Paginya sudah membaik. Keduanya memilih diam, saling merengkuh di dalam tebalnya selimut dan berbicara lewat pikiran masing-masing. Kemarin, saat melihat Ibunya untuk pertama kali setelah sekian lama, kesan yang Radit tinggalkan tidaklah baik. Wajahnya menggelap—menggambarkan—bencana buruk akan menimpa. Bahkan parahnya—yang tidak pernah di sangka oleh siapa pun—Radit terang-terangan mengacuhkan Ibunya. Bersalam? Jangan ditanya apakah hal itu dilakukan. Menyapa pun tidak sehingga membebas luaskan Senja untuk mencubit pinggang suaminya bertubi-tubi. Senja acuh saja saat suaminya mengaduh kesakitan terlebih setelahnya siksaan dari Ibu mertuanya mewakilkan kekesalannya. Senja tersadar melewatkan satu hal lagi jika Radit bisa sangat kekanakan. Uhhh! Entah kenapa menyuruh Radit meminta maa

