Bab 01. Pesta Pertunangan
Arabella Angelica Wijaya, gadis 20 tahun yang biasanya enggan menghadiri pesta apalagi yang berbau urusan keluarga, kini berubah drastis. Biasanya, ia lebih suka mengurung diri di kamar, membiarkan dunia berlalu tanpa beban. Namun malam ini berbeda. Dengan dress selutut berwarna hitam dan bahu sedikit terbuka, riasan tipis yang membingkai kecantikannya, dia tampak anggun dan penuh percaya diri. Langkahnya ringan mengayun penuh semangat saat ia melangkah keluar kamar, matanya berbinar penuh harap.
"Ara sudah siap, Mi. Yuk, kita berangkat sekarang," serunya sambil menghampiri ibunya yang masih berada di kamar.
Belinda Angelica menatap putrinya dengan mata penuh tanda tanya dan keheranan. "Sayang, ini serius? Kamu benar-benar mau pergi ke pesta ini? Dan … kamu malah sudah siap duluan?"
Ara tersenyum, penuh keyakinan. "Iya, Mi. Bukannya malam ini sangat penting untuk Mami? Aku ingin hadir tepat waktu dan jadi bagian terpenting dari hari besar ini. Aku nggak mau melewatkan momen ini."
Senyum itu bukan sekadar manis, tapi penuh tekad, menandai babak baru dalam hubungan mereka yang selama ini penuh lika-liku.
Belinda menatap mata kecil anaknya yang berkilau, dadanya sesak menggenggam tangan mungil itu dengan lembut. "Sayang, akhirnya kamu mengerti. Mami benar-benar minta maaf. Mami nggak pernah berniat mengkhianati papi kamu." Suaranya bergetar, tertahan antara luka dan harapan. "Nggak akan ada satu pun laki-laki yang bisa menggantikan posisi papi kamu di hati Mami. Tapi, Mami ingin menjalani hubungan ini dengan sungguh-sungguh, sesuai pesan terakhir papi kamu. Asal kamu tahu, di usia Mami yang sudah 40 tahun ini, sebenarnya Mami sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah lagi, apalagi dengan Marvin yang baru berusia 35 tahun, lebih muda dari Mami."
Ara memandang ibunya, matanya berkilau penuh pengertian. "Iya, Mami, aku tahu. Maaf ya, kalau selama ini aku egois. Mami sudah melakukan hal yang benar. Jangan sedih ya, Mi. Malam ini adalah pesta pertunangan Mami sama Om Marvin. Mami harus bahagia, 'kan?"
Dengan mata berkaca-kaca, Belinda mengangguk pelan, lalu keduanya berpelukan erat seolah takut terlepas.
"Mami janji, walaupun Mami sudah menikah dengan Marvin, cinta Mami untuk papi kamu nggak akan pernah pudar. Dan kamu ... akan selalu jadi kesayangan Mami, selamanya," bisik Belinda, menumpahkan jujur rasa cintanya yang terdalam.
***
Pesta pertunangan yang diadakan di salah satu hotel mewah dan megah milik keluarga Wijaya, dipenuhi para tamu penting. Di antaranya dari mitra bisnis Perusahaan Wijaya Group, perusahaan terbesar dan paling berkuasa di kota, hingga kerabat dekat dan sahabat Belinda maupun mendiang suaminya. Mereka turut hadir untuk menyaksikan hari bahagia itu, tanpa mereka ketahui apa yang tersembunyi di baliknya.
Di sudut ruangan, Ara duduk berhadapan dengan Jelita, sahabat setianya sejak SMA dan sekarang teman sekampus sekaligus rekan satu jurusan pada bidang administrasi. Mereka mengobrol serius, tapi sorot mata Jelita berkilat mencurigakan, seolah ada sesuatu yang dalam dan gelap mengganggu pikirannya.
"Ara, kamu benar-benar yakin? Kamu serius?" tanya Jelita, tatapannya menusuk penuh tanda tanya.
Namun Ara membalas dengan tenang, jawabannya penuh keyakinan yang menggelegar, "Tentu saja. Kamu hanya perlu menyaksikannya sendiri."
Di balik kata-kata itu, ada asa dan keteguhan yang bergejolak, menyembunyikan rahasia yang siap meledak di balik kemewahan pesta tersebut.
Di saat itu, Ara menangkap sosok Marvin, calon ayah tirinya yang baru saja selesai berbincang dengan seorang klien. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat.
Marvin yang melihat Ara semakin mendekat ke arahnya dengan tatapan tajam, hatinya mendadak bergemuruh dengan serangkaian dugaan dan ketegangan. "Ara? Pasti dia mau marah-marah lagi? Protes karena aku tetap nekat bertunangan dengan ibunya?" batinnya sambil menahan napas, ia harus siap menghadapi emosi calon anak tirinya yang mungkin akan meledak dan menarik perhatian seisi ruangan.
Biasanya, jika Ara sudah berbicara dengannya, suasana akan menjadi hancur lebur, tak ada lagi kata damai. Bukan berarti dulu mereka tidak pernah akrab, namun sikap manis Ara tidak pernah lagi Marvin temukan semenjak ayah Ara meninggal dunia dan memintanya untuk menikah dengan ibunya Ara.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Senyuman cerah tiba-tiba merekah di wajah Ara, menepis dugaan Marvin. "Om Marvin, selamat, ya. Akhirnya Om dan mami akan bertunangan," katanya ringan, seperti tanpa beban.
Dahi Marvin mengkerut, bingung dan tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Ara. "Ra, kamu serius bicara seperti itu?" tanyanya dengan nada curiga, menatap penuh waspada.
Ara mengangguk, matanya berbinar, mencoba meyakinkan. "Serius dong, Om. Memangnya di muka aku yang cantik nan imut ini, terlihat ada kebohongan? Nggak, 'kan?" ujarnya seraya menggoda, namun tanpa sedikit pun keraguan.
Sesaat ruang itu hening di antara mereka, seolah waktu membeku, membawa kedua hati yang bertentangan untuk mencerna sebuah kenyataan yang tak terduga.
"Ya, memang tidak. Kalau begitu, terima kasih karena kamu akhirnya setuju saya bertunangan dengan mami kamu. Kamu juga tahu 'kan, apa alasannya? Saya sama sekali tidak bermaksud untuk menggantikan posisi ayah kamu," kata Marvin dengan suara seret yang hampir tak terdengar.
Marvin sama sekali belum merasakan cinta pada Belinda, wanita yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri, meski sudah empat tahun lamanya mereka mencoba untuk bersama. Namun, wasiat Aldo Wijaya, mendiang ayah Ara sebelum menghembuskan napas terakhir, yang selalu menjadi penopangnya, menjeratnya dalam janji yang tak bisa diabaikan. Menikah bukan soal hati, tapi kewajiban yang harus dia pikul.
"Iya, Om. Aku ngerti kok. Mungkin setelah kalian menikah, Om dan mami bisa saling mencintai dan hidup bahagia," ucap Ara pelan, berusaha menenangkan. "Ya sudah, have fun ya, Om. Aku mau ke toilet dulu," tambahnya sambil berlalu, disambut anggukan kepala tenang dari calon ayah tirinya itu.
Tak lama setelah Ara pergi, seorang pelayan menghampiri Marvin dengan membawa nampan berisi minuman. Tanpa ragu, ia meraih segelas dan meneguknya sampai habis, berharap bisa meredakan kegelisahan yang mulai mengusiknya.
Tapi tak lama kemudian, tubuhnya tidak bersahabat. Seiring detik-detik menjelang acara pertunangan, kepalanya berputar hebat, pandangannya mulai buram dan panas menyeruak dari ujung rambut hingga kaki. Sesuatu yang aneh, sebuah peringatan halus atau malapetaka yang sedang menunggu di balik hari bahagia itu. Marvin berusaha berdiri tegak, tapi dunia seolah ingin menelannya dalam pusaran gelap yang tiba-tiba menggulung.
"Kenapa ini? Apa yang terjadi denganku?" Marvin tak mengerti, dia pun bergegas meninggalkan ruang acara hendak menuju ke toilet, berusaha meredam gejolak perasaannya yang semakin tak menentu.
Marvin menyeret tubuhnya dengan berjalan sempoyongan menuju ke toilet. Saat mendongak, matanya menangkap sosok Ara di kejauhan. Tanpa sadar, tubuhnya bergerak sendiri, menggapai dan menarik Ara dengan tenaga yang tak terkendali, mendorong calon anak tirinya hingga tubuh kecil itu terjepit di dinding yang dingin.
Mata Ara membesar, hatinya berdegup kencang penuh ketakutan. "Om ... Om Marvin, kenapa? Apa yang terjadi sama Om?" Suaranya bergetar penuh panik, sementara matanya mencari-cari jawaban di wajah pria yang dikenalnya dengan baik namun dingin.
Namun Marvin diam, tatapannya kosong, seolah jiwa dan raganya sudah berpisah. "Aku ... aku tidak tahu kenapa aku kehilangan kendali seperti ini," ucapnya terbata, nada suaranya dipenuhi kebingungan dan ketakutan sendiri.
"Om, sadar .... Aku ini Ara, anak Mami Belinda, calon anak tiri Om Marvin!" desak Ara, mencoba meraih kesadaran pria itu dengan suara yang semakin mendesak dan gemetar.
Tapi Marvin seperti menolak mendengarnya, telinganya seolah tertutup rapat oleh kegelapan pikirannya sendiri. Tanpa ampun, ia menarik Ara masuk ke dalam kamar yang sunyi dan penuh bayang-bayang itu.
"Om, tolong ... lepaskan aku! Aku Ara, calon anak tiri Om!" jerit Ara histeris, suaranya bergetar antara takut dan bingung.
Ia berusaha keras menyadarkan Marvin, namun sepertinya pria itu sudah terperangkap dalam lorong gelap kesadaran yang sama sekali asing dan menakutkan. Sementara Marvin tidak lagi tahu apa yang sedang dilakukannya dan itu membuat semuanya menjadi semakin menyeramkan.
Bersambung ...