Reno Sang Dewa Cinta

1030 Kata
Sesuai janji, Nadin dan Mega kini berada di salah satu kafe dikawasan Sunter Jakarta Utara. Menunggu kedatangan Santi yang akan memberikan pakaian dan juga buku bekas untuk para anak jalanan mereka. Menunggu hampir sepuluh menit, tapi belum ada tanda-tanda akan kedatangan Santi. "Gue paling kesel nih sama orang maceman begini," gerutu Mega si manusia On time. "Gak usah ngedumel aja, mendingan lu makan!" Nadin memasukkan kentang goreng ke dalam mulut Mega. Mega merupakan manusia jenis Omnivora yang memakan semua jenis makanan. Nadin belum pernah melihat Mega menolak makanan apapun jenisnya. Mega selalu penasaran apalagi dengan jenis makanan yang baru ditemui nya. Mega sangat cocok menjadi presenter acara kuliner, karena dirinya tidak pernah memilih apalagi menolak makanan. Nadin pun seperti itu, hanya saja Nadin tidak pernah mau mencobanya terlebih dahulu sebelum Mega yang mencobanya. Untuk urusan tester memang selalu di serahkan pada Mega. Nadin akan memakannya jika Mega sudah berkata 'Oke'. "Dia udah telat 10 menit loh ini. Apa jangan-jangan dia ngerjain lo atas perintah si Putri? Mereka 'kan sahabat." Pikiran Mega yang awalnya di pikirkan oleh Nadin. "Gak boleh suudzon, sebagai manusia kita lebih baik berhusnudzon. Kita gak pernah tau apa yang terjadi dalam perjalanannya." Perkataan Nadin membuat Mega menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Walaupun sama kurang waras nya, Nadin akan selalu mengeluarkan kata-kata bijak penuh makna pada Mega. Dan Mega akan mengangguk paham dan tidak akan membantah jika itu memang benar dan bisa di terima oleh akal sehatnya. "Nah, Itu dia datang. Pen bet gue maki," gerutu Mega yang melihat Santi memasuki kafe. "Gak usah macem-macem, gue jait mulut lo baru nyaho!" ancam Nadin yang membuat mega mencebikkan bibirnya. "Sorry ya telat, abis COD'an dulu soalnya." Santi memang memiliki toko online pakaian yang cukup besar, dan menyediakan layanan Cash On Delivery. Santi juga tahu bagaimana sifat On time seorang Mega Aulia Putri Hardadi yang pasti mulutnya sudah komat kamit karena dirinya yang telat. "Selow lah," balas Nadin santai, sedangkan Mega hanya diam saja. Terlalu malas dan terlalu banyak alasan menurutnya. "Mana barangnya?" tanya Nadin pada Santi. "Anjir lah, udah kayak lagi transaksi barang haram aja lo. Ada orang BNN dikira pecandu sama pengedar lo," sela Mega dengan diiringi tawanya. "Si b**o!" seru Nadin menoyor kepala Mega. "Bahasa Lo, Nyet!" balas Mega. "Ada kok di mobil, emang mau ke sananya jam berapa? Gue boleh ikut gak?" tanya Santi yang mungkin saja hatinya telah terbuka. "Dari sini kita langsung ke sana, kalo mau ikut ayo aja. Bagus malah biar lu tau sekalian. Takutnya kita bohong juga, 'kan." Mega memang tipe orang yang sangat blak-blakan dalam berbicara, sangat pandai memainkan emosi orang lain. Santi yang sudah mengetahui wataknya tidak tersinggung, karena sudah biasa mendengar Mega berbicara dengan sedikit menyinggungnya. "Gak usah di masukin hati omongan si Pea mah," sela Nadin yang tidak enak hati dengan perkataan sahabat Gilanya. "Selow, udah biasa kok." Santi cukup memaklumi saja. "Makan dulu sebelum ke sana, gue laper." Mega memesan makanannya dan juga Nadin, menanyakan juga makanan yang akan di pesan oleh Santi. Mereka makan dengan diiringi obrolan ringan. Lebih banyak Nadin dan Santi, karena Mega lebih fokus pada makanannya dari pada mengobrol. Setelah makanan habis barulah mereka pergi menuju tempat biasa mereka membagikan barang bawaannya. Barang yang mereka bawa cukup lumayan banyak, dan nanti akan di bagikan lagi oleh anak jalanan ke pada anak jalanan lainnya. Itu atas perintah Nadin dan Mega kepada Pitok, Ipong dan juga Mence. Karena mereka yang paling besar di antara yang lainnya, mereka juga tipe anak yang jujur dan bisa di percaya. Nadin dan Mega sudah membuktikannya setelah memerintahkan mereka bertiga untuk membagikan pada yang lainnya, Nadin dan Mega mengikuti secara diam-diam dan bukan hanya sekali. Mereka sampai di jam pulang kerja seperti biasanya, yang membuat kemacetan di lampu merah. Langsung memanggil anak-anak jalanan untuk membagikan barang bawaan mereka. *** Rega meregangkan tubuhnya dengan menarik kedua tangannya ke atas, pekerjaannya santai di pagi hari, tetapi setelah makan siang tiba-tiba Reno memberikan setumpuk dokumen yang harus di selesaikan segera olehnya. Terkutuk sekali memang asistennya itu, ia membiarkan Rega berleha-leha terlebih dahulu, begitu Rega terlena Reno dengan santainya memberikan pekerjaan padanya. Sungguh tidak berprikepekerjaan menurut Rega. Rega keluar dari ruangannya dengan santai setelah membereskan pekerjaannya untuk dibawanya ke rumah, masa bodo dengan omelan Reno, toh ia yang punya perusahaan. Berjalan santai menuju parkiran dengan sesekali mengangguk saat menerima sapaan hormat dari para karyawannya. Rega masuk kedalam mobilnya dan mulai menginjak pedal gas. Mobilnya mulai berbaur dengan pengendara lainnya, perjalanan yang diiringi musik milik Bondan Prakoso yang berjudul Hidup Berawal dari Mimpi, dan seperti biasa juga terjadi kemacetan di lampu merah kedua dijalan yang ia lewati. Lagi, seperti kemarin ia sangat bersyukur pada kemacetan kali ini, karena ia bisa kembali melihat wajah dan senyum gadis cerminan bidadari nya. "Entah kenapa aku sangat yakin jika kita akan berjodoh," ucapnya dalam batin sambil tersenyum. Rega menurunkan kaca mobilnya, siku tangannya ia taruh di atas jendela mobil dengan jemari yang mengusap dagunya. Matanya fokus memandangi senyuman yang sedang terkena sinar matahari sore. Hingga ia tersadar karena bunyi klakson dari mobil yang dibelakangnya. Dengan segera Rega kembali menjalankan mobilnya, meninggalkan perempuan yang berhasil membuat dirinya merasa kurang waras, tanpa mengetahui siapa namanya. "Kenapa cuma sebentar sih macetnya?" tanyanya pada jalanan yang biasanya macet. Ingin rasanya Rega turun dan menghampiri sang Bidadari, tapi sungguh ia tidak berani melakukan hal tersebut. Kebiasaan dikejar oleh perempuan membuatnya bingung dengan cara mengejar dan bagaimana berkenalan yang baik dengan lawan jenisnya. Ingin rasanya Rega berguru pada Reno untuk saat ini. Rega ingin menanyakan beberapa tips tentang awal mula berkenalan hingga tahap membaperkan seorang wanita, karena untuk yang satu itu seorang Reno Ragasa adalah ahlinya. Rega sampai di rumah setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit lamanya. Disambut dengan senyum hangat yang selalu meneduhkan hatinya, senyum yang dimiliki oleh seorang wanita yang selalu berada di garda terdepan untuk melindunginya. Senyum yang selalu ingin dilihatnya atas semua prestasi yang diberikan olehnya. Senyum itu milik seorang Renata Aksara Sarani, atau yang biasa disebut dengan panggilan Kanjeng Ratu pemilik kejaran Sarani. Wanita yang selalu menunggu di kursi depan pintu rumahnya untuk menyambut dua lelaki kesayangannya. Renata tidak akan masuk ke dalam rumahnya sebelum Sudibyo dan Rega terlihat olehnya. Kecuali mereka berdua telah memberi kabar terlebih dahulu padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN