"Iya. Itu benar sekali! Karena setiap ucapan Kita itu adalah doa. Apalagi dalam hal memberi nama," ucap Ibrar.
"Oh. Tentang itu? Iya, iya. Meskipun Aku kurang pandai dalam mengaji, bagaimanapun juga sedikit banyak Aku tahu tentang hal itu," jawab Shahzaib.
"Baguslah kalau begitu," jawab Usman.
"Kalian ini mengobrol saja dari tadi," ucap Iqbal.
"Tuh! Kita sudah mau sampai di restoran Mashawi Al Shaheen!" lanjut Iqbal.
"Hahaha. Iya, iya. Bisa saja Kita hanya melewatinya saja karena Kita sedang asyik mengobrol," ucap Shahzaib.
"Nah. Maka dari itulah!" jawab Iqbal.
"Oke, baiklah! Ayo Kita segera kesana dan memesan makanan dan minuman!" ajak Usman.
"Oke. Tentu saja!" jawab Iqbal, Ibrar, dan Shahzaib pada saat yang bersamaan.
Restoran Mashawi Al Shaheen adalah restoran kabab dan barbeque yang sangat direkomendasikan di Kota Sharjah. Restoran ini menyajikan hidangan khas Pakistan dan Afghanistan. Akan tetapi, ada pula hidangan khas Cina meskipun tidak dengan banyak pilihan.
Restoran ini buka mulai jam enam pagi dengan menyajikan hidangan untuk sarapan. Dan restoran ini biasanya tutup pada tengah malam.
Restoran ini sangat cocok bagi para pengunjung yang datang berkelompok. Meskipun demikian, tempat untuk menikmati hidangan bagi pengunjung single juga tersedia.
Selain memiliki menu utama, Mereka juga menawarkan menu spesial harian. Maksudnya adalah penawaran spesial dengan berganti menu setiap hari.
Menu populer yang sangat direkomendasikan dari restoran ini adalah beef banno pulao rice, chicken karahi, mutton karahi, chicken biryani, mutton biryani, dan special fresh chapli kabab.
Untuk aneka hidangan nasi biasa dibanderol dengan harga sekitar lima belas dirham AED. Bila di kurskan dengan Indonesian Rupiah, harganya sekitar enam puluh ribu rupiah.
Selain menyediakan nasi, Mereka juga menyediakan tandoori roti yang hanya dibanderol dengan harga dua dirham AED. Atau bila dikurskan dengan Indonesian Rupiah adalah sekitar delapan ribu rupiah.
Untuk menu minumannya, Mereka menawarkan beberapa pilihan. Pelanggan bisa memilih berbagai pilihan soft drink yang dibanderol dengan harga dua setengah dirham.
Ada pula pilihan air putih dalam kemasan besar dan kecil. Selain itu pelanggan bisa memilih chai atau fresh lassi dengan harga empat dirham.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, chai adalah sebutan teh bagi orang Pakistan. Akan tetapi, bagaimanapun juga, ada perbedaan antara teh dan chai itu sendiri.
Sedangkan yang dimaksud dengan lassi adalah jenis minuman khas dari kawasan Punjab di Pakistan dan India. Lassi adalah minuman yoghurt dingin.
Cara membuat lassi adalah sebagai berikut. Yoghurt diblender bersama air, garam, merica, es, dan rempah-rempah khas Pakistan atau India. Adapun yoghurt yang digunakan disini adalah yoghurt plain, atau yoghurt tanpa rasa.
Lassi yang dibuat dengan resep tradisional, biasanya ditambahkan bubuk jintan. Bagi orang Indonesia, mungkin minuman ini terasa aneh. Akan tetapi, lassi adalah minuman kesehatan yang disukai oleh orang-orang Pakistan dan India.
Sama halnya dengan proses pembuatan lassi, begitu pula dalam proses pembuatan chai. Dalam proses pembuatan spicy chai, teh juga ditambahkan berbagai rempah-rempah khas Pakistan.
Lassi menggunakan bahan pokok berupa yoghurt. Sedangkan chai menggunakan bahan pokok dari daun teh dan s**u segar. Keberadaan s**u segar dan yoghurt adalah hal pokok dalam kehidupan orang-orang Pakistan.
Sama pentingnya dengan keberadaan tepung gandum. Orang-orang Pakistan menggunakan tepung gandum untuk membuat roti setiap hari. Kita biasa mengenalnya dengan sebutan paratha.
Kembali membahas tentang restoran Mashawi Al Shaheen. Dengan mengikuti perkembangan zaman saat ini, restoran ini menawarkan berbagai bentuk pembelian.
Para pelanggan kini tak hanya bisa makan ditempat atau dine in dan bawa pulang atau take away. Kini Mereka juga menawarkan penjualan secara online atau pesan antar. Tentu saja dengan tim pelayanan yang ramah.
Setelah beberapa saat, kini Ibrar dan teman-temannya telah memasuki restoran Mashawi Al Shaheen.
"Teman-teman! Enaknya Kita duduk dimana nih?" tanya Shahzaib.
"Bagaimana kalau disana? Tempatnya terlihat nyaman. Sambil makan dan ngobrol, Kita juga bisa menikmati pemandangan jalanan Kota Sharjah!" jawab Ibrar mengusulkan.
Ia pun mengarahkan jari telunjuknya ke tempat yang Ia maksudkan.
"Hmm. Oke, baiklah! Sesuai keinginan Anda, Tuan Muda!" jawab Usman.
"Iya. Aku juga setuju!" jawab Iqbal.
"Oke. Sesuai keinginan Tuan Muda yang baru datang kembali setelah sekian lama," jawab Shahzaib.
"Ayo! Tunggu apa lagi? Ayo Kita kesana dan memesan makanan! Perutku juga sudah terasa agak lapar lagi ini. Hahaha!" ajak Iqbal.
"Hahaha. Oke. Oke!" jawab Mereka bertiga pada saat yang bersamaan.
Kemudian Mereka pun mulai melangkahkan kaki Mereka menuju ke tempat duduk yang telah Mereka pilih. Beberapa saat kemudian, kini Mereka telah sampai. Setelah duduk, Mereka lalu memilih menu makanan dan minuman untuk Mereka pesan.
"Oke. Kalian pilihlah menu yang Kalian inginkan! Hari ini Aku yang traktir," ucap Ibrar.
"Wah. Benarkah Tuan Muda?" tanya Shahzaib, diakhiri dengan senyumannya.
"Iya. Tentu saja! Pilihlah dan pesanlah sesuka Kalian!" jawab Ibrar meyakinkan Mereka.
"Alhamdulillah. Barakallah Ibrar," ucap Usman.
"Iya. Barakallah Tuan Muda Ibrar," ucap Iqbal.
"Alhamdulillah. Wa fiik barakallah," jawab Ibrar.
"Karena Aku merasa agak lapar, jadi Aku akan memesan beef banno nalli pulao rice. Untuk minumannya, Aku pesan soft drink saja," ucap Iqbal.
"Oke. Aku tulis dulu," jawab Ibrar.
"Hai Iqbal! Rupanya tidak Kamu saja!" ucap Shahzaib.
"Apanya? Kenapa?" tanya Iqbal tidak mengerti.
"Ternyata, berjalan kaki sambil ngobrol sedari tadi itu memang membuat Kita kelaparan ya?" jawab Shahzaib balik bertanya kepada Iqbal.
"Hahaha. Iya, iya. Benar! Karena menurut ilmu kedokteran..," jawab Iqbal, tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Stop stop! Aku rasa sekarang bukan waktu yang pas untuk memulai kegiatan ceramahmu tentang ilmu kedokteran, Dokter Iqbal!" sahut Shahzaib, memotong kalimat Iqbal.
"Hahaha! Oke, oke!" jawab Iqbal.
"Iya. Akan tetapi, maafkan Shahzaib, ya Iqbal. Mungkin Shahzaib pikir ini memang bukan waktu yang pas untuk mendengarkan ceramahmu. Coba deh lihat sekarang pukul berapa? Kita tidak punya banyak waktu untuk menikmati makanan dan minuman Kita. Sebentar lagi restoran akan tutup," ucap Usman, mencoba memberi pengertian kepada Iqbal agar Iqbal tidak tersinggung.
Usman mengatakan itu karena Usman paham betul akan karakter sahabatnya yang satu itu. Iqbal adalah pemuda tampan yang kaya dan berbakat. Namun Ia sering merasa berkecil hati dalam bergaul. Hal itu membuatnya jadi sering tersinggung dengan candaan teman-temannya.
"Oke, oke. Baiklah! Alhamdulillah teman-teman. Terima kasih atas perhatian, pengertian, dan kasih sayang yang Kalian berikan untukku selama ini. InshaAllah, Aku baik-baik saja. Aku tidak tersinggung kok," jawab Iqbal diakhiri dengan senyumannya.
"Alhamdulillah," jawab Mereka bertiga pada saat yang bersamaan.
"Oke. Kita tidak punya banyak waktu. Ayo Kita lanjutkan untuk memilih menu pesanan lagi!" saran Ibrar.
"Oke. Karena kini Aku juga merasa lapar lagi, jadi Aku akan memilih menu makanan berat. Aku pesan beef nalli biryani. Dan untuk minumannya, Aku pesan segelas lassi," ucap Shahzaib.
"Oke. Aku tulis pesanan Kamu," jawab Ibrar.
"Lalu? Bagaimana dengan Kamu Usman? Apa yang Kamu pilih?" lanjut Ibrar bertanya kepada Usman.
"Aku pilih dates and nuts kheer. Untuk minumannya, Aku pilih segelas fresh lassi," jawab Usman.
"Oke Usman. Aku tulis pesanan Kamu," ucap Ibrar.
"Lalu, sekarang giliran Ibrar. Ibrar akan memesan special fresh chapli kabab, segelas lassi, dan beberapa air mineral untuk Kita," ucap Ibrar sambil menulis pesanannya sendiri ke daftar pesanan.
Beberapa saat kemudian Ibrar telah selesai menuliskan semua pesanannya. Kemudian Ibrar memberi kode kepada pegawai restoran untuk datang mengambil daftar pesanan Mereka. Setelah beberapa saat, pegawai restoran itu pun sampai di tempat Mereka duduk.
"Kak, ini daftar pesanan Kami," ucap Ibrar.
"Oh. Baik Tuan. Silahkan menunggu sebentar! Hidangan akan segera Kami siapkan," jawab pegawai restoran itu ramah.
"Oh iya Kak. Maaf ya, Kami datang di saat jam-jam terakhir restoran akan tutup," ucap Ibrar.
"Tidak apa-apa Tuan. Ini adalah bentuk pelayanan dari Kami," jawab pegawai restoran itu ramah.
"Baiklah. Saya akan kembali ke dapur dulu. Silahkan menunggu! Pesanan Kalian akan segera Kami antarkan," lanjut pegawai restoran itu meminta izin.
"Iya. Tentu saja!" jawab Ibrar.
Kemudian pegawai restoran itu pun melangkahkan kakinya meninggalkan Mereka.
Berbicara tentang Kheer. Kheer adalah hidangan Pakistan dan juga India. Kheer adalah puding nasi. Adapun cara membuatnya adalah sebagai berikut.
Rendamlah beras dengan air panas kira-kira selama lima menit. Orang-orang India dan Pakistan biasa menggunakan beras basmati. Akan tetapi Kita juga bisa menggunakan beras biasa.
Setelah itu, tiriskan beras. Setelah tiris, tumbuk kasar beras itu. Kemudian rebuslah s**u cair, kapulaga, s**u kental manis (optional bagi yang suka manis), jahe, dan beras yang telah ditumbuk kasar tadi.
Rebus dengan api sedang sampai sedikit mengental. Setelah itu, tambahkan khoya. Kemudian, aduk terus sampai terasa berat dan beras telah berubah menjadi nasi.
Proses pembuatan kheer telah selesai. Kita bisa memindahkannya ke piring penyajian. Setelah itu, berilah taburan kacang almond dan kurma.
Kita juga bisa membuat khoya instan sendiri. Adapun cara membuatnya adalah sebagai berikut.
Panaskanlah s**u cair dan sedikit minyak samin. Kemudian matikan api. Setelah itu, campurkan s**u bubuk full fat kedalam campuran rebusan itu tadi. Dan, proses pembuatan khoya instan telah selesai.
"Hai Shahzaib!" panggil Ibrar.
"Iya Tuan Muda. Ada apa?" jawab Shahzaib balik bertanya kepada Ibrar.
"Hari ini Aku ingin mendengar tentang kisahmu. Ceritakanlah tentang kisah percintaanmu dengan pacarmu!" pinta Ibrar.
"Oho! Tampaknya sahabat Kita yang satu ini ingin belajar tentang percintaan rupanya. Hahaha!" jawab Shahzaib, diakhiri dengan tawa konyolnya.
"Ada-ada saja! Tidak Shahzaib! Tidak penting dan tidak butuh! Hanya saja tidak tahu kenapa, saat ini Aku ingin mendengar kisah yang berbeda. Iya, kisah tentang percintaan. Dan diantara Kami disini, hanya engkaulah yang mahir dalam hubungan percintaan. Jadi Aku ingin mendengar kisah cinta hari ini," jelas Ibrar.
"Wah. Iya. Sepertinya hari ini anak ini tidak normal! Apakah Kamu sedang demam?" tanya Iqbal kepada Ibrar.
Kemudian Iqbal pun memeriksa kondisi Ibrar. Ia menyentuh kening dan leher Ibrar. Kemudian Ia memperhatikan wajah Ibrar. Lalu Iqbal pun memeriksa denyut nadi serta denyut jantung Ibrar.
"Iqbal apa-apaan sih? Tidak perlu berlebihan seperti ini deh! Aku baik-baik saja dan Aku masih normal, Iqbal!" ucap Ibrar sambil memutar bola matanya.
Iqbal tidak memperdulikan ucapan Ibrar. Ia pun masih melanjutkan aktivitasnya untuk memeriksa Ibrar. Kemudian setelah beberapa saat.
"Hmm. Iya, iya. Oke, baiklah. Untunglah! Tampaknya Kamu memang masih normal. Alhamdulillah," ucap Iqbal. Kemudian Ia pun tersenyum lega.
"Iya. Memang. Aku bilang juga begitu kan, Iqbal?" jawab Ibrar, balik bertanya kepada Iqbal.
"Oke, oke. Maaf! Aku hanya khawatir akan keadaan Kamu, Ibrar," jawab Iqbal.
"Iya, iya. Tidak apa-apa, Iqbal," ucap Ibrar.
"Iya. Aku secara refleks melakukannya. Mengingat Kamu juga baru saja melakukan perjalanan jauh dari Pakistan ke Dubai. Kemudian sesampai Kamu di Dubai, Kamu juga langsung bekerja. Lalu, di malam hari, Kamu masih saja beraktivitas di luar rumah bersama Kami. Aku khawatir tahu!" jelas Iqbal dengan wajah murung.
"Oh. Iqbal sahabatku! Sahabatku yang sangat baik dan perhatian. Iqbal, tolong maafkan Ibrar! Ibrar tidak tahu kalau Iqbal bisa sekhawatir itu tentang kondisi Ibrar. Ibrar sangat berterima kasih atas semua perhatianmu dan juga Kalian semua. Maafkan Ibrar, oke? Tolong, jangan bersedih seperti itu! Ibrar hanya bercanda," pinta Ibrar kepada Iqbal.
"Iya Ibrar. Tidak apa-apa. Baiklah! Tadi Aku hanya sangat mengkhawatirkan kondisimu saja," jawab Iqbal.
"Alhamdulillah. Jadi. Sekarang tersenyumlah untukku!" pinta Ibrar kepada Iqbal, diakhiri dengan senyumannya.
Kemudian Iqbal memberikan senyuman manis untuk Ibrar.
"Lihat! Aku sudah tersenyum kan? Aku tidak sedih lagi ataupun marah. Tenang saja Ibrar!" jawab Iqbal.
"Alhamdulillah," ucap Ibrar, diakhiri dengan senyumannya.
"Alhamdulillah," ucap Shahzaib dan Usman pula kemudian.
"Aku mengerti tentang kekhawatiran yang telah Kamu jelaskan tadi, Iqbal. Aku memahami karena Kamu adalah seorang calon dokter. Pastinya Kamu mempunyai prinsip yang kuat menyangkut kesehatan. Oleh karena itu Kamu sangat mengkhawatirkan kondisi Ibrar," ucap Usman.