Belum ada satu jam menikmati ketenangannya, ia mendapatkan sebuah pesan yang mengharuskannya buru-buru. Apalagi kalau bukan keteledoran kakaknya itu. Entah ia harus menempuh perjalanan secepat apa sebelum perempuan itu memberinya omelan yang malas ia dengar. “Nggak bisa apa ya gue menikmati kegabutan ini,” keluhnya mengambil tas yang tertinggal di kaki meja makan. Syifa yang melihat itu hanya bisa meringis. Ia tahu Sky dan kakaknya hampir tidak pernah akur, tapi sebagai sahabat Sky, ia tidak pernah melewatkan sedikitpun rasa peduli mereka satu sama lain. “Mau gue anter atau lo sendiri?” tawar Syifa mengingat langit sudah menggelap. “Gue sendiri aja.” Sky menyiapkan slingbag dan memasukkan beberapa barang penting yang harus dibawa, seperti dompet dan handphone. “Orang gila mana yang sera

