Terpaksa Mengubur Mimpi Demi Ketenangan Bersama

1907 Kata
Menjelang ujian semester, Sky mati-matian belajar. Hampir setiap hari ia bolak-balik perpustakaan hanya untuk mencatat dan mengulang materi. Sudah tahun kedua ia melaksanakan ujian semester. Walaupun sudah menjadi hal yang biasa, tetapi Sky tidak mengubah kebiasaannya. Dari dulu ia selalu ekstra mempersiapkan ujian. “Ke perpus lagi hari ini?” tanya Syifa ketika menemui sahabatnya makan di kantin fakultas. Perempuan yang sedang mengaduk es campur itu menggeleng. “Mau ke kafe depan aja. Gue kemarin udah minjem dua buku, jadi mau gue catat di sana aja.” Syifa manggut-manggut. Ia sudah paham rutinitas sahabatnya ketika menjelang ujian. Bahkan, beberapa kebiasaannya sekarang juga berkat kecipratan betapa disiplinnya Sky dalam mempersiapkan ujian. Hasilnya memang tidak selalu memuaskan, tapi Syifa merasa lebih siap saat mengerjakannya. Namun, kedisiplinan itu kadang-kadang membuat Sky jadi lupa waktu dan seringkali melewatkan kegiatan yang lain. “Kemarin bokap lo telepon gue. Dia nanyain kabar lo,” ucap Syifa. Sky hanya mengangguk singkat. “Lo nggak ngabarin mereka apa?” “Nggak sempat,” sahut Sky. “Kemarin gue nyelesaiin catatan buat dua matkul, nggak pegang hape sama sekali.” Syifa berdecak. “Masa seharian nggak buka? Kabarinlah, jangan bikin mereka khawatir.” “Iya iya, ntar gue kabarin,” jawabnya ogah-ogahan. Es campurnya telah ia habiskan dan segera membereskan barang-barangnya. “Gue mau ke kafe depan sekarang, ikut nggak?” tanya Sky tepat seseorang bergabung dengan mereka. “Loh, hai Mas Dimas. Apa kabar?” Dimas mendudukkan diri di sebelah Sky, berhadapan dengan Syifa yang sekarang sedang menyibukkan diri dengan ponselnya berusaha menghindari kontak mata dengan laki-laki di depannya. Sky dan Dimas saling bertatapan melihat tingkat Syifa, lalu tersenyum geli. “Gue baik. Lo berdua gimana kabarnya?” Dengan semangat, Sky menjawab. “Semangat dong, Mas. Apalagi mau ujian gini ada support systemnya.” Jawaban itu jelas menyindir perempuan di depannya. Syifa baru saja akan mencibir. “Ya sudah kalo gitu Mas Dimas temenin dia ya, gue mau ke kafe depan,” pamitnya. Kepergian Sky membuat Syifa ingin mengumpat. Ia buru-buru mengirim pesan yang penuh dengan kalimat protes. Kini hanya tinggal mereka berdua yang penuh kecanggungan. Sky melangkahkan kakinya melewati halaman yang begitu luas sebelum akhirnya sampai depan gerbang. Beruntung, jalanan tidak begitu ramai dan cuaca juga tergolong cerah. Sky menyeberang jalan bersama beberapa orang lainnya. Hari ini semua meja di kafe hampir terisi penuh Ia mendesah karena spot favoritnya sudah diduduki oleh orang lain. Terpaksa ia menuju lantai atas. Meskipun pemandangannya bagus, tapi ruangannya penuh dengan asap rokok. Untungnya Sky tidak memiliki riwayat penyakit asma. Paling hanya batuk-batuk. Sejauh ini ia tidak keberatan dengan mas-mas yang nongkrong di pojok sambil menghisap vape dan menyemburkan asapnya dengan bentuk bulat-bulat. Sky bergidik, apa enaknya itu? Ia kembali fokus pada catatannya. Target ujian kali ini, ia tidak menuntut nilainya harus sempurna di semua mata kuliah. Ya, paling tidak IPK-nya nanti tidak di bawah 3,7. Tidak berlebihan kan? Ia menurunkan standard capaian IP karena ia menyadari semester ini ia cukup sibuk dengan beberapa event yang menyita waktu. Bahkan, di beberapa pertemuan ia sempat tidak hadir karena mengurus perizinan yang dipersulit pihak kampus. Sky nyaris menyemburkan minuman yang baru saja disesapnya ketika melihat dua orang yang ia kenal sedang berbonceng di atas motor. “Gercep juga Mas Dimas,” ucapnya pelan. “Dimas Alfarama?” Seseorang menyahuti ucapannya. Sky lantas menoleh ke kiri dan terkejut mendapat orang itu sudah duduk di sebelahny. “Lo kenal?” tanya Sky pada laki-laki itu. Entah bagaimana dia bisa ada di sampingnya. Sky tidak mau terlalu ambil pusing. “Ya siapa ya nggak kenal,” sahutnya santai. “Selain ketua organisasi, dia juga lumayan sering ke tongkrongan alumni.” “Alumni ada tongkrongan?” Biru mengangguk. “Ada dong. Mau coba?” “Nggak! Makasih,” jawab Sky cepat dan tegas. Mana mungkin dia out of no where datang ke tempat nongkrong para-alumni. Yang benar saja?! “Kenapa enggak? Lo bisa dapetin koneksi yang banyak dari sana. Tenang, tongkrongan kita nggak macem-macem. Lebih semacam kayak forum buat sharing aja, sih.” Biru menggoyangkan secangkir kopi yang masih terisi ¾. “Lagian banyak juga adek-adek tingkat kayak lo gini yang suka nanya-nanya.” “Nanya apa?” tanyanya mulai tertarik. “Banyak. Seputar dosen, matkul, event, masalah di organisasi, kerjaan, percintaan juga bisa kita jawab.” Biru menyesap kopi hitamnya. Sky menaikkan sebelah alis. “Selengkap itu?” “Of course. Makanya, coba dulu gabung. Ajak juga tu si Dimas sama pacarnya.” Wah, ternyata. Terlihat cuek, tapi laki-laki itu bisa menebak gosip terbaru. “Atur kapan ajalah, tapi nggak minggu ini, ujian.” Sky menjawab dengan pandangan yang tetap fokus pada laptopnya. “Matkul apa?” Biru mengintip isi layar milik perempuan di sebelahnya. “Psikologi politik,” jawabnya tenang. Tangannya masih bergerak indah di atas kertas. Biru manggut-manggut. “Kelas pilihan?” tanyanya yang dijawab dengan anggukkan oleh Sky. “Gue juga pernah tuh dapat kelas psikologi, tapi tentang pengelolaan stres gitu,” ucapnya yang tidak diindahkan. “Kenapa milih psikologi?” tanyanya lagi. Sky menaruh pulpen dan menatap laki-laki itu dengan malas. “Kalo lo di sini Cuma mau wawancara gue mending cabut, ganggu.” Biru bergidik. “Nanya doang. Sorry deh.” Meski begitu, Sky tetap menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan. “Gue masuk psikologi karena emang gue suka.” “Sesuai passion?” tembak Biru yang dihadiahi gelengan olehnya. “Kalo ditanya passion, gue lebih suka nulis sih. Lebih enjoy, tapi bukan berarti psikologi enggak ya,” ujarnya. “Lagipula kakak gue udah kelas di kedokteran, masa gue gitu aja. Telinga gue berdengung kalo dengar orang pada ngebanggain dia.” “Lo dua bersaudara?” “Iya,” jawabnya. “Lo juga?” Biru menggeleng. “Nggak, gue tiga bersaudara dan unfortunately gue anak tengah.” Sky manggut-manggut, kemudian terkekeh mendengar pernyataan itu. “Se-nggak menyenangkan itu jadi anak tengah?” Laki-laki itu mengendikkan bahu. “Menurut gue sih gitu.” “Kenapa gitu? Lo nggak bisa explore yang lo suka?” tebaknya asal. “Sesi curhat nih jadinya?” sahut Biru, kemudian memakan potongan kue tiramisu terakhirnya. “Lain kali aja deh ya, gue cabut dulu.” Sky menatap laki-laki itu heran. “Oh oke, bye,” jawabnya, kemudian kembali melanjutkan catatan ujiannya. Ia tidak berpikir macam-macam ketika laki-laki itu memutuskan untuk pergi daripada menjawab pertanyaannya. Setelah hampir empat jam mencatat semua materi, Sky meregangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Ia baru mengecek ponsel dan mendapati banyak panggilan tidak terjawab. Ia menghela napas. Untuk ksesekian kalinya ia terpaksa harus menerima kembali panggilan telepon yang sejak dulu ia hindari. “Halo.” Lo ke mana aja sih. Di telepon daritadi nggak diangkat. Omelan itu membuat Sky berdecak. “Belajar,” jawabnya singkat tanpa ingin berlama-lama mengobrol dengan orang di balik sambungan telepon. Lo di apart nggak? Gue mau ke sana. “Ngapain?” Keningnya berkerut. Apalagi kalau bukan disuruh nengokin lo sama bonyok. Sky mendesah. Tugasnya memang sudah selesai, tapi ia tidak ingin kembali dalam waktu dekat. Buruan. Lo di apart nggak? Gue masih ada jaga ntar jam 8. “Otw.” Sky langsung menutup sambungan dan membereskan barang-barangnya. Sungguh, jika bukan karena telepon dari kakaknya itu ia tidak akan buru-buru pulang secepat ini. Belum lagi ia harus memesan ojek online. “Loh, baru balik?” tanya Syifa ketika mendapati Sky sedang melepas sepatunya. “Iya. Cindy mau ke sini,” jawabnya tanpa semangat. “Serius lo? Gue harus siapin apa nih?” Syifa bergegas ke dapur dan mengecek isi kulkas. “Biasa ajalah. Asal ada air.” Sky menjawab sekenanya. “Yang bener aja lo. Masa nggak ada penyambutan apa gitu?” “Lo nanya apa ngeledek?” Sky menatap sahabatnya malas. Balasan itu membuat Syifa tertawa. “Nanya sambil mastiin aja,” kekehnya. “Persediaan kulkas Cuma cukup buat menjamu secara ‘formal’ aja tapi ini,” ucapnya setelah memastikan apa saja yang ada di dalam kulkas. “Biar deh. Di bawah juga ada supermarket.” Sky melenggang menuju kamar untuk berganti pakaian. Tidak lama setelah itu, Sky membuka pintu dan mendapati Syifa sedang membuka pintu. “Cepet banget sampainya,” ucap Sky ketika melihat Cindy melewati pintu. “Biar cepet cabut juga,” sahut perempuan berambut kucir kuda. “Nih, titipan bonyok.” Perempuan dengan hoodie hitam dengan celana kain berwarna khaki itu menyerahkan dua paperbag kepada Sky. “Apaan nih?” Sky menerima paperbag itu dan membawanya ke dapur. Ia membuka dan menemukan dua buah lilin aromaterapi yang sekarang lagi digemari banyak orang yang katanya wanginya menenangkan. Selain itu, di paperbag lainnya ada sebuah Ipad keluaran terbaru. “Ini…?” Sky mengeluarkan Ipad dan membukanya. Cindy menegak minuman yang disediakan Syifa seraya mengangguk. “Buat modal lo kuliah kata bokap.” “Ipad yang lama masih bagus,” gumamnya ragu menerima hadiah itu. Bukannya ia menolak dan tidak menginginkannya, tetapi rasanya ia tidak sedang butuh Ipad itu dalam waktu dekat. Namun, namanya juga sudah diberi ya harus diterima. “Ya udah simpen aja, buat apa kek,” jawab Cindy terdengar sedikit ketus. Sky menatapnya tidak suka. Biasanya, jika nada bicara Cindy sudah seperti itu ia akan membalasnya dengan nada tinggi juga. Namun, kali ini berhubung ia sedang cukup senang, maka hal itu tidak ia lakukan. “Thanks udah dibawain,” ucapnya merapikan kembali isi paperbag itu dan membawanya ke dalam kamar. Cindy berdeham. “Gimana kuliah lo?” Sky mengangkat sebelah alis. Cindy yang melihat itu buru-buru mengoreksi pertanyaannya. “Gimana kuliah lo? Kalau bonyok nanyain gue nggak tahu mau jawab apa.” Perempuan yang baru saja kembali dari kamar itu manggut-manggut. “Good. Lancar aja.” Cindy yang sedang membolak-balikkan ponsel mengangguk. “Okay, then. Gue kira lo masuk psikologi karena nggak keterima di kedokteran,” sahutnya memancing tatapan sinis yang sejak tadi ditahan Sky. Ia sedang memperkirakan ke mana arah pembicaraan itu. Sebelum memutuskan masuk ke jurusan psikologi, Sky memang pernah berencana masuk ke jurusan bahasa. Waktu itu kira-kira saat ia menginjak kelas 11. Alasannya cukup sederhana. Karena Sky suka menulis, beberapa kali tulisannya terbit, dan memenangkan beberapa perlombaan waktu itu. Namun, ia harus mengubur angan-angannya. Apalagi kalau bukan untuk mengikuti jejak kakak yang paling dibanggakan oleh keluarganya itu. Meskipun sempat beberapa kali berdebat, Sky bisa meyakinkan kedua orang tuanya untuk memperbolehkannya masuk ke jurusan psikologi. “Psikologi sama kedokteran itu nggak beda jauh, sama-sama masih di bidang kesehatan. Lagian kalau nanti aku S2 aku bakal bisa buka praktik klinik kesehatan jiwa.” Begitu kira-kira argumen yang dia berikan waktu itu. Sky duduk di depan televisi. Ia tidak tertarik berbicara berhadapan dengan kakaknya itu. “Gue nggak se-desperate lo yang harus banget masuk ke sana dengan apapun caranya.” Jawaban Sky membuat perempuan itu menggebrak meja makan. Syifa yang sejak tadi berkutat di dapur mundur perlahan dari perdebatan dua bersaudara itu. “Kalau lo merasa tersaingi bilang aja. Gue tahu usaha lo buat nunjukkin ke nyokap bokap kalau lo bisa berhasil. Walaupun kayaknya mereka nggak melihat itu, nggakpapa adek.” Serius, itu tadi jawaban paling menyebalkan yang pernah Sky dengar. Walaupun yang diucapkannya ada yang benar dan salah, tetap saja ia merasa bahwa kakaknya itu sedang mengasihaninya. Dan ia benci dikasihani. “Daripada lo bacot, mending lo balik deh sebelum emosi gue meledak,” sahutnya. Tangannya sudah mengepal sejak tadi. “Ya udah, gue cabut.” Cindy meletakkan gelas ke wastafel. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Tidak sampai 30 menit kakak perempuannya ada di apartemen mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN