Tidak banyak yang Radit pikirkan. Menimang ulang pada perintah Ibunya, tentu bukan perkara sembrono. Ada Senja yang harus dirinya tenangkan. Walau tidak menunjukan perasaan gamang sedikit pun pada ekspresi istrinya, tetap saja Radit bertanggung jawab. “Maaf.” Itu saja yang Radit awalkan sebagai permulaan. Di kamar yang sedikit remang pencahayaan, Senja membalikan tubuhnya. Mengelusi rahang suaminya dan tersenyum kecil. Bukan kecewa pada tindakan Radit yang telah lalu namun lebih kepada ketidakbecusan dirinya mengurus Radit. Sebesar itu dan Senja tidak sedikit pun menyinggung soal keluarga. “Senja yang harusnya minta maaf.” Radit menggeleng. “Enggak! Senja nggak salah! Mas yang nggak bisa mikir dengan baik waktu itu.” Wajah Senja berubah keruh. Tidak luput dari pandangan Radit. “Janga

