Spontan gadis itu membuka mata. Dan menjerit histeris mendapati kepala seorang pria di atas pangkuannya.
"Dasar cowok mesuuum! Mati aja loe!"
Buuuk buuuk buuuk!
Puluhan kali hantaman mendarat di tubuh Arya. Meski sudah meronta sambil mengatakan bahwa ia tak sengaja. Tetap saja Alona memukulinya tanpa ampun. Anehnya, semua orang yang berada di sana tak ada yang membantu. Mereka justru asyik menonton. Padahal mereka menyaksikan langsung kejadian pertama saat Arya tersandung hingga mendarat di pangkuan Alona.
Mereka tahu persis, Arya tak berslah. Tapi apa boleh buat. Dengan sekali pukul saja, Alona mampu membuat lebam di wajah Arya. Wajar jika tak ada yang berani membantu menyelamatkannya dari gulatan gadis yang tampak garang itu.
Hanya Boby yang tak henti-hentinya berusaha menyelamatkan Arya. Bahkan sesekali ia juga mendapat jatah bogem dari Alona. Karena di mata Alona, Boby juga bersalah. bukannya memukul orang yang salah, justru menyelamatkannya.
Beberapa belas menit kemudian ....
Setelah drama pukul-memukul itu. Mereka bertiga pun berakhir di ruang keamanan yang di kelilingi oleh beberapa tentara.
Duduk bertiga, sedang dihadapan mereka duduk seorang perwira. Pria itu mencoba mengintrogasi. Menanyakan satu-persatu perihal kejadian yang sebenarnya. Mulai dari menanyakan pada Alona. Hingga bertanya pada Arya.
"Ia, Pak. Jadi, kaki saya itu gak sengaja kesandung tali tas milik nih cewek," tunjuk Arya pada Alona. "Dan saya bener-bener terjatuh, bukan disengaja!" ungkap Arya sambil meringis memegangi pipi saat berusaha menjelaskan di hadapan perwira yang menangani masalah mereka.
"Elaaah! Palingan itu akal-akalan lu doang kan! Emang dasar lu nya aja yang m***m," elak Alona dengan sinis sambil terus melipat tangannya di atas d**a.
"Eh, jangan asal ngomong ya. Aku gak ada fetish sama cewek kampungan kolot kayak kamu. Apalagi mau niat m***m. Yang ada juga muntah duluan!"
"Etdahh! Sombong amat lu yee. Gue tabok juga tuh mulut!"
"Dasar cewek si*ting!"
"Ape lu bilang? Coba ulangi?!"
"CEWEK SI*TING!"
"Oh, cari mati lu yee!"
"Cewek gila!"
Kembali Alona mengamuk dan berusaha mencakar Arya di tengah para tentara itu. Dan semua berusaha menghentikannya.
"Tuh, Pak! Lihat sendiri kan. Nih cewek memang gak waras!" tukas Arya.
"Sudah, sudah! Cukup!" ucap si bapak pengadil. "Jadi, sepertinya ini semua hanya kesalahpahaman ya. Oke! Jadi saya anggap masalah ini sudah kelar." Tuturnya.
"Ta-tapi, Pak!" Alona sedikit tergagap. Tak menyangka bahwa semua yang terjadi kelar begitu saja.
"Maaf, Mbak. Tapi banyak saksi mata yang mengatakan bahwa Mas Bima ini benar tak berbuat senonoh." tutur pria pengadil itu.
Alona terdiam. Sementara di sampingnya, tampak Arya yang tersenyum puas penuh kemenangan. Alona memasang wajah bringas. Melotot hingga kedua bola matanya hampir melompat keluar. Sangat seram. Namun, Arya justru membalas dengan senyum meledek.
Alona akhirnya pergi meninggalkan ruangan lebih awal, para tentara itu pun mulai tampak pucat. Mereka takut Arya akan memecat. Terlebih si bapak perwira yang mencoba mengintrogasinya.
"Tenang saja, aku tak akan memecat kalian, hari ini kerja kalian cukup bagus. Teruslah berpura-pura tak mengenalku!" ucap Arya yang terdengar tenang dan dingin.
"Lalu, bagaimana dengan luka yang Tuan dapatkan?" tanya mereka ragu.
"Kau pikir aku akan menangis hanya karena luka seperti ini? Apa kalian lupa, aku juga seorang militer, meski sudah lama, harusnya kalian tak melupakannya."
"Maafkan kami, mohon jangan tersinggung. Kami tak bermaksud meledek. Kami hanya cemas," tutur sang bapak perwira.
"Aku takpapa. Kembalilah bertugas!"
"Siap, Tuan muda." sahut mereka hampir serempak.