***
“Pa, Ana enggak mau nikah sama laki-laki bernama Aksa itu.”
Dodi yang sedang membantu asisten rumah tangga di rumahnya itu menoleh, ketika protesan yang sama dilayangkan Ananta untuk yang kesekian kalinya.
Malam ini, Dodi mengundang Aksa dan keluarganya makan malam di rumah, untuk membicarakan kelanjutan permintaan yang pernah diminta Dodi pada Aksa ketika di rumah sakit beberapa hari yang lalu.
Tetap teguh pada pendiriannya, Dodi akan tetap meminta Aksa menikahi Ananta. Dia tak mau ambil resiko. Meskipun, dokter berkata jika kelumpuhan Ananta hanya sementara, tetap saja dia takut putrinya akan sulit mendapatkan pendamping di usia yang sudah menginjak dua puluh tujuh tahun.
“Ana, kamu nurut ya sama Papa. Semua ini demi kebaikan kamu,” kata Dodi dengan santai.
“Tapi Pa-”
Ucapan Ananta terhenti ketika suara bel terdengar dari depan. Melangkah pergi, Dodi menyambut kedatangan Aksa bersama keluarganya. Amanda—sang mama, Dirga—sang papa tiri, dan tentunya Adam Manuel Alexander—papa kandung Aksa yang datang jauh dari Jakarta.
“Selamat malam, silahkan masuk.”
Berkumpul di meja makan, semua orang memulai kegiatan makan mereka seperti biasa, karena memang pembicaraan akan dimulai setelah makan malam selesai.
Sepuluh menit berlalu, Adam buka suara lebih dulu karena sebelum tahu dari Aksa, dia lebih dulu tahu dari Dodi yang notabenenya pengacara terkenal yang memiliki banyak relasi
“Jadi Pak Dodi, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan anak saya, Bapak mau minta apa?” tanya Adam.
Dodi memandang Aksa yang duduk di depannya.
“Seperti yang sudah saya bilang sama anak bapak, saya ingin dia menikahi Ananta,” ucapnya.
“Saya sudah bilang saya tidak bisa, Pak,” jawab Aksa dengan segera. “Saya akan lakukan apapun, tapi tidak dengan menikahi putri bapak. Bapak pikir menikah semudah itu?”
“Saya tidak ingin berbicara panjang lebar,” ucap Dodi.
“Saya akan memberi dua pilihan. Menikahi anak saya, atau kasus ini saya bawa ke jalur hukum.”
“Silahkan,” jawab Aksa singkat. “Kalau itu jalan keluar lain, silahkan laporkan saya ke kantor polisi. Saya tidak keberatan.”
“Jangan gegabah Aksa,” ucap Adam. “Papa enggak mau nama Alexander tercoreng.”
“Terus kamu mau paksa Aksa nikah?” Kali ini Dirga angkat suara.
“Kalo itu jalan keluar terbaik, why not?” tanya Adam. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Ananta. “Kamu siapa namanya?”
“Ananta, Pak,” jawab Ananta apa adanya.
“Ananta cantik,” ucap Adam. “Apa salahnya kamu nikah sama dia, Aksa? Lagian ini salah kamu sendiri, kan?"
"Iya ini salah Aksa, enggak akan ngehindar. Aksa ngaku ini salah Aksa," jawab Aksa apa adanya. "Tapi tanggung jawab bisa dengan cara lain, kan? Enggak harus nikah? Apa-apaan, pake nikah segala."
"Kalo Mas Aksa enggak mau, saya juga enggak mau," jawab Ananta. "Saya dan Mas Aksa belum saling mengenal, jadi aneh rasanya jika kami menikah."
"Ananta," panggil Dodi sambil menatap putrinya—sebagai isyarat untuk diam. "Kamu diem, biar Papa yang urus semuanya."
"Tapi Pak-"
"Ananta Syerill."
Ananta diam. Setelah itu dia tak berani menimpali ucapan sang papa dan memilih pasrah dengan semua keputusan yang akan terjadi malam ini. Jika pada akhirnya dia harus menikah dengan Aksa, mungkin Ananta akan memilih pasrah.
"Begini Pak Dodi, pernikahan bukan sesuatu yang main-main. Apa tidak ada cara lain untuk anak saya bertanggungjawab?" tanya Amanda yang cukup tahu jika Aksa sudah punya kekasih, dan tentu saja dia yakin, alasan Aksa menolak adalah karena keberadaan Viola, kekasihnya.
