Kemudian Ibrar menjelajahi bengkel itu sambil mencari-cari keberadaan Fikar. Setelah beberapa saat, akhirnya Ibrar menemukan Fikar.
"Oh. Itu Dia, Fikar!" ucap Ibrar, bermonolog kepada dirinya sendiri.
Kemudian Ibrar mendekat untuk mengetahui apa yang Fikar lakukan. Tampaknya Fikar baru saja selesai berkonsultasi dengan supervisor bengkel. Kini Fikar hanya mengecek kondisi mobilnya. Setelah beberapa saat, senyum tampak terulas di wajahnya.
"Oke boy! Baik-baik dulu disini ya! Besok Kita berjumpa lagi dengan wajah barumu!" ucap Fikar berpamitan kepada mobilnya.
"Dagh dagh! Sampai jumpa besok malam!" lanjut Fikar berpamitan kepada mobilnya.
"Hahaha. Fikar memanggil mobilnya dengan sebutan boy, dan Ia berbicara dengan mobilnya," ucap Ibrar sambil melihat punggung Fikar yang menjauh.
"Sungguh teman yang menyenangkan. Alhamdulillah hari ini Engkau mempertemukan Aku dengan Fikar, ya Allah," ucap Ibrar bersyukur kepada Tuhannya.
Kemudian Ibrar melihat-lihat kondisi bengkel yang sedang sangat sibuk di penghujung jam tutup kantor itu. Setelah beberapa saat, semuanya tampak mulai sepi.
Semua pelanggan telah pergi meninggalkan bengkel itu. Kini hanya tinggal para pegawai yang tampak membereskan pekerjaan Mereka, sebelum Mereka pulang.
"Oh. Sekarang waktu yang tepat untuk Aku menemui Ayah di ruangan officer," ucap Ibrar bermonolog dengan dirinya sendiri.
Kemudian Ibrar pun bergegas menuju ruangan officer. Setelah beberapa saat kini Ibrar telah sampai di ruangan officer. Kemudian Ibrar mengetuk pintu yang terbuka itu.
"Assalamualaikum!" sapa Ibrar sambil mengetuk pintu ruangan officer.
"Waalaikumsalam," jawab Tuan Tariq Kareem sambil memandang Ibrar yang baru saja datang.
"Oh. Hai! Anak tampan Ayah sudah datang. Masuklah! Duduklah dulu, sambil menunggu para pegawai siap untuk berkumpul!" perintah Tuan Tariq dengan nada yang lembut.
"Oh. Iya. Baiklah Ayah," jawab Ibrar.
"Lalu. Bagaimana dengan waktumu? Apakah Kamu menikmatinya?" tanya Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Aku telah melihat-lihat situasi dari perusahaan auto workshop and maintenance ini. Dan ada banyak hal menarik yang telah Aku temukan," jawab Ibrar.
"Oh. MashaAllah. Benarkah itu?" tanya Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Sungguh!" jawab Ibrar meyakinkan Ayahnya.
"Itu artinya Kamu meluangkan waktumu dengan baik. Syukurlah," ucap Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Alhamdulillah," jawab Ibrar.
"Teruslah belajar setiap saat dari setiap kejadian yang Kamu alami!" pesan Tuan Tariq.
"Iya Ayah. InshaAllah Ibrar akan selalu mengingat semua pesan Ayah dan menjalankannya," jawab Ibrar.
"Bagus! Dan berhati-hatilah dalam bertindak dan bertutur kata! Karena tindakan dan tutur kata adalah cerminan dari kepribadian seseorang. Jadilah pemimpin yang bijaksana!" pesan Tuan Tariq.
"Iya Ayah. InshaAllah Ibrar akan selalu mengingat semua pesan Ayah dan menjalankannya. Ibrar hanya meminta berkat dari Ayah untuk Ibrar," jawab Ibrar.
"Iya. Tentu saja! Berkat Ayah selalu bersamamu. Akan tetapi berjanjilah Kepada Ayah untuk selalu menjadi anak yang baik!" pesan Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Ibrar berjanji. InshaAllah, Ibrar akan selalu berusaha menjadi anak baik kebanggaan Ayah," janji Ibrar kepada Ayahnya.
"Bagus! Anak yang baik. Semoga kelak perusahaan ini akan menjadi lebih berkembang dan maju di tanganmu," harap Tuan Tariq.
"Aamiin. InshaAllah Ayah. Ibrar akan berusaha sebaik mungkin untuk perusahaan keluarga kita," janji Ibrar kepada Ayahnya.
"Aamiin," ucap Tuan Tariq diakhiri dengan senyuman.
Kemudian Tuan Tariq kembali sibuk dengan pekerjaannya di balik meja kerjanya. Ibrar duduk di sofa, sambil menunggu acara pengenalan dirinya kepada semua pegawai.
'Oh iya. Aku belum sempat mengecek ponselku sejak tadi siang. Dan tadi Aku lihat ada banyak sekali panggilan tak terjawab juga pesan masuk,' ucap Ibrar di dalam hatinya.
"Ayah!" panggil Ibrar kepada Ayahnya.
"Iya Ibrar. Ada apa?" jawab Tuan Tariq tanpa melihat wajah Ibrar. Beliau masih serius di hadapan layar komputernya.
"Sejak siang Ibrar belum sempat mengecek ponsel. Bolehkah Ibrar menggunakannya sekarang?" tanya Ibrar.
"Oh iya. Tentu saja!" jawab Tuan Tariq.
"Terima kasih Ayah," ucap Ibrar.
"Iya. Sama-sama. Akan tetapi ingat!" jawab Tuan Tariq.
"Iya Ayah?" tanya Ibrar.
"Ingatlah! Pergunakan ponselmu dengan bijak! Pertama fokus kepada urusan perusahaan, kemudian kuliahmu, lalu keluarga! Selebihnya, bila ada waktu luang, baru luangkan waktu untuk teman-temanmu. Mengerti?" jelas Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Ibrar mengerti," jawab Ibrar.
"Baguslah kalau begitu. Dan ingat! Jangan mudah tertipu dengan para gadis yang mendekatimu! Mereka semua hanya menawarkan kepalsuan dunia. Disini Dubai. Banyak sekali w*************a bertebaran di luar sana," pesan Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Ibrar sangat mengerti," jawab Ibrar.
Kemudian Tuan Tariq kembali sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Ibrar mulai mengambil ponselnya.
"MashaAllah. Banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab," gumam Ibrar.
Kemudian Ibrar membuka ponselnya. Dilihatnya daftar panggilan tak terjawab yang masuk ke nomor whatsappnya.
'Hmm. Benar kan apa yang kupikirkan? Pasti Fahad menelepon Aku berkali-kali sedari tadi,' ucap Ibrar di dalam hatinya.
'Oke. Aku akan mengiriminya pesan agar Dia tidak khawatir. Kumohon Dia mau bersabar menunggu teleponku saat Aku kembali ke apartemen nanti,' ucap Ibrar di dalam hatinya.
Kemudian Ibrar pun menulis pesan w******p untuk Fahad, adiknya. Ibrar menyuruh Fahad, agar bersabar menunggu telepon darinya setelah Ia sampai di apartemen nanti malam.
Ibrar juga menjelaskan kalau saat ini Ia tidak bisa menelepon Fahad karena Ia tengah berada di kantor bersama Ayahnya. Ibrar pun memohon pengertian kepada adiknya, agar adiknya itu tidak marah dan mau bersabar.
Setelah mengirim pesan w******p untuk adiknya, kemudian Ibrar mengirim pesan w******p kepada beberapa temannya yang tinggal di Dubai.
Ibrar bilang kalau hari ini Ia sampai di Dubai. Akan tetapi Ibrar tidak tahu, jam berapa Ia akan kembali ke apartemen. Dan Ibrar juga tidak bisa berjanji untuk bisa bertemu dengan Mereka malam ini.
Setelah beberapa saat, kemudian supervisor dan kepala bengkel datang ke ruangan officer itu.
"Assalamualaikum Tuan!" sapa Mereka sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ibrar.
"Wa'alaikumsalam. Masuklah!" jawab Tuan Tariq.
Kemudian Mereka berdua pun masuk dan duduk di depan meja kerja Tuan Tariq.
"Tuan! Bengkel sudah siap untuk tutup. Semua pekerjaan hari ini telah beres," ucap supervisor bengkel itu memberi laporan kepada Tuan Tariq.
"Oke. Kerja yang bagus! Alhamdulillah," jawab Tuan Tariq.
"Oh iya Tuan. Kami sudah mengumpulkan semua pegawai untuk briefing malam ini. Kami juga sudah memberikan ucapan pengantar kepada Mereka. Sekarang Kami tinggal menunggu kedatangan Tuan Tariq dan Tuan Ibrar untuk menyampaikan kabar baik ini kepada semua pegawai," ucap Kepala bengkel itu.
"Oh. Begitu ya?" tanya Tuan Tariq.
"Iya Tuan," jawab Kepala bengkel itu.
"Oke. Baiklah. Ayo Kita kesana!" ajak Tuan Tariq.
"Eh. Akan tetapi tunggu!" ucap Tuan Tariq.
"Iya Tuan. Ada apa?" tanya Kepala bengkel itu.
"Bagaimana dengan sajian makan malam Kita untuk semua pegawai? Apakah semuanya telah siap?" tanya Tuan Tariq.
"Iya Tuan. Itu adalah tugas dan tanggung jawab Saya. Dan Alhamdulillah semuanya telah beres," jawab Kepala bengkel itu.
"Apakah Kamu sudah memastikan kualitas hidangan itu? Pastikan itu adalah makanan yang bersih dan pantas! Saya ingin menghargai Mereka sebagaimana Mereka juga menghargai Saya. Jadi, berikanlah yang terbaik!" tanya Tuan Tariq, meminta kepastian.
"Iya Tuan. Saya paham sekali atas prinsip dan nilai-nilai Tuan. Dan Saya bisa memastikan, Saya tidak akan membuat Anda kecewa," jawab Kepala bengkel itu.
"Oke. Saya percaya kepada Kamu. Tetap pertahankan kredibilitas Kalian untuk perusahaan ini! Saya tidak ingin mendengar satupun berita dari pegawai Saya yang membuat Saya kecewa," pesan Tuan Tariq kepada Kepala bengkel dan Supervisor itu.
"Iya Tuan," jawab Kepala mekanik dan Supervisor itu.
"Kalau begitu, ayo Kita temui Mereka!" ajak Tuan Tariq.
"Mari Tuan! Kami mengikuti Anda," jawab kedua lelaki itu.
"Ayo Ibrar! Kamu adalah bintang malam ini. Rapikan pakaianmu dan ayo ikuti Ayah!" perintah Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Baiklah," jawab Ibrar.
Kemudian Ibrar berdiri dari duduknya dan segera merapikan rambut dan pakaiannya. Lalu Ia memakai sepatunya dan bergegas mengikuti Ayahnya.
Setelah itu, kini Ibrar telah berjalan dibelakang Ayahnya dan diikuti oleh Kepala bengkel dan Supervisor bengkel.
Setelah beberapa saat, kini Mereka sampai di area bengkel untuk briefing malam. Tanpa menunggu lama, Tuan Tariq langsung berdiri didepan barisan semua pegawai perusahaan auto workshop and maintenance itu.
"Assalamualaikum. Selamat malam semuanya!" sapa Tuan Tariq kepada semua pegawainya.
"Wa'alaikumsalam. Selamat malam Tuan!" jawab semua pegawai itu kompak.
"Pertama-tama. Saya meminta maaf kepada Kalian semua. Maaf tiba-tiba malam ini Kalian harus meluangkan sedikit waktu untuk briefing sebelum Kalian pulang," ucap Tuan Tariq.
"Iya Tuan," jawab semua pegawai itu.
"Adanya briefing malam ini tentu saja ada tujuannya. Saya tidak ingin mengulur waktu dengan berbicara yang tidak penting disini. Saya tahu, Kalian semua pasti lelah dan ingin segera kembali pulang untuk beristirahat," ucap Tuan Tariq. Beliau pun menjeda kalimatnya.
"Oke. Baiklah! Tujuan adanya briefing malam ini adalah, karena Saya ada berita gembira," ucap Tuan Tariq.
Semua pegawai pun riuh ramai mendengar apa yang Tuan Tariq ucapkan barusan.
"Wah, wah! Alhamdulillah," ucap Mereka.
Setelah beberapa saat, Tuan Tariq melanjutkan ucapannya.
"Oke! Kabar gembiranya adalah. Hari ini Kita kedatangan Putra Mahkota dari Grup Perusahaan Kareem. Dan InshaAllah, mulai besok, Ia akan mulai Saya libatkan dalam kepengurusan Grup Perusahaan Kareem yang ada di Dubai," jelas Tuan Tariq.
"Wah, wah! MashaAllah," ucap semua pegawai riuh ramai.
"Oke! Kalau begitu, mari Kita sambut Dia!" ajak Tuan Tariq kepada semua pegawainya.
Tuan Tariq kemudian memandang Ibrar. Kemudian Beliau memberi kode kepada Ibrar untuk maju ke hadapan semua pegawai. Kemudian Tuan Tariq kembali memandang seluruh pegawainya.
"Oke! Mari Kita sambut! Ini Dia! Ibrar Kareem. Putra Mahkota Grup Perusahaan Kareem!" ucap Tuan Tariq sambil memandang Ibrar.
Kemudian Ibrar pun melangkahkan kakinya menuju ke hadapan semua pegawai itu. Setelah beberapa saat, kini Ibrar tiba di samping Ayahnya. Kemudian Ibrar pun menundukkan kepalanya di hadapan semua pegawai itu untuk memberi hormat.
Tanpa menunggu komando dari Ayahnya. Ibrar pun memperkenalkan dirinya kepada semua pegawai itu.
"Assalamualaikum. Selamat malam semuanya!" sapa Ibrar kepada seluruh pegawai itu.
"Waalaikumsalam. Selamat malam Tuan!" jawab seluruh pegawai itu kompak.
"Perkenalkan, nama Saya Ibrar. Saya adalah Putra pertama dari Tuan Tariq Kareem. Seperti yang Ayah Saya bilang, InshaAllah Saya akan mulai bergabung dalam kepengurusan grup perusahaan Kareem yang ada di Dubai mulai besok," ucap Ibrar. Ibrar pun menjeda kalimatnya.
Sementara itu, di sisi lain dari tempat briefing itu.
'Apa? Apa-apaan ini?' batin seorang gadis sambil mengucek matanya.
Setelah itu Ia memandang Ibrar, dan kembali mengucek matanya lagi. Kemudian, kini gadis itu telah memastikan sesuatu.
'Aku sama sekali tidak menyangka! Aduh! Ini gawat!' ucap gadis itu di dalam hatinya. Ia pun terlihat resah.
'Sungguh malang nasibku hari ini!' batin gadis itu sedih.
'Ternyata lelaki sok alim yang Aku temui dan menggurui Aku hari ini adalah Putra Mahkota Grup Perusahaan Kareem," batin gadis yang ternyata adalah seorang customer service yang telah bertemu dengan Ibrar sebelumnya.
'Tampaknya posisiku sedang tidak aman nih,' ucap gadis itu masih di dalam hatinya.
'Tuan Ibrar sepertinya tidak suka dengan Aku. Bisa-bisa besok Dia langsung memecat Aku,' ucap gadis itu masih di dalam hatinya.
'Oh. Apa yang harus Aku lakukan?' batin gadis itu gundah.
Gadis itu masih saja larut dengan pikirannya sendiri. Sementara itu, di sisi lain dari tempat itu.
"Saya tahu. Saya masih sangat muda dibandingkan dengan Kalian. Saya mohon bimbingan dan kerjasama dari Kalian semua untuk kesuksesan perusahaan ini," ucap Ibrar.
"Tampaknya itu saja dari Saya. Terima kasih atas sambutan Kalian untuk Saya. Dan Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Kalian semua. Karena kerja keras Kalian adalah kesuksesan dari perusahaan ini," ucap Ibrar.
Tanpa menunggu komando, seluruh pegawai itu pun memberikan tepuk tangan meriah untuk menyambut Tuan muda Mereka. Setelah beberapa saat.