keputusan

1091 Kata
Hembusan angin semilir menghembus helaian rambut kevin yang kini tengah berdiri termenung sembari menatap lurus kearah jalanan kosong. Dinginya malam ditambah hujan uang turun seakan tak terasa lagi bagi lelaki itu. Kevin menghela nafas panjang disertai hembusan asap embun yang keluar dari hidungnya. Bayangan wajah Ria terus terlintas pada wajah Kevin. Apa yang harus Kevin lakukan? Ia begitu mencintai Ria namun untuk menkahinya adalah hal yang sangat tidak mungkin bagi kevin. Dalam kehidupan kevin tak ada yang namanya pernikahan. Bahkan keluarga kevin sendiri sudah berantakan sejak ia masih kecil. "Ri, kamu sangat polos, " Ucapnya entah pada siapa. Kevin mengusap wajahnya, lelaki tampan itu sangat menyesali Ria yang bahkan tidak pernah meminum pil sama sekali. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat, tanpa perlu menoleh Kevin sudah mengetahui siapa yang datang. "Hei bro, kenapa nyuruh aku datang kesini?" Seorang lelaki dengan gaya sangat mencolok berjalan mendekati Kevin. "David, ada kabar buruk! " Ucap Kevin sembari menatap ke arah David yang tidak lain adalah sahabatnya. "Kabar buruk apa itu? " "Ria hamil!" "APA? Ka---kamu pasti sedang bercanda kan! " David terbelalak kaget mendengar ucapan yang baru saja Kevin katakan. "Aku sedang tidak bercanda vid! " Jawab Kevin dingin. "Tapi bagaimana bisa kau meniduri Ria. Astaga Kevin, kamu tidak mengenal bagaimana keluarganya, mereka masih sangat islami, jika keluarga Riani tahu bahwa putri mereka hamil diluar nikah, maka aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi." David menarik nafas dengan kasar. Kevin mengerutkan dahinya, "tentu saja aku tidak mengenal keluarga Riani, kita baru berpacaran sejak enam bulan yang lalu dan itupun aku mengenal Riani dari kamu! " "Kev, kamu dalam masalah besar kawan! " David meraih kedua pundak sahabatnya itu. "Vid, Riani minta dinikahi dan aku tidak bisa, " Ucap Kevin dengan lirih. "Tentu saja, aku sangat mengenalmu. Kehidupan keluargamu dan keluarga Riani itu bagaikan langit dan bumi, mungkin bagimu tidak jadi masalah jika harus meniduri seorang wanita tanpa terikat dengan namanya pernikahan. Tapi itu tidak berlaku dengan keluarga Ria, mereka selalu berpegang teguh pada norma dan agama Kev. " "Lalu harus bagaimana sekarang? " Kevin mengangkat kedua alisnya. "Kamu kabur saja!" David dengan santainya memberi saran. Buggg! Satu pukulan kecil berhasil mendarat di lengan David. "Apa kamu sudah gila, aku sangat mencintai Riani dan aku tidak mungkin meninggalkanya dalam keadaan seperti ini. " "Jika kamu ingin bertahan, maka bersiaplah jika nanti keluarga Riani datang kemari, mereka pasti akan menghabisimu, " David berkata sambil menjentikan kedua jarinya. Dan disaat yang bersamaan David berlalu pergi menjnggalkan Kevin sendirian. Kevin berdecak kesal, mengapa situasi menjadi serumit ini? "Bicara dengan David juga tidak mendapatkan jalan keluar" Keluh Kevin. David terkadang sulit untuk diharapkan, saran yang lelaki itu berikan justru membuat Kevin semakin kesal. Kevin lalu merogoh sesuatu dari saku jaketnya, setelah merasa yakin lelaki tampan itu pun menarik ulur tanganya dari dalam sakunya. Kevin memandang sebuah liontin yang didalamnya terdapat foto ia bersama Riani. Hati Kevin begitu lirih, kevin tidak sanggup jika harus pergi untuk meninggalkan Riani. Kevin menarik nafas panjang, tidak lama dari itu ia pun tampak mdngangguk yakin seolah tengah mengambil sebuah keputusan. "Baiklah, tunggu aku Riani! " Ucap kevin sambil memasukkan kembali kalung liontin itu kedalam saku jaketnya. Kevin berbalik dan berjalan menuju motornya, disaat yang bersamaan Kevin pun melajukan motornya dengan kecepatan standar membelah jalanan kota Banyumas. Sorot mata Kevin begitu fokus menatap kearah depan, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa saat jni pikiran lelaki itu sedang begitu kacau. Setelah setengah jam mengemudi, Kevin lalu memberhentikan motornya didepan sebuah toko perhiasan. Kevin beranjak turun dari motornya dan melangkah menuju kedalam toko tersebut. Seorang pelayan menyambutnya dengan hangat. Kevin sendiri mulai menjaskan tujuan kedatanganya ke toko tersebut. Yaitu untuk memveli sebuah cincin. Yah, Kevin memutuskan untuk melamar Riani dan menikahinya. Kevin begitu mencintai Riani, meskipun dalam pikiran kevin tak pernah sekalipun terlintas adanya pernikahan dalam sebuah kehidupanya. Tetapi demi Riani dan demi darah dagingnya yang tengah Riani kandung, maka Kevin rela mengesampingkan egonya. "Terimakasih! " Ucap Kevin pada pelayan toko yang telah membantunya memilih cincin tersebut. "Sama-sama" Jawab pelayan teraebut. Kevin kemudian membawa tas kertas yang berisi kotak cincin yang sudah ia pilih. Kevin berjalan keluar dari dalam toko perhiasan. Namun seketika langkah Kevin terhenti, kevin merogoh isi tas kertas tersebut dan meraih kotak cincin yang berada di dalamnya. Kevin membukanya perlahan, kilauan permata cincin berhasil membuat Kevin tersenyum manis. 'Aku harap Riani menyukainya' batin lelaki tampan tersebut. Akan tetali. Tingg! Cincin tersebut jatuh terlepas dari tangan Kevin dan bergelinding ke jalanan. Membuat kevin langsung berlari mengejarnya. Kevin cukup kaget, tapi untungnya Kevin dapat menangkap cincin tersebut. "Astaga, hampir saja! " Ucap kevin dengan satu helaan nafas. Namun tiba-tiba! Tiiiin.... Tiiiiin..... Suara klakson mobil terdengar begitu nyaring ditelinga Kevin, membuat lelaki tampan tersebut langsung menoleh kearah mobil tersebut datang. Kevin membulatkan matanya dengan sempurna saat melihat sebuah mobil sedang melaju dengan ceoaf ke arahnya tanpa kendali. Belum sempat Kevin menghindar. Bruuuuukkkkkk!! Crashhhhh!!!!! Ciiiiiiitttttt!!! Body depan mobil tersebut sudah terlebih dahulu menghantam tubuh Kevin dengan begitu kuat. Dan itu berhasil membuat Kevin terpengal ke udara lalu terhempas jatuh keatas jalanan. Semua langkah para pejalan kaki yang ada disana langsung terhenti dan mematung, mereka menatap terkejut kecelakaan yang baru saja terjadi. Sementara Kevin masih dalam keadaan setengah sadar, dengan cairan merah yang sudah banyak keluar daru belakang kepalanya. Kevin mengangkat gemetar tanganya, melihat bahwa cincin yang ia beli masih ia genggam dengan erat. Namun berapa detik kemudian, tangan Kevin terjatuh, pandangan Kevin mulai kabur dan hilang. Kevin tidak dapat lagi melihat apapun. Dia merasa tubuhnya tidak lagi hidup. Sementara itu, dikota yang sama namun dintempat yang berbeda Riani terlihat begitu gelisah, sedari tadi wanita berparas cantik tersebut tidak mampu tenang. Seperti ada sesuatu yang terjadi namun Riani tidak mengetahui apa itu. Riani melangkah menuju jendela kamarnya. Sorot matanya menatap lekat kearah luar sana. 'Tidak, semua pasti akan baik-baik saja' ucap Riani pada dirinya sendiri. Rasa khawatir dicampur kegelisahan meradang dalam diri wanita itu. Riani lalu berbalik namun... Prangggg! Riani tidak sengaja menyenggol nakas yang berada di dekatnya sehingga membuat benda yang berada dj atas nakas tersebut terjatuh. Salah satunya adalah bingkai foto Riani dan Kevin tampak pecah berkeping-keping dilantai. Riani tertegun, namun tidak lama kemudian ia mencoba untuk mengumpulkan serpihan bingkai kaca tersebut. Namun sialnya, pecahan tersebut justru mengenai jari Riani. Riani terduduk di atas lantai, bulir air mata mengalir dengan begitu deras membasahi kedua pipinya, Riani benar-benar bingung dengan perasaanya kenapa jadj tidak karuan seperti ini. Seolah ada sesuatu yang mengganjal di dalam diri Riani. "Sebenarnya apa yang terjadi, dimana kamu sekarang Kev, aku butuh kamu," Lirih riani dengan isakan tangis yang tak kunjung berhenti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN