Hari yang membahagiakan bagi Nadin dan Mega adalah hari dimana mereka bisa memberikan sedikit ilmu pada anak-anak jalanan. Doa dan harapan yang selalu mereka panjatkan dan semoga kan adalah membangun sekolah untuk anak-anak jalanan. Walau entah bisa terwujud atau tidaknya, karena mereka sangat tahu dengan jelas itu semua membutuhkan biaya yang sangat amat besar. Maka dari itu untuk sementara ini hanya itu yang bisa mereka lakukan.
Santi pun kemarin begitu antusias ketika memberikan pelajaran bahasa Indonesia pada mereka semua, Santi pun pamit setelahnya, dan berjanji akan kembali ikut mengajar juga mengumpulkan buku dan baju untuk para anak jalanan.
Hari ini Nadin akan bertemu dengan calon distributor barunya, masih temannya juga yang latah ingin mencoba peruntungan seperti Mega, mengajak Nadin bertemu di sebuah Restoran untuk membahas kelanjutannya. Restoran yang dipilihnya pun cukup mewah, restoran yang biasa digunakan untuk meeting para pengusaha karena terdapat private room nya juga.
Nadin berpakaian cukup formal, kemeja berwarna ocean blue dipadukan dengan celana kulot berwarna putih, sandal dengan hak berbentuk tahu setinggi tujuh centimeter mempercantik kaki mulusnya, rambutnya ia kuncir menyerupai ekor kuda agar tidak menghalangi aktifitasnya.
Nadin sangat jarang menggerai rambut, karena Nadin sangat tidak menyukai rambut yang menempel pada kulit lehernya. Pertemuan yang diadakan di jam makan siang tersebut berjalan lancar, dengan kesepakatan toko Nadin sebagai supplier utama di toko yang akan mulai buka pada senin depan.
"Buat permulaan gue kirim setengah-setengah dulu aja ya," ujarnya setelah menjelaskan produk apa saja yang akan dikirim dari tokonya beserta harganya.
"Atur aja gimana baiknya menurut lo, gue 'kan masih pemula jadi gak tau," balas temannya itu.
Setelah pembahasan kerja sama selesai mereka melanjutkan dengan obrolan santai, membahas banyak hal hingga jam menunjukkan waktu pukul 12.45 wib. Temannya pergi setelah 1 jam lamanya pertemuan mereka, membicarakan banyak hal dan lebih mengingat pada nostalgia ketika mereka sekolah dulu.
***
Rega dengan semangat menuju restoran yang akan dijadikan tempat meeting dengan klien barunya yang berasal dari luar negeri. Selain karena ini merupakan mega proyek yang akan ditanganinya jika berhasil, entah mengapa meeting kali ini seperti ia akan mendapatkan kejutan yang menyenangkan yang dia sendiri pun tidak mengetahuinya.
Intinya entah karena angin dari mana, Rega begitu bersemangat dan ingin segera datang ke restoran yang telah dijanjikan. Ketika ia bercerita pada Reno, sahabatnya itu hanya menjawab
"Persiapan kita cukup matang, dan kalo sampe ni si Takuyama mau kerjasama sama kita itu pasti jadi kebanggaan tersendiri buat lo."
Dan Rega hanya membenarkan jawaban dari sahabatnya itu. Mungkin karena ini proyek yang akan membuat ayah dan ibunya serta semua keluarganya bangga hingga ia begitu bersemangat, dan ini pula salah satu bentuk pembuktian pada ayahnya jika ia mampu. Walaupun selama ini Rega tidak pernah gagal dalam hal mendapatkan klien baru.
Namun, kembali lagi, entah karena apa sehingga untuk meeting kali ini energi Rega seolah full dengan aura yang begitu memancar. Meeting yang sengaja diadakan jam 10.30 wib dan akan dilanjutkan dengan makan siang bersama setelahnya.
Begitu sampai Rega dan Reno langsung menuju private room yang telah di reservasi oleh Reno. Masih kurang lima menit sebelum waktu yang mereka tetapkan. Kliennya kali ini terkenal dengan sikapnya yang sangat disiplin waktu, maka dari itu mereka lebih memilih untuk datang duluan dan menunggunya dibangkitkan beliau yang menunggu.
"Gue udah keren, 'kan?" tanya Rega.
"Maaf, Pak. Kita akan melakukan pertemuan dengan klien laki-laki, dan Bapak sudah menanyakan hal tersebut untuk yang kesekian kalinya. Mohon jangan membuat saya berpikir jika Bapak sudah berubah haluan," jawab Reno yang mulai kesal dengan pertanyaan yang Rega ajukan. Karena bukan sekali dua kali, mungkin ini sudah yang ke tujuh kalinya.
"Anjir lah si Pea," balas Rega kesal.
"Maafkan saya, Pak."
Ingin rasanya Reno memaki Bos terkutuk nya ini, sayangnya Rega sedang memakai pakaian formal yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak lama setelah itu orang yang ditunggu mereka pun tiba, Mr.Takuyama. Pria berumur sekitar 45 tahun itu begitu terkesan dengan sikap disiplin dan juga penjabaran presentasi dari Rega. Tidak mudah memang, karena kliennya ini banyak sekali menanyakan hal yang memang tidak dimengerti olehnya. Tepat ketika waktu makan siang, akhirnya meeting selesai, dilanjutkan dengan acara makan siang. Setelah itu Mr. Takuyama dan juga sekertaris nya pergi meninggalkan Rega dan Reno.
"Alhamdulillah," ucap Rega setelah kliennya pergi.
"Maaf, Pak. Saya juga harus segera pergi karena masih banyak yang harus di selesaikan." Reno memiliki urusan yang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu, hal itu membuat Rega memicingkan matanya curiga. "Selamat siang, Pak."
Reno segera pergi sebelum bos gilanya itu menahannya. Mau tidak mau Rega duduk sendiri di sana untuk menghabiskan minumannya.
Jika kemarin sore keberuntungan tidak berpihak kepadanya, maka beda dengan hari ini, alam semesta seperti mendukung nya. Meeting yang diadakan di restoran yang berada dikawasan Jakarta Utara itu ternyata menjadi awal kebahagiaannya.
Setelah meeting selesai dengan hasil kesepakatan yang disetujui, klien nya langsung pergi meninggalkan restoran tersebut. Pun dengan Reno asisten pribadinya yang langsung pergi karena mempunyai urusan pribadi.
Ketika matanya menatap keluar jendela ia melihat gadis jelmaan bidadari itu sedang duduk seorang diri di kursi pojok dekat jendela. Tanpa menunggu lama Rega keluar dari ruangannya dan mencari gadis tersebut. Matanya seketika berhenti ketika melihat sang gadis sedang memainkan handphonenya. Dengan percaya diri Rega menghampirinya untuk mengajaknya berkenalan secara langsung.
"Permisi, boleh saya duduk disini?" tanyanya begitu tiba di hadapan gadis tersebut. "Sendiri 'kan? Apa lagi nunggu temen?" lanjutnya bertanya.
Nadin mendongakkan kepala, dan melihat ke sekelilingnya. "Sendiri sih, tapi 'kan banyak meja yang kosong!" ucapnya kemudian.
"Saya tahu, saya juga dari ruang VIP. Tapi saya mu kenalan sama kamu," balas Rega jujur, membuat gadis itu tersenyum manis sekali.
"Oh… ya udah silahkan duduk kalau begitu." Sambutan gadis itu membuat Rega bersorak girang dalam hati.
"Saya Dewa, kamu siapa?" ucapnya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan, dan mengenalkan dirinya sebagai Dewa bukan sebagai Rega.
"Medina," jawabnya singkat.
Nadin pun sama mengenalkan dirinya dengan sebutan Medina bukan dengan nama panggilannya.
"Sudah beberapa kali saya melihat kamu di jalan bersama anak-anak jalanan. Mangkanya saya berani menghampiri dan mengajak kenalan," ucapan Rega membuat Nadin menampilkan ekspresi tidak percaya.
"Oh... Jadi saya punya penggemar nih ceritanya?" balasnya dengan tertawa ringan dan membuat Rega terpesona.
"Bisa dibilang seperti itu," balas Rega lagi dengan mengedikkan bahu.
"Perlu tanda tangan gak?" tanya Nadin dengan candaannya. Dan tertawa
"Wah! boleh juga tuh," jawab Rega dengan tertawa.
Medina orang yang sangat humble, dan menyenangkan. Rega tidak salah memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Awalnya Rega pikir ia akan mendapatkan penolakan, tapi justru ia mendapatkan kenyamanan. Seorang pelayan datang menginterupsi obrolan awal mereka.