Setelah sarapan yang diiringi dengan penuh ancaman dari Ibu Negara, Nadin dan Mega akhirnya bisa keluar untuk kembali menjalankan aktivitas seperti biasanya. Mega pulang terlebih dahulu ke rumahnya sebelum berangkat menuju tokonya. Orang tuanya menelpon jika mereka sudah sampai di rumah tadi
"Gue balik dulu," ucap Mega ketika sampai di depan kantor Nadin.
"Ongai, hati-hati lo." Bahasa Nadin memang terkadang aneh.
"Jangan lupa ntar sore."
Mega mengingatkan kembali Nadin dengan rencana mereka yang akan kembali menemui para anak jalanan. Kemarin mereka mendapatkan banyak buku dan juga baju dari teman-temannya.
"Ongai," jawab Nadin singkat.
"Si b**o!" seru Mega yang kesal dengan jawaban aneh Nadin.
Mega menjalankan kembali mobil menuju rumahnya, sedangkan Nadin berjalan untuk masuk kedalam kantornya. Nadin akan memulai aktivitas seperti biasanya, bekerja dengan tumpukan laporan dari karyawannya. Lagi dan lagi, Putra mantan kekasihnya yang tukang selingkuh itu menghubunginya.
"Apa gue blokir aja ini orang ya? Ngeselin lama-lama."
Nadin berkata dengan melihat handphonenya. Jika saja ada Mega, sudah pasti Nadin akan memberikan telponnya pada Mega, dan membiarkan Mega yang berceloteh untuk membuat sang mantan kesal hingga ke ubun-ubun.
Nadin heran dengan manusia sejenis Putra, manusia yang diberi label tidak tahu diri olehnya. Untuk apa ia selingkuh jika masih mencintai kekasihnya dulu? Hal bodoh dan sia-sia menurut Nadin. Di saat sudah dilepaskan malah sekarang ia kembali mengejar-ngejarnya dengan berbagai alasan.
"Mangkanya gak usah sok kegantengan hidup lo. Selingkuh segala, muka pas-pasan aja belagu." Nadin menggerutu pada handphonenya yang baru saja berhenti bersuara.
Akhirnya dengan memantapkan hati Nadin memblokir nomor mantan kekasihnya itu. Bukan karena Nadin masih mencintainya sehingga ia tidak melakukan hal itu selama ini, melainkan karena Nadin tidak ingin di anggap sombong dan belagu. Walau bagaimanapun ia tidak ingin membangun benteng kebencian dengan mantannya, karena Nadin selalu mencintai kedamaian. Jika masih bisa berteman mengapa harus saling bermusuhan, itu pikirnya.
Namun, sepertinya mantannya yang satu ini begitu mengganggu dan menyebalkan, maka dari itu mau tidak mau Nadin harus memblokir nomor nya agar tidak diganggu lagi.
Setelah memblokir nomor sang mantan yang begitu mengganggu, kini Nadin mulai fokus pada pekerjaannya. Handphonenya kembali berbunyi dengan nama Santi di Id pemanggilnya. Itu Santi temannya di jaman putih abu-abu dan merupakan sahabat baik dari Putri, teman sekaligus selingkuhan mantan kekasihnya yaitu Putra.
Nadin tengah berpikir untuk apa tiba-tiba Santi menelponnya, Nadin mengabaikan pertanyaan dalam hatinya dan mengangkat telponnya, siapa tau itu hal penting dan menguntungkan bukan.
"Halo, San."
"Halo, Nad. Sibuk gak?"
"Mayan sih, tumben ada pa?"
"Lu masih suka ngumpulin barang buat anak-anak jalanan?"
"Masih, kenapa? Mau nyumbang?"
"Iya nih, baju bekas ponakan gue banyak banget masih pada bagus-bagus, buku-bukunya juga banyak. Lu ambil ya."
"Wih mantap tuh. Sore gue ambil, rumah lu masih sama, 'kan?"
"Masih lah. Ya udah kabarin gue kalo mau ngambil ya. Soalnya sore gue mau pergi ke daerah Sunter, takutnya gue gak ada pas lu datang."
"Lu jam berapa ke Sunter nya, kenapa kita gak ketemuan di sana aja. 'kan deket tuh sama kerjaan gue."
"Ya udah klao gitu, jam tigaan ya."
"Ongai."
Setelah itu mereka melakukan percakapan yang lumayan ngalor-ngidul menurut Nadin, percakapan random yang menjurus ke arah hubungannya dengan Putra.
Di zaman putih abu-abu Santi begitu terkenal dengan sebutan Reporter, alias biang gosip. Semua hal yang berbau informasi apapun tidak pernah luput dari pendengarannya. Penyampai berita yang akurat dengan porsi yang selalu dilebihkan. Juga orang yang sangat perhitungan dalam segi uang.
Di zaman sekolah Nadin beserta teman-temannya yang lain termasuk Santi sedang mengadakan acara makan-makan di rumahnya dengan memasak sendiri, dan semua bahannya hasil dari patungan, di saat orang lain mematung sayur, beras lauk dan sebagainya. Maka Santi hanya akan mematung garam dengan alasan di rumahnya hanya ada garam, dan makanan tidak akan terasa nikmat tanpa garam.
"Oke, San. Ntar gue chat kalo udah di lokasi besok, gue lanjut kerja dulu ya, Bebey."
Nadin mengakhiri obrolan tidak jelasnya dengan Santi. Tiga puluh menit kurang lebih mereka mengobrol via telepon, obrolan yang lebih di d******i oleh pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari Santi mengenai Putra.
Nadin berpikir jika mungkin saja Santi banyak bertanya seperti itu atas perintah dari Putri. Namun, Nadin tidak mau berprasangka buruk dengan menuduh orang tanpa bukti, bagaimanapun kita harus tetap berhusnudzon pada sesama manusia. Itupun jika mereka memang sejenis manusia pada umumnya.
"Akhirnya gue bisa kembali kerja lagi. Gak jelas banget sumpah."
Tanpa terasa waktu yang di lalui nya begitu cepat, Nadin tidak sadar jika saat ini sudah memasuki waktu makan siang, jika saja Mega tidak menanyakannya.
Daluk:
Nyet! Lo udah makan belom?
Pesan yang dikirimkan oleh Mega pada Nadin melalui sebuah chat aplikasi berwarna hijau berlogo telepon. Onyet, salah satu jenis hewan yang bersuara uu aa, dengan ciri-ciri memiliki ekor panjang, tubuh yang dipenuhi bulu dan makanan favoritnya adalah pisang. Itu panggilan Mega untuk Nadin.
Sedangkan Nadin memanggilnya dengan sebutan Daluk singkatan dari Kadal Buluk,
Me:
Alhamdulillah belom, gue malah gak sadar malah kalo ini udah jam maksi.
Balas Nadin jujur, dengan kekuatan bulan dan rasa percaya diri yang teramat tinggi, Nadin yakin seribu persen Mega akan mengirimkan pesan berupa cacian yang justru membuat Nadin tertawa.
Daluk:
Heh Monyet rabies, yang otaknya geser gegara di selingkuhin. Kalo patah hati gak usah nyiksa diri, lu sakit gue yang repot, Pea. Gak mau gue temenan sama orang penyakitan, gak penyakitan aja lu nyusahin gue, apalagi penyakitan. Jauh-jauh lu dari gue.
Nah, Kan. Apa Nadin bilang. Ia tertawa ketika membaca pesan yang berisi lebih banyak cacian dari seorang Mega tanpa wati nya itu. Nadin tidak sakit hati dengan semua ucapan Mega.
Dalam persahabatan mereka jika berbicara tidak perlu dimasukkan ke hati, tidak ingin terjadi kecanggungan. Mereka akan mengungkapkan dan mengekspresikan apapun yang mereka rasakan antara satu sama lainnya. Seperti saat ini contohnya, bagi orang baperan alias apa-apa selalu membawa perasaannya, mungkin akan sakit hati ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh Mega. Tapi Nadin justru tertawa ketika membacanya. Mereka tidak pernah berkata-kata manis walau sedang menenangkan sekalipun. Mereka mempunyai cara tersendiri dalam mensupport satu sama lain.
Me:
Sendiko dawuh Kanjeng Ibu.
Nadin kembali membalasnya dengan tingkah absurd nya, tidak memikirkan bagaimana kesalnya Mega yang sekarang berada di tokonya.
Daluk:
Sore jangan telat, gue dateng lo udah harus ada di depan. Gue gak mau ada drama nunggu dulu.
Mega kembali mengirimkan pesan berupa peringatan pada Nadin.
Me:
Siap Ibu Mega tanpa Wati.
Setelah itu Nadin keluar dari obrolan dan membuka aplikasi ojek online untuk memesan makan siangnya. Hari ini Nadin terlalu malas untuk keluar, selain karena pekerjaannya yang cukup banyak, terik matahari diluar begitu menyengat, jadi Nadin lebih memilih makan di dalam ruangannya yang sejuk karena hawa yang dikeluarkan oleh AC.