Rega Kurang Waras

1120 Kata
"Ya Tuhan, semoga aku bisa bertemu lagi sama cewek pemilik wajah bidadari itu." Doa Rega di depan cermin pada hari ini sebelum dirinya ke luar kamar. Rega akhirnya bisa menyimpulkan bahwa dirinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama. "Wahai cermin, apakah aku sehat?" tanyanya pada bayangannya di dalam cermin. "Saya rasa anda kurang sehat!" jawaban cermin yang terlontar dari bibirnya sendiri. "Saya memang sedang tidak sehat cermin, saya sakit karena kemarin jatuh." Dengan ekspresi lesu Rega menyampaikan keluhannya pada cermin. "Tapi aneh, sakitnya tidak seperti biasanya, melainkan sakit bahagia." Rega tertawa konyol akan tingkahnya dengan bayangannya sendiri di cermin. "Ya Tuhan. Apakah hamba sudah tidak waras?" tanyanya pada cermin. "Emang Lo kaga waras," cibir Reno yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Rega mendengus mendengar komentar Reno, untuk apa sahabat Gilanya ini pagi-pagi sudah datang ke rumahnya. Apakah ia tidak memiliki uang untuk sarapan? Tapi rasanya tidak mungkin, Karena Reno tidak semiskin itu. Orangtuanya sangat kaya untuk memfasilitasi seluruh kebutuhannya. Hanya saja sahabatnya itu yang memang kurang waras, sehingga lebih memilih menjadi bawahan seorang Rega, dibandingkan dengan mengurus perusahaan keluarganya. "Ngapain Lo?" tanya Rega dengan nada tidak suka. "Numpang sarapan," jawab Reno asal. Reno berjalan ke arah kasur Rega, dan merebahkan dirinya seketika di sana. "Gue ngantuk, pengen banget kelonan!" gumamnya dengan memejamkan kedua matanya. "Heh manusia terkutuk, yang namanya ngantuk tuh tidur, bukan kelonan." Rega tidak habis pikir dengan isi kepala sahabatnya, yang tidak pernah jauh dari urusan bercocok tanam di sawah mencong milik wanita. "Kalo ngantuk terus cuma tidur itu tidak berkualitas. Tapi kalo tidur setelah bercocok tanam, rasa lelah dan ngantuk nya terbayar dengan puas. Dan tidur pun lebih berkualitas." Reno dengan segala alibinya memang tidak terbantahkan. "Filosofi dari mana?" "Dari gue sendiri lah." "Akhir zaman memang semakin jelas terasa," ujar Rega dengan menggelengkan kepalanya pelan. "Mangkanya sebelum umur gue 35 tahun, gue mau merasakan kebebasan dunia dulu. Karena gue berencana tobat di usia 35 tahun." Reno sedang membayangkan rencananya untuk delapan tahun ke depan. Karena saat ini usianya 27 tahun, menurutnya masih ada delapan tahun tersisa untuk dirinya menikmati kebebasan dunia. Padahal umur manusia tidak pernah ada yang tahu sampai di usia berapa. "Emang umur Lo nyampe segitu?" tanya Rega. "Ya lo doain lah supaya nyampe umur gue segitu, ya kali gue meninggal belom tobat. Gak mau jadi kerak neraka gue," jawabnya dengan merinding ngeri. Walaupun seperti itu Reno masih takut masuk neraka, tapi kelakuannya sudah jelas menggambarkan seorang ahli neraka. "Doa buat sendiri aja gue repot, apalagi ditambah kudu ngedoain Lo, ogah gue." Rega dengan santai memberikan tanggapannya. Membuat Reno bangun dan melempar bantal yang tadi dipakainya. "Sahabat macem apa, lo? Gak solid sama gue," hardik Reno. "Menurut lo?" tanya Rega balik. "Reno, Rega! Kalian lagi ngapain? Bukannya cepetan turun," teriak Kanjeng Ratu pemilik kerajaan Sarani. "Siap, yang Mulia." Mereka menghentikan obrolan yang tidak berfaedah pagi hari ini, bergegas keluar kamar untuk menuju meja makan. Bel peringatan pertama dari yang mulia Ratu Sarani sudah berdenging, itu artinya mereka harus segera melaksanakan aktivitasnya masing-masing, jika tidak ingin mendapatkan siraman rohani yang berukuran panjang kali lebar dari sang Ratu. "Apa sih yang kalian obrolin?" tanya Renata begitu mereka berdua duduk di kursi masing-masing. "Obrolan anak muda generasi penerus bangsa," jawab Reno asal. "Gak ada generasi penerus bangsa yang gak laku. Heran Ibu, ganteng iya, dompet tebel, baik juga iya. Tapi kok gak laku?" tanya Renata dengan nada meledek. "Oh! Tolong Nyonya di ralat kata-katanya. Kami berdua bukan tidak laku, hanya terlalu malas untuk memilih. Karna kami tidak ingin mencoba. Buat anak kok coba-coba," jawab Rega dengan mengikuti slogan salah satu iklan minyak penghangat untuk anak kecil. "Yang nyuruh kalian berdua nyoba buat anak siapa? Lagian kalo sampe ngelakuin kayak gitu Ibu kebiri kalian berdua," ancam Renata yang membuat Reno dan Rega bergidik ngeri. "Serem amat, Bu! Kita gak bakalan punya cucu dong kalo mereka berdua di kebiri?" timpal Sudibyo yang dari tadi hanya menyimak obrolan pagi ini. "Iya juga ya, ganti jangan di kebiri. Ibu nikahin kalian sama pilihan Ibu, tanpa bantahan." Renata membayangkan akan menikahkan Rega dengan anak sahabatnya. Reno dan Rega saling pandang melihat ibunya senyum-senyum sendiri setelah mengatakan hal tersebut. Ada yang tidak beres sepertinya dengan otak cantik ibunya, pikir mereka berdua. "Kalian sarapan dulu, nanti telat. Hari ini jangan lupa kirim laporan sama PT. Makmur Sejahtera." Instruksi dari Sudibyo yang diangguki keduanya. "Eh, Ibu gak main-main ya sama yang tadi." Renata masih melanjutkan pikirannya. "Sendiko dawuh yang Mulia," jawab Rega dan Reno secara bersamaan. Sudibyo hanya menggeleng pelan melihat kelakuan kedua anaknya. Reno sudah seperti anak sendiri bagi orang tua Rega. Sudibyo juga bukan tidak tahu bagaimana pergaulan keduanya. Baginya, selagi masih di batas wajar dan tidak memakai obat-obatan terlarang, maka Sudibyo masih bisa tidur dengan nyenyak. Namun, lain ceritanya jika mereka berdua sudah keluar dari aturannya, jangan berharap mendapatkan kata ampun nantinya. Apalagi jika sampai menjadi pecandu obat-obatan terlarang. Sudibyo tipe orang tua yang tegas, jika memang anaknya salah dan harus di proses secara hukum, maka ia tidak akan menghalanginya. Namun, jika anaknya di fitnah apalagi sampai menimbulkan kerugian dalam bentuk apapun, maka ia tidak akan pernah melepaskan orang itu, sampai ia bisa memberikan pelajaran yang menurutnya setimpal. Hal tersebut yang membuat nama keluarga Sarani begitu di segani dalam segala bidang. Keluarga mereka tidak pernah mencari masalah, dan terkesan lebih menghindari masalah. Tapi, jika masalah memang yang menghampiri mereka, ya tetap akan mereka selesaikan. Ibarat pepatah anak gaul Lo jual, Gua beli. "Sudah. Bu. Makan dulu," perintahnya pada sang istri. "Ibu hari ini mau ketemuan sama Yuli, Yah." Renata tengah memberi tahukan jadwalnya hari ini, karena Sudibyo sendiri tipe suami yang cukup lumayan posesif terhadap istrinya. "Mau ke mana, Bu?" Rega yang bertanya. "Mau liat pagelaran seni yang lagi diadain di salah satu Mall," jawabnya dengan mengunyah tumis brokoli. "Cuma sama Yuli, 'kan?" tanya Sudibyo memastikan. "Emang mau sama siapa lagi sih?" tanya Renata kesal dengan sikap posesif suaminya. "Ya jangan sama siapa-siapa lagi," jawab Sudibyo acuh. Renata mendengus mendengar jawaban santai suaminya. "Udah tua juga, masih aja kayak abege labil," gerutunya dengan kesal. "Ibu harusnya seneng dong! Itu artinya Ayah cinta sama Ibu." "Cie yang love forever until Jannah," goda Rega dan Reno secara bersamaan, membuat pasangan paruh baya itu tertawa kecil dibuatnya. Mereka melanjutkan sarapan dengan terus diiringi obrolan santai. Sebenarnya lebih pada nasehat dan juga banyaknya pertanyaan dari kedua orangtua Rega, tentang perusahaan, pasangan, kegiatan dan masih banyak hal lainnya. Hal yang selalu di syukuri oleh Rega setiap harinya. Orangtuanya tidak pernah menuntut apapun darinya, selalu bertanya apapun yang akan mereka lakukan ke depannya. Baik itu untuk mereka sendiri maupun untuk Rega pribadi. Lebih mengutamakan pendapat dan saran terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Tidak mengatur apalagi mengekang hidup Rega, selama itu masih dalam batas wajar juga tidak mencelakai diri sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN