"Iya Ibrar. Kamu harus tahu ini!" jawab Usman.
"Iya Usman," ucap Ibrar.
"Memang mungkin pada awalnya hubungan Mereka biasa-biasa saja. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, hubungan Mereka akan semakin dalam. Rasa saling memiliki; saling menuntut hak dari pasangannya; kemudian muncul perasaan terkekang; lalu lahirlah yang namanya pengkhianatan, kebohongan, penipuan, kekecewaan; kemudian patah hati dan putus," jelas Usman.
"Iya. Itu benar sekali!" jawab Shahzaib.
"Hmm," ucap Iqbal sambil tersenyum memandang Shahzaib.
"Dan disinilah inti dari kalimat yang telah Aku sebutkan sebelumnya. Iya. Mubaht ik doka hai or kuch nhi," ucap Usman.
"Akan lain lagi ceritanya kalau cinta diantara pasangan ini terikat dalam hubungan pernikahan," lanjut Usman.
"Hmm. Iya, iya. Kamu benar sekali, Usman!" jawab Iqbal.
"Iya. Dan ini terjadi hampir di setiap hubungan. Bukan berarti setiap hubungan pacaran itu pasti kandas. Akan tetapi, prosentasenya hanya sedikit yang bisa bertahan sampai ke jenjang pernikahan," lanjut Usman.
"Oke, oke. Aku memahaminya, Usman," jawab Ibrar.
"Alhamdulillah. Dan iya. Semuanya kembali kepada individu masing-masing. Akan tetapi, Aku ingatkan kembali, bahwa hubungan pacaran itu sama sekali tidak disarankan! Karena agama melarangnya," pesan Usman.
"Oke, Usman!" jawab Ibrar.
"Iya. Dan, yang disarankan adalah ta'aruf!" ucap Usman.
"Iya, iya," jawab Iqbal.
"Iya. Karena cinta suci antara pria dan wanita yang sesungguhnya adalah ketika cinta itu diwujudkan dalam ikatan pernikahan," ucap Usman.
"Ooh. Sungguh manis sekali," jawab Ibrar sambil tersenyum.
"Aku sering mendengar kisah tentang hubungan pacaran yang kandas. Dengan melihat curhatan teman-teman di sosial media. Sungguh miris sekali Aku melihatnya. Dan ini kebanyakan terjadi kepada para gadis. Semuanya dalam kasus yang sama. Mereka telah ditipu, dimanfaatkan, dibohongi, dikhianati, dan ditinggalkan oleh pacar Mereka. Kasihan sekali," ucap Usman.
"Iya Usman. Aku pun juga sering mendengar dan melihat kejadian-kejadian seperti itu. Sungguh malang sekali nasib Mereka. Hanya dijadikan boneka permainan bagi para pacarnya. Kalau Mereka sudah bosan dan merasa terkekang dengan komitmen, kemudian dengan seenak jidatnya Mereka pergi meninggalkan pacarnya. Bahkan Mereka tidak pernah memikirkan kalau kejadian itu menimpa dirinya. Atau mungkin saja menimpa saudara perempuannya. Karena bagaimanapun juga, hukum karma itu nyata adanya," ucap Iqbal panjang lebar.
"Hmm. Benar juga," ucap Ibrar.
"Eh. Tunggu, tunggu!" ucap Shahzaib.
"Iya, Shahzaib. Ada apa?" tanya Iqbal.
"Teman-teman harus ingat sesuatu!" jawab Shahzaib.
"Ingat tentang apa Shahzaib?" tanya Ibrar.
"Bahwa kasus yang terjadi dalam kandasnya hubungan pacaranku sebelumnya adalah murni dari kesalahan gadis itu. Dan disini Aku lah yang menjadi korbannya," jelas Shahzaib.
"Oh, tentang itu?" jawab Ibrar sambil memutar bola matanya.
"Hmm. Iya, iya! Shahzaibku yang malang," jawab Iqbal.
"Iya Shahzaib. Baiklah! Aku akan selalu mengingatnya. Dan iya. Kasus yang terjadi kepadamu itu biasanya hanya terjadi sekitar dua puluh persen. Dimana pihak pria yang menjadi korbannya. Dan Kamu adalah pria yang malang karena termasuk didalamnya. Hahaha," jawab Usman diakhiri dengan tawa konyolnya.
"Hmm. Iya, inilah Aku! Shahzaib yang malang!" ucap Shahzaib diakhiri dengan gelengan kepalanya.
"Akan tetapi jangan khawatir, sahabatku! Kembali kepada kalimat yang telah Iqbal ucapkan sebelumnya. Bahwa hukum karma itu pasti adanya. Mereka yang pernah menyakiti Kita, pasti akan mendapatkan balasan dari Sang Maha Kuasa. Iya, baik di dunia dan pastinya di akhirat juga," jelas Usman.
"Iya Shahzaib. Dan Aku pun juga percaya dan setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh Iqbal dan Usman. Lalu, untuk saat ini Aku hanya bisa mendoakan semoga kelak Kamu mendapatkan pasangan yang baik, sebaik dirimu! Aamiin," ucap Ibrar diakhiri dengan doa untuk Shahzaib.
"Aamiin ya rabbal 'aalamiin!" jawab Shahzaib, Usman, dan Iqbal pada saat yang bersamaan.
Kemudian Mereka pun tersenyum bersama. Lalu, setelah beberapa saat.
"Oke. Aku kasih tahu Kalian satu tips untuk mengatasi gejolak cinta di masa muda Kalian!" ucap Usman.
"Wow! Oke, oke. Katakanlah, Usman!" pinta Shahzaib.
"Iya, Usman! Ayo Katakanlah! Aku sudah tidak sabar menunggunya," pinta Ibrar.
"Hmm. Kalian ini antusias sekali. Hahaha!" ucap Iqbal diakhiri dengan tawa konyolnya.
"Hahaha. Oke, oke!" jawab Usman sambil tertawa, mengikuti tawa Iqbal. Setelah beberapa saat.
"Oke. Sebenarnya apabila Kita merasa tertarik dengan seorang gadis, itu adalah hal yang wajar. Itu adalah sifat alam dan manusiawi untuk semua orang yang telah Allah berikan," ucap Usman.
"Hmm. Iya," jawab Shahzaib.
"Pada awalnya, Kita merasa tertarik kepada seorang gadis. Lalu, dengan berjalannya waktu, perasaan itu bisa berkembang menjadi rasa cinta," ucap Usman.
"Iya, iya. Benar," jawab Shahzaib.
"Iya. Akan tetapi, setiap orang mempunyai sudut pandang, cara berpikir, dan orientasi yang berbeda-beda dalam hidupnya. Sehingga, ini menyebabkan berbedanya pula cara orang menyikapi gejolak cinta yang tiba-tiba datang dalam hidup Mereka," ucap Usman.
"Hmm. Benar juga, Usman!" jawab Iqbal.
"Iya. Sebagai contoh nyata yang terjadi di sekitar Kita adalah," ucap Usman, tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Adalah?" tanya Shahzaib, menyahut ucapan Usman karena tidak sabar.
"Hahaha. Contohnya adalah Kamu, Shahzaib!" jawab Usman.
"Hmm. Oke, oke! Jadikanlah Aku sebagai contoh! Tidak apa-apa," ucap Shahzaib.
"Alhamdulillah. Terima kasih Shahzaib!" jawab Usman.
"Baiklah! Sama-sama, Usman!" ucap Shahzaib.
"Oke. Aku mengambil contoh dari lingkungan Kita sendiri, supaya Kalian mudah memahami dengan apa yang ingin Aku sampaikan. Aku harap Kalian mengerti. Aku juga berharap tidak ada yang tersinggung dengan apa yang Aku sampaikan. Yakinlah bahwa Aku akan selalu menjadi sahabat yang baik untuk Kalian semua," jelas Usman.
"Iya Usman. InshaAllah Aku mengerti," jawab Iqbal.
"Iya Usman. InshaAllah Aku juga mengerti," jawab Ibrar.
"Oke. Usman! Santai saja! Aku juga pasti akan mengerti kok. Jadi, lanjutkan saja kisahmu itu!" perintah Shahzaib.
"Alhamdulillah kalau Kalian mengerti," ucap Usman.
"Alhamdulillah," jawab Ibrar, Iqbal, dan Shahzaib pada saat yang bersamaan.
"Oke teman-teman. Dari cerita sebelumnya, Kita bisa melihat yang telah terjadi. Bagaimana Shahzaib menanggapi gejolak cinta yang datang dalam masa mudanya. Iya kan?" tanya Usman.
"Iya?" jawab Ibrar, Iqbal, dan Usman pada saat yang bersamaan dengan penuh tanya. Mereka belum memahami apa yang Usman maksudkan.
"Lalu, sebagai perbandingannya. Mari Kita lihat apa yang Ibrar lakukan untuk menanggapi gejolak cinta yang datang dalam hidupnya!" ucap Usman.
"Hmm," jawab Shahzaib mulai mengerti arah dari pembicaraan Usman.
"Iya, iya. Aku mulai mengerti sekarang!" jawab Iqbal.
"Iya. Dan Kalian juga bisa melihatnya dari diriku. Apa yang Aku lakukan untuk menanggapi gejolak cinta yang datang dalam masa mudaku ini!" perintah Usman.
"Oke Usman. Nampaknya Aku mulai memahami apa yang Kamu maksudkan. Akan tetapi, tolong jelaskanlah kepada Kami! Supaya semuanya jelas dan tidak hanya dalam praduga atau pemikiranku saja," pinta Ibrar.
"Iya Ibrar. Pasti akan Aku jelaskan sehingga Kalian akan memahaminya," jawab Usman.
"Oke. Katakanlah Usman!" pinta Ibrar.
"Dari yang Aku lihat yang telah terjadi pada diri Kita sendiri, Aku telah menyimpulkan sesuatu," jawab Usman.
"Oke," ucap Ibrar.
"Tadi telah Aku katakan. Ini semua tentang perbedaan sudut pandang, cara berpikir, dan orientasi setiap orang dalam kehidupannya," jawab Usman.
"Iya, Usman," ucap Iqbal.
"Iya. Kesimpulannya sebenarnya hanya pada itu," jawab Usman.
"Hmm," ucap Shahzaib.
"Misalnya begini. Ini tentang Ibrar," ucap Usman.
"Oh, tentang Aku? Oke," jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya.
"Iya Ibrar. Tolong jawab pertanyaanku!" perintah Usman.
"Oke Usman!" jawab Ibrar.
"Sepanjang hidupmu selama ini, apakah Kamu pernah menemui gadis cantik atau gadis baik?" tanya Usman.
"Iya Usman. Tentu saja. Bahkan banyak sekali. Aku sendiri tidak tahu dari mana mereka mengenalku. Karena Aku bersekolah di kampus khusus anak laki-laki," jawab Ibrar.
"Hmm," ucap Shahzaib.
"Oh iya. Yang Aku ingat. Sebagian dari Mereka adalah putri dari rekan bisnis Ayahku," ucap Ibrar.
"Oh. Iya, iya. Itu tentu saja, Tuan Muda!" jawab Iqbal diakhiri dengan senyumannya.
"Oh. Wow! Itu sangat menarik!" ucap Shahzaib.
"Hmm! Tidak, Shahzaib!" jawab Ibrar sambil memutar bola matanya.
"Oh. Akan tetapi mengapa?" tanya Shahzaib.
"Aku tidak suka dengan gadis-gadis itu. Menurutku, Mereka itu arogan. Bahkan sebagian dari Mereka, secara terang-terangan mengutarakan keinginannya bahwa Mereka menyukai Aku," jelas Ibrar.
"Oh. Sangat menyenangkan," ucap Shahzaib.
"Hmm. Iya. Mungkin bagimu itu menyenangkan, akan tetapi tidak bagiku, Shahzaib," jawab Ibrar sambil memutar bola matanya.
"Bukannya Aku berprasangka buruk kepada Mereka. Akan tetapi, Mereka tahu bahwa Aku adalah pewaris dari grup perusahaan Kareem. Mungkin saja Mereka mendekati Aku bukan dengan niat yang tulus, akan tetapi hanya untuk memanfaatkan Aku," jelas Ibrar.
Sedari tadi Usman memperhatikan percakapan antara Ibrar dan Shahzaib. Usman pun tersenyum melihat tingkah mereka.
"Iya Ibrar. Itu benar. Aku pun juga tidak ingin berprasangka buruk terhadap Mereka. Akan tetapi, dalam posisimu, Kamu memang harus memiliki kewaspadaan dalam setiap hubungan," ucap Iqbal.
"Iya. Maka dari itulah. Aku sendiri mempunyai orientasi untuk fokus kepada urusan sekolah dan perusahaan. Dan Aku pun punya prinsip untuk tidak menjalin hubungan dengan seorang gadis, kecuali untuk menikah nanti. Iya, tentu saja di saat umurku telah matang untuk menikah," jelas Ibrar.
"Wow! Luar biasa, Tuan Muda!" ucap Shahzaib.
"Hmm. Alhamdulillah," jawab Ibrar diakhiri dengan senyumannya.
"Kalau dengan Aku, itu pasti akan menjadi kisah yang lain. Pastinya akan menjadi kisah cinta. Hahaha!" ucap Shahzaib diakhiri dengan tawa konyolnya.
"Iya, iya. Itu sudah pasti, Shahzaib!" jawab Iqbal.
"Oke teman-teman!" ucap Usman.
"Iya Usman," jawab Ibrar, Iqbal, dan Shahzaib pada saat yang bersamaan.
"Apa Kalian menyadari yang baru saja terjadi?" tanya Usman.
"Menyadari apa Usman?" tanya Shahzaib.
"Perbincangan diantara Kamu dan Ibrar barusan!" jawab Usman.
"Mungkin Shahzaib belum begitu peka, Usman. Sehingga Dia belum bisa memahami tentang apa maksud dari pembicaraanmu," ucap Iqbal.
"Hmm. Mungkin saja. Dan, nampaknya Kamu telah memahami maksud dari pembicaraanku. Benarkah begitu, Iqbal?" tanya Usman.
"Iya Usman. Akan tetapi, cobalah tarik kesimpulan dari perbincangan antara Ibrar dan Shahzaib barusan. Katakanlah, sehingga semuanya memahami," saran Iqbal.
"Oke Iqbal. Tentu saja," jawab Usman.
"Jadi teman-teman. Ibrar dan Shahzaib sangatlah berbeda. Bisa Aku katakan, Kalian berdua ini bertolak belakang. Maksud Aku, hanya dalam urusan menyikapi gejolak cinta yang datang dalam hidup Kalian," ucap Usman.
"Hmm. Oke," jawab Shahzaib.
"Kalian berdua, sangat berbeda dalam prinsip, orientasi, cara berpikir, dan mengambil sudut pandang," jelas Usman.
"Iya. Benar sekali!" ucap Iqbal.
"Hmm," jawab Shahzaib.
"Oke, oke. Kini Aku pun juga menyadari dan memahaminya," lanjut Shahzaib.
"Sungguhkah itu Shahzaib?" tanya Usman.
"Iya Usman. Dan Aku berjanji untuk menjadi lebih baik kedepannya. InshaAllah," janji Shahzaib.
"Aamiin InshaAllah," jawab Ibrar, Iqbal, dan Usman pada saat yang bersamaan.
Kemudian mereka pun tersenyum bersama. Setelah beberapa saat.
"Oke. Itu tadi adalah kesimpulannya. Sekarang Aku beri saran atau pesan untuk Kalian dalam menyikapi gejolak cinta ini," ucap Usman.
"Iya Usman. Katakanlah! Sedikit banyak itu akan membantu Kami," pinta Shahzaib.
"Oke. Namun Aku tekanan sekali lagi. Ini hanya saran dari Aku. Hanya sekedar saran. Karena Aku bukanlah seseorang yang patut Kalian anut. Aku bukanlah siapa-siapa. Kalian boleh menganutnya, boleh juga tidak. Aku hanya mengharapkan yang terbaik untuk Kalian semua, karena Kalian adalah sahabatku," jelas Usman.
"Iya, iya Usman," jawab Ibrar, Iqbal, dan Shahzaib pada saat yang bersamaan.
"Saran atau pesanku adalah. Yang pertama. Hendaknya Kita tahu tentang hukum agama Kita mengenai pacaran, ta'aruf, dan pernikahan," ucap Usman.
"Bahwa, pacaran itu dilarang. Ta'aruf itu dianjurkan bagi pasangan yang serius ingin menikah. Dan, mengikat gadis yang Kamu sukai dan cintai dalam ikatan pernikahan itu adalah yang terbaik yang bisa Kamu lakukan," lanjut Usman, menjelaskan.
"Iya Usman," ucap Ibrar.
"Apakah Kalian tahu? Mengapa pacaran itu dilarang dalam ajaran agama Kita?" tanya Usman.