20

1919 Kata

Hari beranjak sore, ketika Alfa baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dan sebuah pesan dari Momminya, membuatnya kembali menghela nafas panjang. Seperti pria b******k, itulah dirinya saat ini. Menghindari untuk bertemu dengan Zia, hingga tak menghiraukan bagaimana kabar wanita yang saat ini sedang menunggu janjinya. Akhirnya, setelah memantapkan diri. Alfa beranjak berdiri dan keluar dari ruangan kantornya. Alfa mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang bisa dikatakan pelan, untuk ukuran orang seperti dirinya yang suka dengan kecepatan. Entahlah, Alfa ragu. Pikiran dan hatinya sedang tak singkron untuk mengambil sikap sekarang. Dan yang ada, dirinya seperti bukan dirinya. Ponselnya kembali bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk dari seseorang yang beberapa bulan ini seolah hilang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN