Bab 4: Memulai Hari yang Baru

1680 Kata
*** Hidup memang tidak lepas dari masa lalu namun hari gue bertekad bahwa gue tidak akan lagi terpaku pada masa lalu *** Mikayla menatap pantulan wajahnya dengan begitu lekat di cermin meja riasnya, gadis itu sudah siap dengan pakaian kerjanya bahkan hari ini Mikayla menggunakan bandana yang mempermanis penampilannya. Gadis itu terlihat menarik napasnya dan mengukir senyum terbaiknya. “Ini adalah hari pertama gue tinggal di Apartemen sendiri lumayan jauh dari rumah Mami dan Papi, Mikayla yang baru harus segera lahir. Gue nggak boleh galau termewek-mewek lagi, ayolah Mikayla Hadiningrat, lo adalah seorang princess, nggak jaman lagi galau Mika, di masa depan lo pasti menemukan seseorang yang terbaik untuk lo!” seru Mikayla dengan penuh keyakinan. “Hidup memang tidak lepas dari masa lalu namun hari gue bertekad bahwa gue tidak akan lagi terpaku pada masa lalu.” Mikayla kembali menatap wajahnya dengan sungguh-sungguh di cermin, dia lagi-lagi menarik senyumnya dan memeriksa penampilannya satu kali lagi sebelum pada akhirnya mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan apartemen yang akan menjadi saksi perjalanan Mikayla setelah ini. Mikayla yang baru, Mikayla yang harus lebih dewasa dan Mikayla yang tidak lagi menggantungkan dirinya pada orang lain. Saat sampai di parkiran utama gedung apartemennya, langkah gadis itu langsung terhenti begitu saja saat melihat sosok yang dia kenal membuka pintu mobil tepat di samping mobilnya, kening Mikayla berkerut dalam. “Ini mata gue yang burem apa memang dunia ini yang terlalu sempit, Al kenapa lo bisa di sini?” tanya Mikayla, alih-alih membuka pintu mobilnya, gadis itu justru melangkah ke arah mobil yang terparkir tepat di sebelah mobilnya. Alistair juga terlihat sangat terkejut melihat Mikayla yang tiba-tiba berdiri di sampingnya apalagi dengan senyum lebar yang mendadak terlihat sangat aneh padahal dia masih ingat gadis ini beberapa hari terahir masih sering menangis tidak jelas karena alasan patah hati. “Lo yang ngapain di sini?” tanya Alistair dengan satu alis terangkat, terlihat sekali songongnya namun sialnya pria es batu itu justru terlihat semakin menawan. “Gue sekarang adalah salah satu penghuni unit apartemen tower ini, calon anak mandiri nih gue!” seru Mikayla dengan bangga, Alistair menatap gadis itu dari atas sampai bawah kemudian mengangguk mengerti. “Terus lo ngapain ke sini?” tanya Mikayla. “Mengunjungi teman,” jawab Alistair dengan santai kemudian pria itu langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Mikayla begitu saja. Mulut Mikayla langsung terbuka membentuk huruf O melihat apa yang baru saja terjadi, gadis itu bahkan menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Manusia macam apa sih dia,” celetuk Mikayla sambil menggelengkan kepalanya kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya sendiri, meninggalkan gedung apartemennya dan menuju PT Maju Sukses tempatnya bekerja. *** “Cerah banget wajah lo hari ini, udah nggak galau?” pertanyaan itu langsung menyambut Mikayla saat dia menginjakkan kaki di ruangannya pagi ini. Gadis itu langsung melambaikan tangannya kemudian nyengir pada mas Krisna. “Pagi ini Mikayla Hadiningrat yang baru sudah lahir, Mas, mohon bimbingannya supaya gue menjadi manusia yang lebih baik, mandiri dan menemukan jodoh yang rupawan serta bisa mencintai gue sepenuh hati, jauhkan gue dari manusia es nggak jelas!” seru Mikayla sembari melirik Alistair yang terlihat sudah sangat fokus pada layar komputernya padahal ini masih pagi hari dan jam kerja belum di mulai bahkan masih banyak kursi yang kosong. “Gue aminin deh, kasihan lihat anak orang mewek mulu, fighting Mikayla semoga move on lo kali ini bukan lagi hanya kata-kata,” ucap mas Krisna, dia menepuk bahu Mikayla beberpa kali kemudian langsung melangkah ke arah meja kerjanya. “Pagi Fira,” sapa Mikayla, dia langsung duduk di smaping Safira karena memang meja mereka bersebelahan. “Pagi Mika,” jawab Safira dnegan senyum terbaiknya. Sebenarnya Safira dan Alistair lebih tua satu tahun di bandingkan Mikayla namun saat pertama Mikayla bergabung dengan tim ini, mereka berdua tidak mengizinkan Mikayla untuk memanggil mereka dengan embel-embel apapun jadilah Mikayla sebagai junior yang budiman menurut saja, lagian bedanya memang hanya satu tahun kecuali dengan mas Krisna dan yang lain yang empat atau lima tahun bahkan ada yang sepuluh tahun lebih tua darinya. “Siang ini mau makan di mana?” tanya Mikayla, salah satu rutinitas anak penghuni lantai lima adalah makan siang bersama di suatu tempat yang sudah mereka sepakati bersama bahkan untuk makan siang ini sering di bahas di grup saat malam hari. “Kali ini di kantin, ada menu baru yang super enak kataya,” jawab Safira, Mikayla langsung mengangguk mengerti kemudian mulai melakukan pekerjaannya yang masih tersisa dengan cukup banyak. Kesibukan kemudian mulai melanda para penghuni lantai lima itu, ada yang langsung meninggalkan ruangan karena memang ada pekerjaan di luar, juga yang tetap fokus pada layar komputer dan ada juga yang terlihat melangkah ke ruangan khusus untuk pembuatan maket. Sebenarnya mereka itu di bagi menjadi beberapa tim. Mikayla ya satu tim sama Alistair dan Safira yang untuk proyek di Bandung itu. Sekarang mereka sedang di sibukkan oleh itu. "Ini klien yang di Bandung konsep rancangannya fix-nya gimana Al?" pertanyaan itu membuat Mikayla yang sedari tadi sibuk dengan komputernya langsung ikut menoleh, kemarin mereka memang di sibukkan dengan konsep rancangan pembangunan. "Untuk sementara udah oke yang kemarin, besok kita ketemu sama mereka lagi, kali ini mereka yang ke Jakarta," jawab Alistair, Safira terlihat mengangguk kemudian kembali ke tempat duduknya, Mikayla terdiam untuk beberapa waktu, sungguh dia tidak mengerti seperti apa sebenarnya hubungan Safira dan Alistair sebenarnya. Di kantor keduanya benar-benar membatasi interaksi, mereka benar-benar bekerja dengan sangat profesional. "Fir, lo sama Alistair itu apa?" tanya Mikayla dengan setengah berbisik, Safira terlihat menatap Mikayla dengan bingung bahkan alis gadis itu terangkat. "Maksudnya?" tanya afira. "Waktu di Bandung kalian kelihatan banget akrabnya bahkan kayak ada something bahkan panggilannya aku dan kamu sedangkan di kantor tiba-tiba kaya orang nggak kenal, kalian backstreet?" tanya Mikayla masih dengan nada suara seperti bisikan. "Mikayla berhenti ikut campur urusan orang lain!" seruan dengan nada penuh peringatan itu membuat tubuh Mikayla langsung menegang, dia kemudian menoleh dan melihat Alistair yang sedang menyorot mejanya dengan tajam. Gadis itu mendengus namun kemudian kembali fokus pada pekerjaanya begitu pula dengan Safira, gadis itu kembali fokus pada pekerjaanya. *** "Demi apa ini kantin perusahaaan makin lama makin mantap aja menu-menunya, kalau begini ceritanya, gue nggak akan pernah lagi mau macet-macetan untuk cari makanan enak!" seru Mikayla saat melihat hidangan seafood di hadapannya, para rekan-rekannya terlihat mengangguk, menyetujui ucapan gadis itu. "Gue setuju banget sih sama Mika kali ini sebagai tim pemburu makanan enak dan nggak bisa kalau nggak ganti menu setiap hari," ucap Fandi, pria itu dua tahun di atas Mikayla, orangnya seru banget apalagi kalau soal hunting makanan, Mikayla klop banget sama pria itu. "Benar kan, Mas, kita nggak perlu hunting menu makan siang kemana-mana lagi, anteng dah di kantor," ucap Mikayla sembari menyantap makan siangnya. "Nggak perlu lagi tuh mata gue melotot-melotot lihat kalian berdua yang datang terlambat sehabis makan siang!" seru mas Krisna, Mikayla dan Fandi langsung nyengir. "Ntar kapan-kapan ajakin gue hunting makanan baru lagi ya, Mas, kafe-kafe baru sekarang banyak banget katanya, rasanya pengen gue datangin satu-satu kemudian gue icip-icip menunya sampai puas," ucap Mikayla dengan suara yang antusias. "Aman, Ka, cocokin waktu aja ntar terus kita langsung gas," ucap Fandu, Mikayla langsung mengangkat satu jempolnya ke arah Fandi. "Beruntunglah kalian berdua rajin banget main ke tempat Gym ya, kalau enggak, enggak ngerti lagi lah gue itu badan akan semelar apa," ucap mbak Dyah, seorang wanita yang seumuran dengan mas Krisna dan juga sudah menikah serta memiliki satu orang putra. "Proyek mal di Bandung gimana Al?" tanya mas Krisny, dia menoleh pada Alistair yang sedari tadi hanya menjadi pendengar saja. Pria itu terlihat meminum air mineralnya dan menatap mas Krisna dengan santai. "Besok ketemu sama mereka lagi, Mas, agak rewel memang," jawab Alistair. "Nanti Fandi masuk tim kalian aja kali mengingat Bhanu tidak lagi bagian dari Maju Sukses, proyek lo udah kelar kan Fan?" tanya mas Krisna. Fandi langsung mengangguk. "Aman, Mas, ntar gue gabung tim-nya Ali," jawab Fandi. Ekspresi lega langsung terlihat begitu saja di wajah Mikayla dan Safira, sungguh kalau hanya ada mereka dan Alistair saja sulit sekali rasanya, apalagi Alistair yang selalu berbicara seperlunya saja membuat suasana tim mereka super garing parah di tambah lagi Alistair yang terkadang suka sinis membuat tim mereka rasa neraka. "Asik banget nggak tuh mas Fandi gabung tim gue, ini kita hunting makannya tambah seru ini mah, Mas," ucap Mikayla dengan semangat bahkan gadis itu bertos ria denga Fandi. "Kalau udah gini ceritanya gue gabung sih, nggak mau ketinggalan," ucap Safira. Mikayla dan Fandi langsung bersorak heboh. Meja yang selalu di huni oleh anak-anak Arsitektur itu memang tidak pernah sepi sedikitpun dan sering kali menjadi pusat perhatian pengunjung kantin karena entah kebetulan atau bagaimana wajah jejeran arsitek PT Maju Sukses itu tidak ada yang mengecewakan sedikitpun. Mereka semua memiliki garis wajah yang luar biasa. Di kenal sebagai kumpulan manusia good looking PT Maju Sukses sih. "Asik banget nih Mas kita punya tim baru," ucap Mikayla, gadis itu tiba-tiba menoleh ke arah Alistair, "mas Es eh maksudnya Alistiar, lo mau gabung juga nggak Al?" tanya Mikayla dengan tatapan jahilnya, orang-orang di meja itu menatap Mikayla dengan takjub, sepertinya Alistair akan menjadi korban Mikayla setelah ini, korban untuk di jahili tentu saja. "Tergantung," jawab Alistair dengan sangat santai. "Tergantung apa?" tanya Mikayla dengan sedikit penasaran. "Tergantung ada lo atau enggak," jawab Alistair, pria itu kembali membenarkan letak dasinya. Senyum Mikayla sedikit terukir lebih lebar. "Kalau ada gue lo ikut? Nah gitu dong, lo harus menyadari kalau gue orangnya asik banget!" seru Mikayla dengan bangga. "Kalau ada lo gue nggak ikut," jawab Alistair kemudian pria itu langsung beranjak dari kursinya dan melangkah meninggalkan kantin dengan langkah santainya. Mikayla lagi-lagi di buat melongo. "Demi apapun, manusia itu udah membuat gue kena mental tiga kali dalam sehari. Alistair El Fatih Pradipta gue sumpahin lo suka sama gue dan nggak bisa lagi ngomong nyelekit kayak gitu, gemes banget pengen nyekek!" seru Mikayla dengan menggebu, Alistair terlihat tidak terpengaruh sama sekali buktinya pria itu tetap melangkah meninggalkan kantin tanpa menoleh ke belakang, para penghuni meja dan orang-orang yang masih ada di kantin menggeleng sambil terkekeh mendengar ucapan Mikayla, sungguh gadis ini luar biasa sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN