Perayaan untuk Memulai yang Baru

1390 Kata
Sesuai janji, Kai telah mengatur jadwal pertemuan antara Biru dengan Human Relation (HR). Pertemuan ini masih awal sehingga ia hanya mengundang pihak yang memang berkepentingan. Selanjutnya, kalau keputusan meeting hari ini bulat kemudian akan dilanjut pada pertemuan berikutnya. Seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, Biru akan meeting bersama pihak HR. Meeting kali ini akan membahas sistem yang telah dikeluhkan bersama selama satu tahun terakhir. Semenjak ia bergabung di TekOb ini, Biru menemukan beberapa masalah. Salah satu masalahnya adalah sistem pembagian kerja yang hirarki membuat ia dengan atasan lainnya lambat dalam mengambil suatu keputusan. “Happy Noon all, meeting hari ini kita akan bahas terkait sistem kerja yang ada di perusahaan.” Lina, selaku sekretaris utama Biru membuka dialog. “Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa beberapa kali kita sempat terkendala dalam memutuskan suatu produk apakah layak rilis atau tidak berdasarkan hasil analisis yang telah ditentukan.” Lisa menekan remote yang mengontrol slide pada layar proyektor. “Sayangnya, kecepatan dalam pengambilan keputusan ini tergolong lambat bila dibandingkan dengan PropOb yang hanya dalam waktu dua minggu sudah berhasil mengambil keputusan dari rangka mentah.” “Untuk itu, beberapa hari lalu kami melakukan studi banding dan mendapatkan gap sekian persen.” Angka di layar membuat semua orang dalam ruangan itu tertegun. “Kemudian, kami bersama dengan tim PropOb mendiskusikan sistem yang saat ini sedang mereka gunakan. Hasilnya, seperti berikut.” Terdapat flow system yang ditampilkan di layar. Secara garis besar, memang seperti itulah yang ada di bayangan Biru untuk mengubah sistem kerja mereka saat ini. “Sekian untuk presentasinya. Kita akan lanjutkan dengan diskusi bersama.” Setelah diskusi panjang dan cukup alot, akhirnya keputusan telah ditentukan secara bulat. Dalam enam bulan ke depan, tim HR akan melakukan perombakan sistem secara bergantian. Tidak hanya itu, beberapa SK para pegawai juga akan diperbarui mengikuti syarat dan ketentuan yang mengacu pada pembaruan. Namun, sebelumnya Biru akan memaparkan hasil meeting hari ini kepada Greyson. “Terima kasih atas kesediaan dari seluruh pihak. Semoga rapat hari ini memberikan hasil yang terbaik untuk kita ke depannya.” Lisa menutup pertemuan itu. Biru kembali ke ruangannya, diikuti Kai. “Jadi, lo mau langsung ketemu Pak Rey setelah ini?” Pertanyaan itu dijawab anggukan dari laki-laki yang saat ini duduk di kursi kerjanya. “Kapan lagi?” balasnya seraya mengetik pesan untuk kakak satu-satunya itu. “Oh iya, gue minta tolong lo awasi dan temani tim HR untuk perubahan sistem ini. Gue nggak mau ada yang keliru dan harus rombak lagi dari awal. Apalagi kalau sampai ada yang melenceng dari prinsip gue,” pesan Biru. Kai menyanggupi. “Apa perlu gue bentuk tim kecil untuk itu? Sistem berubah otomatis bakal berdampak ke yang lainnya, kayak keuangan, administrasi, keamanan juga.” “Oke bisa. Kalau gitu gue serahin semua ke lo. Tiap minggu lo harus kasih laporan ke gue.” Setelah mengatakan itu, Biru beranjak dari kursinya. “Gue mau ketemu Rey di resto buat bahas yang tadi,” pamitnya disambut anggukan dari Kai. Bulan ini Biru sulit bertemu dengan kakaknya sendiri, baik di rumah maupun di kantor. Greyson sedang sibuk mengurus beberapa hal, khususnya karena ia sendiri yang mengawasi sendiri launching produk terbaru. Panggilan mengikuti seminar sebagai narasumber juga tidak hanya saat kemarin saja. Biru pun harus menghubungi Mala, sekretaris utama Greyson, untuk mencari jadwal hari ini. Beruntung, Greyson sedang ada meeting di resto milik mereka di kawasan PIK. Jadilah ia langsung tancap gas sebelum kakaknya itu melakukan jadwal lain. “Mbak Mala,” panggil Biru ketika sampai di resto. Kebetulan perempuan itu sedang berada di luar ruang meeting. “Kok nggak di dalam?” tanya Biru sambil mendekat. “Udah kelar meetingnya. Lagi pada ngobrol pribadi, ya gue cabut,” jawabnya sambil memainkan ponsel. Setumpuk map yang ia bawa masih ada di dalam. Tidak lama kemudian, tamu itu keluar dan pamit pada Mala. Sepertinya Biru mengenal orang itu, tapi lupa di mana. Biru langsung masuk menemui dan menyapa Greyson. “Bang.” Greyson mendongak, menyuruh Biru duduk. “Gue udah denger dari Mala. Jadi, TekObs mau ubah sistem?” Biru mengangguk. “Lo harus tahu selambat apa sistem yang dulu.” Greyson mengangguk. Ia pernah setahun mengurus langsung serba-serbi di TekObs dan ia akui memang anak perusahaannya itu memiliki sistem kerja yang belum update. Tadinya ia memang ada niatan untuk merombak sistem di sana, tapi kesibukannya benar-benar menguras fokus dan membuatnya lupa. “Iya gue tahu.” “Kemarin udah stuban ke PropObs dan udah meeting sama tim HR sama minta Kai langsung ngawasin,” lapor Biru. “Yaudah lo lanjutin, gue setuju-setuju aja. Asal lo kasih laporan ke Mala dan lo juga harus ngawasin mereka, jangan Cuma Kai doang,” pesannya yang disanggupi oleh Biru. Greyson menuang wine ke stem glass. “Mau?” tawarnya membuat Biru menggeleng. “Katanya Mama nyariin lo cewek, itu bener?” Sepertinya semua orang memang sudah tahu misi dari mamanya itu. Sudah menjadi rahasia umum rupanya. “Iseng doang si Mama.” “Terus? Dapet?” “Nggaklah. Nggak ada waktu gue,” ujar Biru membuat Greyson terkekeh. “Sesibuk apa lo sampe nggak ada waktu?” ledeknya membuat Biru mendengkus. “Ya sibuk ngurusin anak perusahaan lo inilah.” “Yakin itu doang?” Jawaban Biru membuat Greyson bisa menebak ada yang disembunyikan darinya. Biru mengangguk. “Kirain lo ada some planning gitu,” ucapnya. “Ya ada, tapi bukan dalam waktu dekat,” sahut Biru. Karena tidak ada hal lain yang ingin ia bicarakan, Biru memutuskan untuk pamit. Berbicara dengan Greyson sama seperti berbicara dengan Obsidian. Bedanya, Greyson tidak pernah menentang dan membuatnya emosi. Laki-laki itu tidak terlalu pintar berbasa-basi dengannya. Setelah urusannya selesai, Biru hendak kembali ke apartemennya. Namun, sebelum itu karena persediaan bahan makanan di kulkas habis, ia memutuskan untuk mampir ke supermarket. Biru mengambil troli karena belanjaannya kali ini sangat banyak. Ia lumayan sering memasak, jadi ia cukup andal untuk belanja tanpa list. Biru memulai ambil barang dari section frozen food. Ia mengambil beberapa kantung nugget, sosis bratwurst, dan baso ikan. Biru mengambil beberapa daging dan seafood. Tidak lupa membeli salmon setengah badan tanpa duri. Hampir setengah troli hanya berisi makanan cepat saji. Setelah itu, Biru menuju section bahan makanan. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang akan mengusiknya setelah ini. Benar saja, ketika ia sedang mengambil bumbu-bumbu dapur, troli yang tadi ia parkir di dekat etalase umbu-umbian karena minim menganggu mobilisasi lenyap begitu saja. Hanya ada sebuah troli yang juga hampir terisi penuh dengan isi yang lumayan mirip dengan miliknya. Mungkin ada yang salah ambil troli, begitu pikirnya. Tidak berselang lama, seorang gadis hendak mengambil troli yang sedang ditahan Biru, berharap orang yang salah ambil mengembalikan trolinya. “Sorry, Mas. Ini troli saya,” katanya membuat Biru mendesah kesal. “Oh gitu? Tadi kamu parkir troli di sini ada troli lain nggak di sampingnya?” tanya Biru, pasalnya ketika ia memarkirkan troli, tidak ada troli-troli lain di dekatnya. Perempuan dengan hoodie hitam dan celana training itu menautkan alisnya. “Oh!” serunya. “Pasti Sky salah ambil,” gumamnya yang masih bisa terdengar oleh Biru. Sepertinya gadis itu hendak menghubungi seseorang. Biru sedikit mengerutkan dahi mendengar perempuan itu menyebut nama yang tidak asing, tapi tidak juga ia ingat betul. “Heh, lo di mana? Sini ke tempat kentang yang tadi. Lo salah bawa troli tuh.” Biru mendengkus lega karena trolinya ditemukan. Sepertinya teman si perempuan itu tidak mengecek kembali isi trolinya sendiri. “Maaf ya Mas, temen saya teledor banget jadi salah ambil troli masnya,” ucap gadis itu sungguh-sungguh. Raut wajah yang tadi kencang, kini mulai mengendur seraya mengangguk. Mau marah tapi wajah gadis itu benar-benar menunjukkan rasa bersalah meskipun bukan dia pelakunya. Tidak sampai dua menit, seorang gadis lain menghampiri mereka sambil mendorong troli. Dari raut mukanya sudah terlihat bahwa gadis itu memang salah mengambil troli. Ia membawa troli persis ke depan Biru yang masih mendekap barang belanjaannya. “Oh, jadi lo yang ambil troli gue,” kata Biru setelah mengenali perempuan si pengambil troli itu. Sky meringis. “Sorry, gue nggak ngecek dulu tadi asal ambil.” “Barang lo nggak ada yang gue ambil kok, suer,” lanjutnya dengan dua jari membentuk huruf V. “Gimana sih lo, Sky,” omel perempuan di sampingnya. “Ya udah, berhubung trolinya udah ketemu gue nggak akan memperpanjang masalah ini,” ucap Biru sembari menaruh perbumbuan ke dalam troli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN