"Nah. Itulah inti dari briefing malam ini," ucap Tuan Tariq.
"Akan tetapi, sebagai informasi untuk Kalian. Meskipun Putra Saya ini masih sangat muda, akan tetapi Ia telah berpengalaman. Iya, setidaknya selama tiga tahun terakhir ini. Karena, sebelumnya Ia telah Saya libatkan dalam kepengurusan Grup Perusahaan Kareem yang ada di Pakistan," jelas Tuan Tariq.
Mendengar itu semua, spontan seluruh pegawai itu memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Ibrar. Kemudian, setelah beberapa saat.
"Oke! Tampaknya itu saja briefing malam ini. Setelah ini, Kami undang Kalian untuk makan malam Biryani di restoran di dekat area industri ini. Kita bisa sama-sama berjalan kesana untuk membangun kebersamaan," ajak Tuan Tariq.
"Iya Tuan. Terima kasih," jawab seluruh pegawai itu kompak.
"Dan iya. Jangan takut! Ini tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Semua hidangan telah siap tersaji di semua meja untuk Kalian. Jadi, sesampainya Kalian disana nanti, Kalian tinggal menyantapnya. Dan setelah itu Kalian bisa pulang," ucap Tuan Tariq.
"Terima kasih Tuan," jawab seluruh pegawai itu kompak.
"Dan iya. Ada satu kabar gembira lagi untuk Kalian!" ucap Tuan Tariq.
"Wah. Alhamdulillah," ucap seluruh pegawai itu.
"Iya. Kabar gembiranya adalah. Untuk breifing malam ini, masing-masing dari Kalian akan mendapatkan tambahan gaji lembur," ucap Tuan Tariq.
"Wah. Alhamdulillah. Terima kasih Tuan!" ucap seluruh pegawai itu riuh ramai.
"Iya. Iya. Terima kasih kembali," jawab Tuan Tariq.
"Kalau begitu, silahkan! Mari Kita menuju restoran! Tuan Shahab akan membimbing Kalian kesana," ajak Tuan Tariq.
Kemudian Mereka pun mengikuti Tuan Shahab, yang tidak lain adalah Kepala bengkel itu. Tidak membutuhkan waktu lama. Setelah lima menit berjalan kaki, kini Mereka telah sampai di restoran biryani yang dimaksudkan.
"Oke! Kita telah sampai di restoran. Kalian bisa duduk dimanapun Kalian inginkan. Semua hidangan telah siap di setiap meja. Selamat menikmati," ucap Tuan Shahab kepada seluruh pegawai itu.
Kemudian Tuan Shahab mempersilahkan Mereka semua masuk ke dalam restoran. Setelah semuanya masuk, barulah Tuan Shahab masuk.
Kemudian, Beliau memastikan bahwa semua pegawai itu telah mendapatkan hidangannya masing-masing. Setelah itu, Tuan Shahab menghampiri Tuan Tariq yang baru saja tiba di restoran itu, bersama Ibrar.
"Tuan! Saya sudah pastikan bahwa semua pegawai telah mendapatkan hidangannya masing-masing," ucap Tuan Shahab kepada Tuan Tariq.
"Oke! Kerja yang bagus! Kalau begitu, Silahkan! Anda juga harus mengambil makan malam Anda. Silahkan!" jawab Tuan Tariq.
"Iya. Terima kasih Tuan," ucap Tuan Shahab.
Kemudian, Tuan Shahab meninggalkan Tuan Tariq dan Ibrar. Lalu Mereka mengambil duduk dan menikmati hidangan biryani Mereka masing-masing.
Selang beberapa waktu, kini Mereka telah menyelesaikan makan malam Mereka. Kemudian semua pegawai itu pun pulang. Tak berapa lama kemudian, Ibrar dan Tuan Tariq pun kini selesai menikmati makan malam Mereka.
"Oke! Ayo Kita pulang!" ajak Tuan Tariq.
"Oke Ayah," jawab Ibrar.
"Oh iya. Kemana Kamu akan pulang?" tanya Tuan Tariq.
"Ibrar akan pulang ke apartemen, Ayah. Teman-teman Ibrar sangat merindukan Ibrar. Mereka ingin bertemu dengan Ibrar," jawab Ibrar.
"Hmm. Begitu rupanya. Apakah Ayahmu ini juga tidak merindukanmu?" ucap Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Akan tetapi Kita telah bertemu hari ini bukan?" jawab Ibrar.
"Iya, iya. Oke, oke! Pergilah temui teman-temanmu!" ucap Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Terima kasih," jawab Ibrar.
"Akan tetapi ingat! Jangan sampai larut malam! Karena besok Kamu harus berangkat ke kantor. Dan masih ada malam-malam berikutnya, waktu untuk teman-temanmu," pesan Tuan Tariq.
"Iya Ayah. Ibrar mengerti. InshaAllah di hari Jum'at, seperti biasanya Ibrar akan mengunjungi Ayah di rumah lama," janji Ibrar kepada Ayahnya.
"Oke! Baguslah kalau begitu. Ya sudah! Ayo Kita pulang!" ajak Tuan Tariq.
"Iya Ayah," jawab Ibrar.
Kemudian Mereka pun kembali ke perusahaan auto workshop and maintenance milik Mereka. Setelah berjalan kaki selama lima menit, kini Mereka telah sampai.
"Oke Ayah! Ibrar pulang sekarang. Sampai jumpa besok! Jaga diri Ayah! Allah Hafiz!" pamit Ibrar.
"Iya. Hati-hatilah di jalan! Jaga dirimu juga! Allah Hafiz!" jawab Tuan Tariq.
Ibrar menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban. Kemudian Ibrar mengambil mobilnya di parkiran, dan pulang ke Al Mareija.
Kini Ibrar tengah mengendarai Range Rover sportnya membelah jalanan Kota Sharjah. Lalu lintas jalanan Kota Sharjah pada malam hari tidaklah terlalu padat. Ibrar hanya berkendara dengan kecepatan normal sambil menikmati suasana jalanan Kota Sharjah.
"MashaAllah. Sharjah," ucapnya diakhiri dengan senyumannya.
"Sudah berapa lama ya, terakhir kali Aku datang ke Kota ini?" tanya Ibrar berdialog dengan dirinya sendiri.
"Hmm. Kalau tidak salah, kira-kira beberapa bulan lalu. Saat liburan musim dingin," ucap Ibrar menjawab pertanyaannya sendiri.
"Ah. Iya, iya. Aku ingat sekali. Saat musim dingin di Pakistan sedang berada di puncaknya. Setelah Aku dan Fahad tidak lagi bisa menikmati bermain salju bersama karena suhu udara di Kashmir terlalu dingin. Minus derajat Celcius," lanjut Ibrar, masih bermonolog dengan dirinya sendiri.
Senyuman pun terulas di bibirnya.
"Ah. Fahad. Kakak juga merindukan Kamu sayang," ucap Ibrar.
"Sabar ya Fahad! Setelah Kakak sampai di apartemen nanti, Kakak akan segera menelpon Kamu," lanjut Ibrar, berjanji kepada Adiknya.
Kemudian Ibrar kembali menikmati keindahan jalanan yang ditawarkan oleh Kota Sharjah.
"Hmm. Sharjah. Dubai," ucap Ibrar.
"Dubai memang selalu menawarkan keindahan dan kemewahan. Akan tetapi, sayang sekali. Para perempuan disini delapan puluh persen berpakaian minimalis," ucap Ibrar, diakhiri dengan gelengan kepalanya.
"Hmm. Ya sudahlah! Itu semua hak dan urusan Mereka. Semoga saja Allah selalu menjaga Aku selama Aku tinggal di Dubai nanti," ucap Ibrar, masih bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Ya Allah, ya Tuhanku. Tolong jaga Ibrar! Tolong selamatkan Ibrar dari seluruh godaan dan maksiat serta tipu daya dunia! Tolong berkatilah setiap langkah Ibrar! Dan berikanlah kemudahan dalam setiap langkah Ibrar, ya Allah! Aamiin ya rabbal 'aalamiin," doa Ibrar kepada Tuhannya.
Jarak tempuh dari first industrial street area industri Kota Sharjah menuju ke Al Mareija adalah sekitar dua puluh menit. Kini Ibrar sampai juga di Jethanand Lakhand Apartments.
Kemudian Ibrar pun memarkirkan Range Rover sportnya di area parkir di depan apartemen itu. Setelah beberapa saat, Ibrar pun mulai memasuki gedung apartemen yang menjulang tinggi itu.
Kemudian Ibrar menaiki lift untuk mencapai ruangan apartemennya yang berada di lantai tujuh gedung apartemen itu. Beberapa menit kemudian, kini Ibrar telah sampai di rumahnya.
"Alhamdulillah. Akhirnya Ibrar sampai di rumah juga," ucap Ibrar.
Kemudian, Ibrar bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah berganti pakaian dan merapikan dirinya, kini Ia mengambil ponselnya dan merebahkan tubuhnya di kasurnya. Setelah itu, Ibrar mulai membuka ponselnya.
"Oh. Pukul sepuluh tiga puluh malam," ucap Ibrar, bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Tampaknya belum terlalu malam. Ini berarti, di Pakistan sekarang pukul sebelas tiga puluh malam," lanjut Ibrar.
"Lebih baik Aku tetap menghubungi Fahad. Siapa tahu, dia benar-benar sedang menunggu telepon dariku. Mungkin Dia tidak bisa tidur nyenyak sebelum Aku menelponnya malam ini," ucap Ibrar, masih bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Eh tunggu! Aku kirim pesan kepada teman-temanku dulu kalau Aku sudah ada di rumah. Baru setelah itu, Aku menelepon Fahad. Iya. Itu ide yang bagus," ucap Ibrar, masih bermonolog dengan dirinya sendiri.
Kemudian Ibrar mulai menulis pesan w******p kepada beberapa temannya. Kemudian, beberapa saat setelahnya.
"Oke. Selesai! Sekarang waktunya untuk menelpon adik tersayang ku," ucap Ibrar.
Kemudian Ibrar segera menghubungi Fahad melalui panggilan internasional w******p. Beberapa saat setelah telepon berdering, kini Fahad menerima panggilan telepon dari Ibrar.
[Assalamualaikum. Kak Ibrar!] sapa Fahad gembira, dari seberang teleponnya.
"Iya Fahad. Ini Kakak. Apakah Kakak membangunkan Kamu dari tidur?" jawab Ibrar, bertanya kepada Fahad.
[Tidak, tidak, Kak! Aku tidak bisa tidur sebelum Kak Ibrar menelepon Aku. Bukankah tadi Kakak mengirim pesan, kalau malam ini Kakak akan menelepon Aku? Jadi Fahad menunggu waktu luang Kakak,] jelas Fahad dari balik teleponnya.
"Oh iya. Maaf sekali ya adikku sayang. Kakak membuat Kamu menunggu terlalu lama. Apakah Kamu mengantuk sekarang?" tanya Ibrar.
[Tidak apa-apa Kak. Dan Aku belum ngantuk kok. Tadi sore Aku sudah tidur. Dan sambil menunggu Kak Ibrar mempunyai waktu luang untukku, Aku bermain PUBG di ponselku,] jelas Fahad.
"Hmm. Jadi begitu ya?" tanya Ibrar.
[Hahaha. Iya Kak,] jawab Fahad sambil tertawa kecil.
"Alhamdulillah kalau Kamu masih bisa tertawa Fahad. Kakak ikut senang mendengarnya. Teruslah bahagia, adikku sayang!" harap Ibrar.
[Aamiin. InshaAllah Kak,] jawab Fahad, mengaminkan do'a Ibrar.
"Oh iya. Kak Ibrar hari ini sudah memulai hari kerja Kakak. Baru saja Kakak pulang dari kantor dan memiliki waktu luang. Kakak kemudian segera menelpon Kamu. Kakak harap Fahad mengerti dan tidak marah kepada Kakak," jelas Ibrar.
[Oke Kak! Aku paham. Dan Aku tidak marah,] jawab Fahad.
"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Ibrar.
[Alhamdulillah Kak. Akan tetapi, apa Kak Ibrar tidak capek? Hari ini adalah hari penerbangan Kakak menuju ke Dubai. Dan di hari ini juga, Kakak sudah memulai hari kerja Kakak di kantor?] tanya Fahad.
"Iya Fahad. Iya, mau bagaimana lagi? Ayah meminta Kakak untuk mulai bekerja hari ini juga. Dan Kamu betul. Sekarang Kakak capek sekali. Kakak sedang rebahan sekarang," jawab Ibrar.
[Apakah Kak Ibrar sudah makan?] tanya Fahad.
"Alhamdulillah Fahad. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Kakak disini. Kakak sudah dewasa. Dan Kakak sangat memahami tentang tanggung jawab Kakak untuk mengurus diri Kakak sendiri," jawab Ibrar.
"Akan tetapi, justru Kakak yang mengkhawatirkan keadaan Kamu disana,"lanjut Ibrar.
[Fahad baik-baik saja kok Kak. Asalkan Kak Ibrar sering menghubungi Aku, maka Aku akan merasa tenang dan tidak sendirian,] jawab Fahad.
"Kakak tahu, Fahad belum cukup dewasa untuk mengerti makna dari tanggung jawab mengurus diri sendiri. Kamu sering bertindak sesukamu sesuai mood Kamu," ucap Ibrar.
[Iya Kak. Akan tetapi, bukankah Fahad telah berjanji kepada Kak Ibrar? Janji bahwa Fahad akan belajar lebih dewasa mulai dari sekarang? Dan saat ini, Fahad sedang dalam perjalanan menuju kesana Kak. Aku serius!] jawab Fahad.
"Benarkah? Janji?" tanya Ibrar.
[Iya Kak. Serius! Fahad berjanji kepada Kak Ibrar,] jawab Fahad.
"Oke! Kakak berdoa. Semoga Allah memberi kemudahan dalam setiap langkahmu, dan memberkati setiap langkahmu, adikku sayang. Aamiin," do'a Ibrar untuk Fahad.
[Aamiin,] jawab Fahad, diakhiri dengan senyumannya.
"Oke Fahad! Apakah ada hal lain yang ingin Kamu sampaikan kepada Kakak?" tanya Ibrar.
[Emm. Tidak ada Kak,] jawab Fahad.
"Hmm. Oke! Baiklah kalau begitu. Kakak akhiri teleponnya ya?" tanya Ibrar, meminta izin kepada Fahad.
[Iya Kak. Kak Ibrar pasti sangat capek dan butuh istirahat,] jawab Fahad.
"Iya Fahad. Kamu benar sekali. Oh. Dan iya!" ucap Ibrar.
[Iya Kak. Ada apa?] tanya Fahad.
"Tawaran Kakak masih selalu berlaku untukmu. Kirim saja pesan kepada Kakak! Setiap kali Kamu merasa membutuhkan Kakak. Oke?" pesan Ibrar kepada Fahad.
[Iya Kak. Tentu!] jawab Fahad.
"Akan tetapi ingat satu hal!" pesan Ibrar.
[Oh. Apa itu Kak?] tanya Fahad.
"Ingat! Kakak disini sibuk bekerja dan belajar. Kakak harap Kamu memahami situasi dan kondisi yang Kakak hadapi setiap hari. Kakak pasti membalas pesanmu dan menelponmu di waktu luang Kakak. Oke Fahad? Sekarang Kamu mengerti?" tanya Ibrar.
[Iya Kak. Seratus persen Fahad mengerti,] jawab Fahad.
"Alhamdulillah kalau begitu. Terima kasih adikku sayang," ucap Ibrar.
[Sama-sama Kakak,] jawab Ibrar.
"Oke! Selamat malam. Sekarang tidurlah! Jaga dirimu baik-baik! Allah Hafiz!" ucap Ibrar.
[Oke Kak Ibrar. Selamat malam. Kakak juga jaga diri baik-baik! Allah Hafiz!] jawab Fahad.
"Allah Hafiz!" ucap Ibrar.
Kemudian Ibrar memutuskan sambungan telepon internasional w******p nya. Setelah itu, Ibrar meletakkan ponselnya. Kemudian Ia memejamkan matanya, dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.