Belum sepenuhnya terlelap, Senja merasai sesuatu yang lembap menempel di bibirnya. Kedua matanya tetap terpejam—menikmati. Tanpa tahu siapa pelaku dan bagaimana bisa sampai berada di kamar ini lagi, Senja masih bungkam. Merasai setiap pergerakan lembut, tidak tergesa dari suaminya yang begitu intens hingga lenguhannya terdengar. “Maaf,” bisikan itu parau. Senja yakin Radit diliputi kabut gairah. Namun seakan mengeraskan hatinya, Senja hanya merubah posisinya menjadi miring ke kiri. “Please…” Senja suka jika Radit sudah memohon seperti itu. Tapi tetap saja akalnya bekerja untuk menahan sedikit lagi pergerakan Radit. Selanjutnya yang selalu Senja tunggu terjadi. Kedua matanya spontan terbuka begitu Radit berpindah duduk—bersimpu—di depan perutnya. Menatapi lelaki sempurna yang sejak dulu d

