5. Tentang Sano (part 1)

1536 Kata
Hampir satu bulan sejak peristiwa kecelakaan itu, hubungan Sano dan Khalyana merenggang. Tentunya hal itu bukan karena perasaan mereka sama-sama berkurang. Melainkan Khal yang memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, atas permintaan Papa kesayanganya. Juga Sano yang sedang sibuk urusan organisasi mahasiswa. Ya, Sano adalah seorang pimpinan organisasi mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni. Namanya lumayan disegani kelangan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Sano Wijaya, tubuhnya tinggi besar, kulit sawo matang, suaranya lantang, dia pemberani, pandai memimpin orasi dan memiliki kemampuan diplomasi yang bagus. Itulah sekian hal yang membuat Khal jatuh cinta. Sejak Sano berteriak-teriak di atas podium orasi membakar semangat mahasiswa baru angkatan Khalyana yang merupakan adik tingkat tepat di bawahnya. Saat itu, Khal sangat takjub, Sano terlihat sangat keren. Susunan kata yang diucapkan Sano menandakan dia bukan laki-laki sembarang, dia laki-laki yang pintar, wawasannya luas. Bukan hanya Khal, teman-teman perempuan seangkatan juga banyak yang menjadi pengagum rahasia laki-laki itu. Dan, rupanya skenario kehidupan menjadikan mereka sering bertemu. Khal tidak mendaftar sebagai pengurus HIMA fakultas, dia tidak minat hal-hal sosial seperti itu, tapi Khal adalah mahasiswa berprestasi. Sejak menjadi mahasiswa baru, karyanya sudah dikenal dosen. Ia sudah wira-wiri mengikuti segala perlombaan design grafis, ikut pameran, seminar, dan lainnya. Jadi, mudah saja bagi Khal mengenal Sano, keduanya cukup punya nama di kampus dan sering terlibat proyek bersama para dosen. "Followers kamu banyak juga?" Sano membuka percakapan waktu itu, saat itu beberapa bulan sejak mereka kenalan dan akhirnya bertukar alamat media sosial. "Ah, nggak juga. Baru beberapa belas ribu." Kata Khal sembil tersenyum. "Kamu yang ketua HIMA kenapa follower hanya seribu lebih sedikit?" Mereka tertawa bersama. Di ruang tunggu tamu fakultas. Mereka sedang bersama-sama menunggu Pak Pembantu Dekan untuk menerima instruksi tentang pengiriman mahasiswa dalam rangka Pekan Seni Nasional di Yogyakarta bulan depan. Selain Sano dan Khal, ada beberapa mahasiswa lain. Tapi kebetulan Sano dan Khal duduk saling berdekatan. Sebuah kebetulan yang manis. Yang menjadikan mereka akhirnya jadian di dua bulan berikutnya. Sano, di sela kesibukannya, dia selalu menyempatkan bertemu Khal. Khal juga terkadang ngalahi mencari Sano ke ruang HIMA. Pacaran mereka sehat, seru dan sangat asyik. Sano adalah tipe manusia penggerak. Dia selalu memiliki ide-ide. Dia senang memotivasi orang di dekatnya untuk menjadi lebih baik. Termasuk Khalyana. Menurut Sano, Khal sangat berbakat. Selain dalam bidang design grafis, Khal juga punya kelebihan di bidang modeling dan dance. Sano tidak lelah menyemangati Khal agar rajin membuat konten media sosial. "Potensi kamu besar, Khal. Mungkin kamu nggak butuh duitnya dari adsense, tapi kamu punya banyak hal jika jadi influencer. Kamu bisa menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Sekarang, karena kamu punya modal, kamu harus rekrut orang buat bikin konten. Terserah kamu konten apa itu. Kamu pasti menikmatinya!" Kata-kata itu terus digaungkan Sano, dari hari ke hari, hingga berbulan-bulan. Lama-lama Khal pun berpikir, benar juga ya. Dia harus menggarap serius saran dari Sano itu. Dua bulan setelah dia mulai bikin konten, rekrut tim kreatif dan cameraman, rupanya belum ada kemajuan apa-apa. Bahkan dia harus pura-pura review produk biar mengundang orang lain untuk paid promote ke dia, tapi dalam dua bulan itu hanya satu dua. Sampai-sampai Khal diinterogasi Papanya karena keluar uang cukup besar, untuk operasional dan menggaji timnya. "Kayaknya aku nyerah deh." Kata Khal pada Sano, sore itu di ruang HIMA. Khal sengaja menunggu Sano selesai rapat untuk membicarakan itu. Sano, yang sedari tadi sibuk dengan layar komputer, langsung berhenti dan menoleh pada kekasihnya itu. Wajah cantik Khal tanpa ekspresi, tapi lebih ke ekspresi sedih. Meskipun begitu tetap terlihat sangat cantik di mata Sano. Laki-laki itu tersenyum, dia meminta sedikit waktu untuk menyelesaikan tugasnya, lali segera mematikan komputernya. "Kita obrolin ini di tempat Abang batagor yuk!" Ajak Sano, Khal mengangguk. Abang batagor yang dimaksud Sano mangkal di jalan besar fakultas. Yang memisahkan fakultas bahasa dan fakultas pendidikan. Untuk kesana, sebenarnya bisa jalan kaki, tapi akan memakan waktu lumayan lama. Jadilah mereka pergi menggunakan motor matic Sano. Mereka duduk di bangku kayu panjang, berbagi dengan pembeli yang lain. Sepiring batagor segera tersaji di hadapan mereka. Batagor Abang adalah favorit Khal, sebenarnya Sano tidak begitu suka. Tapi dia senang sekali melihat ekspresi Khal ketika lahap menghabiskan sepiring batagor dengan nikmat, terus memuji makanan itu dan tetap cantik. "Kita atur strategi lain gimana?" Kata Sano di tengah-tengah mereka makan. "Strategi apa lagi?" Khal langsung menyergap, untung yang di piringnya adalah batagor jadi dia tetap dengan lahap bersemangat menghabiskan. "Mmmm kolaborasi!" Kata Sano dengan antusias. Khal terdiam, berpikir sebentar. Lalu senyum mengembang di bibirnya. "Ide bagus! Tapi sama siapa? Aku belum punya kenalan seleb nih." "Kita cari! Kita tawari kolaborasi bareng kita, kalau mereka nggak mau, kita bayar nggak papa, kan?" Khal tampak berpikir, tabungannya sebenarnya sudah lumayan terkuras dua bulan terakhir. Mudah saja sih kalau minta uang Papanya, tapi Khal malu. "Yaudah kita coba dulu saja ya." Khal akhirnya tersenyum, meskipun hatinya masih belum benar-benar lega. Percakapan sore itu, di pangkalan batagor Abang adalah awal mula perubahan di hidup Khal. Kolaborasi dengan seleb senior benar-benar membuat nama Khal melambung. Khal sudah punya bekal wajah yang cantik, selera tentang style berpakaian yang bagus, serta public speaking yang mumpuni. Jadilah dalam sebulan follower Khal meningkat cukup banyak. Tawaran endorsement pun mulai berdatangan. Jaringan di sesama seleb medsos pun semakin luas. Tidak hanya Khal yang mulai mengajak colan dengan mereka, Khal pun menjadi yang ditawari untuk colan dengan mereka. Dengan begitu, Khal semakin semangat membuat konten. Jadilah, Khalyana resmi menjadi selebgram dan t****k dalam bidang beauty, fashion, dan ilmu tentang design grafis. *** Sekarang, sudah hampir setahun Khal menjalani profesi itu. Khal sangat bahagia, semangat, dan dia terus merasakan perubahan positif dalam dirinya, terutama dalam bidang kemandirian. Dia sangat puas, tidak lagi meminta uang saku pada Papanya, bahkan dia mampu membelikan hadiah mahal untuk Pak Khalid dengan murni uangnya sendiri. Sekarang, saat hampir sebulan tak bertemu Sano. Khal mulai rindu. Dia sebenarnya sudah lama ingin bertemu, tapi dia gengsi mengajak bertemu duluan. Sekaligus Khal sebenarnya jengkel, kenapa Sano tak berinisiatif mengajak mereka bertemu duluan. Apakah Sano tak merindukannya? Tapi rasa sebal itu terkalahkan oleh perasaan sayang Khal pada Sano. Mungkin Sano merasa takut menghubunginya, karena Papanya melarangnya, batin Khal. Akhirnya, sore ini, meskipun tidak ada kelas di kampus, Khal memutuskan datang ke kampus, untuk mencari Sano. Dia harus mengesampingkan egonya, hubungannya dengan Sano lebih penting. "Kamu dimana?" Dari seberang belum merespon, tapi Khal langsung nyerocos bertanya. Terdengar suara yang riuh, sepertinya Sano menjawab sesuatu tapi tidak jelas. "Aku nggak dengar, kamu di ruangan?" "Apa?" "Ih, yang jelas dong, melipir dulu lah dari keramaian." Khal mematikan teleponnya dengan kesal, Sano terdengar berbicara sesuatu, tapi tidak jelas. Dia berpikir cepat, sudah jauh-jauh ke kampus, masa harus langsung pulang tanpa membawa hasil apa-apa? Akhirnya Khal memutuskan menunggu sebentar, mungkin Sano akan menelepon balik. Sampai dua puluh menit, nyatanya Sano tak menelepon balik. Khal makin kesal, merasa tidak dipentingkan. Sebenarnya ruang HIMA tidak sampai seratus meter dari parkiran mobil, tempat dia berada sekarang. Tapi dia malu kalau harus nyelonong kesana. Apalagi cewek-cewek HIMA menurut Khal kurang ramah. Ya kalau Sano di ruang itu, kalah tidak? Setelah tiga puluh menit menunggu, Khal semakin kesal. Sekarang, dia sudah memutuskan untuk ngambek dan pulang saja. Sudah hampir dia menyetarter mobil, tapi tiba-tiba perutnya memberi alarm, ia ingin buang air terlebih dahulu. Kenapa harus kebelet di saat yang tidak tepat sih, batin Khal. Tapi begitu Khal membuka pintu mobil, turun, dan mulai melangkahkan kaki. Deg. Khal nyaris menabrak seseorang yang berdiri tepat di depannya. Dia terhenyak hingga melompat ke belakang. Saking kagetnya, jantungnya otomatis berdetak kencang, nafasnya ngos-ngosan. Orang itu adalah Sano, dia menyusul Khal di tempat parkir bahkan ketika dia belum tahu Khal datang atau tidak, tadi Sano belum mendengar kabar tentang itu. Melihat Sano, Khal justru terdiam, padahal sebelumnya dia sudah bersiap mengomel pada seseorang yang mengagetinya. Perasaan Khal bercampur aduk, dia sangat rindu kekasihnya itu. Sano pun terdiam, menatap Khal. Mereka saling tatap. "Kok nggak langsung ke ruangan?" Kata Sano mencoba memecah keheningan. "Kamu kenapa nggak bisa ditelepon, aku kan malu nyelonong ke sana!" Kata Khal dengan nada kesal. Tapi Sano justru tersenyum melihat tingkah perempuannya itu. "Oke, oke, aku minta maaf." "Emang selesai dengan minta maaf, setelah hampir sebulan kita nggak ketemu?" Sano melangkahkan kaki mendekati Khal, dia tengok-tengokkan kepala, mengedarkan pandangan memastikan tidak ada paparazi yang memantau mereka. Begitu yakin aman, dia mengambil tangan Khal untuk ia genggam dengan lembut, "Aku minta maaf ya, aku terlalu sibuk." Khal langsung tak bisa menyembunyikan perasaannya, dia ingin masih pura-pura marah, tapi bibirnya sudah langsung menyungging senyum mendengar kalimat Sano. Dari pada raut muka dan perkataannya tidak singkron, akhirnya Khal pun mengangguk. "Makan yuk!" Kata Khal selanjutnya. Sano tampak langsung menghela nafas, ia sangat gusar, dia kembali menoleh ke arah belakang. Jauh di belakang sana, ada ruang HIMA, dimana anggota yang dipimpinnya sedang sibuk mempersiapkan acara mereka besok. Tapi Khal pasti tidak mau tahu tentang itu, apalagi hampir sebulan ini mereka tidak quality time. "Kamu nggak bisa?" Tanya Khal lagi. Dia sudah malas sebenarnya. Pasti alasan Sano itu-itu lagi. "Aku minta waktu lima menit buat kembali ke ruangan ya, tunggu aku di mobil. Aku akan berlari buat kembali ke sini. Oke!" Sano memegang pundak Khal, dan berkata dengan penuh kasih sayang seperti cara Pak Khalid bicara padanya. Dibegitukan saja, sebenarnya Khal langsung klepek-klepek. Dia tidak bisa membantah banyak, dan akhirnya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN