Bab 02. Mendadak Nikah

1262 Kata
Acara pertunangan sudah hampir dimulai, namun Belinda terus-terusan melirik ke sekeliling dengan mata yang penuh kecemasan. Sosok Marvin tak juga tampak di ruangan itu. Jantungnya berdetak tak menentu, seolah ada sesuatu yang salah. Ia bergegas mencari, tetapi langkahnya terhenti saat bertemu dengan sahabatnya, Selena. "Bel, kamu kenapa? Kok gelisah banget?" tanya Selena dengan mata penuh kekhawatiran. Belinda menarik napas dalam-dalam, suaranya bergetar, "Sel, kamu lihat Marvin, nggak? Aku tadi sempat lihat dia ngobrol sama klien, tapi setelah itu hilang begitu saja." Selena menggeleng pelan, wajahnya ikut berubah serius. "Aku juga nggak lihat. Malah, aku nggak lihat Ara sama sekali sekarang." "Oh, iya. Padahal, tadi Ara ngobrol sama Jelita di sana. Nah itu Jelita, aku tanya dulu sama orangnya." Hati Belinda semakin berat mendengar itu, dia pun bergegas menghampiri sahabat anaknya. "Tante Belinda, Tante Selena, ada apa?" tanya Jelita yang melihat dua wanita itu tampak gelisah. "Jelita, Ara di mana? Bukannya tadi kamu ngobrol sama Ara?" tanya Belinda tanpa basa-basi. "Oh iya, Tan. Tadi Ara memang sama aku di sini. Tapi, dia ke toilet. Aku juga lagi nunggu Ara balik, Tan," jawab Jelita, suaranya bergetar tipis, menutupi kecemasannya yang tak bisa disembunyikan. Belinda tersenyum getir. "Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya, Sayang. Kamu nikmati pestanya, Tante mau cari Ara dulu." Dia berbalik dan mulai melangkah pergi. "Tunggu! Beb, biar aku yang cari Ara di toilet, kamu cari Marvin saja. Acara ini akan segera dimulai, Ara harus ada di sini. Tapi, Marvin juga nggak kalah penting. Dia calon tunanganmu," ucap Selina dengan nada lembut penuh pengertian. Belinda mengangguk cepat, harap-harap cemas. "Iya, Sel. Terima kasih, ya. Kalau sudah ketemu Ara, kabari aku, ya?" "Pasti. Kamu juga kasih kabar ke aku kalau ada apa-apa," balas Selina, matanya penuh harap. Mereka saling bertukar anggukan sebagai tanda sepakat, lalu melangkah dengan tujuan masing-masing. * Namun, setelah berputar mengelilingi ruangan yang luas itu, Belinda tetap tak menemukan sosok Marvin di mana pun. Napasnya mulai tertahan, kecemasan menggumpal menjadi rasa panik yang sulit ditahan. Akhirnya, dengan langkah gontai, ia keluar dan melihat Selina yang masih sibuk menatap setiap sudut ruangan. "Sel, kamu sudah ketemu sama Ara?" tanyanya dengan suara yang sudah melemah, seakan-akan beban di dadanya tak tertahankan. Ruangan itu terasa semakin sempit, waktu seolah berjalan lambat. Di tengah keramaian, ketidakhadiran Ara dan Marvin seperti jurang menganga yang menakutkan bagi Belinda. Hatinya berdebar tak menentu, ingin segera menemukan jawaban sebelum mimpi buruk menjadi kenyataan. "Iya, aku memang belum ketemu Ara, tapi ...." Selina terhenti, suaranya bergetar dan matanya melebar penuh ketakutan. Belinda mengguncang tubuh Selina, napasnya memburu. "Tapi apa? Bilang sama aku, ada apa dengan Ara? Apa yang sebenarnya terjadi?" Selina menatap gugup, suara seraknya keluar seperti bisikan dingin, "Tadi ada orang yang lihat Ara masuk ke salah satu kamar sama laki-laki. Tapi aku nggak sempat tanya kamar yang mana dan orang itu juga nggak tahu siapa laki-laki itu." Hati Belinda seperti diremas, jantungnya berdetak begitu cepat sampai hampir pecah. "Kamu yakin orang itu nggak salah lihat? Aku nggak percaya begitu saja!" Suaranya naik, antara takut dan marah. "Aku juga nggak bisa pastikan, Bel. Tapi … apa kita coba lihat rekaman CCTV saja?" Selina mengusulkan dengan suara nyaris patah. Belinda tak menjawab. Tanpa sepatah kata, ia berlari menuju ruang CCTV, disusul Selina dengan langkah gemetar. Mereka menatap layar, menahan napas ketika melihat sosok pria yang membelakangi layar, mendekati Ara dengan perlahan. Sang pria dan Ara memasuki salah satu kamar hotel. Jantung mereka berdebar begitu keras seakan nyaris pecah, berlari ke kamar itu. Harapan membuncah di d**a, namun pintu terkunci rapat, menutup segala jawaban dan membuka luka di hati Belinda. Keheningan menyelimuti, menggantung dalam ketegangan yang nyaris membakar jiwa, seolah waktu berhenti hanya untuk menyiksa rasa takut dan rasa bersalah yang menggelayuti keduanya. Tok tok tok! Belinda mengetuk pintu kamar dengan segenap tenaga, suaranya memecah keheningan ruangan, "Ara! Buka pintunya!" Napasnya tersengal, penuh amarah yang sulit dibendung. Selina mencoba menenangkan, suaranya lembut tapi tegas, "Bel, sabar .... Tenang dulu, coba tarik napas." "Apa? Tenang kamu bilang?!" Belinda membalas dengan dingin, "Bagaimana aku bisa tenang saat tahu anak gadisku berada di dalam sama laki-laki yang bukan suaminya? Kamu suruh aku tenang? Itu mustahil!" Matanya membara, menuntut jawaban yang tak kunjung datang. Tanpa menunggu lagi, Belinda memanggil seorang staf hotel dan meminta kunci cadangan dengan suara bergetar karena campuran emosi marah dan panik. Tak butuh waktu lama, kunci itu sudah di tangannya dan dengan gemetar, ia membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka, bukan hanya Belinda yang terperangah. Selina pun membeku, napas mereka seolah terhenti. Di balik pintu, Ara benar-benar ada. Tak hanya sendirian, seorang pria berbaring di sana, sosok yang sama sekali tak mereka duga. "ARA, MARVIN! Apa-apaan ini?!" pekik Belinda dengan suara pecah, amarahnya seperti lava yang siap meledak. Teriakan itu membuyarkan keheningan kamar, membuat Ara dan Marvin terbangun dengan wajah penuh kebingungan dan ketakutan. Mereka sendiri tak mengerti apa yang telah terjadi, yang membangkitkan badai emosi Belinda menyergap dunia mereka malam itu. "Mami, aku … aku bisa jelaskan!" Suara Ara gemetar, matanya tak berani menatap. Tubuhnya yang hanya terbalut tanktop dan pakaian dalam mencoba menyembunyikan kerentanan yang membuncah di d**a. Sementara itu, Marvin hanya mengenakan boxer, d**a bidangnya yang telanjang semakin menambah ketegangan dalam ruangan. "Bel, maaf. Tapi, saya bisa jelaskan. Tenang dulu, ya ...." Marvin berkata terbata-bata, suaranya penuh kepanikan yang nyaris putus asa. Belinda menatap calon suami dan anaknya dengan mata membara, kepalan tangan di dadanya bergetar menahan amarah yang mendidih. "Pakai baju kalian sekarang! Kita harus bicara!" Suaranya dingin dan tegas sebelum dia pergi, langkah kakinya cepat dan berat mengiringi kepergiannya dari kamar tersebut. Di belakangnya, Selina setia mengikuti, wajahnya terukir kesedihan dan bingung. "Om Marvin .... Om sudah gila, ya? Apa yang sudah Om lakukan sama aku? Sekarang, Mami pasti marah besar karena calon suaminya malah tidur dengan anaknya sendiri! Om jahat!!" teriak Ara, suaranya pecah oleh frustasi dan rasa malu yang menyiksa. "Ara, saya benar-benar minta maaf," ucap Marvin dengan nada penuh penyesalan, wajahnya tertunduk, napasnya tersengal. "Saya juga tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Maaf, saya tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri." "Maaf Om bilang? Kalau sampai terjadi sesuatu sama aku, gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?" tanya Ara dengan suara gemetar, ketakutan dan kebingungan membelenggunya, seolah dunia runtuh di sekelilingnya. "Ara, saya mohon, kamu tenang dulu." Suara Marvin mencoba menenangkan, namun getarnya sendiri teramat nyata. "Kita pakai baju dulu dan kita bicara sama mami kamu. Saya janji, saya pasti akan tanggung jawab!" Mereka berdua segera berpakaian, langkah kaki yang berat menuju ruangan tempat Belinda menanti. Ara masih terluka, tapi harus melangkah. * "Maafkan saya, Belinda. Saya pasti akan bertanggung jawab terhadap Ara," ujar Marvin penuh penyesalan, mencoba menatap mata Belinda. "Aku akan menikahi Ara." Ara merasa sangat terkejut, emosinya meledak. "Om sudah gila, ya? Om itu calon suaminya mami!" Suaranya meninggi, wajah penuh amarah. "Kalau Om nikah sama aku, terus gimana sama mami?" Dia membeku, hatinya berontak keras. Belinda membentak, "Diam, Ara! Memang sudah seharusnya kamu menikah dengan Marvin. Marvin harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Kamu kira, Mami masih mau menikah sama Marvin setelah semua ini?" Air mata menitik di wajah Ara, menolak keras. "Ini hanya kecelakaan, Mi. Kenapa aku harus mendadak nikah sama Om Marvin? Gimana sama kuliah aku, Mi?" Suaranya bergetar penuh penolakan. "Kenapa kamu bilang? Kamu sudah tidur dengan Marvin, Ara! Marvin harus bertanggung jawab. Mami nggak mau tahu, kamu harus menikah dengan Marvin. Secepatnya!" bentak Belinda tanpa ampun. Ara menghela napas panjang, merasa seluruh dunia runtuh di dadanya. "Oke, kalau itu emang maunya mami. Aku akan nikah sama Om Marvin," ucapnya dengan berat hati, suara pecah oleh kesedihan dan keputusasaan yang dalam. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN