mengangguk dan meninggalkan mereka berdua di sana. “Bulan hari ini tampak sangat indah, begitu besar ya. Kira-kira keadaan Ibu di sana bagaimana ya” ucapku dengan kerinduan mendalam dihatiku. Aku memegang hatiku dan menutup mata seraya berkata, “Semoga keluarga dikampung baik-baik saja ya Allah.” Begini lah kalau berjauhan dengan orang tua, sulit rasanya apalagi kami tak pernah terpisah jauh sedikit pun. Sekarang sudah beda jadi aku harus sedikit dewasa. “Jangan menggantung terus Mesya, nanti kalau nikah juga jauhan dari keluarga, jadi sekarang waktunya latihan.” Ku tanamkan kalimat tersebut di benak dan hatiku. Aku kembali menutup jendela kamar, kemudian beralih ke meja belajar. Buku sudah di tata rapi, memang ada tugas dari sekolah yaitu mencatat pelajaran yang tertinggal, karena teman-teman belum meminjamkan buku jadi aku tak perlu memikirkannya. Aku mengambil buku berwarna gold, sedikit lecet dan usang. Buku ini ku beli dengan kerja kerasku, ini hadiah dari kemenangan pidato saat Smp. Yang mana buku ini menjadi diaryku. Kubuka satu demi satu lembar di buku ini, saat lembar ke tiga aku sedikit tercekat dengan isinya, Hai ... dia sangat cantik jadi hatiku menggebu-gebu saat melihatnya. Ingin rasanya ku menyentuhnya apalah daya dia sangat jauh dengan ku. “kira-kira kalau aku minta dia sama pemiliknya di kasih gak ya?” Antahlah, jadi aku sedikit bingung atas dirimu. Ini kedua kalinya aku menuliskan tentangmu di buku berhargaku. Kau sangat menawan, tapi kau sangat susah untuk kudapati. Ck ... terobos aja lah. Aku mengumpulkan beberapa temanku untuk aksi pendekatannya, susah sih ngajak teman soalnya mereka pada gak mau. Tapi akibat tekadku akhirnya aku berhasil. Yes. Sudah lama aku mengincarmu akhirnya kau kudapatkan. Tak lama kemudian orang pemilik pohon keluar, kami berlari pontang-panting. Hahaha ... hanya demi mangga kami kesampingkan ego. Tertanda, Maisya cantik ’13 Oktober” Aku tertawa mengingat kejadian lucu itu, ah bagian ini sangat konyol entah kenapa aku menulisnya. Sekarang perut kuterasa lapar. Akhirnya aku menutup kembali buku tersebut. Aku turun ke bawah, kulihat mereka sedang asyik berpelukan. “Tante, Mesya lapar,” ucapku memegang perut. “Ah—ayo kita segera makan.” Bergegas kami beranjak dari tempat itu. Makanan sudah tersedia dengan rapi. Obrolan hari ini sangat santai, jadi aku sedikit bisa menerapinya dan ikut bergabung dalam pembicaraan itu. Usai makan, aku kembali ke kamar waktu isya masih ada. Akhirnya aku memutuskan Shalat sebelum tidur. “Rasanya agak aneh, masih jam sembilan tapi sudah berada di atas tempat tidur,” gumamku. Setelah agak lama berusaha tidur akhirnya aku terlelap juga. Cuaca terasa dingin, membuatku menarik kembali selimutku. Aku melirik sekilas ke arah jam dinding masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Kembali aku menutup rapat mataku. Aku kembali terbangun perutku terasa kram seperti ingin ke kamar mandi, selesai membuang hajat aku kembali duduk di tepi ranjang. “Ah ... ini sedikit aneh, apa jangan-jangan Allah kangen Mesya ya!" ucapku pelan. Aku mengangguk dan kembali ke kamar mandi untuk berwudu. Mungkin saja ini cara Allah untuk menyuruhku bersujud kepadanya. Sungguh sangat besar amalan saat kita Shalat tahajud apa lagi kalau kita lakukan seratus persen bakal terwujud sebagaimana janji Allah. Sungguh bahagianya kita, apalagi beribu malaikat duduk berselawat untuk kita. Sungguh indah nikmat Allah. ** Ruang makan sudah rapi, dua insan telah bersemayam disana. “Assalamualaikum Om, Tante” salamku kepada mereka. “Waalaikumsalam” jawab mereka kompak. “Oh ya, berhubung Tante lagi gak sibuk jadi Tante yang antar Maisya ya!” ucap Tante Amy memandangiku untuk meminta persetujuan. Dengan senang hati aku menjawab, “Tak masalah, malahan Mesya sangat senang.” Kemudian aku tersenyum. Setelah sarapan, aku bersiap-siap untuk ke sekolah. Tentunya di antar oleh Tante Amy. Langit tampak berseri seperti diriku. Jalanan masih agak lenggang. Pengguna jalan kaki masih sepi satu persatu yang melintas. Jejeran toko sudah terbuka, mobil terhenti saat lampu merah menyetopnya Aku menatapi dan merekam semuanya dengan indra penglihatku. Sayang, pengguna sepeda sangat tak di minati oleh masyarakat kota. Padahal di kota maju sekalipun malahan sepeda sangat di lestarikan. “Ayo, Maisya sekolahnya sudah sampai.” Ucapan Tante Amy membuyarkan lamunanku tak terasa sekolah sudah berada di depanku. “Belajar yang rajin ya, nanti kabari Tante kalau sudah pulang sekolah” ia mengelus kepala ku dan tersenyum indah ke arahku. Setelah aku menyalaminya mobilnya berjalan jauh sampai hilang dari penglihatanku. Aku berjalan masuk ke sekolah, gedung bangunan sangat tinggi. Walaupun sudah pernah masuk ke sini tapi aku tetap saja mengaguminya. Sekolahan masih sepi padahal lima belas menit lagi belajar akan dimulai. “Assalamualaikum, Dinda." Salamku kepada Dinda, dengan tatapan yang fokus ke HP. “Waalaikumsalam... “ jawabnya, “Intan mana?” tanyaku saat meletak tas dibangku milikku, dengan sedikit keheranan. “Dia belum datang,” ucap Dinda segera menghampiriku. Aku masih menatapnya dengan tatapan bingung. “Ah, Fano itu idol di sekolah ini. Banyak banget fansnya mungkin hampir satu sekolahan. Selain ganteng dia juga anak pemilik sekolah ini. Dan semua hadiah, bunga ini dari fans nya. Jadi jangan terkejut. Karena Fano akan menyumbangkan jajanan nya ke teman-teman kelas.” Aku memperhatikan penjelasannya. “Apa berarti kita akan dapat bagian?” tanyaku dengan sebelah alis mengangkat, sontak Dinda tertawa dengan ucapan tersebut. “Ada-ada aja lagian Maisya, tapi pastinya dapat dong” jawabnya lagi. “Lagian mereka bodoh sih, kan dia anak orang kaya kasih yang beginian mah ya pasti tak berarti bagi dia.” ucapku menggelengkan kepala. Dengan cepat Dinda berucap, “Jangan kencang-kencang nanti takutnya ada yang tersinggung.” Aku mengangguk. “woi ... Gosip apa nih pagi-pagi!" teriak Intan mengejutkan kami berdua. “Dih kebiasaan banget deh, kalau datang gak pernah gak bikin jantungan!” ucap Dinda menatap Intan kesal. “Ye, Maaf lah,” ucap Intan. “Memang kalian gosip apa sih pagi-pagi?” tanya Intan penasaran. “Bukan kami gak bergosip, Cuma kami lagi ngomong aja,"jawabku menatap Intan. “Ah, sama aja pun!” jawab Intan cepat. “Beda ih, gosip itu sama halnya dengan gibah sedangkan kami bercerita ya kan Dinda?” kataku memberi pengertian. “Ah sama aja, pasti kalian lagi gosip In orang kan! Ngaku!” ucap Intan masih menuduh Aku dan Dinda. “Enak aja, mana kami gosip. Jangan fitnah lah!” ucap Dinda kesal. “Jadi gini ya, biar diberi sedikit pengertian bukannya sok ngajarin kalian berdua, gosip atau gibah adalah perbuatan tercela, Allah tak suka dengan sikap itu di mana kita membuka aib sesama manusia dan membeberkan kelakuan buruk mereka atau bahkan sampai mengolok-olok. Jadi Allah sangat membenci sifat itu. Dan sudah di jelaskan dalam sabda Rasulullah, Aku lupa ayatnya tapi artinya kayak gini : “Riba itu ada tujuh dua puluh pintu, yang paling ringan dari padanya sama dengan seseorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah penggunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahiha). Ya begitu lah kira-kira bunyinya.” Aku memberi penjelasan. “Itu kamu hafal?” tanya Dinda tak percaya. “Sangat kagum!” ucap Intan tersanjung. “Ah, bukan apa-apa itu hanya penjelasan kecil karena dulu pernah masuk pesantren beberapa bulan sih,” aku tersenyum ke arah mereka. “ekhem...” Suara deheman mengagetkan kami bertiga, secara kompak kami menoleh. Ternyata itu suaranya Fano. Kami bergeser sedikit membuka jalan untuk Fano. Aku melirik mereka berdua, mata Intan tak henti-hentinya menatap Fano kagum dengan senyumnya yang sedari tadi mengembang sedangkan yang di perhatikan tak bergeming sedikit pun. “Oh ya, pinjam buku catatan Bahasa Indonesia dong. Karena Mesya belum selesai mencatat kemarin.” pintaku kepada kedua teman yang sedang berada di depanku sekarang ini. “Hari ini pelajaran Bahasa Indonesia gak ada?” jawab mereka kompak. Aku mengangguk, sedikit canggung dengan posisi ini karena kuperhatikan dua temanku ini sedari tadi tak fokus mata mereka masih saja curi pandang ke Fano. Aku segera bangkit dari tempat dudukku mau keluar kelas. Aku merasa tanganku ada yang menyentuh. Aku menoleh. Sedikit terkejut dan kemudian dia melepaskan tangannya. “Ini pakai bukunya, lengkap kok.” Menyodorkan buku bersampul ber sampul coklat. Langsung aku mengambil buku Fano tersebut. “Makasih” ucapku dengan tersenyum. “Din, nih bagi in ke teman-teman!” ucap Fano dengan menunjukkan bunga beserta jajannya ke arah Dinda. “Maisya mau gak?” tanya Dinda. “Boleh... “ jawabku malu-malu. Munafik jika aku tak menginginkan jajan gratis tersebut. “Ambil aja.” Aku mengambil coklat dengan pita kecil di atasnya yang bertuliskan “ semoga harimu semanis coklat ini.” hampir saja aku terjungkal karena tertawa terlalu kencang. Mereka memperhatikan tingkahku untuk menutup mereka bertanya aku menunjukkan tulisan tersebut. Mereka mengangguk. Tak lama kemudian, jam pelajaran di mulai. Wow, sangat menguntungkan bagi Mesya hari ini karena pelajaran pertama adalah kimia. Aku sangat suka walaupun suka bingung dengan rumus-rumusnya. Setelah menerangkan, guru tersebut memberi tugas. Banyak yang mengeluh dan ada juga yang sebagian tampak santai mengerjakannya. Aku memfokuskan diri ke soalku, walaupun sedikit terganggu dengan musik yang di putar Fano. “Kembalikan coklatnya!” minta Fano yang sekarang menatapku. “Lah, kan udah dikasih kenapa harus di kembali in sih!” ucapku tak terima. “Besok aku ganti, tapi sekarang minta dulu coklatnya!" menatap ke arah ku tajam. Perutnya berbunyi, aku tahu sekarang alasannya. Segera aku merogoh tasku dan memberi coklat tersebut ke arahnya. Pelajaran telah usai. Siswa berhamburan keluar kelas. Hari sedikit gerimis. “Maisya...” panggil Tante Amy saat aku sudah berada di depan gerbang. Aku melambaikan tangan dan segera menemui Tante Amy. Segera aku masuk karena hujan semakin deras. “Tepat waktu,” aku mengacungkan jempol ke arah Tante Amy. Mobil berjalan membelah hujan yang deras, aku menutup wajahku dan menyenderkan badanku. “Duar!” Suara ledakan tersebut mengagetkanku dari tidurku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN