Bab 3: Mencoba Melepaskan

1720 Kata
*** Melepaskan hal yang tidak bisa di genggam itu ternyata sama saja menyakitkan *** Melepaskan apa yang tidak bisa di genggam nyatanya sakitnya sama saja. Mengetahui Bhanu lebih memilih meninggalkan PT Maju Sukses dan mengejar cintanya ke Yogyakarta menjadi tamparan yang sangat keras untuk Mikayla, dia semakin menyadari bahwa tidak pernah ada tempat untuknya, sama sekali tidak pernah. Mikayla menatap meja yang sudah kosong di hadapannya, lantai lima sekarang sedang sangat sepi karena beberapa dari mereka sedang meeting bersama dengan klien dan ada juga yang sedang melakukan perjalanan ke luar kota. Mikayla menopang dagunya dengan kedua tangan, dia tidak memiliki semangat apapun untuk bekerja hari ini, rasa patah hatinya masih terlampau dalam dan Mikayla benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi permasalahannya itu. Kebanyakan orang mengatakan bahwa cara cepat untuk sembuh dari patah hati adalah dengan cara jatuh cinta kembali namun Mikayla sangat sadar betul bahwa perihal jatuh cinta juga bukan hal yang mudah, ini soal hati yang memilih dan terkadang Mikayla tidak memiliki kendali terhdap hatinya sendiri dan mungkin ini juga yang di rasakan oleh Bhanu, pria itu mencintai Rindu dan itu adalah pilihan hatinya dan Mikayla tidak bisa menghalangi itu. Gadis itu menarik napasnya lalu mengembuskan dengan kasar, Mikayla sangat-sangat yakin wajahnya sangat berantakan hari ini. Ini sungguh hal yang pelik, ayahnya yang berteman dekat dengan ayah Bhanu yang merupakan pemilik perusahaan tempanya bekerja saat ini tidak membantu sama sekali. Mereka pernah membantu Mikayla namun pada akhirnya menyerah terhadap semuanya dan mengembalikan semuanya pada Mikayla. “Kalau tahu patah hati segini pahitnya, mending gue nggak usah suka-suka segala sama Bhanu!” seru Mikayla sambil menatap meja kosong di hadapannya. Nikmatnya jadi anak pemilik perusahaan ya itu seperti Bhanu, masuk sesuka hati dan keluar sesuka hati, lagian walau Bhanu memiliki hubungan yang cukup rumit dengan ayah-nya, Winata sepertinya tidak ingin mengusik dan menyulitkan putranya itu. “Tapi gimana dong, waktu kuliah dia baik banget sama gue, apa mau gue di turutin mulu, dan bahkan waktu pertama kerja masih mau jemput gue pakai vespa kesayangannya itu, sarapan di rumah gue, ngobrol dengan baik sama orangtua gue, siapa sangka selama ini dia hanya menganggap gue sebagai teman dan anak sahabat baik Papa-nya, sedih banget rasanya jadi gue, Bhanu Winata lo gitu amat sama gue, Nu…Nu!” seru Mikayla dengan heboh tanpa peduli dengan tatapan anak-anak arsitektur yang baru saja kembali, lagian buat apa juga Mikayla merasa malu, mereka semua sudah terlanjur tahu apa yang Mikayla alami dan rasakan saat ini. “Masih galau aja, Mika?” tanya Safira, gadis itu duduk di samping Mikayla. Mikayla langsung mengerucutkan bibirnya dan memeluk Safira erat-erat, matanya mendadak memanas dan tanpa di sangka-sangka menangis begitu saja. “Fir, kenapa patah hati rasanya sesakit ini?” tanya Mikayla, dia mengurai pelukannya pada Safira, gadis yang di kenal sebagai si cantik penghuni lantai lima itu mengusap air mata di pipi Mikayla dan tersenyum dengan lembut, senyum yang selalu berhasil membuat Bujang PT Maju Sukses mabuk kepayang. “Lo akan segera membaik dan terbaisa sebentar lagi. Nggak baik larut dalam rasa sakit dan patah hati terus menerus Mika, hidup lo harus terus tetap berjalan apapun yang terjadi, lo pasti bisa melalui semuanya dengan sangat baik,” ucap Safira menenangkan. “Gue pengennya gitu tapi kenapa dari kemarin-kemarin tetap aja gagal, gue benar-benar kayak orang paling tersakiti sedunia, bayangin aja, dia orang pertama yang gue suka terus dengan percaya dirinya gue mengungkapkan apa yang gue rasakan ke dia kemudian dia menolak gue begitu saja karena ternyata dia sudah punya yang lain, sakit banget nggak sih Fir? Nyesek banget jadi gue apalagi kemarin-kemarn gue sempat pakai cara yang super t***l dengan melibatkan orangtua, mejatuhkan mental pacar Bhanu kemudian berakhir gue yang kena mental beneran karena ternyata Bhanu tetap nggak melirik gue, antagonis malu-maluin banget gue!” seru Mikayla, gadis itu kembali menangis, Safira meringis pelan dan menatap rekan-rekannya yang lain yang kini juga menatap Mikayla dengan cengo. Ternyata anak itu juga sadar apa yang dia lakukan, mereka pikir Mikayla memang sudah di butakan oleh cinta dan jadi tidak mempunyai rasa malu lagi namun ternyata Mikayla tetaplah bocah di antara mereka. “Mika lo mending ikut Ali sana deh main ke proyek hirup angin segar biar cepat move on dari pada nangis termewek-mewek mulu di sini!” itu seruan mas Krisna, orang yang paling kompeten dan sudah lama mengabdi pada PT Maju Sukses. Mikayla langsung menoleh pada mas Krisna. “Sama es batu berjalan itu, Mas? Bukannya cerah hati gue malah tambah gelap ntar, nggak ada manis-manisnya Ali tuh!” seru Mikayla dengan sangat jujur, orang-orang di ruangan itu tampak menahan senyumnya, dasar Mikayla yang selalu terlampu jujur dan cablak. Alistair yang di seret ke dalam obrolan langsung berdehem dan menatap Mikayla dengan wajah datar. “Gue tunggu lo di mobil!” seru Alistair kemudian pria itu langsung meninggalkan ruangan begitu saja. Mikayla menatap orang-orang di sana bergantian apalagi Safira yang Mikayla tahu cukup mengenal Alistair dengan baik mengingat bagaimana kedekatan keduanya di Bandung beberapa waktu yang lalu sebelum Bhanu meninggalkan PT Maju Sukses. Safira terlihat mengangguk. “Have fun, Mika!” seru Safira dengan senyum terbaiknya, Mikayla langsung mengambil tas make up-nya kemudian pamit pada semua penghuni ruangan dan menyusul Alistair yang selalu irit dalam segala hal, termasuk soal waktu. Alistair itu sangat-sangat terkenal disiplin terhadap waktu, tidak ada jam karet dalam kamus hidup seorang Alistair El Fatih Pradipta. “Lo telat lima detik,” ucap Alistair ketika Mikayla membuka pintu mobil pria itu, Mikayla menatap pria itu sembari mencebikkan bibirnya. “Hidup itu di bawa santai dikit bisa nggak sih, Al?!” seru Mikayla dengan gemas. Alistair mengerdikkan bahunya kemudian mulai menyalakan mobilnya. “Rapikan make up, lo kelihatan jelek banget,” ucap Alistair membuat Mikayla buru-buru mengelurkan kaca dari dalam tas make up-nya, gadis itu terlihat mengerdik ngeri melihat wajahnya sendiri, make up Mikayla sekarang benar-benar sangat berantakan. “Jadi make up gue seberantakan ini sejak tadi?” tanya Mikayla sambil menoleh pada Alistair debgan wajah syok. Kalau di ingat-inget Mikayla itu selalu terjebak bersama dengan Alistair dalam keadaan wajah yang super berantakan, image-nya sebagai gadis mahal dan berkelas sudah tidak lagi jika sudah berhadapan dengan Alistair. “Lo pikir apa yang akan terjadi dengan seorang yang tanpa malu menangis di kantor?” tanya Alistair tanpa menoleh. “Gue hanya sedang mengepresikan diri, gue bukan lo yang tetap diam-diam aja dengan apa yang terjadi dan lo rasakan,” ucap Mikayla, dia mulai merapikan make up-nya, “lagian kalau di lihat-lihat wajah gue nggak seberantakan itu deh, Al,” lanjut Mikayla dengan santai. Alistair kini tidak lagi mengatakan apapun, dia tetap fokus pada kemudi. Mikayla mendengus, benar bukan apa yang dia katakan, pergi bersama dengan Alistair itu tidak akan membuat harinya lebih baik justru semua bertambah gelap. Mikayla tidak mengerti kenapa Alistair bisa seirit ini, entah bawaan lahir atau justru karena sesuatu yang pahit yang pernah di alami oleh pria itu tapi Mikayla tidak bisa seperti Alistair, dia semakin sakit hati semakin aktif mulutnya bebicara dan juga mengunyah. “Ini Proyek mana deh, Al?” tanya Mikayla ketika menyadari ke mana arah mobil Alistair. “Rumah,” jawab Alistair. “Rumah? Rumah siapa? Oh proyeknya itu rumah, yang di pegang sama Bhanu kemarin-kemarin itu? Lah Bhanu lagi, ini kapan gue bisa move on-nya kalau begini, apa-apa berhubungan sama Bhanu bahkan perusahaan tempat kerjapun berhubungan sama Bhanu, nasib banget gue!” seru Mikayla. Gadis itu menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada sandaran kursi, memilih menikmati perjalanan karena rasanya sangat percuma sekali berbicara dengan pria yang ada di sampingnya, ganteng sih tapi nggak punya banyak kata. *** Mikayla dan Alistair berakhir di salah satu tempat makan yang cukup popular di kawasan mereka setelah melihat perkembangan pembangunan rumah milik salah satu petinggi bank itu. Mikayla bahkan sangat mengaggumi setiap detail rumah itu, Bhanu dan desain yang menawan memang tidak pernah bisa di pisahkan sama dengan Bhanu di hatinya, sulit di pisahkan namun tidak bisa dia gapai. “Mau pesan apa?” tanya Alistair, pria itu melonggarkan sedikit dasinya dan juga menggulung lengan kemejanya dengan begitu rapi sampai siku, satu hal lagi yang Mikayla sadari bahwa Alistair adalah ornag yang sangat perfecsionist. “Semua yang ada di daftar menu boleh nggak sih, Al?” tanya Mikayla dengn santai, sungguh jika sudah galau seperti ini, makan adalah pelarian terbaik Mikayla. Alistair tidak menjawab apapun tapi pria itu sudah melangkah untuk memesan makan siang. Dahi Mikayla kembali berkerut dalam, dia benar-benar kesulitan untuk memahami Alistair. Pria itu benar sulit di mengerti apalagi dengan komunikasi yang sangat terbatas seperti sekarang. Saat Alistair kembali ke meja yang mereka duduki, saat itu Mikayla langsung menatap Alistair dengan penasaran, “jadi gue di pesenin apa?” tanya Mikayla. “Semua yag ada di menu,” jawab Alistair dengan sangat santai membuat mata Mikayla langsung membola kemudian gadis itu langsung meringis pelan saat menyadari dia tidak membawa serta dompet dan ponselnya bersama dengannya hari ini, kedua benda itu masih ada di laci meja kerjanya. “Al, tadi gue becandaan doang, gue nggak bawa dompet, masa iya gue harus cuci piring dulu setelah makan di sini, sedih banget dong hidup gue,” ucap Mikayla, Alistair terlihat menarik napasnya, mungkin lelah mendengarkan celotehan Mikayla yang menurutnya zonk sekali seharian ini. “Sudah gue bayar,” jawab Alistair membuat mataMikayla langsung berbinar-binar, lagian kapan lagi kan seorang Alistair berbuat baik padanya, “ tapi nanti transfer balik ke gue saat sudah di kantor, gue sudah kirim nomor rekeningnya ke ponsel lo,” lanjut Alistair membuat seyum Mikayla langsung redup seketika. “Ternyata lo memang manusia paling irit seduania ya, Al, nggak ngomong, nggak waktu dan sekarang uang juga,nggak habis pikir gue sama lo,” ucap Mikayla sambil mendengus. “Lo bukan siapa-siapa gue sampai gue harus bayarin lo makanan lagian Mikayla lo adalah orang yang sangat mampu untuk membeli makanan,” ucap Alistair membuat Mikayla melongo, benar-benar tidak habis pikir. “Jadi gue harus menjadi siapa-siapa lo dulu baru di traktir makan?” tanya Mikayla dengan penuh selidik, Alistair mengerdikkan bahunya acuh kemudian mulai menyantap hidangan makan siang yang sudah di sajikan di meja mereka tanpa repot-repot lagi menanggapi pertanyaan Mikayla. Mikayla juga seolah langsung melupakan apa yang dia tanyakan, gadis itu langsung mencicipi satu persatu hidangan itu yang menunya khas indonesia sekali kemudian melahapnya dengan penuh nikmat, mulutnya benar-benar sudah berhenti berceloteh sekarang gadis itu sibuk mengunyah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN