"Karena pacaran itu haram hukumnya. Dosa, Usman! Karena Kita dilarang untuk melakukan dan mendekati zina. Kita dilarang untuk berpacaran agar Kita terhindar dari dosa," jawab Iqbal.
"Seratus persen benar! Terima kasih atas penjelasanmu, Iqbal!" ucap Usman.
"Sama-sama Usman! Dengan senang hati," jawab Iqbal.
"Apakah Kalian memahami tentang hal ini, Shahzaib? Ibrar?" tanya Usman.
"Iya Usman, Alhamdulillah," jawab Ibrar.
"Oke Usman! Aku mencatatnya dalam memori otakku," jawab Shahzaib diakhiri dengan senyumannya.
"Oke. Dan Aku rasa Kalian juga paham kan tentang apa itu ta'aruf?" tanya Usman.
"Iya Usman. Aku tahu," jawab Ibrar.
"Ta'aruf adalah proses perkenalan diantara lelaki dan perempuan yang memiliki rencana untuk menikah dalam waktu dekat. Tentu saja menurut tata cara yang telah diatur dalam agama Kita," lanjut Ibrar menjelaskan.
"Iya. Benar sekali Ibrar! Ta'aruf dianjurkan agar Kita bisa memilih pasangan yang tepat yang akan Kita nikahi," ucap Usman.
"Kamu memahaminya kan, Shahzaib?" tanya Iqbal.
"Iya. InshaAllah," jawab Shahzaib diakhiri dengan senyumannya.
"Oke. Yang terakhir adalah tentang pernikahan," ucap Usman.
"Oke Usman," jawab Ibrar.
"Saat Kalian menikah nanti, jangan berniat karena semata-mata Kalian mencintai dan ingin memiliki pasangan Kalian seutuhnya!" pesan Usman.
"Oh. Akan tetapi mengapa, Usman?" tanya Shahzaib.
"Setiap makhluk adalah milik Allah. Tidak ada apapun yang abadi di dunia ini. Jika Kamu memiliki sesuatu, jangan pernah Kamu merasa itu adalah milikmu seutuhnya. Karena semua milik Kita itu hanyalah titipan dari Allah semata. Semua yang ada di muka bumi ini milik Allah seutuhnya," jelas Usman.
"Oh iya, iya. Aku tahu tentang itu," jawab Iqbal.
"Iya. Lalu, disaat Kita telah memahami hal ini dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita akan terselamatkan," ucap Usman.
"Hmm. Terselamatkan dari?" tanya Shahzaib.
"Misalnya begini. Kita mempunyai sebuah barang yang sangat berharga dalam hidup Kita. Barang ini juga bisa Kita implementasikan sebagai pasangan Kita, atau mungkin anak Kita yang sangat Kita sayangi," jawab Usman.
"Oke," ucap Ibrar.
"Kalau Kita telah menerapkan hal tadi dalam kehidupan Kita sehari-hari, maka disaat Kita kehilangan Mereka, Kita akan lebih ikhlas. Kita tidak akan mencari-cari penyebab kenapa barang tersebut hilang. Kita juga tidak akan menyalahkan orang lain, mengapa Kita kehilangan barang atau orang yang Kita sayangi tersebut. Kita juga tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Iya. Karena Kita tahu, bahwa semua itu adalah kehendak dari Yang Maha Kuasa. Dan, bahwa semua yang hilang dari Kita itu hanyalah titipan dari Allah, dan Allah telah memintanya kembali. Mungkin saat ini Kalian belum bisa memahaminya. Aku harap Kalian mengerti," jelas Usman panjang lebar.
"Oh. Pesan yang sangat panjang dan menyentuh hati. InshaAllah Aku akan selalu mengingatnya, Usman," jawab Ibrar.
"Iya Ibrar. Ingatlah dengan baik!" ucap Usman.
"Hmm. Iya. Tentu saja!" jawab Ibrar.
"Aku pun juga sedang menyimpannya ke dalam memori otakku, Usman," ucap Shahzaib, diakhiri dengan senyumannya.
"Alhamdulillah," jawab Shahzaib dan Iqbal pada saat yang bersamaan.
"Oke. Aku lanjutkan lagi," ucap Usman.
"Oke Usman. Ayo lanjutkanlah! Bahasannya semakin seru ini," pinta Ibrar dengan antusias.
"Jadi. Intinya adalah Kita harus memahami bahwa semua yang Kita miliki adalah hanya titipan dari Allah. Bukan seutuhnya milik Kita. Baik itu harta, tahta, jabatan, kedudukan, benda, ataupun Makhluknya yang lain. Termasuk didalamnya adalah orang-orang yang Kita sayangi," pesan Usman.
"Iya Usman, Aku paham," jawab Ibrar.
"Oke. Aku juga paham sekarang, Usman," jawab Shahzaib.
"Begitupun juga denganku," jawab Iqbal diakhiri dengan senyumannya.
"Setelah Kita memahami tentang hal ini, Kita akan dibimbing untuk melakukan sesuatu," ucap Usman.
"Oh. Apakah itu?" tanya Ibrar.
"Al Qur'an telah mengajarkan Kita sebuah kalimat. Apakah Kalian tahu, kalimat yang manakah yang Aku maksudkan?" tanya Usman.
Kini Mereka bertiga nampak sedang berpikir. Mereka sedang berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang Usman berikan. Setelah beberapa saat lamanya.
"Lama sekali berpikirnya. Kira-kira Kalian tahu atau tidak sih?" tanya Usman.
"Hahaha. Lebih baik Kamu jelaskan saja kepada Kami, Usman!" perintah Shahzaib.
"Iya Usman," jawab Ibrar, menyetujui ucapan Shahzaib.
"Oke! Inilah kalimat yang Aku maksudkan," ucap Usman. Ia pun menjeda kalimatnya.
"Ana uhibbuki fillah!" lanjut Usman.
"Oh. Iya! Aku tahu! Aku ingat sekarang! Kamu benar, Usman! Kamu memang sangat pandai dalam menghubungkan semua hal dengan ajaran Al Qur'an," jawab Iqbal.
"Alhamdulillah, Iqbal," ucap Usman.
"Oke teman-teman. Kalimat ana uhibbuki fillah artinya adalah, aku mencintaimu karena Allah," lanjut Usman, menjelaskan.
"Oh," jawab Shahzaib.
"Kalimat ini dimaksudkan tidak hanya untuk hubungan cinta antara lelaki dan perempuan. Akan tetapi kalimat ini mengandung arti yang luas. Iya. Seperti yang telah Aku sebutkan sebelumnya. Tentang kecintaan Kita terhadap semua milik Kita, yang sebenarnya adalah milik Allah semata," jelas Usman.
"MashaAllah. Ternyata sungguh begitu dalam maknanya," ucap Ibrar.
"Iya Ibrar. Kalimat ini adalah pesan untuk Kita agar Kita bisa menyikapi tentang apa itu cinta sebenarnya. Ini adalah jawaban dari semua pertanyaanmu, Ibrar," jawab Usman.
"Oh. MashaAllah," ucap Ibrar.
"Apakah kini Kamu benar-benar paham, Ibrar? Begitupun dengan Kalian, Shahzaib dan Iqbal?" tanya Usman.
"Alhamdulillah. InshaAllah Aku paham, Usman. Penjelasan yang Kamu berikan sangat detail dan runtun. Kamu juga menghubungkannya dengan ajaran-ajaran dari Al Qur'an. Akupun mudah memahaminya," jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya.
"Alhamdulillah," ucap Usman.
"Alhamdulillah Aku juga paham, Usman. Dan Aku juga sependapat dengan Ibar," jawab Iqbal.
"Alhamdulillah," ucap Usman.
"Aku pun juga sama, Usman! InshaAllah Aku memahaminya dan akan selalu mengingatnya," jawab Shahzaib.
"Alhamdulillah," ucap Usman diakhiri dengan senyumannya. Kemudian Mereka berempat pun tersenyum bersama. Lalu, setelah beberapa saat.
"Oke. Lalu, pesan atau saranku yang kedua adalah," ucap Usman.
"Hmm. Iya. Katakanlah!" pinta Ibrar.
"Aku tekankan sekali lagi! Bahwa Kita hendaknya mempunyai orientasi dalam hidup Kita! Sebisa mungkin Kita harus memanfaatkan masa muda Kita untuk hal-hal yang berguna! Misalnya dengan fokus menimba ilmu dan bekerja," ucap Usman.
"Iya Usman," jawab Ibrar, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dan, apabila suatu saat Kita ternyata dihadapkan dengan masalah jatuh cinta dengan seorang gadis, maka Kita harus pandai menyikapinya," ucap Usman.
"Hmm," jawab Shahzaib.
"Berikut adalah pilihannya. Yang pertama. Kita boleh kok membuat komitmen berpacaran. Dengan catatan, berpacaran yang sehat," ucap Usman.
"Oh. Bagaimanakah pacaran yang sehat itu, Usman?" tanya Ibrar penuh antusias.
"Hahaha! Nampaknya anak ini benar-benar penasaran!" ucap Shahzaib.
"Iya Shahzaib. Biarkanlah Ia belajar tentang apa arti cinta yang sebenarnya!" jawab Iqbal.
"Iya, iya. Tentu saja! Kalau begitu, ayolah lanjutkan ceritamu itu, Usman!" pinta Shahzaib.
"Baiklah. Pacaran yang sehat, tentunya berlaku bagi Mereka yang sudah cukup umur untuk menikah. Pacaran yang sehat harus diniatkan untuk proses penjajakan dalam mengenal pasangannya satu sama lain. Sebenarnya ini hampir seperti proses ta'aruf. Akan tetapi, hubungan ini prosesnya lebih lama dari proses ta'aruf. Hubungan ini juga tidak perlu melibatkan anggota keluarga. Cukup diantara si gadis dan si pemuda saja. Iya. Hampir sama juga dengan pacaran. Akan tetapi dengan niat serius untuk menikah bila memang terjadi kecocokan diantara keduanya. Dan, pastinya tidak dengan melibatkan kontak fisik seperti yang agama Kita perintahkan. Kemudian, apabila ternyata di antara keduanya merasa kurang cocok satu sama lain, Mereka pun bisa mengakhiri hubungan ini. Dengan hubungan yang seperti ini, diharapkan tidak terjadi patah hati dan kekecewaan yang mendalam di antara keduanya. Karena Mereka telah mempunyai komitmen untuk berpacaran sehat sebelumnya. Yakin deh, ini tidak akan sesakit seperti putusnya anak-anak muda yang berpacaran tanpa ilmu," jelas Usman panjang lebar.
"Wow! Sangat menarik!" ucap Ibrar, diakhiri dengan senyumannya.
"Hahaha. Dan Aku yakin! Suatu hari nanti, Kamu pasti akan mencobanya!" ucap Shahzaib kepada Ibrar.
"Hahaha. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Akan tetapi, pilihan yang Usman tawarkan adalah pilih yang sangat menarik," jawab Ibrar.
"Iya teman-teman. Itu memang pilihan yang sangat menarik. Usman memang sangat pandai. Hahaha," ucap Iqbal, diakhiri dengan tawa konyolnya.
"Hahaha!" tawa mereka berempat kemudian. Dan, setelah beberapa saat.
"Akan tetapi ingatlah satu hal, teman-teman!" pesan Usman.
"Iya Usman. Tentang apakah itu?" tanya Iqbal.
"Tolong benar-benar jaga diri Kalian dari kontak fisik dengan kekasih Kalian!" jawab Usman.
"Oke, Usman!" jawab Shahzaib, Ibrar, dan Iqbal pada saat yang bersamaan.
"Oke! Kemudian, pilihan yang selanjutnya adalah. Janganlah bermain api! Janganlah bermain perasaan! Jangan pernah mencoba untuk menjalin hubungan pacaran!" ucap Usman.
"Oh!" jawab Shahzaib.
"Iya teman-teman. Aku mengatakan ini karena Aku mengingat akan budaya masyarakat Kita. Keluarga Kita memang sudah berpikiran modern dan terbuka. Akan tetapi orang tua Kita masih memegang teguh prinsip dan nilai-nilai budaya masyarakat Pakistan. Iya, dimana Kita tidak mempunyai pilihan selain menerima gadis yang telah dijodohkan untuk Kita," jelas Usman.
"Oh. Iya, itu benar!" jawab Shahzaib, Iqbal, dan Ibrar pada saat yang bersamaan.
"Iya teman-teman. Namun ini semua tidak menutup kemungkinan akan sesuatu. Mengingat keluarga Kita adalah keluarga yang modern. Akan tetapi, Kita tidak tahu, apa yang orang tua Kita inginkan. Semoga saja Kita beruntung. Aamiin," jelas Usman diakhiri dengan doanya.
"Aamiin," jawab Shahzaib, Iqbal, dan Ibrar pada saat yang bersamaan.
"Nah. Kita sudah sampai di Jethanand Lakhand Apartments. Bersamaan pula dengan usainya ceritaku," ucap Usman.
"Oh. Iya," jawab Iqbal.
"Oh. Malam ini sungguh malam yang luar biasa," ucap Shahzaib.
"Hmm," jawab Iqbal.
"Iya. Karena malam ini Kita telah mendapatkan pelajaran berharga tentang apa itu cinta yang sebenarnya!" jawab Shahzaib.
"Ngomong-ngomong. Terima kasih Usman!" lanjut Shahzaib, berterima kasih kepada Usman.
"Iya, Usman! Kamu memang pandai sekali membuat analisa tentang sesuatu hal. Dan, analisa-analisamu selalu menjadi yang terbaik. Iya. Karena Kamu selalu menghubungkannya dengan pelajaran yang ada di dalam Al Qur'an. Itu sangat menyenangkan. Terima kasih," ucap Iqbal.
"Alhamdulillah. Sama-sama, teman-teman!" jawab Usman diakhiri dengan senyumannya.
"Iya Usman. Alhamdulillah. Aku pun memahami semua yang telah Kamu ajarkan malam ini. Kamu memberikan penjelasan secara mendetail dan runtun. Karena itu, Aku bisa dengan mudah memahaminya. Dan benar apa yang dikatakan oleh Iqbal. Aku suka gaya analisamu dengan selalu menghubungkannya dengan ajaran-ajaran yang ada di dalam Al Qur'an. Itu sangat cerdas dan sempurna. Terima kasih banyak, Usman! Barakallahu fiik. jazakAllah khair," ucap Ibrar, diakhiri dengan doa untuk Usman.
"Alhamdulillah. Wa fiik barakallah. Wa anta fa jazakAllah khair," jawab Usman, mendoakan Ibrar kembali.
"Oke Ibrar. Masuklah ke dalam! Tidurlah segera! Besok pagi Kamu harus berangkat ke kantor, bukan?" tanya Iqbal.
"Iya Iqbal," jawab Ibrar.
"Oke teman-teman! Kalian pulanglah! Aku baru akan masuk kalau Kalian sudah pulang. Terima kasih telah mengunjungi Aku malam ini. Dan terima kasih telah menceritakan kepadaku tentang apa itu cinta yang sebenarnya. Wawasanku jadi bertambah karenanya. Benar-benar pelajaran yang sangat manis dan berharga. Alhamdulillah," ucap Ibrar.
"Oke Ibrar! Selamat malam! Jaga dirimu baik-baik! Allah Hafiz!" ucap Usman.
"Selamat malam. Jaga dirimu baik-baik, Ibrar! Allah Hafiz!" ucap Iqbal.
"Oke Tuan Muda! Selamat malam! Jaga dirimu baik-baik! Segeralah tidur supaya tidak terlambat datang ke kantor besok pagi! Allah Hafiz," ucap Shahzaib.
"Oke Usman, Iqbal, Shahzaib! Selamat malam! Jaga diri Kalian baik-baik! Allah Hafiz!" jawab Ibrar.
Kemudian Mereka bertiga pun berjalan menjauh dari Ibrar sambil melambaikan tangan. Lalu, Mereka bertiga melajukan mobil Mereka. Beberapa saat kemudian, mobil Mereka tak tampak lagi dalam pandangan mata Ibrar.
"Oke. Sudah larut malam," ucap Ibrar bermonolog dengan dirinya sendiri, sambil melihat jam tangannya.
Kemudian Ibrar melihat sebuah toko yang berada di lantai dasar dari bangunan apartemennya.
"Oh. Toko Kak Zahid sudah tutup!" ucap Ibrar.