Rega Jatuh Cinta

1114 Kata
Bagi seorang Arega Dewa Sarani yang sudah berumur 27 tahun dan belum pernah merasakan jatuh cinta, memiliki perasaan aneh yang tidak bisa di jelaskan seperti saat ini adalah hal yang membingungkan. Rega tersenyum sendiri hanya karena bayangan senyum indah wanita cerminan bidadari, yang dilihatnya ditengah kemacetan kota Jakarta. Senyum itu begitu meneduhkan ditengah biasan sinar matahari sore. Rega menebak apakah dirinya jatuh cinta? Karena menurut buku yang pernah dibacanya, Jatuh cinta adalah sebuah proses alami yang begitu indah tetapi cukup rumit. Jika kamu perhatikan, orang yang sedang jatuh cinta bisa bertingkah aneh dan konyol, bahkan terkadang bisa melakukan hal-hal yang di luar akal sehat. Ternyata, istilah tersebut menggambarkan perasaan seseorang saat menyukai orang lain. Dan lihatlah sekarang, Rega tengah tersenyum sendiri karena kejadian langka ditengah macetnya Jakarta. Bahkan ketika ia bersyukur untuk kemacetan Jakarta pun itu merupakan hal aneh bukan? Maka dari itu Rega menyatakan bahwa dirinya tengah Jatuh Cinta pada perempuan yang entah siapa namanya. Rega tidak akan mencari tahu tentang perempuan itu, karena seperti lagu yang sedang di dengarkan olehnya, lagu milik Afgan Syah Reza yang berjudul Jodoh Pasti Bertemu. sedang asik bernyanyi tiba-tiba lagu berhenti, membuat Rega kesal dan langsung membalikkan kursi untuk melihat siapa yang sudah berani mengganggu ketenangan hidupnya. Posisinya yang sedang menghadap jendela besar, menikmati pemandangan kota Jakarta dari ruangannya dengan ditemani lagu milik Afgan tersebut, membuatnya tidak bisa menghentikan tangan jahil Reno. "Heh, Asisten kurang ajar, ganggu ketenangan hidup gue aja lo!" bentak Rega ketika tiba-tiba Reno mematikan musik yang sedang diputarnya. "Maaf, Pak. Ini masih jam kerja, juga pintu ruangan Bapak tidak tertutup rapat, dan hal itu mengganggu karyawan lainnya." Seperti biasa Reno akan berbicara formal jika pakaian Rega masih lengkap. Rega melongok kan kepalanya untuk melihat pintu, ia bahkan lupa siapa tadi yang terakhir masuk ke ruangannya dan tidak menutup pintu dengan rapat. Karena ruangannya memakai peredam suara, jadi Rega berpikir tidak masalah jika memutar lagu dengan suara yang memekakkan telinga. Karena itu juga memang kebiasaannya. Rega mencebikkan bibirnya dan melepaskan jas yang dipakainya agar Reno tidak berbicara formal. Kupingnya terasa gatal dengan setiap kata formal yang keluar dari mulut yang selalu berhasil menaklukkan wanita. "Lo mau ngapain kesini?" tanyanya setelah menggantungkan jas pada hanger yang tersedia. "Cuma mau bilang itu doang. Lo sadar gak sih? suara lo itu udah melebihi tukang perabot yang keliling kampung tau gak," cibir Reno dengan kesal. Karena hal itu menimbulkan kebisingan untuk karyawan yang lainnya, karena Rega memutar musik cukup keras dengan diiringi suara fals nya. Membuat karyawan banyak yang terkikik mendengar suaranya. "Suara gue keren, Njir!" Rega tidak terima jika suara yang menurutnya merdu seperti milik Ariel Noah' direndahkan oleh Asisten sekaligus sahabat laknatnya. "Terus gue kudu bohong gitu biar lu seneng?" Rega mengangguk dengan tersenyum. "Dosa gue udah numpuk, jadi, maaf 'kan kali ini aku harus jujur." Reno berkata dengan nada lagu milik band Kerispatih yang berjudul Jujur. Rega mendengus mendengarnya, "Sirik lo!" cibirnya tetap tidak terima. "Gue bilangin sama lo, terserah lo mau teriak-teriak sampe pita suara lo putus, mau nyetel musik sampe kuping lo budeg, joget-joget sampe pinggang lo encok, itu terserah. Tapi dengan syarat, pastiin pintu tertutup rapat, bila perlu dikunci. Kasian sama para karyawan yang lainnya gue, takut kena mental denger suara lo yang subhanallah sekali," tutur Reno dengan diiringi ledakannya. "Dih! kantor-kantor gue, serah gue lah. Kalo mereka keberatan ya udah pecat aja," balasnya asal dengan memutar kursi kebesarannya untuk kembali menghadap jendela. "Oh seperti itu, oke." Rega kembali memutar kursinya ketika mendengar suara ayahnya. "Kayaknya mendingan kamu yang Ayah pecat dari pada semua karyawan Ayah," ujar Sudibyo dengan mendudukkan diri di sofa singel sebelah Reno. "Mampus!" ledek Reno dengan bahagia. "Apa sih, Yah. Becanda juga," ujarnya dan berjalan menuju sofa. "Ayah ngapain kesini?" tanyanya pada sang pemilik perusahaan. "Kantor Ayah, 'kan? Jadi terserah dong," jawab Sudibyo santai. "Sombong!" cibir Rega. "Kamu kalo lagi kerja coba jangan kayak orang gila. Gak malu apa di ketawain karyawan sendiri? Suara kayak kaleng rombeng juga." Sudibyo yang melewati ruangan Rega dan mendapatkan karyawannya sedang membicarakan anaknya dengan lucu begitu penasaran, dan meminta salah satu mereka untuk bercerita. Sudibyo menggelengkan kepalanya ketika mendengar cerita karyawannya. Sudibyo merupakan bos yang santai tapi tegas, yang membuat para karyawannya merasa nyaman dengan sikap hormat yang tinggi terhadapnya. "Suara kayak Ariel Noah' gini dikatain mirip kaleng rombeng, sekate-kate emang," dengusnya tidak terima. "Udah, Yah. Takut mentalnya kena kalo gak di iyain," sela Reno yang membuat Sudibyo tertawa. "Kita putus." Kata andalan Rega jika dirinya sudah kesal. "Kita gak peduli," jawab Reno dan Sudibyo kompak. "Ya udah sono pergi, mau kerja ini. Jangan ada yang ganggu," usir nya yang sudah terlanjur kesal. "Reno, gimana Ayah mau punya cucu kalo kelakuannya aja masih gitu?" bisik Sudibyo dengan sedikit keras. "Saya denger ya." Rega yang tahu bahwa ayahnya menyindirnya hanya memutar bola matanya jengah. "Tahun depan Ega produksi," jawabnya santai. "Produksi ama siapa lo?" tanya Reno yang lebih ke arah meledeknya. "Sama pacar gue lah," jawabnya bangga. "Gak salah? Emang laku?" giliran Sudibyo yang meledeknya. "Hellow Bapak Sudibyo Sarani yang terhormat, anak mu ini laku bahkan sangat amat laku jika saja mau mengobral diri seperti itu tuh," jawabnya dengan menggerakkan ekor matanya menunjuk pada Reno. "Ngapa gue dah?" tanya Reno tidak terima. "Hah! Kalian memang sama saja." Sudibyo menghela napas kasar yang memang mengetahui perilaku kedua anaknya. Bagi Sudibyo,Reno sudah seperti anaknya sendiri. Karena orang tuanya pun bersahabat dengannya. "Yang penting kita normal," balas Reno santai. "Ya udah, Ayah mau pulang dulu, Kanjeng Ratu udah di rumah soalnya." Renata memang sudah selesai dengan acara meet & greet nya dengan Yuli, sahabat sekaligus calon besan mereka nanti. Karena Renata dan Sudibyo sudah merencanakan perjodohan antara Rega dengan anak perempuan mereka. "Pulang-pulang aja, kita gak nahan tuh dari tadi," ujar Rega yang membuat Sudibyo kembali tertawa pelan. "Pulang kerja langsung pulang, jangan keluyuran." Setelah itu Sudibyo pergi. "Bucin banget bokap gue sama kanjeng Ratu." Sudibyo memang bucin sekali terhadap Renata. Bahkan Sudibyo tidak pernah bosan untuk menceritakan kisah cintanya, yang hanya pernah ia rasakan sekali pada seorang perempuan yaitu Renata. Mungkin sifat itulah yang menurun pada Rega yang belum pernah merasakan jatuh cinta di umurnya yang tiga tahun lagi akan menginjak kepala tiga. Namun sepertinya status jomblonya sebentar lagi akan hilang, karena entah mengapa, dirinya merasa begitu yakin akan bertemu kembali dengan perempuan cerminan bidadari itu. Bahkan Rega sangat yakin jika mereka berjodoh. Reno menempelkan punggung tangannya pada dahi Rega yang sedang tersenyum sendiri. "Gak panas, fiks lo kurang waras." "Si Bangke!"seru Rega dengan menepis tangan Reno. Reno tertawa dibuatnya setelah itu Reno keluar dari ruangan Rega untuk meneruskan pekerjaannya. Begitupun dengan Rega yang meneruskan bayangannya, karena hari ini pekerjaan Rega sedikit longgar. Jadi Rega bisa sedikit santai, hal yang jarang Rega dapati selama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN