3). Pernikahan Sederhana

1079 Kata
*** "Ana, kamu udah siap kan, sayang?" Membalikkan kursi roda yang dia duduki, Ananta memandang Dodi sang papa. Hari ini, akhirnya tiba. Hari di mana Ananta akan menikah dengan pria asing yang dia tahu bernama Aksara. Memakai kebaya putih yang sederhana juga sanggul yang biasa, Ananta terlihat cantik natural dengan polesan makeup yang seadanya. Setelah berbagai drama penolakan yang dilayangkan Aksa maupun Ananta, pernikahan diantara keduanya tetap dilaksanakan. Dodi tetap ingin Aksa menikahi Ananta, karena sekali lagi. Dia takut masa depan Ananta tidak terjamin, jika pernikahan ini tak terjadi. "Pa," panggil Ananta. "Ana enggak siap. Mas Aksa enggak mau nikah sama Ana. Gimana pernikahan kami nanti, Pa?" "Ana." Dodi menghembuskan napas kasar. "Cinta bisa datang belakangan. Yang terpenting sekarang, kamu menikah dulu dengan dia. Papa takut Ana. Papa takut kamu susah cari pasangan." "Tapi Pa-" "Semua orang sudah menunggu, ayo," ajak Dodi—mengakhiri percakapan. "Enggak enak nyuruh mereka nunggu kelamaan." Tak menjawab, Ananta hanya pasrah ketika Dodi mendorong kursi rodanya keluar dari kamar, menuju ruang tamu, karena akad nikah dilaksanakan di sana. Aksa memang pasrah. Dia tak memberontak ketika Adam terus memintanya bertanggungjawab dengan menikahi Ananta. Namun, tentu saja dia pun memberikan beberapa persyaratan yang disetujui Dodi yaitu; tak ada pesta. Aksa ingin pernikahannya dan Ananta digelar secara tertutup, bahkan tanpa harus mengundang tamu. Aksa ingin pernikahan dia dan Ananta hanya dihadiri pihak keluarga saja. Aksa duduk di bawah, Ananta duduk di sampingnya. Setelah semua berkas dipastikan pas, akad nikah akhirnya segera dimulai. "Pak Dodi silahkan jabat tangan calon menantunya supaya akad nikah bisa segera dimulai," pinta sang penghulu. "Iya." Dodi mengulurkan tangannya. Beberapa detik menunggu, dengan segala keterpaksaan yang ada, Aksa baru menyambut uluran tangan tersebut dan menjabat tangan Dodi. Sesuai arahan penghulu, Dodi mulai mengucapkan ijab. "Aksara Putra Alexander, saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya, Ananta Syerilla Darmawan, dengan mas kawin lima gram emas juga seperangkat alat sholat dibayar tunai," ungkap Dodi dengan lancar tanpa hambatan. Lagi, diam beberapa detik, Aksa baru menjawab. "Saya terima nikahnya Violetta Arsyill-" "Violetta?" Sang penghulu yang jelas merasa janggal, lantas menghentikan ucapan Aksa. Menunduk, dia membaca data-data yang ada di meja, lalu memandang Aksa. "Bukannya Ananta? Kenapa jadi Violetta? Apa saya yang salah tulis." "Jangan malu-maluin papa, Aksa," bisik Adam yang kebetulan duduk di samping kiri Aksa, karena perannya sebagai saksi. Tangan kiri Aksa yang berada di bawah meja mengepal. Jika saja tak ada Celline—sang Oma di sini, ingin sekali Aksa memukul Adam atau bahkan berontak dan lari dari acara sialan ini. Namun, semua itu terlalu beresiko. Aksa menyayangi Celline sang Oma, dan dia tak mau sang nenek terkena serangan jantung karena perbuatannya. Sial! Aksa tidak pernah menyangka akan terjebak dalam posisi sesulit ini. "Saya kurang fokus, Pak. Maaf," kata Aksa pada akhirnya. "Baik, lebih konsentrasi lagi ya, Mas," pinta sang penghulu. "Iya." Lagi, sesuai arahan, Dodi kembali mengucapkan ijab untuk Aksa dan Ananta, dan kini, sambil menahan rasa kesal yang berkecamuk di d**a, Aksa mulai mengucapkan ijab kabul. "Saya terima nikahnya Ananta Syerilla Darmawan dengan mas kawin lima gram emas juga seperangkat alat sholat dibayar tunai." "Bagaimana saksi?" tanya penghulu yang memandang kedua saksi di sisi kanan dan kiri meja akad. "Sah?" "Sah." "Sah." "Alhadulillahirabbal'alamiin." Menengadahkan tangan, semua orang yang ada di ruang tamu sama-sama memanjatkan doa untuk kelangsungan pernikahan Aksa dan Ananta. Namun, tentunya berbeda dengan orang lain, Aksa tidak memanjatkan doa sama sekali untuk pernikahannya, bahkan dalam hati, dia berharap agar pernikahannya dan Ananta tidak akan berlangsung lama atau segera berakhir sebelum Viola—kekasihnya tahu. Sungguh, Aksa tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Viola jika tahu. Demi apapun, bagaimanapun caranya, Aksa harus merahasiakan pernikahannya dan Ananta dari Viola. Ya, Aksa harus melakukan semua itu agar hubungannya dan Viola tidak berantakan. "Karena sekarang sudah sah, mempelai pria bisa mencium kening istrinya sebagai bentuk sayang," ungkap sang penghulu, setelah keduanya menyelesaikan proses tanda tangan buku nikah. "Enggak bisa diskip?" tanya Aksa. "Aksa." Adam mendesah pelan. "Cium dong sayang, Oma mau liat cucu Oma cium istrinya," pinta Celline. "Aish." Aksa menghembuskan napas pelan, lalu sedikit beranjak untuk mengikuti apa yang diminta orang-orang di sana. Mendekatkan wajahnya, perlahan Aksa mengecup kening Ananta dengan pelan sambil bergumam. "Enggak usah geer. Saya ngelakuin ini karena terpaksa." Terpaksa. Satu kata yang seolah menjadi ultimatum untuk Ananta agar tak terlalu banyak berharap. Ya, jangankan cinta, senyuman saja tidak diberikan Aksa untuk Ananta, bahkan kini tanpa ragu—di depan Ananta, Aksa sengaja mengelap bibirnya yang beberapa detik lalu digunakan untuk mencium kening Ananta. Semenjijikan itukah Ananta di depan Aksa? "Mempelai wanita silahkan cium tangan suaminya," kata penghulu kembali memberi intruksi. Ananta mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan Aksa, dan sama seperti tadi, Aksa kembali mengelap punggung tangannya di depan Ananta. *** Karena pernikahan Aksa dan Ananta hanya sekadar acara akad, siangnya semua anggota keluarga yang hadir dijamu makan siang di rumah Ananta. Di meja makan besar yang berada di dapur, semuanya berkumpul untuk menyantap berbagai hidangan istimewa yang sudah disiapkan. "Kalian mau bulan madu ke mana abis ini?" tanya Celline membuka obrolan. Aksa yang sedang menyantap makanan di piring menoleh. "Enggak ada bulan madu, Oma. Aksa sibuk," jawabnya. "Lho, masa abis nikah enggak bulan madu sayang?" tanya Celline yang jelas-jelas tak tahu, jika pernikahan ini terpaksa, karena yang dia tahu, hanya; cucu kesayangannya menikah. "Kamu ini gimana sih, udah nikah sederhana banget gini. Masa bulan madu juga enggak?" "Ya gimana mau bulan madu, nikahnya aja dipak-" Ucapan Aksa terhenti ketika Adam yang sengaja duduk di sampingnya, sengaja menginjak kaki Aksa agar berhenti mengoceh di depan Celline. "Aksa beneran sibuk, Mi. Urusan kantor lagi numpuk banget," ucap Adam. "Bulan madu mungkin bisa lain kali, setelah Ananta sembuh," ucap Dodi. "Ya sudah kalo gitu, tapi nanti harus honeymoon ya, Aksa?" tanya Celline. "Oma pengen cepet punya cicit dari kalian." "Hm." Aksa hanya menjawab dengan gumaman, hingga tak lama ponsel yang dia simpan di saku celananya berdering. Viola. Wajah Aksa yang semula ditekuk, kini kembali sedikit merekah ketika nama Viola terpampang di layar ponselnya. Beranjak, Aksa yang baru saja berniat pergi untuk menjawab panggilan, tiba-tiba saja kembali menoleh ketika tangan Adam mencengkram pergelangan tangan kirinya. "Mau ke mana kamu?" "Mau jawab telepon," jawab Aksa. "Duduk." "Pa." Tanpa basa-basi, Adam merampas ponsel Aksa. Tanpa melihat siapa yang menelepon, dia menolak panggilan Aksa lalu mengembalikan ponsel itu pada sang putra dan tentu saja semua itu membuat rahang Aksa mengeras. Namun, lagi. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena kehadiran Celline. "Duduk, Aksa." "Sialan," umpat Aksa pelan, sebelum akhirnya dia kembali duduk di kursi untuk kembali melanjutkan makan siangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN