Senyuman sinis di bibir Widya hilang seketika, “Kalau ngomong jangan ngasal, Mbak!” bentaknya. “Ngasal?” tanya Sulis balik dengan nada datar, “Asal kamu tahu, satu-satunya alasan aku diam saja meskipun tahu kalau kalianlah yang membunuh Imron adalah karena rasa benciku kepada dia melebihi rasa bencimu sekalipun!” “Bahkan jika kamu memintaku untuk membantu menghabisi nyawa Imron saat itu, aku akan menyetujuinya.” “Itulah alasan kenapa aku diam. Dan percayalah, banyak orang-orang sepertiku di sekitarmu. Mereka tahu semuanya, tapi mereka diam. Mereka diam dan menunggu. Mereka menunggu kesempatan untuk merubah posisi, dari penonton menjadi pemain.” “Widya, saat ini, kamu lah pemainnya. Bergelimang harta, berada dalam sorotan, disegani semua orang, memegang kendali semuanya. Kamu bintangnya