"Sekarang saya tanya pada ibu Amanda, jika seandainya vonis dokter tentang kelumpuhan Ananta yang katanya sementara, itu salah bagaimana?" tanya Dodi dengan santai. Tentu saja, berdebat bukan masalah yang serius baginya. Belasan tahun bergelut dengan pekerjaannya sebagai pengacara, membuat Dodi memiliki keahlian yang tak bisa diremehkan dalam berdebat. "Apa kalian bisa tanggungjawab mencarikan anak saya suami? Pria yang mau menerima dia apa adanya, apa bisa?"
Semuanya diam. Tak ada yang bisa menjawab, karena pertanyaan Dodi memang sangat sulit dijawab.
"Kenapa diam?" tanya Dodi—mulai merasa puas.
"Intinya saya enggak mau nikah sama anak bapak, terserah mau penjarain atau apapun, saya enggak masalah, asal jangan nikah," ungkap Aksa.
"Kapan pernikahan bisa dilaksanakan?" tanya Adam, yang jelas saja membuat semua orang di meja makan terkejut, kecuali Dodi yang justru tersenyum.
"Secepatnya," jawab Dodi. "Saya mau secepatnya."
"Papa!" Nada bicara Aksa meninggi. "Papa gila?!"
"Papa akan lebih gila kalo kamu sampe dipenjara, Aksa," jawab Adam. "Kamu mau tanggungjawab kalo Oma kamu kena serangan jantung pas tau cucu kesayangannya dipenjara, hm?"
"Tapi Pa, Aksa enggak mau nikah sama dia," jawab Aka sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Ananta.
"Jangan egois," ucap Adam. "Pikirkan yang lain, jangan cuman mikirin diri sendiri."
"Mas." Amanda memandang Adam. "Seriously?"
"Iya Amanda, aku serius," jawab Adam. Dia kemudian kembali memandang Dodi. "Persiapkan semuanya. Kalau anda mau Aksa menikahi putri anda, saya setuju."
"Enggak ada setuju-setuju, Aksa enggak setuju!" jawab Aksa.
"Apa ini enggak terlalu gegabah, Adam?" tanya Dirga.
"Ini keputusan yang terbaik untuk semua pihak, Dirga," jawab Adam.
"Ini yang terbaik buat Papa, bukan buat Aksa!"
Tanpa permisi, tanpa menghiraukan semua orang yang ada di meja makan, Aksa beranjak dari kursi lalu melengos pergi begitu saja meninggalkan semua orang yang ada di sana.
"Papa, apa ini enggak berlebihan?" tanya Ananta.
"Enggak ada yang berlebihan Ana," ucap Dodi. "Ini setimpal sama apa yang udah dia perbuat sama kamu."
"Tapi Pa-"
"Lebih baik kamu istirahat," pinta Dodi. "Kamu masih perlu istirahat."
"Pak Dodi, masalahnya sudah selesai. Saya permisi."
"Iya silahkan, terima kasih untuk pengertiannya."
Membubarkan diri, Amanda segera pergi untuk mengejar Aksa yang kini jelas sedang melampiaskan kekesalannya di dekat mobil. Memukul body mobil, kegiatan itu yang sedang dilakukan Aksa sekarang.
"Jangan kaya anak kecil," ucap Adam. "Belajar tanggungjawab sama apa yang udah kamu perbuat. Lagian menikah bukan sesuatu yang sulit. Dia perempuan baik-baik. Apa salahnya kamu belajar cinta sama dia."
"Apa salahnya?" tanya Aksa. Dengan raut wajah yang memerah, Aksa memandang Adam penuh emosi. Rahangnya mengeras, bahkan urat-urat di wajahnya pun nampak terlihat. "Salahnya, Aksa udah punya pacar, Papa! Aksa udah lamar dia, dan Aksa mau nikahin dia!"
"Batalin," jawab Adam santai. "Baru ngelamar, kan?Selagi belum nikah, kamu bisa batalin semuanya. Jangan dibikin sulit."
"Gila!" ujar Aksa. "Papa emang gila! Papa egois! Enggak pernah mikirin perasaan Aksa!"
"Terserah kamu," jawab Adam. "Papa cuman cari jalan keluar terbaik buat masalah ini."
Setelah itu, Adam melangkahkan kaki menuju mobilnya, sementara Aksa? Tentu saja dia masih melampiaskan kekesalannya.
"Sial! Kenapa jadi kaya gini?!"