Reno menatap bos nya tidak percaya, ia bertanya dalam hati ada apa gerangan dengan sahabat yang merangkap sebagai bos terkutuk nya ini.
Bagaimana Reno tidak heran, coba bayangkan, begitu Rega datang kembali ke kantor setelah meeting yang telah berlalu sekitar dua jam lamanya, Rega baru kembali dengan keadaan yang membuat semua orang memperhatikan nya dengan bingung.
Rega berjalan santai sambil bersiul, tersenyum dan sesekali mengusap wajahnya, tanpa memikirkan pandangan orang lain yang akan menyebutnya kurang waras.
Reno pikir jika Rega sebahagia itu hanya karena berhasil melobi kliennya itu tidak mungkin, karena itu hal yang biasa baginya, walaupun kliennya itu sangat penting. Apa mungkin Rega kecelakaan dan kepalanya terbentur sehingga membuat otaknya semakin geser?
Opsi kedua lebih masuk akal menurut seorang Reno Ragasa, yang sudah sangat hapal luar dan dalam isi kepala bos compleks nya itu. Reno dengan segera mengikuti Rega hingga ke ruangannya, sedikit berlari sebelum pintu lift tertutup. Rega hanya tersenyum manis padanya tanpa mengatakan apapun, membuat Reno bergidik ngeri akan sikapnya, tetapi sebisa mungkin Reno tahan untuk tidak berkomentar ataupun menghujat Rega, karena seperti biasa, Rega masih berpakaian lengkap. Lift berhenti di lantai ruangan Rega, mereka berjalan keluar tanpa adanya pembicaraan apapun.
"Bagaimana rekapan data yang tadi di bahas, apakah sudah selesai?" tanya Rega, dengan sigap Reno menyerahkan dokumen yang sedari tadi dibawanya.
"Ini, Pak. Saya sudah menyelesaikannya, silahkan Bapak periksa lagi dan tanda tangani."
Rega menerima dan memeriksanya kembali, Rega tahu mulut Reno sudah sangat gatal ingin menanyakan banyak hal padanya. Rega sengaja tidak membuka jas nya, agar Reno kesal dan semakin penasaran. Salahkan dirinya yang membuat peraturan harus bersikap formal jika Rega tidak melepaskan jas nya, padahal berulang kali Rega mengatakan tidak ada aturan seperti itu. Hal ini juga bagus menguji komitmen Reno pada aturan yang dibuat olehnya sendiri.
"Oke semuanya sesuai, Saya minta laporan kerjasama dari Pt. Topan Timura untuk produk lemari jati kita."
Rega menyerahkan kembali map yang berisi dokumen yang telah ditandatangani olehnya. Terdengar Reno menghela napasnya pelan.
"Baik, Pak. Bisakah Bapak melepas jas Bapak? Ada yang mau saya tanyakan perihal masalah pribadi," ujarnya dengan sopan.
"Maaf, tapi ini jam kerja. Urusan pribadi kita bahas nanti, silahkan kamu keluar, karena saya ingin fokus." Rega mengusir Reno yang sudah sangat kesal.
"Baik, Pak. Saya permisi dahulu."
Dengan menghela napas kasar Reno keluar dari ruangan Rega. Kesal dan ingin rasanya menghajar wajah yang begitu menyebalkan Rega. Namun, Reno tidak bisa berbuat apa-apa, itu peraturan yang dibuatnya sendiri yang sama seperti janji baginya, jadi ia harus menepatinya. Karena seorang pria yang dipegang adalah ucapannya bukan? Mau tidak mau Reno keluar dengan menahan rasa penasaran dan kekesalan yang sudah tidak bisa dijelaskan. Sedangkan Rega tertawa ngakak setelah Reno keluar dari ruangannya.
"Mampus! Lu yang bikin aturan lu yang kesel. Akhirnya gue bisa merasakan dobel kebahagiaan dari aturan yang di buat si Kupret!"
Rega tertawa bahagia dengan apa yang didapatkan nya hari ini. Pertama, Rega akhirnya bisa berkenalan dengan wanita cerminan bidadari yang sudah menggetarkan hatinya pada pandangan pertama, bahkan mereka bertukar nomor ponsel. Kedua, melihat wajah Reno yang kesal membuat kebahagiaan tersendiri baginya. Ucapan Rega yang ingin fokus adalah bukan untuk fokus bekerja, melainkan fokus untuk mengenang kembali pertemuan yang baru setengah jam lalu terjadi.
Pertemuan manis dan begitu berkesan dengan Medina, wanita pemilik senyum indah cerminan bidadari di tengah kemacetan Ibukota Jakarta. Jika di ibaratkan, Medina merupakan harta karun yang selama ini Rega cari, dimana setelah ia menemukannya Rega akan selalu tersenyum karena keberhasilannya. Ingatannya berputar pada kejadian yang baru setengah jam lalu terjadi.
"Kamu setiap hari nemuin anak-anak jalanan itu?" tanya Rega pada wanita yang saat ini tengah menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Gak tiap hari juga sih, kalo lagi ada barangnya aja," jawab Nadin yang selalu memakai kata yang membuat orang salah mengartikannya, jika dengan Mega sudah pasti Nadin akan di tegur nya.
"Kalimatnya jangan kayak gitu, di denger polisi di kira pecandu kalo gak pengedar kamu," tegur Rega yang sama seperti Mega, bedanya bahasa Rega halus. Sedangkan Mega seperti mengajak baku hantam.
Nadin tertawa yang membuat Rega semakin terpesona. "Omongan kamu sama kayak temen aku," ucapnya setelah menghentikan tawanya. Rega menaikkan sebelah alisnya bertanya. "Aku kalo ada temen yang mau ikut nyumbangin buku atau apapun buat anak jalanan nanyanya pasti gini."
Nadin menjeda dulu ucapannya dan bersiap mempraktekkan pada Rega. Rega memperhatikannya dengan seksama.
"Ada 'kan barangnya? Udah gitu temen aku pasti ngomong gini, Lu klo kedengeran Polisi sama BNN dikira pecandu sama pengedar lu, kayak orang lagi transaksi aja." Nadin tertawa pelan jika mengingat ucapan Mega.
Rega ikut tertawa akan ucapan Nadin. "Ya temen kamu bener, soalnya kata-kata kayak gitu biasanya di pakai orang yang lagi transaksi obat-obatan terlarang," balas Rega
"Aku kebiasaan kayak gitu." Nadin pun heran dengan mulutnya yang selalu asal mengeluarkan kata.
"Tapi itu jadi ciri khas sendiri sih buat kamu," bagi Rega itu memang unik, entah itu unik sebenarnya atau mungkin karena dirinya yang memang menyukai Nadin.
"Makasih, Kakak." Nadin tersenyum imut pada Rega, Rega yang melihatnya menjadi salah tingkah sendiri.
"Boleh saya minta nomer telepon kamu?"
Dengan hati-hati Rega meminta nomor telepon Nadin. Rega sebenarnya takut jika Nadin tidak memberikannya. Jika sampai Nadin tidak memberikan nomor teleponnya, Rega berjanji akan berguru pada Reno sang Dewa Cinta. Rega bahkan belum bisa menghilangkan sikap kakunya kepada wanita, bahasanya masih formal dengan penggunaan kata -Saya-
"Buat apa ya, kita belum resmi menjadi teman. Saya tidak bisa Sembarangan kasih nomer telepon saya pada orang lain, apalagi itu laki-laki. Berjaga-jaga untuk tidak baper."
Nadin tertawa dengan ucapannya sendiri. Mengimbangi ucapan formal Rega yang menggunakan kata -Saya- dalam menyebutkan dirinya.
"Astaga, jahat sekali kamu. Jadi dari tadi kita belum jadi teman gitu? Caranya gimana supaya kita jadi teman?" tanya Rega dengan raut wajah sedih.
"Kenalan yang bener dan resmi dong. Gini-gini saya cewek matre loh, saya harus tau identitas anda, Bapak."
Jangan heran jika Nadin bersikap seperti itu, itu adalah trik untuk menjauhkan dari laki-laki yang berpotensi pelit dan matre. Dulu Nadin pernah berpacaran dengan laki-laki matre, jadi sekarang dia lebih berhati-hati.
"Waduh, mana saya cuma asisten bos yang otoriter lagi, gimana dong? Kita gak bisa temenan dong?" bohong Rega dengan diiringi wajah lesu.
"Bisa dengan syarat lain."
"Apa?"
"Tolongin saya ganti ban mobil, ban nya bocor."
Pertanyaan mengapa dari tadi Nadin belum keluar dari restoran tersebut ya karena itu, karena ban mobilnya bocor. Nadin sedang menunggu temannya yang akan datang menjemputnya.
"Cuma itu doang?"
Tanya Rega memastikan, jika hanya untuk mengganti ban mobil Rega sudah pasti bisa. Masa iya cowok multi fungsi seperti Rega tidak bisa mengganti ban mobil, bisa hancur harga dirinya. Eh! multi talenta maksudnya.
Nadin mengangguk, "Bisa, 'kan?"
Gantian Rega yang mengangguk, Nadin mengirimkan pesan pada temannya untuk membatalkan penjemputan nya, untung saja temannya belum berangkat. Rega memanggil waiters untuk membayar pesanan Nadin.
"Eh, mau ngapain? Jangan, saya gak suka di bayarin, karena saya masih bisa bayar sendiri."
Nadin memang tidak suka dibayari makanan yang dimakannya, apalagi dengan orang yang batu beberapa menit dikenalnya, kecuali oleh laki-laki yang memiliki hubungan dengannya.
"Saya laki-laki, pantang bagi saya untuk membiarkan wanita membayar makanan sendiri," balas Rega.
"Tapi saya makan sendiri, Coy!" tegas Nadin.
"Yang penting saya duduk disini, dan saya juga makan ini."
Rega mengambil kentang goreng yang hanya tinggal tersisa satu di piring Nadin, sebagai tanda bahwa dirinya pun ikut makan dan harus membayar. Dan perebutan antara siapa yang membayar makanan akhirnya dimenangkan oleh Nadin dengan segala ancamannya.