bc

Anak Pungut sang Konglomerat

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
system
heir/heiress
drama
bxg
lighthearted
serious
kicking
brilliant
campus
city
office/work place
poor to rich
like
intro-logo
Uraian

Seorang bayi ditinggalkan di depan rumah megah milik seorang konglomerat yang selama bertahun-tahun hidup dalam kekosongan yang tak pernah ia akui. Keputusan untuk membawa bayi itu masuk ke dalam rumahnya tampak sederhana pada awalnya, seolah hanya bentuk kepedulian sesaat. Namun seiring waktu, kehadiran anak itu perlahan mengubah segalanya.Arka tumbuh di tengah kemewahan yang tidak pernah ia minta, dikelilingi oleh kasih sayang yang awalnya ragu-ragu, lalu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Di balik kehangatan itu, dunia luar mulai bergerak. Bisnis yang dibangun dengan susah payah mulai goyah, hubungan keluarga diuji, dan rahasia masa lalu yang terkubur perlahan muncul ke permukaan.Saat kebenaran tentang asal-usul Arka terungkap, garis antara keluarga, ambisi, dan harga diri menjadi kabur. Pilihan yang harus diambil tidak lagi sederhana. Mengakui berarti menghadapi kehancuran. Menolak berarti kehilangan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri.Di tengah tekanan yang semakin besar, satu pertanyaan tidak bisa dihindari:Apakah darah lebih penting daripada ikatan yang tumbuh dari pilihan dan pengorbanan?Sebuah kisah tentang keputusan, kehilangan, dan arti menjadi keluarga di saat semuanya terasa tidak lagi pasti.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Hujan yang Membawa Sesuatu
Hujan turun sejak sore, tidak deras, tetapi cukup untuk membuat halaman depan rumah itu basah oleh genangan tipis yang memantulkan cahaya lampu taman. Di sepanjang pagar besi yang tinggi, air mengalir pelan, membentuk garis-garis kecil yang jatuh dari ujung dedaunan. Malam datang tanpa banyak suara. Jalan di depan rumah sepi, hanya sesekali terdengar deru kendaraan yang melintas lalu menghilang di kejauhan. Di dalam rumah, suasana hangat. Lampu gantung di ruang keluarga memancarkan cahaya lembut yang menyentuh permukaan lantai marmer. Aroma teh melati masih tertinggal di udara. Seorang pria duduk di sofa dengan tubuh sedikit condong ke depan, tangannya menggenggam cangkir yang sudah lama kosong. Tatapannya tidak terarah, seolah ada sesuatu yang terus berputar di kepalanya. Arman Wijaya tidak terbiasa terlihat seperti itu. Di luar sana, ia dikenal sebagai pria yang selalu yakin, tegas dalam keputusan, dan sulit digoyahkan. Namun malam itu, ada jarak yang tidak biasa di wajahnya. Dari arah dapur, seorang wanita berjalan mendekat sambil mengusap tangannya dengan kain kecil. Wajahnya lembut, tetapi garis lelah di bawah matanya sulit disembunyikan. Ia berhenti beberapa langkah dari suaminya, memperhatikan tanpa bicara. “Kamu belum tidur?” suaranya pelan, seperti tidak ingin mengganggu suasana yang sudah sunyi. Arman mengangkat kepala sedikit. “Belum mengantuk.” Wanita itu, Ratna, mengangguk kecil. Ia tahu jawaban itu tidak sepenuhnya jujur. Sudah beberapa bulan terakhir, Arman sering seperti itu. Terjaga lebih lama dari biasanya, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ratna duduk di sisi lain sofa. Jarak di antara mereka tidak jauh, tetapi cukup untuk terasa. Ia menatap meja di depan mereka, lalu menarik napas perlahan. “Besok kamu ada rapat pagi?” “Ada,” jawab Arman singkat. Hening kembali jatuh. Tidak canggung, tapi penuh sesuatu yang tidak diucapkan. Ratna menunduk. Jemarinya saling bertaut, lalu ia lepaskan lagi. Ada kalimat yang ingin ia sampaikan, tetapi entah mengapa terasa berat. Ia sudah berkali-kali mencoba memulai percakapan tentang hal yang sama, namun selalu berakhir tanpa arah. “Kita… sudah lama tidak bicara,” katanya akhirnya, suaranya hampir seperti bisikan. Arman tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, lalu menaruh cangkirnya di meja. “Aku tahu,” ucapnya pelan. Ratna mengangkat wajah. “Aku hanya… merasa rumah ini terlalu sepi akhir-akhir ini.” Kalimat itu menggantung. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh. Mereka berdua tahu apa maksudnya. Arman menatap lantai beberapa detik, lalu berdiri. “Aku keluar sebentar,” katanya, menghindari tatapan Ratna. Ratna tidak menahan. Ia hanya mengangguk pelan, meski hatinya terasa mengendur sedikit. Pintu depan terbuka, lalu tertutup lagi dengan suara yang tidak terlalu keras. Di luar, udara malam terasa dingin. Hujan masih turun tipis, membasahi bahu jas Arman yang tidak sempat ia kenakan dengan benar. Ia berjalan tanpa tujuan jelas, hanya menyusuri halaman menuju gerbang depan. Lampu jalan di luar pagar memancarkan cahaya kuning pucat. Di sana, bayangan pohon terlihat bergoyang pelan tertiup angin. Arman berhenti beberapa langkah dari gerbang. Ia menatap ke arah jalan kosong, mencoba mengatur napasnya. Ada perasaan berat yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Selama bertahun-tahun membangun bisnis, menghadapi krisis, bahkan kehilangan rekan kerja, ia tidak pernah merasa selemah ini. Namun urusan rumah tangga, terutama yang satu itu, selalu berhasil menembus pertahanannya. Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah suara pelan. Hampir tidak terdengar di antara suara hujan. Arman mengernyit, mencoba memastikan. Ia melangkah mendekat ke arah gerbang, lalu berhenti lagi. Suara itu muncul lagi, lebih jelas kali ini. Seperti… tangisan. Alisnya berkerut. Tidak mungkin ada orang lewat di jam seperti ini. Apalagi berhenti di depan rumahnya. Ia membuka kunci gerbang, lalu mendorongnya perlahan. Engselnya berbunyi pelan. Suara tangisan itu kini jelas. Arman menoleh ke kiri, lalu ke kanan. Jalan masih kosong. Namun di dekat sisi pagar, tepat di bawah lampu taman yang redup, ia melihat sesuatu. Sebuah keranjang kecil. Langkahnya melambat saat mendekat. Ada perasaan aneh yang merambat di dadanya, campuran antara waspada dan rasa ingin tahu. Tangisan itu berasal dari sana. Ia berjongkok, lalu membuka kain penutup keranjang itu dengan hati-hati. Seorang bayi. Masih sangat kecil, mungkin baru beberapa hari lahir. Wajahnya memerah, matanya terpejam, dan tubuhnya terbungkus kain tipis yang sudah sedikit basah oleh hujan. Arman terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap tanpa bergerak. Otaknya seperti berhenti memproses apa yang ia lihat. Tangisan bayi itu semakin keras, seolah meminta diperhatikan. Arman tersentak, lalu segera melepas jasnya dan menutupi tubuh bayi itu. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat keranjang tersebut. “Siapa yang…” gumamnya, tapi kalimat itu tidak selesai. Ia berdiri, menoleh ke jalan sekali lagi. Tidak ada siapa-siapa. Hanya suara hujan dan angin malam. Arman menutup gerbang dengan cepat, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya tidak lagi tenang seperti sebelumnya. Pintu terbuka, dan Ratna yang masih di ruang keluarga langsung menoleh. “Ada apa?” tanyanya, melihat ekspresi Arman yang berubah. Arman tidak langsung menjawab. Ia mendekat, lalu menurunkan keranjang itu di atas meja dengan hati-hati. Tangisan bayi memenuhi ruangan. Ratna membeku. Matanya membesar, napasnya tertahan. Ia berdiri perlahan, mendekat seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ini…” suaranya nyaris hilang. “Aku temukan di depan gerbang,” kata Arman, singkat. Ratna menutup mulutnya dengan tangan. Ia menatap bayi itu, lalu menoleh ke Arman, mencari penjelasan yang mungkin tidak ada. “Siapa yang meninggalkan?” tanyanya. Arman menggeleng. “Tidak ada siapa-siapa.” Tangisan bayi itu semakin keras, seolah merasakan ketegangan di sekitarnya. Ratna bergerak tanpa sadar. Ia mengulurkan tangan, lalu mengangkat bayi itu perlahan. Gerakannya hati-hati, tetapi ada kelembutan yang muncul begitu saja, seperti sesuatu yang sudah lama terpendam. Begitu bayi itu berada dalam pelukannya, tangisnya sedikit mereda. Ratna menatap wajah kecil itu. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Sesuatu yang tidak terlihat selama bertahun-tahun. “Astaga…” bisiknya. Arman memperhatikan dari dekat. Ia belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah Ratna. Ada kehangatan, ada harap, dan ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. “Kita harus lapor polisi,” katanya akhirnya, mencoba tetap rasional. Ratna tidak langsung menjawab. Ia masih menatap bayi itu, jemarinya menyentuh pipi kecil yang dingin. “Iya…” katanya pelan, tetapi suaranya ragu. Bayi itu menggenggam ujung jari Ratna dengan kekuatan yang mengejutkan. Gerakan kecil itu membuat Ratna terdiam. Ia menelan ludah. Arman memperhatikan perubahan itu. Ia tahu betul arti tatapan seperti itu. Ia pernah melihatnya dulu, di awal pernikahan mereka, saat harapan masih terasa dekat. “Ratna…” panggilnya pelan. Ratna mengangkat wajah, menatap Arman. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kita tidak bisa langsung… menyerahkannya,” katanya. Arman menghela napas. “Ini bukan soal menyerah atau tidak. Kita tidak tahu siapa orang tuanya. Bisa saja mereka kembali.” Ratna menggeleng pelan. “Kalau mereka mau kembali, mereka tidak akan meninggalkannya di luar saat hujan.” Kalimat itu jatuh dengan tenang, tetapi kuat. Arman tidak punya jawaban cepat untuk itu. Hening kembali menyelimuti ruangan, tetapi kali ini berbeda. Ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Bayi itu mulai tenang. Napasnya pelan, matanya masih terpejam. Tangannya masih menggenggam jari Ratna. Ratna duduk perlahan di sofa, masih memeluk bayi itu. Ia tidak ingin melepaskan. “Aku tidak tahu kenapa…” katanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Tapi aku merasa… dia datang ke sini bukan tanpa alasan.” Arman menatap mereka berdua. Hujan di luar masih turun, tetapi suara itu kini terasa jauh. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping Ratna. Jarak yang tadi terasa ada, kini hilang begitu saja. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar melihat istrinya. Bukan sebagai pasangan yang sama-sama menanggung beban, tetapi sebagai seseorang yang masih punya harapan. Arman menatap bayi itu lebih lama. Wajah kecil itu tidak menunjukkan apa-apa. Tidak ada petunjuk tentang asalnya, tidak ada tanda yang bisa menjelaskan kenapa ia ada di sana. Namun entah kenapa, ada perasaan yang sulit ia abaikan. “Kalau kita menahannya sementara…” kata Arman pelan, seolah sedang menimbang setiap kata. “Sampai kita tahu siapa orang tuanya.” Ratna menoleh cepat. Ada harap yang langsung menyala di matanya. “Benarkah?” Arman mengangguk kecil. “Kita tidak bisa gegabah. Tapi kita juga tidak bisa meninggalkannya begitu saja.” Ratna menunduk, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sederhana, tetapi penuh makna. “Terima kasih,” katanya. Arman tidak menjawab. Ia hanya menatap bayi itu lagi. Di luar, hujan perlahan mereda. Tetesannya semakin jarang, meninggalkan suara pelan yang jatuh dari ujung atap. Malam masih panjang. Dan tanpa mereka sadari, sesuatu telah berubah. Bukan hanya di rumah itu, tetapi juga dalam hidup mereka. Sesuatu yang datang diam-diam, dibawa oleh hujan, lalu menetap tanpa meminta izin. Arman bersandar di sofa, matanya masih tertuju pada bayi yang kini tertidur di pelukan Ratna. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu tidak terasa kosong.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.7M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
635.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.2M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
873.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
305.4K
bc

Not just, the Beta

read
313.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook