"Astaghfirullah hal adzim! Astaghfirullah hal adzim! Astaghfirullah hal adzim Alhamdulillah ya Allah. Alhamdulillah, Alhamdulillah," ucap Ibrar.
Kemudian Ibrar membuka kedua tangannya. Ia pun menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemudian Ia kembali memejamkan matanya dan merasakan ketenangan. Lalu, Beberapa menit kemudian.
"Ting tong, ting tong!" suara bel pintu rumah Ibrar.
Seketika Ibrar tersentak.
"Oh. Itu pasti teman-temanku!" tebak Ibrar.
Kemudian Ibrar bergegas bangun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya. Setelah sampai, Ibrar lalu membuka pintu itu.
"Tara..! Assalamualaikum..!" sapa ketiga teman Ibrar yang datang bersamaan.
"MashaAllah! Waalaikumsalam," jawab Ibrar diiringi dengan senyumannya.
"Oh. Kami sangat merindukan Kamu, Ibrar!" ucap anak laki-laki berbaju necis dengan semangat.
"Iya benar! Sudah berapa bulan coba, Kamu tidak datang ke Dubai?" tanya anak laki-laki yang sangat tampan dengan tak kalah semangat pula.
"Iya Ibrar. Kamu itu teman yang sangat baik. Makanya Kami sangat merindukanmu. Dan saat mendengar kabar kedatanganmu, Kami semua sangat gembira," ucap anak laki-laki yang berpembawaan tenang.
"Oh. Terima kasih sekali. Kalian juga adalah teman-teman terbaik yang pernah Aku miliki. Dan tentunya sama juga," jawab Ibrar.
"Sama apanya?" tanya anak laki-laki yang berbaju necis.
"Aku juga sama rindunya dengan Kalian semua, Shahzaib!" jawab Ibrar kepada anak laki-laki berbaju necis yang ternyata bernama Shahzaib itu.
"Oh. Kirain apaan?" sahut anak laki-laki yang sangat tampan.
"Hmm. Begitulah Iqbal!" jawab Ibrar kepada anak laki-laki yang sangat tampan yang ternyata bernama Iqbal itu.
"Dan. Sekarang Aku disini! Kalian juga sudah berkumpul di rumahku," ucap Ibrar.
"Iya? Lalu?" tanya Shahzaib.
"Lalu? Apa yang akan Kita lakukan sekarang? Setelah sekian lama Kita tidak berjumpa?" tanya Ibrar kepada Mereka.
"Tentu saja Kita harus keluar rumah!" jawab Usman, anak laki-laki yang berpembawaan tenang.
"Iya, benar! Aku setuju dengan usul Usman," ucap Iqbal.
"Yup! Aku juga setuju. Karena kalau hanya di dalam rumah saja, itu sangat membosankan!" ucap Shahzaib.
"Hmm. Iya. Mengapa tidak? Ayo Kita keluar rumah!" ajak Ibrar.
"Oke!" jawab Mereka bertiga serempak.
"Eh. Akan tetapi, kemana Kita akan pergi?" tanya Usman.
"Apakah Kalian sudah makan malam? Mungkin Kita bisa mengawalinya dengan pergi makan malam sambil berbincang," usul Shahzaib.
"Aku sudah makan bersama Ayah tadi di kantor," jawab Ibrar.
"Akan tetapi, tidak apa-apa kalau mau makan lagi. Mungkin pilihan hidangan yang bukan menu utama?" lanjut Ibrar menyarankan.
"Hmm. Iya. Sebenarnya Aku juga sudah makan malam sih. Dan Aku setuju dengan usul Ibrar. Kita bisa menikmati teh atau kopi juga sambil berbincang," saran Iqbal.
"Oke, setuju!" jawab Shahzaib.
"Oke. Aku juga setuju!" jawab Iqbal.
"Oke! Kalau begitu, ke area mana Kita akan pergi? Apakah Kita akan membawa mobil atau berjalan kaki saja?" tanya Ibrar.
"Aku pikir, ada baiknya kalau kali ini Kita berkeliling di sekitar Corniche street aja deh. Bagaimana menurut Kalian?" tanya Usman.
"Oh. Itu ide yang sangat bagus kupikir! Pastinya, Ibrar sangat merindukan suasana Corniche street dan Al Mareija. Aku benar kan?" tanya Iqbal kepada Ibrar.
"Iya. Tentu saja!" jawab Ibrar.
"Hmm. Iya. Dan pastinya akan lebih menyenangkan kalau Kita berjalan kaki saja sambil berbincang. Bagaimana menurut Kalian?" tanya Shahzaib.
"Iya. Tentu saja!" jawab Ibrar.
"Oke. Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo Kita mencari kedai chai dan kabab!" ajak Shahzaib.
"Oke!" jawab Mereka bertiga serempak.
Kemudian Mereka melangkahkan kaki mereka menuju ke lift dan meninggalkan Jethanand Lakhand Apartments.
Chai adalah sebutan dari teh, bagi orang Pakistan. Akan tetapi, teh orang Pakistan dengan teh orang Indonesia tentu saja berbeda.
Kini Mereka telah berada di luar apartemen. Suasana jalanan Corniche street di Al Mareija di waktu malam sangatlah menyenangkan.
Ruangan jalanannya lebar, dilengkapi jalan trotoar yang lebar pula. Situasi lalu lintas jalanannya tidak terlalu padat, akan tetapi juga tidak terlalu sepi dari lalu lalang kendaraan.
Beberapa menit kemudian, kini Mereka berempat tengah berjalan di trotoar Corniche street. Lampu-lampu jalanan yang berwarna kuning, membuat suasana malam semakin syahdu.
Angin yang agak kencang menggoyangkan pohon-pohon palem yang ada di sepanjang trotoar jalanan kota Sharjah. Sangat indah dan terasa teduh di hati.
Meskipun Dubai terkenal dengan cuacanya yang panas, akan tetapi suasana malam hari di Dubai selalu menyenangkan. Tata Kotanya indah di setiap sudutnya. Angin pantai yang berhembus di setiap malam selalu dirindukan oleh setiap insan.
Di Dubai, memang banyak sekali bertebaran orang-orang kaya raya dengan mobil-mobil mewah Mereka. Akan tetapi, para pejalan kaki juga tak kalah banyaknya. Ada pula sebagian dari Mereka yang mengendarai otoped.
Kondisi trotoar yang lebar memungkinkan Mereka untuk menggunakan fasilitas ini. Kita bisa menemukan para pejalan kaki di jam-jam sibuk berangkat dan pulang kantor.
Bus-bus besar dengan fasilitas yang bagus juga banyak Kita temukan di kota ini. Bus-bus ini siap menampung dan membawa para penggunanya sampai ke tujuan Mereka.
Di Dubai, Kita tidak akan menemukan kendaraan tua dan reyot berlalu lalang di jalanan. Semua tampak bagus dan indah dipandang. Dubai terkenal sebagai kota yang selalu menawarkan keindahan dan kemewahan.
"Tunggu, tunggu!" ucap Ibrar.
Ia pun menghentikan langkah kakinya. Sontak ketiga teman Ibrar mengikuti Ibrar untuk menghentikan langkah kaki Mereka. Mereka kini menoleh, memandang Ibrar dengan wajah penuh tanya.
"Iya. Ada apa Ibrar?" tanya Iqbal.
"Sebentar!" jawab Ibrar.
Kemudian Ibrar memejamkan matanya. Lalu Ia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Hmmm.., Aku ingin merasakan angin dan cuaca Kota Sharjah membelaiku," ucap Ibrar, masih dengan mata terpejam.
"Oh!" sahut Shahzaib, diakhiri dengan senyuman.
"Tampaknya Ibrar benar-benar merindukan Al Mareija!" ucap Usman, diakhiri dengan senyumannya.
"Hmm. Iya, benar sekali!" jawab Ibrar.
Setelah beberapa saat, kini Ibrar mulai membuka matanya.
"Aku sangat merindukan suasana malam hari Kota Sharjah. Tidak hanya di Al Mareija ataupun di Al Nahda. Akan tetapi di semua sudut Kota Sharjah!" jelas Ibrar kepada teman-temannya.
"Oke, baiklah! Kita bisa berkeliling Kota Sharjah lain kali. Kita akan obati semua kerinduanmu akan Kota Sharjah," janji Usman.
"Setuju!" jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya.
"Iya. Iya. Tentu saja! Kota Sharjah memang selalu membuat rindu. Apalagi ada Kami disini! Tentunya, Ibrar merindukan Kami juga kan?" tanya Shahzaib.
"Iya. Itu sudah pasti! Kota Sharjah lengkap dengan kehadiran Kalian. Itu baru komposisi yang pas untuk dirindukan! Hahaha," jawab Ibrar, diakhiri dengan tawa konyolnya.
Kemudian Mereka bertiga pun ikut terbawa dalam tawa konyol Ibrar. Setelah beberapa saat.
"Baiklah. Ayo Kita lanjutkan jalan-jalan kita!" ajak Ibrar.
"Oke. Ayo berangkat!" jawab Shahzaib, Usman, dan Iqbal pada saat yang bersamaan.
Kemudian Mereka pun melanjutkan perjalanan Mereka menyusuri trotoar jalanan di Al Mareija.
"Hai teman-teman! Ngomong-ngomong. Bagaimana dengan kabar Kalian dalam beberapa bulan terakhir ini? Apakah semuanya berjalan dengan baik? Atau apakah Kalian menemui masalah yang berat dalam hidup Kalian tanpa Aku mengetahuinya? Ayo ceritakanlah kepadaku!" ucap Ibrar.
"Ibrar! Oh, Ibrar!" jawab Shahzaib.
"Iya? Ada apa? Katakanlah kepadaku!" ucap Ibrar.
"Semua orang pastinya punya masalah, Ibrar!" jawab Shahzaib.
"Iya, Aku tahu! Akan tetapi, yang Aku maksud adalah masalah besar atau mungkin kabar baik atau bahkan kabar buruk tentang Kalian yang telah Aku lewatkan," ucap Ibrar.
"Oh. Oke, oke. Aku mengerti sekarang," jawab Usman.
"Baguslah kalau begitu," ucap Ibrar.
"Karena bagaimanapun juga Kalian adalah teman dekatku. Kalian sudah seperti saudara bagiku. Aku tidak ingin melewatkan hal-hal besar yang terjadi dalam hidup Kalian," lanjut Ibrar menjelaskan.
"Oh. Sungguh manis sekali sahabatku yang satu ini," ucap Iqbal diiringi dengan senyumannya.
"Hmm. Iya, begitulah Aku! Hahaha," jawab Ibrar, diakhiri dengan tawa konyolnya.
"Hahaha," tawa Shahzaib, Iqbal, dan Usman mengikuti tawa Ibrar.
"Oke, oke sahabatku yang manis. Kamu memang selalu menjadi anak yang baik. Hatimu sangatlah lembut, Ibrar. Maka dari itu Kami selalu merindukanmu di saat Kamu jauh dari Kami. Aku benar kan, Shahzaib, Iqbal?" tanya Usman, meminta pendapat dari kedua temannya yang lain.
"Iya. Tentu saja!" jawab Shahzaib dan Iqbal pada saat yang bersamaan.
"Dan iya, Ibrar. Untuk Kamu ketahui, Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik dalam hidupku akhir-akhir ini. Hanya ada sedikit masalah dengan gadis dan perkuliahanku," jawab Shahzaib.
"Oh?" ucap Ibrar, memutar bola matanya.
"Oh? Apa itu artinya oh?" tanya Shahzaib.
"Maaf Shahzaib. Seperti yang Kamu ketahui, Aku tidak mau menjalin hubungan dengan seorangpun gadis. Aku tidak mau berkomentar tentang itu. Itu adalah hakmu dan masalahmu. Kamu pasti lebih paham bagaimana cara menyelesaikannya. Jadi, selesaikanlah sendiri!" jelas Ibrar.
"Hmm. Iya, iya, iya! Baiklah! Baiklah, Tuan Muda!" jawab Shahzaib.
"Iya. Dan tentang masalah perkuliahanmu. Aku rasa Kamu juga harus mencoba menyelesaikannya sendiri karena Aku tidak lebih berpengalaman darimu. Iya kan? Hahaha," ucap Ibrar kepada Shahzaib.
"Oh. Dasar anak jahil. Iya, iya. Oke! Tentu saja Aku akan berusaha. Lihat saja tahun depan Aku pasti berhasil meraih gelar sarjana ku dengan peringkat terbaik!" janji Shahzaib.
"Aamiin. InshaAllah," ucap Ibrar, Iqbal, dan Usman pada saat yang bersamaan.
"Aku berdoa agar kelak sahabatku Shahzaib menjadi jurnalis yang handal dan terkenal di seantero Dubai. Kemudian memiliki banyak uang hasil jerih payahnya sendiri. Dan tak lupa Ia akan membaginya dengan orang lain yang lebih membutuhkan. Aamiin ya Allah," ucap Usman mendoakan Shahzaib.
"Aamiin!" jawab Ibrar, Iqbal, dan Usman pada saat yang bersamaan.
Kemudian Mereka saling pandang. Senyuman pun terulas di wajah Mereka. Kemudian, setelah beberapa saat.
"Hmm. Lalu? Bagaimana dengan Kalian, Iqbal dan Usman?" tanya Ibrar.
"Kalau Aku sih, Alhamdulillah semua berjalan dengan baik selama ini. Aku bisa menjaga kesehatanku, dan InshaAllah pada akhir semester depan Aku ingin membuat sebuah kejutan untuk Kalian," jawab Iqbal.
"Wow! Kejutan? Kejutan apakah itu?" tanya Shahzaib.
"Aduh, Shahzaib! Namanya juga kejutan! Kalau Aku kasih tahu sekarang, itu namanya tidak kejutan lagi nanti!" jawab Iqbal sambil memutar bola matanya.
"Ah! Akan tetapi Aku juga bisa menebak tentang kejutan yang Iqbal maksudkan," ucap Usman.
"Hmm. Benarkah? Coba katakan apa yang ada di pikiranmu!" perintah Iqbal kepada Usman.
"Aku mengerti benar, kalau akhir-akhir ini Kamu sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirmu. Kamu juga sudah menyelesaikan kuliah asistensi praktek magang di rumah sakit. Jadi. Menurut pemikiranku, kejutan yang Kamu siapkan untuk Kami adalah sebuah berita tentang kelulusanmu! Aku benar bukan?" tanya Usman.
"Hahaha. Kamu memang yang paling cerdas diantara Kami, Usman! Oke, Aku menyerah!" jawab Iqbal.
"Apa? Apa maksudmu? Coba jelaskan kepada Kami sehingga Kami mengerti dan tidak salah pengertian!" perintah Shahzaib.
"Maksudku adalah, apa yang ditebak oleh Usman itu adalah benar. Iya. Kejutan yang sedang Aku persiapkan untuk Kalian adalah sebuah berita kelulusanku!" jelas Iqbal.
"Oho! Alhamdulillah. MashaAllah tabarakallah. Semoga semua impianmu dan targetmu itu bisa tercapai, Iqbal! Aamiin," doa Ibrar untuk Iqbal.
"Aamiin," ucap Iqbal, Shahzaib dan Usman pada saat yang bersamaan.
"Jadi. Tak lama lagi Aku akan mengganti nama panggilan untuk Iqbal!" ucap Shahzaib, diakhiri dengan senyumannya.
"Hmm. Mengapa harus diganti?" tanya Iqbal.
"Iya. Nanti, kalau Kamu memang benar telah lulus dari studi kedokteranmu, Aku akan memanggilmu dengan sebutan dokter! Iya. Dokter Iqbal!" jelas Shahzaib.
"Wah. Tampaknya itu enak didengar. Nama panggilan yang bagus!" ucap Ibrar.
"Iya. Nama apapun yang Kalian berikan untuk memanggilku, Aku akan terima. Asalkan sejauh itu adalah nama yang baik dan mempunyai arti yang baik pula. Karena Kita harus selalu mengingat dan mengamalkan ajaran dan perintah dari Allah," jawab Iqbal.
"Perintah yang mana?" tanya Shahzaib.
"Tentu saja perintah tentang memberikan nama yang baik kepada anak keturunan Kita. Dan juga untuk memberikan nama panggilan yang baik untuk orang-orang yang Kita kenal! Begitu saja tidak tahu!" jawab Usman gemas, dan memutar bola matanya.