5). Sikap yang Dingin

1033 Kata
“Mau ke mana kamu?” Aksa yang kini hanya memakai kaos hitam polos, memandang Adam tanpa perasaan takut ketika sang papa menghadangnya di depan pintu setelah beberapa menit yanh lalu dia tiba-tiba saja keluar sambil membawa koper Ananta untuk dia masukkan ke dalam mobil sedannya. “Pulang ke apartemen,” jawab Aksa santai. “Gila kamu?” tanya Adam dengan suara yang pelan agar tak di dengar orang-orang di halaman rumah yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka. “Kamu sama Ananta udah nikah. Ngapain pulang?” “Ana udah mutusin buat tinggal di apartemen Mas Aksa, Pa,” jawab Ananta yang datang dari dalam rumah, setelah sebelumnya dia mengobrol dengan Dodi untuk membicarakan semuanya. Meskipun berat, pada akhirnya Dodi mengizinkan Ananta untuk tinggal bersama Aksa, karena itulah resikonya. Kapanpun itu, Dodi harus selalu siap ditinggal Ananta yang tentu saja akan ikut dengan suaminya. “Kenapa?” tanya Adam. “Kepo,” jawab Aksa. “Diem kamu, papa nanya sama Ananta, bukan sama kamu,” ucap Adam. “Karena rumah Ananta jaraknya jauh dari kantor Mas Aksa, Pa. Dari apartemen, Ananta juga bisa lebih deket ke kantor penerbitan tempat Ananta nerbitin buku,” ungkap Ananta sejelas mungkin. “Harus sekarang?” tanya Adam. “Iya harus sekarang, kenapa emangnya?” tanya Aksa. “Udahlah. Aksa capek, mau istirahat di apartemen. Aksa enggak betah tinggal di rumah orang, meskipun itu semalam.” “Oma?” “Aksa izin sama Oma.” Mendorong kursi roda Ananta lalu menggendong perempuan itu untuk masuk dan duduk di mobilnya, Aksa menitipkan kursi roda Ananta pada ojeg online untuk diantar ke apartemen, karena memang sedan hitamnya tak akan muat. Setelah itu Aksa menghampiri keluarganya. Dengan alasan tak enak badan, Aksa berpamitan dan tentu saja Celline pun mengizinkan dia untuk pulang tanpa mempersulit semuanya. Tentu saja, semuanya tidak boleh sulit. Aksa harus segera sampai di apartemen untuk mengantar Ananta dan setelah itu dia pergi ke Jakarta, karena alasan sebenarnya dia ingin segera pulang adalah Viola. Bukan karena lelah atau tidak enak badan, Aksa harus pergi dari rumah Ananta karena dia akan menjemput Viola di Jakarta dan perjalanan dari Bandung ke Jakarta, memakan waktu dua sampai tiga jam. Itu berarti, pukul delapan Aksa harus segera berangkat, karena pukul sebelas malam, Viola mendarat di Jakarta setelah seminggu di Paris. “Udah Mas, izinnya?” tanya Ananta setelah Aksa kembali ke mobil lalu duduk di kursi kemudi. “Udah,” jawab Aksa singkat. Setelah itu, tanpa banyak bicara, Aksa segera melajukan mobilnya meninggalkan area rumah Ananta untuk menuju ke apartemennya yang cukup jauh dari sini. Suasana di perjalanan tentu saja hening. Aksa dan Ananta sama-sama diam, tanpa berbicara sedikit pun, karena memang sampai detik ini, Aksa masih marah bahkan benci pada Ananta. Dia benci karena harus bertemu dan berurusan dengan Ananta. Jika malam itu dia tidak menabrak Ananta, mungkin pernikahan ini tak akan terjadi, dan mungkin Aksa akan tetap nyaman dengan hubungannya bersama Viola. "Mas, apartemennya di daerah man-" Ucapan Ananta seketika terhenti ketika Aksa tiba-tiba saja meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sebagai isyarat agar Ananta diam dan tak melanjutkan ucapannya dan Ananta pun diam. Dengan tatapan yang sulit diartikan, dia hanya memandang Aksa yang kini mulai merogoh ponselnya dengan tangan kiri untuk menghubungi asisten rumah tangga di rumah Amanda—sang mama, yang akan tinggal di apartemen Aksa, untuk membantu Ananta melakukan kegiatannya sehari-hari karena jelas, keadaan Ananta sekarang, akan mempersulit dirinya untuk melakukan sesuatu. "Di apartemen kita tidak akan tinggal berdua," ucap Aksa setelah dia selesai dengan ponselnya. "Ada Bi Ijah. Dia kan bantu kamu ngapa-ngapain di apartemen." "Pas Mas enggak ke kantor?" tanya Aksa. "Ada atau tidak adanya saya, Bi Ijah tetap yang membantu kamu," jawab Aksa. "Karena saya sudah cukup sibuk dengan urusan kantor." Dingin. Sikap Aksa pada Ananta teras begitu dingin, bahkan angin malam ini pun kalah dingin dengan sikap pria bermanik abu itu. Ah, seharusnya Ananta tahu jika semuanya akan seperti ini. Ananta. Seharusnya kamu tidak menyetujui pernikahan paksa ini. Setengah jam perjalanan—tanpa mengobrol sedikit pun, mobil Aksa akhirnya sampai di apartemen. Tak memasukkan mobilnya ke basemant, Aksa memilih untuk memarkirkan mobilnya di parkiran depan, karena setelah ini dia akan segera pergi. "Parkirnya kenapa di sini, Mas?" tanya Ananta. "Bukannya kalo yang punya unit apartemen itu biasanya parkir di basemant?" Aksa yang sedang bersandar pada jok, menoleh. Masih dengan wajah yang datar tanpa ekpresi, dia memandang Ananta. "Ini mobil saya," ucap Aksa. "Mau saya parkir di sini atau di basemant, bahkan di rooftoop sekali pun, itu urusan saya. Kenapa kamu yang ribet?" "Bukan gitu maksud aku, Mas-" "Diam," kata Aksa dengan segera. "Suara kamu bikin kepala saya sakit." Ananta menghela napas pelan, dan pada akhirnya dia memilih untuk diam, sementara Aksa kini turun dari mobil. Entah ke mana perginya, yang jelas sepuluh menit berselang, Aksa datang sambil membawa kursi roda. Membuka pintu bagian kiri, tanpa banyak berkata, Aksa langsung menggendong Ananta lalu mendudukkannya di kursi roda. Mengunci mobil, Aksa mengeluarkan koper Ananta dari bagasi lalu mendorong kursi roda Ananta sambil menyeret koper menuju gedung apartemen. Tak banyak bicara, Aksa membawa Ananta menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai sepuluh—tempat apartemen Aksa berada. Di dalam lift, hanya ada Ananta dan Aksa. Namun, tak ada satu pun yang berbicara untuk memecah keheningan. Aksa yang terlalu malas dan pusing, sedangkan Ananta. Tentu saja dia segan. Ananta takut ucapannya membuat Aksa tak suka. Lima menit saling diam, lift yang mereka naikki akhirnya berhenti lalu terbuka tepat di lantai sepuluh. Kembali mendorong kursi roda Ananta sambil menyeret koper, Aksa terus berjalan menyusuri lorong untuk menuju unit miliknya, hingga tak lama mereka sampai di depan pintu apartemen. Mengulurkan tangan, niat Aksa untuk menekan password seketika urung, saat ponsel yang dia simpan di dalam saku, kembali berdering. Merogoh ponsel tersebut, Aksa menoleh sekilas pada Ananta sebelum menjawabnya. "Siapa Mas?" "Bukan urusan kamu," jawab Aksa yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Ananta. Entah ke mana. Namun, yang jelas, Ananta hanya bisa pasrah duduk di kursi roda, sambil memperhatikan Aksa yang berjalan semakin jauh darinya. Menghela napas pelan, Ananta bergumam. "Mas Aksa. Setelah ini aku yakin, hidup aku sama kamu akan lebih sulit lagi, tapi aku yakin. Kamu orang baik. Maaf ya, Mas. Kalo kehadiran aku buat kamu enggak suka."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN