Setelah seharian sibuk dengan aktivitasnya, kini Nadin dan Mega tengah berada di dalam kamar Nadin. Dengan Mega yang merebahkan dirinya di atas Kasur empuk milik Nadin.
Sedangkan Nadin sendiri sedang berada didalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci kaki serta wajahnya. Mega memutuskan untuk menginap di rumah Nadin, karena orangtuanya sedang pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tanpa harus membawa baju dari rumah, karena Mega menyimpan beberapa lembar bajunya di rumah Nadin.
Mega menjadikan rumah Nadin sebagai rumah kedua baginya, begitupun dengan Nadin yang menjadikan rumah Mega sebagai rumah ketiga baginya. Karena rumah kedua bagi Nadin tentu saja kantor pribadinya.
“kenyang banget perut gue,” keluh Mega dengan tangan yang mengelus perutnya.
Mega tadi menghabiskan dua bungkus nasi bakar beserta lauknya. Nasi bakar isi potongan daging ayam dan juga isi teri, dengan tambahan lauk ayam lada hitam, tumis pakis plus sambal goreng ati ampela ayam dan kentang, yang membuatnya menjadi gelap mata dan kalap seketika, membuat perutnya teras penuh dan begah. Matanya kian menyipit menahan buayan hawa sejuk dari Ac yang suhunya telah diatur oleh Nadin. Sedikit lagi matanya akan tertutup sempurna, jika saja Nadin tidak mengacaukannya dengan lemparan handuk kecil yang mengenai tepat pada wajahnya.
“Gosok gigi, Njir! Jorok banget hidup lu,” seru Nadin yang membuat mata Mega Kembali terbuka.
“Heh Kadal Buluk, sialan lu!” bentak Mega dengan kesal, dan melemparkan kembali handuk kecil tersebut kearah Nadin yang sedang memakai alat tempurnya yang bernama serum.
“Suruh siapa jorok?” balas Nadin cuek
Akhirnya Mega bangun dan berjalan gontai menuju kamar mandi untuk menggosok gigi, mencuci muka dan juga kakinya. Cukup dengan waktu 10 menit mega telah Keluar dari kamar mandi, berjalan menuju lemari besar milik Nadin untuk mengambil baju tidur motif Winnie the pooh kesayangannya.
Setelah itu Kembali berjalan menuju kearah Nadin yang sudah merebahkan tubuhnya di atas Kasur, dengan mata yang ditutup menggunakan sleeping mask bermotif unicorn, yang merupakan jenis gambar kartun favoritnya.
Mega berjalan menuju meja rias milik Nadin. Lagi, bahkan untuk perawatan wajah pun mereka pakai Bersama. Mega meneteskan serum milik Nadin ke wajahnya, dan mengusapkan dengan jari-jarinya, setelah rata Mega berjalan menuju ranjang untuk ikut bersama Nadin menuju alam mimpi. Mengambil sleeping mask bergambar Winnie the pooh, membaca doa dan mulai memejamkan matanya. Mengistirahatkan tubuh yang begitu terasa Lelah, berharap dalam mimpinya bertemu dengan Pangeran Hamdan dari Dubai. Mega sangat mengidolakan sosok Pangeran dari negara mewah itu.
***
Berjalan sendiri di antara banyaknya manusia, melihat ke kanan dan ke kiri berharap ada salah satu orang yang dikenalnya. Namun nihil, karena semua orang yang berlalu lalang dihadapannya seolah tidak melihatnya. Mereka tetap berjalan santai dengan pasangan masing-masing.
Wanita iyu menghela napas kasar, entah di mana dirinya sekarang, tapi sepertinya tempat ini merupakan luar negeri. Tempatnya begitu familiar bagi seorang Nadin. Ya, gadis itu adalah Nadin, entah bagaimana ceritanya Nadin bisa tersesat di Negara orang seperti ini, yang setau Nadin tempatnya saat ini adalah New York Amerika.
Nadin bisa menyimpulkan dari bangunan dan juga memang beberapa kali mengunjungi tempat tersebut bersama Mega. Nadin merasa seperti orang linglung karena tiba-tiba berada di New York. Ditengah kebingungannya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang dan membawanya berjalan lebih kepinggir.
Nadin tidak bisa melihat wajahnya, karena Nadin berjalan di belakangnya. Layaknya anak kecil yang di tarik oleh ayahnya, dan anehnya Nadin tidak marah ataupun protes.
Pria itu berhenti di depan tembok bangunan megah, membalikkan badannya dan langsung memeluk Nadin. Tubuh Nadin kaku, ia seperti mati rasa, Nadin tidak membalas pelukan pria itu. Pria itupun hanya memeluknya tanpa berucap sepatah kata pun. Kurang lebih lima menit dalam posisi seperti itu, sang pria merenggangkan pelukannya untuk melihat wajah Nadin. Menyelipkan helaian anak rambut yang menutupi wajah cantiknya. Nadin akhirnya bisa melihat wajah pria yang tiba-tiba memeluknya.
Pria tampan dengan alis yang tebal, mata hitam pekat yang mampu membuat orang lain terhipnotis, serta rahang yang begitu tegas. Nadin begitu terpesona dibuatnya, hingga tidak sadar tangannya mengusap lembut pipi sang pria. Sang pria memejamkan matanya merasakan usapan lembut tangan Nadin.
“I Love you,” ucap sang pria dengan menggenggam tangan kanan Nadin.
“Love you too,” balas Nadin lembut.
Sang pria menundukkan kepalanya untuk mempertemukan bibirnya dengan bibir milik Nadin, melumat pelan tanpa diiringi nafsu, menyalurkan perasaan cinta yang teramat dalam. Setelah itu mereka Kembali berpelukan dengan erat.
Bibir mereka terus menggumamkan kata I Love You. Hingga akhirnya Nadin harus merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena terjatuh.
Ya, kejadian yang baru saja terjadi adalah sebuah mimpi yang begitu indah untuk Nadin. Nadin terjatuh dari Kasur atas dorongan dari Mega.
“Geli gue, Njir!” seru Mega yang kaget karena perlakuan Nadin malam ini. “Mimpi apa sih lo? Meluk gue mana erat banget, punggung gue di sosori kayak orang lagi cipokan, mana bilang I love you kaga berenti lagi,” tutur Mega yang begitu penasaran akan mimpi yang dialami Nadin.
“Jadi tadi Cuma mimpi? tanya Nadin linglung.
“Mimpi ap lo? Sama siapa? Lo udah punya gebetan baru ya?” cecar Mega.
“Ah… Bege! Kenapa lu ancurin mimpi gue?” teriak Nadin frustasi.
"Eh, si b**o! Terus lo mau melukin gue semaleman sama lo sosor-sosorin gitu? Gue sih ogah!” ujar Mega membayangkan hal itu.
“Bibir gue udah gak perawan,” lirih Nadin dengan meraba bibirnya secara dramatis.
“Cipokan sama siapa lo? Wah, mendahului start lo,” seru Mega tidak terima.
"Sama pangeran yang ada di mimpi gue tadi, Pangeran Mateen kayaknya,” jawabnya asal.
“Dasar gak waras, udah mendingan lo tidur lagi. Awas kalo meluk apalagi nyosorin gue lagi,” ancam Mega.
“Oh, Pangeran Mateen.” Nadin kembali naik ke atas Kasur dan menubruk Mega, membuat Mega berteriak.
“Medina Gila!”
Untung saja kamar Nadin memakai peredam, jika tidak, sudah bisa di pastikan seisi rumah akan terbangun karena kelakuan mereka berdua.
Mereka berdua akhirnya perang menggunakan bantal dan berakhir setelah merasa lelah, jam baru menunjukkan pukul 02.30, mereka Kembali melanjutkan tidur setelah Mega memasang sekat pada kasur dengan guling.
***
Pagi menjelang setelah di tandai oleh ayam yang berkokok dengan nyaringnya, menggangu tidur dua orang gadis yang baru memejamkan matanya setelah perang tadi malam.
“Nadin, Mega! Bangun sholat subuh,” teriak Yuli dengan menggedor-gedor pintu kamar. “Ibu itung sampe 10, kalo masih belom bangun kalian gak usah ke toko, sebagai gantinya kalian berdua harus bersihin rumah,” ancam Yuli yang pasti akan berhasil.
Mega yang mendengar ultimatum dari ibu keduanya langsung bangun dan juga membangunkan Nadin, diluar ibunya sudah menghitung sampai di angka tiga. Nadin pun langsung bangun begitu mendengar angka tujuh yang disebutkan oleh Kanjeng Maminya.
Bergegas mereka menuju pintu untuk melaporkan diri bahwa mereka sudah bangun. Ibu Negara tidak pernah main-main dengan ancamannya. Yuli tidak akan berhenti sebelum pintu terbuka dan memastikan jika mereka sudah bangun. Maka dari itu mereka berdua harus menunjukan batang hidungnya untuk laporan pagi, bahwa mereka sudah bangun, setelah itu barulah Yuli berhenti.