PART 19. Pagi Pertama Berangkat Ke Kantor

1790 Kata
"Hmm. Baiklah. Kalau begitu, InshaAllah Aku akan menemuinya besok pagi saja," lanjut Ibrar, bermonolog dengan dirinya sendiri. "Hahaha. Iya. Tentu saja kalau Aku tidak terlambat bangun untuk datang ke kantor," ucap Ibrar, masih bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena geli sendiri. "Oke. Kalau begitu, sekarang Aku kembali ke apartemenku saja," ucap Ibrar lagi, masih bermonolog dengan dirinya sendiri. Kemudian Ia pun melangkahkan kakinya memasuki bangunan Jethanand Lakhand Apartments itu. Setelah beberapa saat, Ibrar memasuki lift yang akan mengantarkannya menuju ke lantai tujuh. Setelah beberapa saat, kini Ibrar telah sampai di lantai tujuh, dimana ruangan apartemennya berada. Karena malam telah larut, suasana lorong di lantai tujuh itu sangat sepi. Ibrar pun bergegas masuk ke ruangan apartemennya. "Alhamdulillah. Akhirnya, sampai rumah juga!" ucap Ibrar. Setelah memasuki apartemennya. Kemudian, Ibrar mengunci pintu apartemennya. "Aku harus bergegas ke kamar mandi untuk bebersih dulu dan mengambil air wudhu!" ucap Ibrar bermonolog dengan dirinya sendiri. Kemudian, setelah keluar dari kamar mandi, Ibrar melakukan sholat tahajud. Setelah Ibrar menyelesaikan sholat tahajud, Ia pun menyempatkan diri untuk membaca beberapa halaman Al Qur'an. Setelah beberapa saat. "Alhamdulillah. Selesai!" ucap Ibrar, bermonolog dengan dirinya sendiri. "Kini Aku bisa tenang untuk tidur," lanjutnya lagi, masih bermonolog dengan dirinya sendiri. "Oh iya. Aku harus mematikan ponselku dan me recharge baterainya. Karena malam sudah larut, Aku cek semua pesan besok pagi saja. Aku harus segera tidur!" ucap Ibrar, masih bermonolog dengan dirinya sendiri. Setelah mencharge baterai ponselnya, lalu Ibrar bergegas membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Kemudian Ia membaca doa sebelum tidur dan memejamkan matanya. Ia mencoba untuk segera tertidur sambil melafadzkan dzikir. Setelah beberapa saat, akhirnya Ibrar pun tertidur juga. Waktu pun berlalu. Tidak jauh dari bangunan Jethanand Lakhand Apartments, terdapat sebuah Masjid. Kini waktu fajar telah tiba. Suara merdu Sang Muadzin pun kini terdengar sedang melantunkan Adzan untuk panggilan sholat subuh. Beberapa saat kemudian. "Oh. Allahu Akbar!" ucap Ibrar saat mendengar suara Adzan dari kejauhan. Ia pun masih memejamkan matanya. Kemudian Ibrar pun terdiam dan memastikan bahwa yang didengarnya adalah suara Adzan sungguhan dari Masjid. Ia ingin memastikan bahwa Ia sedang tidak bermimpi saat ini. "Oh. Ternyata itu adalah suara Adzan sungguhan! Oke! Waktu subuh sudah datang. Aku harus segera bebersih dan mengambil air wudhu sekarang!" ucap Ibrar. Kemudian Ibrar pun membuka matanya lebar-lebar. Kini Ia nampak semangat untuk bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Ibrar menggosok gigi dan mencuci mukanya. Setelah itu, Ia mengambil air wudhu. Setelah berwudhu, Ibrar lalu keluar kamar mandi dan segera mengganti bajunya dengan baju untuk sholat. Setelah selesai, lalu Ia melaksanakan shalat sunnah wudhu. Kemudian Ibrar menyambungnya dengan shalat sunnah rawatib qabliyah subuh, yang biasa disebut dengan sholat fajar. Setelah menyelesaikan kedua shalat sunnah tersebut, Ibrar pun menunaikan ibadah shalat wajib subuhnya. Setelah beberapa saat, Ibrar kini selesai menunaikan shalat subuhnya. "Alhamdulillah atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepada Kami, para hambamu ini, ya Allah," ucap Ibrar berterima kasih kepada Tuhannya. Kemudian Ibrar mulai melafadzkan serangkaian dzikir pagi. Setelah menyelesaikan dzikir paginya, Ia pun berdo'a kepada Tuhannya. Kemudian, setelah itu Ia membaca beberapa halaman Al Qur'an. Setelah beberapa saat, kini Ibrar menyudahi serangkaian ibadah paginya. "Oh. Alhamdulillah ya Allah. Aku mengantuk lagi sekarang. Aku tidur dulu lagi ya Allah," ucap Ibrar. Kemudian Ibrar mengganti baju yang Ia gunakan untuk sholat dengan baju rumahnya. Setelah itu, Ia meminum segelas air putih. "Alhamdulillah," ucap Ibrar. "Oke. Aku ngantuk sekali. Aku harus tidur sekarang," lanjutnya, bermonolog dengan dirinya sendiri. Kemudian Ibrar segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Karena Dia sangat lelah dan mengantuk, dalam waktu beberapa detik kemudian Ia pun benar-benar tertidur. Beberapa jam kemudian. Hari sudah pagi. Matahari mulai merangkak naik. Sinarnya memancar menerangi seluruh penjuru dunia. Cahaya matahari itu pun kini mulai menembus gorden jendela yang ada di kamar Ibrar. Seolah berfungsi sebagai alarm alami, cahaya matahari itu kini membuat Ibrar terbangun. "Oh. Tampaknya hari sudah siang," gumam Ibrar masih dengan mata terpejam. Belum sepenuhnya menyadari keadaan, kini Ibrar terlelap kembali. Dan, beberapa menit kemudian. "Astaghfirullah hal adzim! Jam berapa ini?" ucapnya, saat Ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia pun bangun dengan mata yang terbelalak dan dalam posisi terduduk di tempat tidurnya. Kemudian Ia melihat ke arah jam dinding yang tertempel di salah satu sisi kamarnya. "Astaghfirullah hal adzim! Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit?" ucapnya. "Oke. Aku harus segera ke kamar mandi sekarang!" lanjutnya. Kemudian Ibrar bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan mengambil air wudhu, kini Ibrar keluar dari kamar mandi. Lalu Ia memakai pakaian shalatnya. Setelah itu, Ibrar menunaikan ibadah shalat Dhuha sebanyak empat rakaat. Setelah menyelesaikan shalatnya, kemudian Ibrar nampak berdzikir dan disambung dengan do'a. "Alhamdulillah," ucapnya. Kini Ibrar melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya lagi. "Oh. Masih ada waktu beberapa menit. Aku masih bisa membaca beberapa halaman Al Qur'an," ucap Ibrar, bermonolog dengan dirinya sendiri. Kemudian Ibrar bergegas mengambil Al Qur'annya dan mulai membaca ayat demi ayat Al Qur'an itu. Beberapa menit kemudian, kini Ia telah selesai membaca Al Qur'an. "Oke. Aku harus segera bersiap untuk berangkat ke kantor sekarang!" ucap Ibrar. Kemudian, Ia pun bergegas mengganti bajunya dan merapikan dirinya. "Oh, Allah. Aku harap Aku tidak terlalu terlambat untuk sampai di kantor nanti," harap Ibrar saat Ia memakai jam tangan Alexandre Christie miliknya dan melihat pukul berapa saat itu. Setelah itu Ibrar pun memakai sepatunya. Kemudian Ia segera keluar dari ruangan apartemennya. Setelah mengunci pintu apartemennya, Ibrar pun bergegas menuju lift. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Ibrar melihat ke arah jam tangannya lagi. "Oh. Tampaknya Aku benar-benar belum bisa menemui Kak Zahid pagi ini. Semoga Kak Zahid mau mengerti keadaanku, bahwa Aku sangat sibuk. Aamiin," ucap Ibrar, bermonolog dengan dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, pintu lift itu terbuka. Sepi. Hanya Ibrar sendiri. Kemudian Ibrar memasuki lift itu. Lalu Ibrar menekan tombol tutup pintu, tombol panah turun, dan tombol ground floor. Beberapa saat kemudian, kini Ibrar telah sampai di lantai dasar dari bangunan Jethanand Lakhand Apartments. Kemudian Ibrar bergegas menuju area parkir dimana mobil Range Rover Sport miliknya berada. Sambil berjalan, Ia pun kembali melihat ke arah jam Alexandre Christie yang melingkar di pergelangan tangannya itu. "Oh Allah. Sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit!" ucap Ibrar. "Aku harap lalu lintas tidak terlalu macet pagi ini. Aamiin," lanjut Ibrar, berdoa. Kemudian Ibrar bergegas melanjutkan perjalanannya menuju area parkir. Setelah beberapa saat, akhirnya Ia sampai di area parkir, dimana mobil kesayangannya itu berada. Kemudian Ibrar pun segera masuk ke mobilnya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. Setelah beberapa saat, kemudian Ia mulai melajukan mobil Range Rover Sport miliknya itu. Dengan pelan, Ibrar mengendarai mobilnya. Tampaknya Ia ingin memperhatikan sesuatu. "Tuh, kan! Toko Kak Zahid sudah buka!" ucap Ibrar. "Aku harap Kak Zahid belum tahu kalau Aku sudah pulang kembali ke Dubai sejak kemarin. Apa coba yang akan Aku katakan kepadanya? Aku sudah pulang sejak kemarin, akan tetapi Aku tidak menemuinya terlebih dahulu?" harap Ibrar, bermonolog dengan dirinya sendiri. "Ah sudahlah! Itu urusan nanti! Aku harap Kak Zahid bisa mengerti dan tidak marah kepadaku," lanjut Ibrar masih berharap. "Oke. Aku harus konsentrasi menyetir sekarang! Aku harus segera sampai di kantor auto workshop and maintenance setidaknya tepat pada pukul sembilan!" ucap Ibrar, bermonolog dengan dirinya sendiri. Kemudian Ibrar pun melajukan mobil mewahnya itu membelah jalanan Al Mareija. Dari Corniche street Al Mareija, Ia kemudian melewati kawasan Abu Shagara dan Al Majaz. Setelah beberapa saat kemudian, kini Ia sampai di kawasan Al Nahda. Kemudian Ibrar melajukan mobilnya menuju area industri Kota Sharjah. Kedua perusahaan grup Kareem yang ada di Dubai, semuanya berada di area industri ini. Setelah beberapa saat, kini Ibrar telah sampai di perusahaan auto workshop and maintenance miliknya. Lalu Ia mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Karena hari telah siang, akhirnya Ia mendapatkan tempat parkir yang agak jauh dari kantornya. Dalam lalu lintas normal, sebenarnya hanya dibutuhkan waktu sekitar dua puluh hingga dua puluh lima menit untuk sampai ke kantor ini. Situasi lalu lintas yang padat di pagi hari dan rute jalanan memutar, serta tempat parkir yang agak jauh dari kantor, membuat Ibrar telat sampai di kantornya. Setelah Ia berhasil memarkirkan mobilnya, Ia pun segera turun dan bergegas berjalan menuju perusahaannya. "Pukul sembilan lebih sepuluh menit!" ucap Ibrar, saat Ia hendak memasuki pintu dari gedung perusahaannya. Ia pun memukul pelan dahinya. "Oke. Santai saja Ibrar! Cuek saja! Tunjukkan wibawamu kepada semua pegawaimu, oke!" ucap Ibrar bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia berusaha menyemangati dirinya sendiri. Kemudian Ibrar mulai memasuki gedung perusahaannya. Beberapa pegawai yang melihatnya datang, memberi salam kepadanya. Sesampainya di area customer service, Ibrar pun melihat gadis customer service yang Ia temui pada hari sebelumnya. Saat melihat kedatangan Ibrar, gadis customer service itu kemudian berdiri di balik meja kerjanya. "Selamat pagi Tuan Ibrar!" sapanya. Mendengar gadis itu menyapanya, Ibrar pun mengurangi kecepatan langkahnya. Kemudian, Ia pun memandang gadis itu. "Selamat pagi!" sapa balik Ibrar. Kemudian, Ibrar kembali mempercepat langkahnya dan memandang jalanan menuju ke ruangan officer. Sebelum sampai di ruangan officer, Ibrar pun bertemu dengan Tuan Shahab, si Kepala Bengkel. "Selamat pagi Tuan Ibrar!" sapa Tuan Shahab. "Selamat pagi!" jawab Ibrar. "Tuan, Ayah Anda belum datang ke kantor auto workshop and maintenance. Hari ini adalah jadwal beliau untuk mengunjungi kantor auto sparepart establishment terlebih dahulu," ucap Tuan Shahab, memberi tahu Ibrar. "Oh. Seperti itu rupanya?" jawab Ibrar, balik bertanya kepada Tuan Shahab. Ibrar pun tersenyum. Kini Ia merasa lega. "Iya Tuan," jawab Tuan Shahab. "Oh iya Tuan! Ada beberapa hal yang ingin Saya sampaikan kepada Anda. Mungkin Kita bisa membicarakannya di ruangan officer," lanjut Tuan Shahab memberi saran kepada Ibrar. "Oh, iya. Tentu saja! Mari, silahkan!" jawab Ibrar. Kemudian Ibrar berjalan menuju ruangan officer dari kantor itu, dan Tuan Shahab mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa saat, kini Mereka telah sampai di ruangan officer itu. Karena seluruh lantai dari ruangan officer itu berlapiskan karpet, maka Ibrar membuka sepatunya terlebih dahulu. Setelah itu, Ia meletakkan sepatunya di rak sepatu yang berada di dekat pintu ruangan officer itu. Dan, sebelum Ia memasuki ruangan officer, Ia pun mencuci tangannya terlebih dahulu. Ini adalah peraturan yang dibuat oleh Tuan Tariq Kareem bagi siapapun yang akan memasuki ruangan officer. Peraturan ini tidak hanya berlaku di kantor auto workshop and maintenance ini saja. Akan tetapi, peraturan ini berlaku di semua perusahaan grup Kareem. Beberapa saat kemudian, kini Ibrar dan Tuan Shahab selesai mencuci tangannya. "Ayo Tuan Shahab! Mari silahkan masuk!" ajak Ibrar. "Iya Tuan, mari! Saya mengikuti Anda," jawab Tuan Shahab. "Hmm. Bagaimana kalau Kita duduk di sofa saja, Tuan?" tanya Ibrar kepada Tuan Shahab. "Iya Tuan. Mengapa tidak?" Jawab Tuan Shahab. "Oke. Maaf ya Tuan Shahab! Karena tampaknya Saya belum pantas untuk duduk di kursi kerja Ayah Saya," ucap Ibrar. "Oh, iya Tuan. Saya sangat memahami posisi Anda," jawab Tuan Shahab. "Oke. Terima kasih," ucap Ibrar. "Sama-sama, Tuan Ibrar," jawab Tuan Shahab. Kemudian Mereka pun duduk di sofa yang berada di ruangan officer itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN