“Ananta, Aksa mana? Kok enggak ada?”
Ananta yang sejak tadi duduk di teras sambil melamun, sedikit tersentak ketika pertanyaan itu dilontarkan Teresa—mama tiri Aksa yang cukup penasaran karena sejak tadi putranya tak ada.
Kurang puas dengan akad yang dilaksanakan tadi siang, malam harinya keluarga Alexander kembali berkunjung ke rumah Ananta untuk menggelar pesta barbeque bersama sebagai ganti resepsi pernikahan Aksa dan Ananta. Tentu saja ide tersebut dicetuskan Celline, dan jika Celline sudah meminta, tak ada satu pun yang berani menolak.
“Mas Aksa, Tante?” tanya Ananta yang justru balik bertanya. Gugup. Dia justru memanggil Teresa dengan sebutan Tante, padahal tadi siang, mama tiri Aksa itu sudah memintanya untuk memanggil mama.
“Tante? Kok kamu masih panggil Tante?” tanya Teresa. Dia yang semula berada di halaman rumah untuk menyiapkan semuanya, kini berjalan mendekat.
“Panggil mama aja, sayang. Kan kamu menantu mama juga. Meskipun Aksa bukan anak mama, mama udah anggap dia kaya anak mama sendiri. Jadi kamu panggil mama, oke?”
“Iya tan ... eh, iya ma,” jawab Ananta gugup.
“Aksa mana?” tanya Teresa—kembali pada pertanyaan awal. “Lagi sholat apa gimana?”
“Mas Aksa lagi di kamar, Ma,” jawab Ananta apa adanya. Dia tak mungkin juga mengatakan secara gamblang, jika sejak sore tadi—setelah acara selesai, dan keluarga Alexander pulang, Aksa tidur dan belum bangun sampai sekarang.
Ananta juga tak mungkin berkata pada siapapun jika semenjak menikah, belum ada satu kata pun yang diucapkan Aksa padanya, karena memang sejak tadi Aksa masuk ke kamar Ananta, dia hanya diam lalu membaringkan tubuhnya dan tidur di kasur Ananta tanpa permisi.
“Ya udah bangunin gih, kasih tau dia kalo ada kami di sini,” pinta Teresa. “Heran, pengantin baru kerjaannya tidur mulu.”
“Iya Ma,” jawab Ananta.
Meninggalkan orang-orang yang sedang asyik berbincang, Ananta memutar kursi rodanya masuk ke dalam rumah lalu menuju kamarnya.
Membuka pintu kamar, Ananta mendapati Aksa masih tidur di kasurnya dengan posisi yang telungkup, bahkan pakaian yang dipakai saat akad pun masih melekat di tubuh jangkung Aksa.
Dengan perasaan ragu dan takut, Ananta memajukan kursi rodanya mendekati kasur. Mengulurkan tangan, Ananta menepuk bahu Aksa pelan.
“Mas bangun, Mas. Udah malem,” ucap Ananta.
Tidak ada respon. Aksa sama sekali tak bergeming. Dia tetap terlelap dalam tidurnya. Lagi, Ananta mencoba untuk membangunkan Aksa dengan kembali menepuk bahu suaminya itu dengan pelan. Namun, masih tak ada respon. Aksa terlihat tidak terganggu sama sekali dengan apa yang dilakukan Ananta, hingga suara bariton seorang pria membuat Ananta menoleh.
"Masih enggak bangun juga?"
"Papa," panggil Ananta.
Bukan Dodi, di ambang pintu kini berdiri Adam yang tengah menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Mungkin Mas Aksa capek, Pa," jawab Ananta. "Ana izin ya, biarin Mas Aksa tidur, kasian."
Adam menggeleng. "No, Ana," jawabnya. "Mami akan curiga kalau Aksa tidak ikut bergabung."
"Tapi Pa-"
"Biar Papa yang bangunin Aksa."
Berjalan mendekat. Adam membungkukan badannya lalu mulai membangunkan Aksa dengan menggoyang-goyangkan bahu sang putra. Namun, yang dilakukan Aksa justru hanya menggeliat.
"Aksa bangun," ucap Adam. "Jangan cari masalah. Ayo bangun."
"Apaan sih, Pa. Aksa capek," gumam Aksa tanpa berniat membuka mata sedikit pun.
"Ada Oma, nanti dia nanyain kamu kalo kamu gak keluar," ucap Adam.
"Aksa capek," jawab Aksa sekali lagi.
"Anak ini." Mendesah pelan, Adam mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membangunkan sang putra, hingga tak lama pandangannya tertuju pada segelas air di atas meja nakas. Menoleh pada Ananta, Adam menanyakan lebih dulu asal-usul air tersebut. "Ini air siapa?"
"Itu air Mas Aksa, cuman belum diminum, Pa," jawab Ananta.
"Oke," jawab Adam. Tanpa basa-basi, dia mengambil segelas air putih tersebut. Menggunakan tangan kirinya, Adam memaksa Aksa membalikkan posisi tidurnya dan tepat ketika Aksa tidur dengan posisi terlentang, Adam menyiramkan segelas air itu tepat di wajah Aksa—membuat Ananta yang berada tak jauh dari posisi Adam berdiri membelalakan mata.
Kaget? Tentu saja. Ananta tidak menyangka, jika Adam akan melakukan semua itu.
"Papa," ucap Ananta pelan.
Sementara Ananta yang kini dilanda keterkejutan, Aksa justru terlonjak. Mengusap wajahnya dengan kasar, Aksa menatap Adam dengan tatapan nyalang. Siapapun akan marah jika diperlakukan seperti ini, termasuk Arka.
"Gila!" umpat Aksa. "Papa enggak ada kerjaan?"
"Suruh siapa susah banget dibangunin?" tanya Adam. "Oma kamu di luar. Dia pengen makan-makan sama kamu, tapi kamu malah enak-enakkan tidur. Bangun! Enggak tau aturan banget!"
Menyimpan kembali gelas di atas meja, Adam menoleh pada Ananta.
"Lain kali, kamu kalo mau bangunin Aksa, pake aja cara kaya gini," pinta Adam. "Kalo perlu pake air panas atau air seember."
Ananta tidak menjawab, sementara Adam. Setelah itu dia melenggangkan kakinya pergi begitu saja—meninggalkan Aksa dengan segala kekesalannya dan Ananta yang sampai detik ini masih terkejut.
"Mas," panggil Ananta pelan.
Dengan raut wajah yang masih memerah, Aksa menoleh pada Ananta. "Apa?" tanyanya dingin. "Puas kamu? Puas kan liat saya kaya gini?"
"Mas Aku-"
"Orang-orang menyebalkan," ujar Aksa. Tanpa menghiraukan Ananta, Aksa beranjak dari kasur lalu berjalan menuju kamar mandi. Tanpa ragu, dia juga membanting pintu kamar mandi dengan kencang lalu melampiaskan emosinya di sana.
Ananta? Dia hanya memandang pintu kamar mandi dengan perasaan yang tak enak. Menyesal. Jika tahu Adam akan melakukan hal ini pada Aksa, mungkin Ananta akan menutup pintu kamarnya tadi.
"Ananta." Mendesah pelan. Ananta masih memandangi pintu kamar mandi, hingga dering ponsel dari atas kasur mengalihkan perhatiannya. Belum sempat Ananta menggerakkan kursi rodanya mendekati kasur, suara pintu kamar mandi terbuka membuatnya tersentak.
Dari kamar mandi, Aksa berjalan mendekat lalu mengambil ponselnya yang masih berdering. Sebelum menjawab panggilan, Aksa memandang Ananta dengan tatapan yang sinis.
"Jangan pernah berani sentuh handphone saya," ucap Aksa. "Kamu tau privasi, kan? Saya enggak suka privasi saya diusik."
Setelah mengucapkan itu, Aksa berjalan kembali menuju kamar mandi untuk menjawab panggilan yang ternyata berasal dari Viola. Hampir lima menit Ananta menunggu, Aksa keluar dari kamar mandi.
"Ananta," panggilnya.
"Iya kenapa, Mas?" tanya Ananta penasaran.
Sebelum melanjutkan ucapannya, Aksa menoleh ke arah jam dinding yang baru menunjukan pukul tujuh malam.
"Beresin semua pakaian kamu," perintah Aksa. "Saya enggak mau tinggal di sini. Jadi kamu yang ikut saya ke apartemen, dan sekarang. Saya mau pulang. Kalo kamu enggak mau cari gara-gara, beresin barang-barang kamu sekarang."
"Tapi Mas-"
"Jangan banyak omong, beresin sekarang."
"I-iya, Mas."