“Manusia emang seserakah itu!” Senja mengelap ingusnya tanpa malu. “Kenapa, sih, suka banget ngerusak pemberian Tuhan. Di kasih gratis tinggal nikmatin doang padahal.” Lagi. Tangan kanannya mencomot tumpukan tisu tanpa sungkan meski Radit terlihat anteng. Tidak masalah apalagi terganggu. “Senja beneran benci sama manusia kaya gitu!” Kali ini tangisnya kian keras diikuti isakan—ya, cukup memilukan bagi penyuka film action yang ada adegan tragisnya. Menggelengkan kepalanya, Radit meletakan buku bacaannya seraya melepas kaca mata bulatnya di samping nakas ranjang. Menatapi wajah Senja yang sudah memerah lantas mengundang tawa renyahnya. Senja—yang bingung—menjadi objek tawaan memberengutkan wajahnya. Hidungnya kembang kempis khasnya sekali jika sedang menangis. Tatapannya menajam sesekali n

