Bab 5: Tidak Sengaja Bertemu

1678 Kata
*** Pada kenyataanya tidak semua hal bisa kita mengerti dengan mudah *** “Kita sama klien yang ini sampai kapan sih?!” seru Mikayla dengan wajah merengut kesal, mereka baru saja meninggalkan sebuah restoran yang cukup terkenal yang masih berada di kawasan mereka, sesuai dengan apa yang di katakan oleh Alistair tempo lalu, hari ini klien mereka dari Bandung datang ke Jakarta untuk membicarakan tentang konsep mal yang akan di bangun. “Sampai mal –nya opening ah, Ka, lo pikir aja,” jawab Fandi, Safira yang berdiri di samping Fandi ikut menganggukkan keplanya sedangkan Alistair berjalan di depan mereka, sejak tadi Mikayla merasa ada yang aneh pada pria itu. Seharusnya sih Mikayla tidak perlu merasa heran karena biasanya Alistair juga banyak diam namun kali ini auranya benar-benar berbeda, pria itu nyaris menakutkan sekarang. “Mereka kenapa gitu banget sih, Mas. Nggak habis pikir gue, semua konsep yang kita tawarkan nggak ada yang di terima sataupun sama mereka padahal sejak awal kita udah diskusi sama mereka. Hari ini di tolak mentah-mentah, lama-lama ubanan kepala gue!” seru Mikayla mencak-mencak sendiri, gadis itu memang sangat ekspresif, semua ha lyang dia rasakan akan di tunjukkan oleh Mikayla tanpa malu dan tanpa melihat di mana dia berada. Prinsipnya ungkapkan apapun yang mengganggu biar lega dan nggak tekanan batin. “Nanti juga ketemu jalan keluarnya, Ka, kita ikutin aja mau mereka dulu, kalau nggak cocok-cocok juga kita kasih mereka saran dan masukan, kita punya limit waktunya juga,” ucap Safira mencoba menenangkan pada akhirnya Mikayla menghembuskan napasnya kemudian gadis itu terdiam. “Mas Es, ah maksud gue, Ali. Abis dari sini kita harus pulang ke kantor lagi atau boleh pulang?” tanya Mikayla saat mereka sudah ada di parkiran. Mereka berangkat hari ini menggunakan mobil Alistair yang merupakan ketua tim mereka. Pria yang selalu terlihat tampan dengan jas-nya itu mengeryitkan dahinya dan menatap Mikayla dengan sengit. “Ini masih jam kerja,” jawab Alistair kemudian pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya. Mikayla melongo kemudian menatap ke arah Fandi dan Safira secara bergantian. “Gimana Saf?” tanya Mikayla dengan sangat polos, suara klason mobil Alistair membuat mereka kompak terjingkat kaget lalu buru-buru masuk ke dalam mobil, seharusnya mereka menyadari, mereka sedang pergi bersama Alistair El Fatih Pradipta, yang artinya waktu tidak boleh terbuang dengan sia-sia. “Kita harus kembali ke kantor karena jam kantor masih berjalan Ka dan nanti akan pulang setelah jam kantor selesai,” ucap Safira saat mobil Alistair melaju meninggalkan restoran itu. Mikayla dan Safira duduk di jok belakang sedangkan Fandi di samping Alistair yang tampak sangat-sangat fokus pada kemudi. Kalau di pikir-pikir hidup Alistair itu sangat membosankan sekali. Bagaimana bisa pria itu bertahan menjalankan hari-harinya tanpa ekspresi dan bicara seperlunya saja. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Mikayla mengerdik ngeri. “Mas Es, ah salah maksud gue, Al, lo lagi bad mood ya?” tanya Mikayla memecah keheningan, gadis itu juga terlihat sangat hati-hti sekali ketika bertanya pada Alistair. Pria itu terlihat tetap diam tanpa menanggapi ucapan Mikayla membuat Mikayla mendengus pelan, dia kemudian menatap ke arah Safira, mencoba mencari jawaban namun gadis cantik itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Mikayla menghembuskan napasnya, dia mulai merasa bosan sekarang apalagi ketika mereka terjebak dalam kemacetan. “Mas Fandi, weekend nanti nyobaik kafe-kafe baru di Senopati yuk, Mas,” ucap Mikayla lagi ketika dia benar-benar sudah merasa sangat bosan. “Weekend ini banget, Ka?” tanya Fandi, Mikayla langsung mengangguk dengan cepat, sangat berharap Fandi mengiyakan ajakannya, pasti akan sangat menyenangkan jika dia melakukan hunting makanan bersama dengan seorang teman yang satu server dengannya. “Weekend gue pulang ke Bandung, Ka, mau pacaran,” jawab Fandi dengan sangat santai bahkan pria itu terkekeh membuat bahu Mikayla langsung merosot. “Gue sampai melupakan fakta bahwa lo sudah memiliki tunangan bernama mbak Irene, aduhlan begini banget nasib gue nggak punya teman!” seru Mikayla frustasi, sungguh sekarang Mikayla baru menyadari bahwa dia memang tidak memiliki teman untuk di ajak jalan-jalan sekarang. Mikayla juga tidak mengerti ke mana hilangnya teman-temannya apa mungkin dia memang tidak memiliki teman selama ini? “Hunting makanan bareng gue aja,” ucap Safira menawarkan diri, senyum Mikayla langsung merekah sumringah namun saat gadis itu ingin membuka mulutnya seseorang sudah menyela terlebih dahulu. “Kamu punya janji sama aku, Saf,” ucap Alistair tiba-tiba, bahu Mikayla langsung merosot, Safira langsung meringis pelan sedangkan Fandi menatap Alistair dan Safira bergantian. Dua orang itu memang sangat misterius sekali dan tidak ada satupun orang kantor yang tahu apa sebenarnya hubungan Alistair dan Safira selain rekan kerja yang sangat professional. “Janji sana lo penting banget ya,, Al? Bisa di pending nggak? Gue benar-benar butuh teman,” ucapp Mikayla, kali ini gadis itu sudah merengek. “Penting,” jawab Alistair singkat bertepatan dengan mobil yang di kendarai oleh pria itu terparkir dengan sempurna di spot parkir PT Maju Sukses. Mikayla kali ini memilih mengembuskan napasnya pasrah kemudian dia mengekor langkah lebar Alistar dan Fandi dari belakang sedangkan Safira meminta izin untuk bertemu seseorang terlebih dahulu. *** Mikayla melangkah masuk ke dalam supermarket yang ada di apartemenya untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya yang sudah mulai menipis, gadis itu malam ini menggunakan celana training dan juga kaus over zize yang seolah menelan Mikayla hidup-hidup, rambutnya di cepol asal-asalan, tidak ada aura mahalnya sama sekali, aura fashionista Mikayla lenyap malam ini. Pekerjaan yang menumpuk membuat Mikayla benar-benar kehabisan seluruh kata-katanya. Dia bahkan sangat malas untuk sedekar merapikan penampilannya, biarlah orang mau menilainya seperti apa yang penting dia memiliki uang untuk membayar semua belanjaanya nanti. Setelah memastikan semua hal yang dia butuhkan masuk ke dalam keranjang belanjaanya, Mikayla kemudian melangkah ke arah kasir, menunggu antrian. Mikayla juga tidak paham kenapa supermarket tiba-tiba ramai malam ini. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengantri pada akhirnya Mikayla mendapatkan gilirannya, setelah semua belanjaanya di hitung dan Mikayla ingin membayar semuanya seseorang tiba-tiba menaruh dua cup es krim di atas meja kasir. “Sekalian, Mbak,” ucap orang itu membuat Mikayla langsung menoleh ke belakang, tatapannya bertemu dengan tatapan orang itu, mulut Mikayla terbuka sedikit ketika menyadari siapa pemilik dua cup es krim itu. “Lo ngapain di sini, Al?” tanya Mikayla dengan sangat syok. “Beli es krim,” jawab Alistair dengan sangat santai. Hal itu jelas-jelas sekali berhasil membuat mulut Mikayla semakin menganga namun gadis itu tetap membayar semua belanjaanya termasuk dua cup es krim milik Alistair. Setelah semua transaksi itu selesai, Mikayla menerima kantong belanjaanya kemudian meninggalkan kasir dengan Alistair yang melangkah di sampingnya. Langkah Mikayla terhenti di sebuah meja yang ada di depan supermarket itu, meja-meja yang biasanya di pakai oleh orang-orang untuk bersantai entah karena habis berbelanja di dalam atau hanya sekedar untuk menikmati satu cup kopi. “Abil es krim lo!” seru Mikayla dengan penuh perintah, gadis itu melihat nota belanjaanya kemudian memperlihatkannya pada Alistair. "Segera transfer uang gue sebanyak yang ada di nota, gue akan segera kirim nomor rekening gue,” lanjut Mikayla lagi dengan wajah penuh dendamnya, Mikayla masih sangat-sangat ingat bagiamana Alistair memintanya mentransfer uang saat dia lupa membawa dompetnya saat makan siang waktu itu. Pria itu mengangguk dengan patuh kemudian duduk di kursi yang di sediakan dan memberikan satu cup yang lain pada Mikayla membuat kening gadis itu semakin berkerut namun Mikayla ikut duduk di hadapan Alistair, lagi-lagi image Mikayla sebagai seorang yang sangat fhasionable langsung lenyap begitu saja. “Lo kenapa sih Al selalu datang di saat keadaan gue sedang berantakan, image gue sebagai seorang yang fashionable lenyap mulu setiap ketemu lo, kena mental gue!” seru Mikayla seperti seorang yang sangat ternistahkan. Alistair hanya menatap Mikayla sebentar kemudian mulai memakan es krim-nya . “Lo kenapa tiba-tiba ada di sini, pakai baju serba hitam lagi, lo habis ngelayat? Siapa yang meninggal, Al?” tanya Mikayla tiba-tiba, gadis itu juga menikmati es krim yang di berikan oleh Alistair walau ini masih dalam hitungan es krim ngutang tapi rasanya tetap sama, enak. Mikayla bisa melihat perubahan ekspresi Alistair menjadi lebih muram, bahkan kali ini lebih menyeramkan dari tadi siang membuat Mikayla langsung meringis dan menatap tidak enak pada Alistair. “Maaf kalau pertanyaan gue membuat lo merasa terganggu, gue nggak akan nanya aneh lagi,” ucap Mikayla, gadis itu menghembuskan napasnya. Sungguh Alistair itu benar-benar orang yang sangat sulit sekali di tebak, entah rahasia apa yang sedang di sembunyikan oleh Alistair di balik sikap diam dan tenangnya, sungguh sebagai manusia yang sangat normal, Mikayla sangat-sangat ingin tahu itu. Kalau menurut orang-orang jiwa kepo Mikayla sudah tingkat akut. “Mengunjungi seseorang,” ucap Alistair tiba-tiba setelah beberapa menit berlalu bahkan es krim mereka kini sisa setengah cup. Mikayla mengangguk-anggukkan kepalanya seolah dia benar-benar sudah puas dengan jawaban Alistair walau sebenarnya tidak sama sekali, Mikayla sama sekali tidak puas tapi dia tidak punya pilihan lain, Alistair bukan orang yang tepat untuk di ajak becanda. “Gue baru tahu lo suka es krim,” ucap Mikayla, mencoba mengalihkan topik pembicaraanya ke arah yang lebih santai. “Rata-rata orang menyukainya, jadi ini bukan sesuatu yang aneh atau luar biasa,” jawab Alistair dengan cukup sarkas membuat Mikayla langsung kincep seketika, kamus cewek selalu benar sepertinya tidak akan berlaku sama sekali ketika sedang ada bersama Alistair, pria itu memiliki kamus sendiri yaitu Alistiar selalu di depan dan tidak terkalahkan. “Terserah lo deh, sekarang lo mau kemana? Gue sebagai rekan kerja lo yang sangat baik dan budiman ingin kembali ke unit gue untuk melanjutkan pekerjaan? Lo ingin ke mana? Melanjutkan bertemu seseorang yang lo maksud atau kembali ke rumah lo?” tanya Mikayla. Dia tidak ingin Alistair berpikir yang macam-macam atau tidak menghargai senior jika dia pergi begitu saja. Bukannya sekarang Mikayla sudah menjadi juniorr yang sangat teladan dan panutan? “Gue ikut sama lo,” ucap Alistair, pria itu berdiri dari tepat duduknya lalu mengambil kantong belanjaan Mikayla dan melangkah duluan seolah dia sudah tahu di mana unit Mikayla berada. Mata Mikayla melotot tapi dia langsung menarik lengan kemeja yang Alistair pakai membuat langkah pria itu terhenti. “Kenapa?” tanya Alistair. Mikayla menggeleng kemudian mereka kembali melanjutkan langkah. Malam ini Alistair akan menjadi tamu pertama Mikayla dalam sejarah dia tinggal di apartemen sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN